
Semua berkumpul di halaman rumah untuk membuat barbeque. Tidak terkecuali Salma dan Adit.
Salma tidak menyangka kalau kedua orang tua mereka adalah partner kerja yang baik, hubungan kerja sama kedua nya sudah berlangsung sejak lama.
Adit memperhatikan Salma yang sejak tadi fokus dengan ponsel nya, entah sedang chat dengan siapa.
"Salma, simpan ponsel nya ayo makan dulu!"
Ujar Maura membuat Salma mendongak kemudian menoleh ke arah Adit yang duduk di samping nya membawa daging yang sudah matang, wangi dan terlihat lezat.
"chat sama siapa sih, seru banget keliatannya !"
ujar Adit kemudian mengulas senyum.
"Teman....!"
jawab Salma singkat menerima daging pemberian Adit.
"Boleh enggak Salma kalau aku tidak menyerah ?
ujar Adit membuat Salma tertegun menatap wajah Adit penuh harapan.
"Maksud kak Adit apa ?"
"Kalau pacaran jadi pantangan buat kamu, gimana kalau kita langsung menikah saja !"
Uhuk..uhuk...
Semua menoleh pada Salma yang tersedak, gegas Adit memberikan nya air minum.
"kamu enggak apa apa Sal?"
tanya Adit dengan wajah cemas.
"Aku....!"
Salma benar benar tercenung mendengar pernyataan dari Adit yang begitu mengejutkan.
Salma tidak tahu harus berkata apa sementara Sandi dan Sutomo mendengar perkataan Adit dan menunggu jawaban dari Salma.
"Papah akan mendukung kalau kamu bersedia menikah dengan Adit !"
"tidak...!"
Sergah Salma membuat mereka semua termangu.
"Salma tidak siap untuk itu, hm... papah, Salma masuk ke dalam dulu !"
Sanggah Salma lalu pergi meninggalkan mereka yang masih tertegun.
Salma langsung masuk ke dalam kamar lalu dengan segera menutup pintu, Salma merasa gusar karena ungkapan Adit, pria itu tidak tanggung langsung melamar nya.
Salma duduk di tepi ranjang memikirkan hal itu, sang papah juga mendukung Adit.
Bagaimana ini ? mungkin memang seharusnya Devin segera bertemu dengan sandi.
Salma menoleh pada pintu yang terbuka, si kembar menyembul masuk ke dalam.
"kenapa kak? kok gelisah banget !"
Tanya Hana duduk samping Salma, tak biasanya mereka peduli pada Salma.
"kak Adit cakep, pinter, cool lagi. kurang apa ?"
Tanya Hana dan di anggukan oleh Hani.
"Bukan itu, tapi....!"
__ADS_1
Salma menghela nafas panjang lalu menghempaskan tubuh nya di ranjang.
"Kalian tahu enggak kakak tuh udah punya pacar ?"
Jawab Salma membuat kedua nya melongok.
"benar kak ?"
Salma mengangguk sambil tersenyum.
"sudah yah kakak mau tidur !"
sambung Salma lalu merebahkan tubuhnya di ranjang, si kembar saling melihat satu sama lain. keduanya bertanya tanya siapa pacar Salma ?
Pagi...
Maura menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang seperti tengah muntah, Maura masuk ke dalam dan melihat kamar kosong. si kembar sudah keluar untuk olahraga pagi.
Salma terkejut saat melihat Maura berada di ambang pintu, Perempuan itu memindai Salma yang baru keluar dari kamar mandi.
"Salma, kamu sakit ?"
Tanya Maura menghampiri Salma yang mematung sendiri.
"Hm, enggak mah. eh ya, seperti nya Salma masuk angin !"
Maura mengernyit heran karena Salma terlihat begitu gugup.
"Ya sudah Mama ambil kan kamu obat ya !"
Salma mengangguk.
Maura melangkah meninggalkan kamar untuk mengambil obat masuk angin, kenapa sering sekali melihat Salma mual dan muntah?
*
Sandi tertegun mendengar cerita si kembar, apa mungkin Salma sakit ?
