
Di tepi Sungai Fualong, pagi itu Su Hainy dan Fuxin bersiap melanjutkan perjalanan ke pulau anggora.
"Tuan Muda Su, jika ada waktu datanglah berkunjung.." ucap kepala desa yang ikut hadir melepas Su Hainy meski dirinya belum sembuh total.
"Pasti kepala desa, penduduk disini sudah seperti keluarga kami.." tersenyum lega melihat kepala desa baik-baik saja.
"Saudara Su..anda melupakan sesuatu.." Fu Su berteriak begitu sampai dibelakang kerumunan penduduk di tepi Sungai Fualong.
"Eh..saudara Fu, terima kasih ya..sudah membuatkan peta ringkas menuju pulau anggora," mengambil peta yang di Sodorkan Fu Su.
"Saudara Su jangan sungkan begitu.." menepuk-nepuk bahu Su Hainy.
"Jika ada waktu datanglah..kami selalu menyambut kedatangan saudara Su,"
"Pasti saudara Fu.." ucap Su Hainy.
Su Hainy melambaikan tangannya sambil melangkahkan kakinya menaiki rakit untuk menyeberangi Sungai Fualong.
"Pendekar Fuxin, jangan lupa berkunjung lagi ya..kita minum bersama lagi," ucap Liu Pao, melambaikan tangannya.
"Aku akan berkunjung lagi saudara Liu.." membalas lambaian tangannya.
"Terima kasih araknya.." sambil mengangkat sebotol arak dari kantongnya ke arah Liu Pao.
"Eh??, Arak Dewa Ku.." teriak Liu pao.
"Awas kau pendekar Fuxin.." teriak Liu Pao kembali di ikuti tertawa dari penduduk desa Fu Su.
"Aku hanya mengambilnya sebotol, masih banyak yang tertinggal di gudangmu..." Teriak Fuxin saat rakitnya sudah mulai menjauh ke tengah Sungai.
"Kebiasaan lama," ucap Su Hainy.
"Hehe..araknya terlalu nikmat Tuan, jadi tangan saya tidak tahan untuk mengambilnya sebotol," balas Fuxin sambil meneguk arak itu.
Setelah jauh terbawa arus Sungai keseberang akhirnya Su Hainy sampai di sebuah lembah sejuk dengan banyaknya pohon-pohon besar tumbuh subur.
"Kita sampai Tuan Muda," ucap, anak rakit itu.
"Terima kasih paman, kring.." beberapa koin perak di berikan Su Hainy.
"Terima kasih Tuan Muda,"
"Sama-sama," balas Su Hainy sambil melangkah turun kepinggir Sungai.
Setelah berpijak di pinggir Sungai itu, Su Hainy melihat keindahan alam dengan menghela nafas panjang.
"Udara yang segar!!" Ucap Su Hainy.
__ADS_1
"Wah, ini Surganya bagi kultivator, energi murninya sangat berlimpah," Fuxin merentangkan tangannya.
"Tidak salah kita datang ke Lembah Tengkorak ini, meski tempatnya berbahaya, tapi energi yang melimpah ini memberikan kita kesempatan untuk menerobos," jelas Su Hainy.
"Benar Tuan, tingkatan Naga Merah Level Awal ini, sama dengan menghantarkan nyawa ke pulau Anggora," menyambung penjelasan Su Hainy.
*****
Bukit dan Lembah Tengkorak, pernah disebutkan dalam sebuah catatan Kuno Seputaran Dataran Xuansing. Dalam penjelasannya, Bukit dan Lembah Tengkorak merupakan Surga Bagi Para Kultivator di masa lampau, sebelumnya tempat itu merupakan pondasi berdirinya sebuah Sekte Besar yang namanya menjulang di sampai ke Tanah seberang.
Bukit dan Lembah Tengkorak sebelumnya bernama Bukit dan Lembah Matahari. Namun karena kelimpahan energi murni di tempat itu akhirnya terjadi perebutan dan perang besar untuk menguasainya.
Beberapa Sekte tumbang dan korban berjatuhan di berbagai pihak, mereka yang mati di perang itu tidak di kuburkan sehingga membentuk tumpukan tulang di bukit itu, akhirnya Bukit dan Lembah Ini berganti nama.
*****
Lima belas Hari berlalu, Su Hainy berhasil menerobos dan naik Level begitu juga dengan Fuxin.
"Naga Merah Level Puncak," ucap Su Hainy.
"Aku naik Level lagi, Naga Merah Level Menengah," teriak Fuxin riang, setelah lama tertahan di level Awal.
"Mari kita lanjutkan perjalanan," ajak Su Hainy melangkahkan kaki meninggalkan pinggir Sungai.
