SANG DEWA SEMESTA

SANG DEWA SEMESTA
TERLAHIR KEMBALI: KING SU HAINY


__ADS_3

Di sebuah lembah di kaki bukit Suhainyi terdapat sebuah negeri yang tentram dan makmur, konon ceritanya negeri ini berdiri melalui sejarah dan perjuangan yang panjang, hingga dapat berdiri kokoh sampai saat ini.


Sebuah legenda menceritakan. Sekitar sepuluh milenial tahun yang lalu dua pasukan besar bertempur habis-habisan di Lembah Suhainyi, sampai akhirnya hanya satu oranglah yang berdiri sabagai pemenangnya. Dia adalah Dewa Semesta sang leluhur yang mendirikan kota Semesta di Lembah Suhainyi, hingga kini cerita ini masih melekat di kalang penduduk kota.


Di balik semua cerita berdirinya kota Semesta, terdapat cerita tragis Dewa Semesta. Setelah pertempuran itu, Ia mengalami luka berat yang tak dapat di sembuhkan, kesempatan itu di manfaatkan pasukan Alam Khayangan untuk menangkapnya, dan dihukum atas tuduhan yang tak beralasan, namun sebelum kematiannya ia bersumpah akan berengkarnasi dan membalaskan dendamnya.


******************


Perayaan berdirinya sepuluh melenial Kota Semesta akhirnya tiba. Hari ini pusat Kota ramai didatangi para penduduk dari berbagai kalangan menunjukkan antusiasnya untuk perayaan, mereka beriring-iringan membunyikan musik tradisional diikuti dengan letusan petasan untuk menambah kemeriahan suasana perayaan, selain peringatan berdirinya Kota Semesta, perayaan ini juga untuk merayakan kemenangan pasukan Kota yang tempo hari berhasil menghalau serangan pasukan Iblis Langit, dan monster Iblis Neraka Merah, yang siap memporak porandakan Kota Semesta.


Bersamakan dengan perayaan itu, di sebuah gubuk kecil di pinggiran kota, seorang wanita yang hamil tua mengerang kesakitan serasa akan melahirkan. Seorang wanita paruh baya langsung membawanya masuk ke Gubuk, beberapa saat kemudian akhirnya bayi itu lahir. Namun nasib baik tak seperti yang di harapkan, ibu dari sang bayi tidak terselamatkan. Wanita paruh baya itu hanya bisa meneteskan air matanya sambil menggendong bayi mungil yang baru lahir itu.


"Semoga kamu tenang di atas sana, Nak!" ucap wanita paruh baya itu.


Hari-hari terus berlalu, bayi kecil yang dirawat oleh wanita paruh baya itu telah tumbuh menjadi seorang bocah kecil berusia tiga belas tahun. Ia tumbuh dengan sehat dan sangat cerdas, di usianya yang masih Tiga Belas tahun, ia sudah memiliki pikiran layaknya orang dewasa, namun ia memiliki kelemahan lain, tubuhnya tidak ada hawa murni yang membuatnya tidak bisa berkultivasi.


"Sungguh di sayangkan Bocah, kamu tidak memiliki energi murni untuk berkultivasi," ucap sang Nenek.


"Apakah aku tidak akan bisa menjadi kultivator, Nek??" sahut sang Bocah.


"Kamu harus bisa menerima takdir ini, tapi dengan kecerdasanmu, kamu masih bisa menjadi orang yang terkenal nantinya," jelas sang nenek


"Oh ya, Nek!. Selama ini mengapa nenek selalu memanggil saya dengan Bocah, apakah saya tidak memiliki nama, Nek?" tanya sang Bocah mengalihkan pembicarakan, karena hal ini sudah menjadi pertanyakan dalam pikirannya selama beberapa tahun ini.


"Hahahahahaha... akhirnya kamu menanyakan hal ini Bocah, apakah kamu juga ingin memiliki nama?".


"Tentu saja, Nek!" sahut sang Bocah.


"Siapa ya?. Nama yang cocok untukmu, bagaimana..kalauu.. King Su Hainy?" ucap sang nenek.


"King Su Hainy? aku suka, Nek!. Nama yang bagus".

__ADS_1


"Raja dari Suhainyi," sambung sang Nenek.


"Semoga kelak aku bisa menjadi raja sesuai dengan namaku, Nek!".


"Hahahahaha..harapanmu tinggi juga bocah, semoga kamu bisa menggapainya," sambil mengusap kepala Su Hainy.


"Aku pasti bisa, Nek!" dengan senyum ceria penuh percaya diri.


