
Setelah melalui perjalanan yang lama akhirnya Su Hainy sampai di Desa Nelayan, sebuah desa di pinggir pantai. Disana Su Hainy mengumpulkan beberapa informasi mengenai Pulau Anggora.
Informasi yang didapat Su Hainy beragam karena tidak adanya orang yang memasuki pulau Anggora sejak Sepuluh Ribu tahun yang lalu.
Ada yang mengatakan, Pulau Anggora merupakan pulau yang sangat berbahaya, di sana ada makhluk Iblis yang bersemayam. Ada juga yang mengatakan, Pulau Anggora dihuni ratusan Monster berbahaya, ada yang pernah pergi, tapi tak kunjung kembali hingga hari ini.
Disebuah kedai makanan, Siang itu.
"Apa?? Ada yang ingin kepulau itu.." ucap seorang dengan tampang beringas, di pipi kiri ada bekas luka.
"Biasa..anak muda yang sok hebat, nampaknya bosan hidup," ucap seorang di sampingnya, dengan mata sebelah di tutup.
"Hahaha...aku jadi penasaran siapa yang bocah yang bosan hidup itu.." seorang lagi dengan kaki naik sebelah di atas bangku.
Su Hainy yang juga ada di tempat itu hanya mendengarkan ucapan mereka, dengan sikap tenangnya ia hanya tersenyum ringan.
"Apa Tuan mendengar mereka??" tanya Fuxin.
"Biarlah orang berkata semaunya, selama mereka tidak mengganggu untuk apa di dengar.." jawab Su Hainy ringan.
"Tanganku gatal ingin menampar mulut busuk mereka.." ucap Fuxin.
"Lakukan, tapi jangan bawa-bawa aku bila terjadi hal yang lain.." balas Su Hainy.
"Hmm.." Fuxin hanya mendengus.
Setelah selesai menyantap makanan Su Hainy memanggil pelayan kedai.
"Tuan, berapa semua??"
"Sepuluh Koin perak Tuan Muda," ucap pelayan itu.
"Kring.."
"Terima Kasih Tuan Muda"
"Sama-sama Tuan," balas Su Hainy.
Su Hainy kemudian berdiri dan berjalan pelan mendekati tiga orang yang membicarakannya tadi.
"Tuan.." panggil Su Hainy.
"Ada apa Tuan Muda??" orang yang matanya tertutup sebelah menjawab duluan.
"Apa tuan bisa mengantar kami kepulau seberang??" ucap Su Hainy sambil tersenyum.
"Apa?? Kepulau itu..kamu menyuruh kami bunuh diri ha???" orang dengan tampang beringas itu kaget, nyalinya langsung ciut.
"Tidak Tuan, kami hanya mintak antar..apa tuan bisa??" Ucap Su Hainy kembali.
"Kalau kepulau itu kami tidak berani, coba pergi ke Dermaga, mungkin disitu ada yang bersedia," ucap si mata tertutup sebelah.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan.." ucap Su Hainy menjurah.
"Iya..sama-sama," ucap Ketiga orang itu dengan tampang wajah ngeri.
Dermaga Desa Nelayan, disitu tampak seorang laki-laki paruh baya sedang membersihkan perahunya, Ia menggosok setiap bagian perahunya yang tampak mulai berlumut.
"Paman.." panggil Su Hainy.
Sambil mengalihkan pandangannya pada Su Hainy, "Ada apa Tuan Muda??" ucap laki-laki itu.
"Apa paman bisa mengantar kami kepulau seberang??" langsung mengutarakan maksudnya.
"Apa Tuan Muda yakin, pulau itu bukan pulau sembarangan," ucap laki-laki itu tenang.
"Kami yakin paman, kami bersedia membayar berapapun untuk untuk sampai ketempat itu," ucap Su Hainy.
"Baiklah, tapi saya hanya bisa mengantar dengan jarak seratus meter dari tepi pulau itu, jika lebih saya menolak," ucap laki-laki itu.
"Bagaimana Tuan??" Tanya Fuxin.
"Tak apa paman, kami tidak keberatan," ucap Su Hainy.
Laki-laki itu mengangguk pelan, dengan hatinya menerka-nerka.
"Dua orang ini, sepertinya kultivator, tapi tingkatan mereka masih rendah, apa mereka datang untuk bunuh diri" bisik laki-laki itu dalam hati.
"Berapa harga harus kami bayar untuk tumpangan nya Paman??" Tanya Su Hainy kembali.
"Apa..? Mengapa mahal kali??" Ucap Fuxin.
"Jika tidak setuju, ya sudah..cari saja perahu lain.." ucap laki-laki itu tetap tenang.