Dua jam berlalu mereka kembali, Salma kembali tidur setelah menerima obat dari Maura, namun ia tidak meminum nya karena khawatir dengan bayi nya jika asal minum obat.
*
Adit mencari keberadaan Salma, namun tidak ada. Maura mengatakan kalau Salma belum keluar dari kamar sejak tadi pagi.
"Salma sakit mah ?"
tanya Sandi duduk di kursi meja makan bersama yang lain nya.
"entah lah tadi pagi aku dengar Salma muntah muntah !"
Jawab Maura.
"ya, semalam juga seperti itu mah! kita jadi enggak bisa tidur !"
Sandi kembali tertegun memikirkan ucapan si kembar.
"Sekarang mana Salma ?"
Tanya ibu Sutomo yang ikut mendengarkan.
"Di kamar, seperti nya tidur !"
Jawab Maura dan di anggukan oleh ibu Sutomo, Adit sendiri tengah berenang bersama adik laki laki nya.
Salma beranjak dari ranjang karena ingin ke kamar mandi, Ia juga beberapa kali ingin buang air kecil dan itu sangat menggangu tidur nya.
Salma berdiri di dekat jendela dan melihat Adit tengah berenang bersama Adik laki laki nya yang berusia Dua belas tahun, kelas enam SD. terlihat perut nya sixpack.
__ADS_1
Adit menoleh ke arah jendela di mana Salma tengah memperhatikan nya, Salma langsung melengos pergi dan keluar dari kamar.
"Salma....!"
seru Maura saat Salma duduk di kursi meja makan.
"lapar mah !"
Sahut Salma menuang nasi goreng ke dalam piring berbentuk segi empat tersebut.
Yang lain nya berhamburan pergi keluar, si kembar pergi ke halaman rumah dekat lapangan basket dan sandi duduk di dekat kolam ikan bersama Sutomo.
Maura senyum memperhatikan Salma yang makan dengan lahapnya, Maura duduk di hadapan Salma.
"Salma ?"
Seru Maura membuat Salma mendongak seketika.
"Apa kamu yakin tidak mau menerima Adit ?"
tanya Maura membuat Salma tertegun sejenak lalu mengangguk.
"kenapa salma? apa kamu sudah punya pilihan sendiri ?"
Salma mengangguk pelan, berharap Maura pahami bahwa Ia tidak suka di jodohkan.
Tapi kalau keadaan nya seperti dulu mungkin Salma dengan senang hati menerima Adit, tapi Janin dalam rahim nya membuat harapan Adit mesti pupus.
"Siapa ? apa Mama kenal dengan pria itu ?"
Salma menggeleng kan kepala nya.
"Tidak, lalu siapa ?"
"Salma akan kenal kan dia nanti mah, mungkin besok atau lusa Salma akan ajak dia ke rumah ?!"
Jawab Salma tidak ingin menunda waktu lagi karena Adit terlihat menggebu gebu untuk melamar nya.
"ya sudah lanjut makan, mama hendak membawa kopi untuk papah dan Om Sutomo !"
Salma mengangguk lalu melanjutkan sarapan nya.
*
Adit termenung sendiri di lapangan basket, ia menatap ring basket lalu melempar bola dengan asal namun bola masuk ke dalam ring dengan tepat.
Hingga sore hari Salma terus menghindari nya, terang terangan Salma kembali menolak nya? apa sih mau Salma ? di ajak pacaran salah ? menikah malah langsung kabur.
"kak keren loh permainan basket nya, bola langsung masuk !"
Ujar Hana membuat Adit tertegun sendiri.
"Ayo dong main lagi kak, Hana mau lihat !"
Pinta Hana mengulas senyum, kenapa justru Hana yang terus mendekati nya sejak tadi.
"Main sama sama saja !"
jawab Adit dengan ramah, Ia paling tidak bisa bersikap cuek atau jutek pada perempuan.
Hana mengangguk sambil mengulas senyum cerianya.
*
**
***
__ADS_1
bersambung...