
Salma mengaktifkan ponsel tersebut di dalam kamar nya, ia meringkuk di bawah selimut hingga tak ada cahaya yang masuk sama sekali.
gelap...!
Sebenarnya ingin mengabaikan Devin, tapi Salma tidak tega walau bagaimanapun pria itu adalah suami nya.
Devin yang sadar nomor tersebut aktif langsung melakukan panggilan telepon.
Salma tertegun menatap layar yang menapakkan wajah tampan Devin.
"Halo."
suara Salma lirih terucap, ia ragu tapi hati begitu menggebu ingin mendengar suara pria itu.
"Halo Salma sayang!"
Ujar Devin di seberang membuat Salma tertegun sejenak.
"Aku sangat rindu...!"
cetus Devin namun Salma bungkam, begitu sulit membuang rasa cinta yang terlanjur tersemat dalam hati, rasanya ingin kembali memungut butiran cinta yang hendak menghilang menguap di udara.
Namun Salma tak kuasa, meski jiwa meringis meminta, tapi ia harus belajar dari sekarang.
kelak perpisahan itu akan benar benar terjadi, entah itu di atas kertas atau kematian.
"Bagaimana keadaan mu Salma, Abang tidak bisa melupakan mu.""
cek lek.
Salma langsung mematikan panggilan telepon tersebut saat mendengar seseorang masuk ke dalam kamar nya.
"Salma, kamu sudah tidur !?"
Tanya Maura masuk lalu membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh perempuan muda itu. Salma pura pura tertidur pulas dengan memejamkan mata nya rapat.
Maura menyingkap rambut yang menutupi sebagian wajah Salma.
Maura menghela nafas panjang, Iba melihat wajah nya yang muram tak lagi ceria seperti sebelum ia kembali dari Amsterdam.
Salma memang bukan anak kandung nya, tapi Maura sangat menyayangi nya.
__ADS_1
Ia tidak tahu mengapa hal seperti itu menimpa nya, semesta tiba-tiba saja membuat nya terikat dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah ia kenal.
Maura mengecup kening Salma lalu merapikan selimut nya.
Sandi belum kembali, kemungkinan besok pagi ia baru pulang.
"selamat malam Salma, jadilah kuat untuk segala hal yang membuat mu patah !"
Ujar Maura lalu beranjak dari duduknya.
Salma tertegun mendengar apa yang Maura sampaikan, Ia mengigit bibir nya menahan air mata yang ingin meluncur.
Ia memeluk erat guling, mencengkram nya kuat menahan rasa perih dalam hati.
Salma menatap ponsel yang sudah mati lalu menyimpan nya di bawah bantal.
Bagaimana ia melupakan Devin jika terus menjalin komunikasi dan hal lainnya, Ia cinta tapi terluka, lalu ia harus bagaimana ?
mencintai mu seperti punuk merindukan bulan.
jauh dari harapan dan sulit untuk Ia gapai.
Salma memejamkan mata nya kemudian terlelap.
"Aku begitu berharap pada mu, bagaimana caranya aku meyakinkan mu bahwa aku cinta, benar benar cinta, kau tahu Salma? malam bersalju di Amsterdam seketika merubah keadaan hidup ku, sejak hari itu aku gelisah karena memikirkan gadis yang memiliki bunga mawar pada tengkuk leher nya, tak mudah melupakan mu seperti kau dengan mudahnya membuat aku jatuh cinta, kau harus tahu Salma cinta ini tertanam semakin dalam setelah aku menemukan mu, tapi kenapa semesta tak mengizinkan cinta ku bersatu ?"
Devin mengirim kan pesan itu dengan mata berkaca-kaca, ia benar benar merindukan istri nya ? dan apakah itu salah ?
Devin tak berkutik di hadapan sandi, jika ia melawan maka sandi akan menikah kan Salma dengan orang lain dan hal itu Akan membuat nya semakin jauh dengan Salma, namun perjanjian itu pun membuat nya tak bisa bersama dengan Salma.
"kalian akan bertemu nanti jika Salma sudah melahirkan dan kelak kalian harus bercerai, kau harus pergi membawa anak mu!"
pedih sungguh perih mengingat apa yang sandi lontarkan, Sandi benar benar mengecamnya. Maka dari itu Devin bertekad mencari tahu permasalahan yang sesungguhnya agar ia bisa bersatu dengan Salma. "rindu ini sangat menyiksa ku Salma ? aku harus bagaimana ?"
batin Devin merintih perih.
Saat ini ia masih berada di pesawat, Roni memperhatikan Devin yang termenung menatap langit senja, indah seperti Salma, mudah nya membuat Devin jatuh hati.
"Tuhan masih bisa kah aku bersama dengan Salma, aku menginginkan istri ku...!"
gumam Devin lalu memejamkan mata nya dan hanya Ada Salma dalam pupil mata nya.
__ADS_1
***
POV Adit.
Adit duduk di kolam renang dengan air yang tenang dan hijau, weekend ini ia memutuskan untuk pergi ke villa seorang diri. Adit tak henti memikirkan Salma, semua terjadi karena Charles!
pria yang menjadi sepupu nya itu ternyata menginginkan Salma, Apapun yang terjadi Adit tidak akan menyerah meraih salma, Adit benar benar menginginkan Salma, meskipun Sutomo menawarkan perempuan lain, namun Adit tidak tertarik, hati nya sudah terisi oleh sosok Salma yang polos dan sederhana.
Adit ingat pertama kali bertemu dengan Salma saat di parkiran kampus, saat itu ia tidak bisa menyalakan kendaraan roda dua nya.
"kak maaf dong bantuin nyalain motor aku !"
titah Salma menghampiri Adit yang tengah berjalan dengan teman teman nya.
Adit memperhatikan wajah cantik Salma yang berkeringat, Salma cukup berani menghampiri nya tanpa sungkan meminta tolong.
Adit yang merupakan idola di kampus, Banyak perempuan yang terang terangan menginginkan nya, namun sekejap waktu ia tertarik pada Salma yang polos dan sederhana.
Adit langsung menghampiri motor Salma lalu mencoba menghidupkan nya hingga motor itu kembali nyala lagi.
"Terimakasih kak !"
Adit tertegun melihat senyuman Salma, perempuan itu semakin cantik dengan senyum tulus nya. mungkin bisa di katakan Adit jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Salma.
Semenjak itu kedua nya kenal apa lagi saat Salma ikut team cheers leader, kedua nya sering ngobrol di lapangan basket. keduanya makan dan minum bersama.
banyak yang iri dengan Salma karena dekat dengan Adit, beberapa kali Adit mengantarkan Salma pulang ke rumah.
Adit begitu senang saat tahu kalau sang ayah dan papah Salma berhubungan baik, tanpa segan-segan Adit meminta sang ayah menjodohkan nya dengan Salma, tapi ternyata ia terlambat ?
Tak segampang itu menggantikan Salma dengan perempuan lain, hanya Adit yang tahu sedalam apa cinta itu tertanam untuk Salma.
Adit tidak akan menyerah dan berharap kelak Tuhan mempersatukan mereka berdua.
*
**
***
****
__ADS_1
*****
bersambung..