"Kami tidak keberatan Paman, apa kita bisa jalan sekarang," sambil mengeluarkan 50 koin perak.
"Ini bayaran awal, nanti setelah sampai langsung kami lunasi," sambung Su Hainy kembali.
"Baik, saya terima ya.." langsung menyimpan koin itu.
Akhirnya mereka menaiki perahu itu dan memulai perjalanan meninggalkan Desa Nelayan.
"Dari mana Tuan Muda ini berasal??" Tanya laki-laki itu saat perahu mulai menjauh dari Dermaga.
"Kami dari kota Semesta, Paman," jawab Su Hainy.
"Nampaknya Tuan Muda sudah melewati perjalanan yang panjang ya.."
"Bisa di bilang begitu, Paman," jawab Su Hainy singkat.
"Pulau Anggora tampaknya memiliki daya pikat tersendiri bagi Tuan Muda ya.. sampai-sampai melakukan perjalan yang jauh," ucap Laki-laki itu lagi.
"Hehe..kami hanya iseng untuk pergi kepulau itu paman," tidak mau berterus terang dengan tujuannya.
__ADS_1
"Apa?? Tuan Muda hanya iseng?!" Wajah laki-laki itu langsung berubah.
"Anak muda zaman sekarang nampaknya banyak yang tidak sayang nyawa.." bisik laki-laki itu dalam hati.
Menjelang Sore datang, akhirnya mereka sampai dalam jarak 100 meter dari tepi pulau Anggora.
"Ini yang 50 koinnya, Paman.." sambil menyodorkan sebuah kantong kecil kecil.
"Terima kasih Tuan muda, jika Tuan Muda ingin kembali lagi nantinya, cukup Tuan muda ledakkan kembang api ini sebagai sinyal, saya akan langsung datang," jelas laki-laki itu memberikan sebuah kembang api berwarna merah seukuran ibu jari.
"Baik Paman.." mengambil benda itu dan menyimpannya di cincin penyimpanan.
"Mari Fuxin, kita berenang keseberang," ajak Su Hainy.
"Burrr..." Mereka berdua langsung melompat kedalam air laut itu.
"Hati-hati Tuan Muda, semoga Tuan Muda kembali dengan selamat," melambaikan tangan pada Su Hainy.
"Pasti Paman," ucap Su Hainy membalas lambaian tangannya.
Su Hainy dan Fuxin berenang untuk sampai ke tepian pulau Anggora, setelah sampai mereka memutuskan untuk mengeringkan baju terlebih dahulu dengan menyalakan api unggun.
"Lumayan dingin di pulau ini tuan, huh..huh.." Fuxin menggigil kedinginan.
"Sebentar lagi baju kita akan kering, tapi kita bermalam saja disini, malam ini kita tidak bisa melanjutkan perjalanan karena kondisi dipulau ini tidak kita pahami," ucap Su Hainy sambil mendiangi tubuhnya.
Malam semakin larut, malam itu di pinggir pulau anggora mereka berdua terus terjaga mengingat cerita penduduk Desa Nelayan mengenai tempat itu.
Benar saja, tengah malam itu. Beberapa bayangan berkelebat mengintai di ketinggian pohon mengawasi mereka berdua, sorot mata mereka tajam memberikan ancaman dan niat membunuh.
Di pinggir pulau Anggora, mereka berdua telah menyadari kehadiran makhluk asing itu, dengan tindakan waspada mereka berpura-pura tidak mengetahui ada yang mengintai.
"Tuan, ada yang datang.." bisik Su Hainy.
"Tetap tenang, waspadalah dengan pura-pura tidak mengetahuinya," bisik Su Hainy dengan sudut mata mengawasi gerak gerik pengintai itu.
Setelah lama, beberapa bayangan itu berkelebat pergi, tampaknya mereka tidak melakukan penyerangan terhadap Su Hainy dan Fuxin.
"Mereka pergi Tuan.." bisik Fuxin kembali.
"Biarlah, kamu seharusnya bersyukur tidak mengalami hal buruk saat pertama masuk pulau ini," jelas Su Hainy.
"Ada yang tersembunyi di pulau ini, tampaknya mereka hanya melakukan pengintaian dan memberikan laporan, seharusnya bahaya yang sebenarnya setelah ini," bisik Su Hainy dalam hati.
Menjelang pagi, Su Hainy tetap berjaga untuk menghindari hal yang tak diinginkan mengingat adanya musuh tersembunyi di pulau Anggora.
Terima Kasih telah membaca...
Tunggu kisah selanjutnya..
Jangan Lupa Like, Komen, Tinggalkan Hadiah dan Votenya..
__ADS_1