Hari pun berlalu, malam telah datang sebagai pergantian siang, malam itu Su Hainy tidur dengan nyenyaknya. Ia tampak kelelahan setelah seharian membantu sang nenek mencari dan menjual kayu bakar. Malam itu adalah awal datangnya ingatan sang Dewa Semesta, Su Hainy bermimpi bertemu dengan seseorang yang mirip dengannya. Dalam mimpinya, Su Hainy melihat orang itu bertempur dengan gagah berani, Ia merupakan seorang yang hebat, sangat disegani, dan dihormati banyak orang.


Pagi harinya Su Hainy terbangun dari tidurnya, ia tidak mengambil pikiran tentang mimpi itu, namun pada malam-malam seterusnya, Su Hainy terus bermimpi hal yang sama, dan secara perlahan, ia mendapatkan ingatan-ingatan yang tidak di ketahui asalnya.


"Aneh! Mimpi ini seperti nyata dan benar-benar pernah terjadi, begitu juga dengan ingatan ini," ucap Su Hainy dalam hati dengan pikiran yang penuh pertanyakan.


"Su Hainy!! woi..Su Hainy!!" sang nenek memanggilnya dari luar gubuk.


"Iya..iya.., Nek!" bergegas menghampiri sang nenek.


"Cepat siap-siap, hari ini penerimaan murid di Academy Tiga Bidang," ucap si nenek.


"Baiklah, Nek!".


Setelah selesai bersiap-siap, Su Hainy dan neneknya langsung menuju pusat kota semesta tempat Academy Tiga Bidang di dirikan. Tidak berapa lama kemudian akhirnya mereka tiba.


Di depan gerbang masuk Academy Tiga Bidang tampak ramai di penuhi orang, bahkan aula utamapun telah berdesak-desakan.


"Mari!bKita jual dulu kayunya, nanti kita kesini lagi saat orangnya sudah mulai sepi," ajak sang nenek.


Su Hainy menganggukan kepala sambil matanya masih memandang ke arah keramaian itu.


Menjelang tengah hari kayu bakar si Nenek telah habis terjual.

__ADS_1


"Su Hainy, mari kita kembali ke Academy".


"Iya, Nek!".


Setelah sampai, orang-orang yang tadinya berdesak-desakan, kini mulai pergi satu persatu.


"Nek, yang di sebelah sana lebih ramai di banding dua tempat ini".


"Yang itu untuk bidang Kultivasi, tempat kita antri ini untuk bidang Ilmu Pengetahuan dan yang di sebelah adalah bidang Alkemis".


"Ternyata begitu, Nek!. jadi itu kenapa Academy ini dinamakan Academy Tiga Bidang,".


"Iya, Academy ini merupakan satu-satunya tempat belajar yang berdiri di Kota Semesta, Nenek sebenarnya lebih ingin kamu masuk kelas kultivasi. Tapi mau gimana lagi, kamu tidak memiliki energi murni untuk belajar kultivasi," jelas sang Nenek.


Saat si Nenek sedang berbicara dengan Su Hainy, Master bidang ilmu pengetahuan yang menerima murid baru terus memperhatikannya.


"Nenek tua ini?!. Sepertinya tidak asing, tapi dimana aku pernah melihatnya?" bertanya-tanya dalam hatinya.


"Giliran kita Su Hainy!" sambil berjalan ke depan meja Master itu.


"Aku ingin mendaftar cucuku, namanya Su Hainy, soal pengetahuan tidak di ragukan lagi!" ucap sang Nenek.


Orang-orang yang antri di belakang pun tertawa mendengar ucapan si Nenek, ada juga yang berbisik mencemooh dan memandang rendah sang Nenek dan Su Hainy.


"Kamu masuk ke ruangan tes!" ucap Master yang di meja itu, sambil mencatat namanya di daftar panjang nama murid baru.


Baru saja Su Hainy hendak melangkah masuk, seorang Master keluar dari ruang tes ia tampak kaget begitu melihat si Nenek.


"Memberi hormat pada senior Chio," ucap sang Master itu sambil membungkukan badan.


Orang-orang yang antri itu terperangah mendengar nama itu. Orang yang di panggil senior Chio sekitar Dua Puluh tahun yang lalu, namanya menggetarkan Kota Semesta dalam sebuah adu tanding kultivasi tingkat Senior, seorang kultivator terkuat di Kota Semesta masa itu. Han Ge, di kalahkan dengan mudah hanya dengan tiga jurus.

__ADS_1


__ADS_2