Setelah berjalan seharian, Su Hainy dan Fuxin sampai di puncak Bukit Tengkorak.
"Kamu diamlah, ada sesuatu yang harus aku jemput ketempat ini," ucap Su Hainy seperti mencari-cari sesuatu.
"Ini dia.." setelah melihat onggokan batu-batu kecil di balik rimbunnya semak.
Su Hainy berjalan mendekat dan membersihkan semak yang menutupi onggokan batu itu. Setelah di bersihkan Su Hainy mengangkat tiga buah batu dan menepel pada tiga lubang di sekitar onggokan batu.
Sesaat kemudian, tempat itu seperti di landa gempa, bergetar hebat dan bersamaan dengan itu di kaki tempat Su Hainy berpijak muncul sebuah pintu dengan anak tangga memanjang kedalaman lorong.
"Lorong bawah tanah," seru Fuxin, dengan mulut menganga.
"Mari Masuk," ajak Su Hainy.
Sebuah obor yang menempel di tepi dinding masuk di sambar Su Hainy untuk menerangi perjalanan mereka kebawah.
"Ada apa disini, Tuan??"
"Lihat saja nanti," sahut Su Hainy.
Tak berapa lama, mereka berdua sampai di dasar lorong. Mata Fuxin langsung terbelalak melihat pemandangan yang tersuguh didepannya.
"Kristal-kristal ini, pantasan Lembah dan Bukit ini memiliki Energi murni yang melimpah, ternyata ini sumbernya," ucap Fuxin berlari kesana kemari mengumpulkan beberapa kristal.
__ADS_1
"Kamu hanya boleh membawa tujuh kristal dengan warna yang berbeda," ucap Su Hainy.
"Apa?? Ini semua harta berharga Tuan, kita bawa saja semuanya, kita bisa kaya dan juga naik tingkat dengan cepat," pikiran serakahnya mulai menghantui.
"Jika kamu bersikeras bawalah, tapi nanti jika kamu menjadi tengkorak saat keluar dari tempat ini jangan salahkan aku," ucap Su Hainy misterius.
"Hee?? " Fuxin membatalkan niatnya, meski keserakahan telah menggodanya.
"Aku sudah mengambilnya Tuan," ucap Fuxin, melihatkan pada Su Hainy.
"Tuan tidak membawanya??"
"Aku datang untuk mengambil ini," ucap Su Hainy sambil melihatkan satu kristal dengan tujuh warna.
"Apa?? Kristal semesta??" Berlari kearah Su Hainy.
"Yop..kristal semesta, hanya akan terlahir satu dalam sepuluh ribu tahun," jelas Su Hainy.
"Sesuai ingatan Tubuh Dewa, aku datang tepat pada waktunya," bisik Su Hainy dalam hati sambil menyimpan kristal itu pada cincin penyimpanan.
Su Hainy dan Fuxin kemudian keluar dari ruangan bawah tanah itu. Setelah sampai di atas, Su Hainy mengangkat ketiga batu yang di letakkan di lubang sekitar onggokan.
"Truutt..." Pintu masuk kembali menutup.
Su Hainy dan Fuxin kembali berjalan menuruni Bukit Tengkorak dengan arah yang berbeda saat mereka naik.
"Kita langsung menuju arah Utara, sebelum matahari terbenam kita sudah harus meninggalkan Lembah dan Bukit tengkorak," ucap Su Hainy.
"Mengapa begitu Tuan??"
"Jika tidak, kita akan terperangkap di bukit ini selama sepuluh ribu tahun kedepannya, sampai bukit ini kembali muncul," jelas Su Hainy.
"Jadi bukit ini akan hilang saat matahari terbenam??" Ucap Fuxin, tidak percaya.
"Benar, bukit ini di segel di ruang hampa oleh seorang kultivator terhebat pada masa lampau, agar tidak ada lagi perebutan yang terjadi,"
"Mengapa kita hanya boleh membawa tujuh kristal dengan warna yang berbeda, Tuan??"
"Jika lebih, kristal itu akan menyerap Esensi kehidupan di tubuhmu, sesuai dengan nama Bukit dan Lembah ini, kamu akan menjadi tengkorak pertama di sepuluh ribu tahun ini," jelas Su Hainy.
Menjelang matahari terbenam Su Hainy dan Fuxin Sudah berjalan jauh meninggalkan Lembah Tengkorak, mereka berjalan lurus kearah utara.
"Tunggu kami pulau anggora," bisik Su Hainy dalam hati.
Terima kasih Telah Membaca..
Tunggu Kisah Selanjutnya..
__ADS_1
Jangan Lupa, Like, Komen, Tinggalkan Hadiah dan Votenya..