
"Tuan Muda, anda sudah sadar.." Liu Pao, sedang merawat kepala desa.
"Paman Liu..bagaimana dengan kondisi kakek?"
"Penyakitnya kambuh lagi saat pertarungan, ia juga terkena pukulan dari lawannya," menunjuk kearah dada kepala desa.
"Kakek.." Fu Su berusaha bangkit dari pembaringannya, dengan sempoyongan ia berjalan mendekati kepala desa.
"Tuan Muda, anda harus istirahat, kepala desa sudah diberi obat, setidaknya ia akan baik-baik saja," jelas Liu pao.
"Bajingan itu..." Fu Su benar-benar geram.
"Tuan Muda jagalah kepala desa, biar aku yang melawan para bangsat itu,"
"Aku ikut paman.." mencoba berdiri dengan tegar.
"Jangan Tuan Muda, jika Tuan Muda ikut sama saja dengan menghantar nyawa," jelas Liu Pao.
"Baik, aku akan menjaga kakek, paman harus menangkap bajingan itu untuk ku.."
"Pasti Tuan Muda," dengan gerakan ringan melesat keluar.
Diluar gerbang desa, pertarungan sedang berkecamuk, Su Hainy sendiri harus berupaya menghadang serangan Fu Meng, begitu juga Fuxin dan beberapa kultivator desa harus berupaya keras melawan mereka yang mampu meregenerasi kembali anggota tubuhnya.
Pertarungan semakin sengit saat Liu Pao sampai di tempat itu, tidak menunggu lama ia langsung meluncur masuk ke area pertarungan.
Su Hainy, terus-terusan memancing Fu Meng agar mengeluarkan kekuatan penuhnya hingga tingkat tertinggi dari kekuatannya.
"Bocah setan..ingin adu kecepatan denganku, baiklah," Fu Meng mengerahkan kembali kekuatannya, "Hiyaa..."
Energi besar menyelimuti seluruh tubuhnya, pergerakannya bertambah cepat mengimbangi kecepatan Su Hainy.
"Bang! Bang!" Pukulan mereka saling beradu.
Su Hainy mulai merasa kewalahan dalam menghadapi serangan Fu Meng dalam kecepatannya itu.
"Buk!!" serangan Fu Meng di tangkis oleh Su Hainy dengan menyilangkan kedua tangannya, tapi kekuatan serangannya yang kuat membuat Su Hainy terpelanting.
"Bam!!" Jatuh terduduk di tanah.
"Hehehe..apa terasa enak?!" ucap Fu Meng.
"Cuah!!" Su Hainy meludah ketanah dengan noda darah ikut keluar di ludahnya.
"Masih belum.." bisik Su Hainy dalam hati.
"Hahaha...serangan sampah ini hanya membuatku kegatalan, apa tidak ada serangan yang lebih berarti lagi??" Mengejek Fu Meng.
"Bocah setan, aku akan membunuhmu dengan satu serangan, Hiyaaa..." Fu Meng mengeluarkan seluruh Energinya sampai ketitik puncak.
__ADS_1
"Hehehe...aku suka kalau seperti ini," ucap Su Hainy kembali.
Fu Meng mengangkat tangannya kelangit, dari tangannya mengalir energi besar membentuk petir Merah.
"Akhirnya kesempatan yang di tunggu-tunggu datang, Naga Emas..berikan seluruh energimu untuk sekali serangan,"
"Baik Tuan," ucap Naga Emas.
"Kerahkanlah seluruh kekuatanmu, aku menantikan serangan terkuat mu, bodoh.." ucap Su Hainy memprovokasi Fu Meng.
"Hiyaa..." Energi Fu Meng bertambah besar, pada saat itu Esensi Keabadian terlihat bersinar di dadanya sebagai nutrisi pemberi kekuatan pada Fu Meng.
"Inti Api Emas....!!!!" teriak Su Hainy, dengan memejamkan mata kanannya.
Dengan semua kekuatannya, di gabungkan dengan Energi yang di berikan Naga Emas, Inti Api Emas langsung menyala di dada Fu Meng, menusuk langsung membakar Esensi Keabadian di dalam dadanya.
"Apa?!," Fu Meng terlambat menyadari.
"Aaahhhh..." Ia berteriak tinggi saat Esensi Keabadian di dalam tubuhnya dilahap Api Emas.
Bersamakan dengan itu, Esensi Keabadian yang di tanam di tubuh bawahannya ikut lenyap karena induk yang menutrisi Esensi itu telah habis dilahap Api Emas.
Ketujuh penduduk desa yang beraura Iblis awalnya, kini kembali ke keadaan semulanya, tapi kondisi tubuh mereka memprihatinkan.
