SANG DEWA SEMESTA

SANG DEWA SEMESTA
ASOSIASI PEMBANTAI DARAH


__ADS_3

"Trang! Trang! Trang!" Bunyi senjata beradu, sepertinya telah terjadi Pertarungan di perbatasan Dataran Xuansing dengan Kuanming.


Kelompok yang berpakaian hitam lengkap dengan cadar berjumlah lebih dari 20 orang tengah menggempur beberapa orang yang berusaha melindungi kereta yang ditarik kuda.


"Jangan biarkan mereka mendekati Tuan Putri, bunuh mereka semua.." kepala pengawal terus bersorak pada bawahannya sambil berusaha melindungi orang yang dibawanya di kereta kuda.


Pertarungan tidak berjalan seimbang, hanya sebentar saja sekelompok pengawal itu mulai kalah satu persatu.


"Tuan putri cepat lari..selamatkan dirimu, kami akan menahan mereka..." Teriak kepala pengawal menghalangi para Pembantai itu.


"Ah.." terpekik kecil saat melihat bawahannya banyak yang mati, wanita itu turun dari kereta kuda dan berlari kearah Dataran Xuansing.


Beberapa pembantai yang melihatnya menyuruh dua orang temannya untuk menangkap wanita itu.


"Jangan biarkan ****** itu lari, kalian berdua tangkap dia..."


"Ah..pergi kalian!!" seru wanita itu sambil terus berlari.


"Wanita cantik.. berhentilah berlari, jangan buang-buang tenagamu, soalnya nanti kamu akan kelelahan, hahahaha...."


"Benar, lebih baik kamu menghabiskan tenagamu dengan kami, kami akan memanjakanmu, hahaha..." Kedua Pembantai itu mempermainkan Si wanita.


"Pergi kalian!! higs..higs.." menangis ketakutan sambil terus berlari.


"Ayolah.. kami akan memberimu kesenangan.." ucap salah seorang dari mereka.


"Dug!!" Wanita itu tersandung dan jatuh menelungkup di tanah.


"Hahahaha...mengapa kamu tidak mengerti juga, mau lari ke ujung duniapun akan tetap tertangkap,"


"Aku mohon..lepaskan aku, aku mohon..." Pinta wanita itu dengan tangisan yang semakin pecah.


"Aku suka wanita yang memohon, hahahaha...." Salah seorang pembantai itu jongkok dan memegang lembut dagu wanita itu.


"Aku mohon jangan Tuan.." ucap wanita itu lagi.


Srett!!


Tangannya yang berawal lembut di dagu wanita itu, kini berubah beringas dengan merobek pakaian wanita itu.


"Ahhh...." Pekik wanita itu, melindungi area da** dengan tangannya.


"Hahahah....kulitmu sungguh mulus," puji pembantai itu.


*****


Su Hainy dan Fuxin dengan langkah gontai kelelahan di bawah terik matahari yang menyengat siang itu, ini merupakan perjalanan hari ketiga mereka menuju Dataran Kuanming.


"Tuan..apa kita tidak istirahat dulu," tanya Fuxin.


"Lewati tanah mati ini dulu, sebentar lagi kita sampai di rerimbunan pohon yang di seberang, baru kita istirahat," jawab Su Hainy.

__ADS_1


Fuxin menuruti perkataan Su Hainy dan terus berjalan melewati tanah mati yang mengeringkan tanaman disekitar. Tak terlalu lama kemudian, mereka sampai di rerimbunan pohon itu dan langsung berhenti.


Fuxin meneguk air di botolnya untuk melepaskan dahaga dari ancaman terik matahari yang mengeringkan kerongkongannya.


"Ahh..segarnya!!" ucap Fuxin mengelus kerongkongannya.


"Tuan mau minum??" Tawar Fuxin.


"Kamu menawarkan sisamu?? Botol satu lagi.."


"Hehehe..ini tuan," memberikan sebotol air baru pada Su Hainy.


Mereka berdua hening sejenak dengan tatapan kosong pada tanah mati yang barusan di lewatinya. Sesaat kemudian Su Hainy membuka peta dataran Xuansing yang di bawanya dulu untuk memastikan posisi mereka saat ini.


"Kalau tidak salah, kita sudah dekat dengan perbatasan," ucap Su Hainy menunjuk titik merah di peta.


"Titik merah ini, apakah tanda Tanah Mati ini Tuan..??" Tanya Fuxin.


"Benar, kita sudah dekat di perbatasan," jelas Su Hainy.


Saat asik berbincang dan melihat peta di tangannya, telinga Su Hainy dan Fuxin mendengar pekik wanita tak jauh dari tempat mereka berhenti saat itu di tambah dengan tawa mengakah dua laki-laki.


"Tuan.." bisik Fuxin.