Su Hainy berdiri kaku tak bergerak, dari mata kiri dan mulutnya mengalir darah akibat melepaskan kekuatan yang besar pada satu serangan terakhir. Ia mengambil resiko besar karena satu-satunya cara menghancurkan Esensi Keabadian adalah dengan Inti Api Emas dalam kekuatan yang besar.
Fuxin, memandang Su Hainy. Matanya langsung terbelalak, dalam hatinya berkata, "Jika Tuan mati, aku juga akan mati," ia langsung berlari kearah Su Hainy.
Su Hainy tak menjawab, baru saja Fuxin memegang tubuhnya, ia gemulai dan hampir jatuh terhempas rupanya dia sudah tak sadarkan diri.
"Woi...bantu aku!!" teriak Fuxin pada kultivator desa.
Mereka bergegas membopong Su Hainy kedalam desa, sisanya membawa penduduk yang barusan terbebas dari Esensi Keabadian.
Keesokan harinya, Su Hainy tersadar. Ia memegang mata kirinya yang terasa sakit di balik lilitan kain yang menutup matanya.
"Ah!!" Sambil bangkit duduk dari pembaringan.
"Tuan, akhirnya sadar juga.." ucap Fuxin, hatinya benar-benar lega.
"Mengapa aku disini??" tanya Su Hainy.
"Tuan tak sadarkan diri setelah pertarungan kemaren, masih untung aku datang menolong, akhirnya musuh bisa dikalahkan dan Tuan selamat," menepuk dadanya, berbohong untuk menarik simpati Su Hainy.
"Hmmm...lumayan pintar bersilat lidah untuk mencari simpati," bisik Su Hainy dalam hati.
"Kamu hebat juga, tampaknya lain kali aku tidak akan kesulitan dalam perjalanan ini," ucap Su Hainy tersenyum.
"Makasih Tuan, hehehe..." sambil mengusap-usap kepala belakang karena perasakannya tiba-tiba gak enak mendengar ucapan Su Hainy.
__ADS_1
"Tuan Muda Su, akhirnya anda sadar.." Fu Su tiba-tiba datang bersama dengan para kultivator desa lainnya.
"Iya," ucap Su Hainy.
"Apa Tuan Muda Su sudah baikan??"
"Aku merasa sudah baikan,"
"Terima Kasih Tuan Muda Su," ucap Fu Su di ikuti dengan para kultivator lainnya menjurah.
"Ah!! Jangan sungkan begitu, sudah seharusnya kita saling membantu," ucap Su Hainy sedikit canggung.
"Tuan Muda Su kami juga ingin mintak maaf karena kejadian tempok hari," ucap Fu Su kembali menjurah bersama orang-orang di belakangnya.
"Jangan dibahas Tuan Muda Fu, saya mengerti kok dengan situasinya," ucap Su Hainy.
"Kami juga berterima kasih pada pendekar Fuxin yang sudah membantu,"
"Hehehe... terima kasih saja mana cukup tuan Fu."
"Eh?! Apa yang pendekar Fuxin inginkan??" ucap Fu Su.
"Hehehe..perut kami sudah keroncongan selama sehari ini, apa tidak ada makanan untuk penyambutan kami, hehehe..." wajah Fuxin memerah malu.
"Hmm..hmm.." Su Hainy mendehem beberapakali.
"Memalukan.." ucap Su Hainy.
"Kami sudah menyiapkannya Pendekar Fuxin, kebetulan Tuan Muda Su juga sudah sadar, mari langsung kita makan," ajak Fu Su.
"Hehehe..aku sudah tidak tahan, mari Tuan.." ajak Fuxin memegang lengan Su Hainy membantunya bergerak dari tempat rehat itu.
Hari itu para penduduk ikut bersuka ria, mereka benar-benar bersyukur telah terbebas dari kutukan yang selama ini menjadi iblis di hati mereka.
"Terima kasih Tuan Muda Fu, makanannya benar-benar enak-enak," ucap Su Hainy.
"Tuan Muda Su terlalu sungkan, coba minuman ini, rasanya sangat nikmat," memberikan secangkir arak pada Su Hainy.
"Tidak..tidak..Tuan Muda Fu, aku tidak terbiasa.." tolak Su Hainy.
"Bawa sini, biar aku yang mewakili Tuan Su untuk minum, ckut..ckut..ckut.. aahhh, minuman ini benar-benar nikmat," ucap Fuxin.
"Kalau Pendekar Fuxin suka, tambah lagi," Liu Pao menuangkan minuman itu kedalam cangkir Fuxin.
Para penduduk desa Fu Su benar-benar menikmati suasana itu, mereka berpesta pora dengan meriah tak tentu kapan akan selesainya.
Terima Kasih Telah Membaca...
Tunggu kisah selanjutnya..
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Komen, Tinggalkan Hadiah dan Votenya...