"Ayo!!" Ajak Su Hainy.


Syutt..


Mereka berdua langsung melesat kearah datangnya suara. Setelah sampai mereka mengendap di balik sebatang pohon dan mereka berdua melihat perlakuan tak pantas dari dua laki-laki berpakaian hitam itu merobek baju si Wanita yang menangis ketakutan.


Su Hainy yang tak tahan dengan perlakuan bejat kedua orang itu, melesat secepat kilat dan menangkap leher orang yang merobek baju wanita itu.


"Krekk!!!" Langsung di patahkannya leher pembantai itu.


"Siapa ka...??" Seorang lagi, belum sempat menyelesaikan pertanyaannya.


"Crash!!" Fuxin Telah datang memenggal kepalanya.


"Aaahhhhh...." Teriak wanita itu saat melihat darah berserakan di depannya.


Su Hainy melemparkan kain dan menyuruh wanita itu menutup tubuhnya.


"Pakai kain ini, jangan takut! Kami datang untuk menolong," ucap Su Hainy.


Fuxin menyarungkan pedangnya kembali, ia jongkok dan memeriksa kedua jasad didepannya. Matanya tertuju pada sebuah benda yang tersalip di kain pengikat pinggang salah seorang dari jasad itu.


"Seperti sebuah token dari Asosiasi??" Bisik Fuxin dalam hatinya sambil mengambilnya.


"Apa...??" Dengan teriak tertahannya.


"Ada apa??" Tanya Su Hainy.

__ADS_1


"Ini Tuan.." melihatkan token itu pada Su Hainy.


"PEMBANTAI DARAH" tulisan yang tertulis di token itu.


"Pembantai Darah?? Apa kamu tau Asosiasi ini??" Tanya Su Hainy pada Fuxin.


"Asosiasi ini biasanya akan menghabisi orang-orang penting di Dataran Kuanming dan korban yang jatuh ditangan mereka sudah tidak terhitung lagi," jelas Fuxin.


"Jadi, wanita ini..??" Kalimat Su Hainy terhenti saat melihat anggukan dari Fuxin.


"Kita cukup jaga wanita ini baik-baik sebagai tiket masuk Dataran Kuanming," bisik Fuxin.


"Tuan putri, apa anda baik-baik saja??" Fuxin menjurah hormat pada wanita itu.


"Iya.. terima kasih atas bantuan kalian," ucap wanita itu.


"Sama-sama Tuan Putri," balas Fuxin, sopan.


"Tolong bantu bawahanku.. mereka sedang melawan para pembantai itu tak jauh dari sini," pinta wanita itu.


"Fuxin, jaga Tuan putri, aku akan menolong mereka," Su Hainy melesat menuju ketempat yang ditunjuk Wanita itu.


Trang! Trang! Trang!


Pertarungan di tempat itu sudah sampai di penghujung, kepala pengawal yang tertinggal seorang diri di keroyok oleh tiga orang Asosiasi Pembantai darah dan beberapa orang dari mereka hanya menonton pertarungan itu.


"Bunuh saja tua bangka itu, jangan di permainkan lagi, hahahaha...." ucap seorang dari mereka, tertawa lepas melihat kepala pengawal itu sudah mati-matian bertahan dengan luka di sekujur tubuhnya.


Syutt..Bam! Bam!


Tiba-tiba saja Dua orang dari mereka mengapah mati di tanah terkena hantaman Su Hainy.


"Siapa kau??" Tanya seorang yang terkejut dengan kedatangan Su Hainy.


"Aku?? Anggap saja malaikat kematian kalian," jawab Su Hainy.


Mendengar ucapan Su Hainy, mereka menggeram marah dan menyerang Su Hainy.


"Cih!! Matilah kalian bajingan," Su Hainy mendorong tangannya kedepan dengan melepaskan jurus Seribu Tapak Dewa.


Bam! Bam! Bam!


Beberapa orang yang tidak sempat menghindar, melayang nyawanya saat di hantam jurus itu.


"Bangsat!!! Matilah kau, Hiyaaa..." Seorang dari mereka melompat tinggi mengayunkan pedangnya kearah kepala Su Hainy.


Syutt..


Buk!!


"Arrgghhh.." ia terpental dan langsung mati.

__ADS_1


Tidak ingin membuang waktu, Su Hainy dengan gerak cepat menghabisi mereka satu persatu tanpa sisa. Setelah membunuh yang terakhir, Su Hainy melihat dan mendatangi kepala pengawal yang tersandar di roda kereta kuda dengan luka memenuhi seluruh tubuhnya.


Su Hainy memasukkan satu butir Pil penyembuhan tingkat surgawi kedalam mulut laki-laki itu dan membantunya duduk bersilah untuk memulihkan diri.


__ADS_2