
Pulau Anggora, matahari naik dari ufuk timur menyoroti pagi yang tenang itu memberikan kehangatan di dinginnya pagi, burung-burung berkicau menyabut datangnya pagi itu, berbunyi ria sahut-sahutan.
Su Hainy menggeliatkan tubuh untuk meregangkan ototnya, Fuxin dengan mata merem melek bermalas-malasan.
"Hmm..apa kamu ingin tidur??" Tanya Su Hainy.
"Uah...tidak Tuan, nyawa lebih penting dari tidur saat ini," jawab Fuxin.
"Kalau begitu mari kita melanjutkan perjalanan.." ajak Su Hainy, melangkahkan kakinya menempuh jalan setapak dari tepi pantai itu.
"Ayo..Tuan," mengikuti Su Hainy dari belakang.
"Syut..syut.."
"Mereka lagi Tuan," bisik Fuxin.
"Jalan saja dulu, kita lihat apa yang akan mereka lakukan?" balas Su Hainy.
Dengan langkah pelan penuh waspada Su Hainy dan Fuxin terus berjalan. Di balik rerimbunan daun-daun pohon beberapa sorot mata terus mengamatinya, beberapa dari mereka saling menggerakkan tangan seperti bahasa isyarat untuk terus mengikuti.
Setengah perjalanan sudah di lewati, tapi sosok-sosok itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerang, mereka terang-terangan menguntit di belakang.
"Mereka sengaja memancing kesini rupanya," ucap Su Hainy, saat melihat sebuah pemukiman kecil tak jauh di depan mereka, disitu terlihat beberapa pergerakan seperti persiapan untuk pengintaian.
"Kita terkepung tuan.." bisik Fuxin resah.
"Tenanglah..jika mereka bertindak kita tak perlu menahan diri," bisik Su Hainy.
Su Hainy dan Fuxin terus berjalan mendekati pemukiman itu, disitu ada beberapa gubuk berbentuk lingkaran memanjang keatas dengan atap terbuat dari jerami.
"Syut..syut.." beberapa sosok dengan pakaian putih lengkap dengan cadarnya telah mengepung Su Hainy dan Fuxin, beberapa buah tombak telah mengarah ke wajah dan leher mereka.
Su Hainy dan Fuxin tercengah dengan hal itu, serasa tidak melihat pergerakan mereka, tapi tau-taunya mereka telah berada di hadapannya.
"Sita semua barang mereka!" Perintah seseorang dengan tangannya tetap terkekang kebelakang sepertinya ia adalah pemimpinnya.
Seseorang dengan gerakan sigap mengambil barang-barang berharga yang ada di tubuh Su Hainy dan Fuxin.
"Pedangku..!" seru Fuxin.
"Kesalahan pahaman apa ini?" tanya Su Hainy.
"Tidak ada kesalahan paham apapun disini!" jawab pemimpin mereka.
__ADS_1
"Kami tidak melakukan hal buruk, mengapa kalian mengangkat senjata pada kami??" tanya Fuxin pula.
"Hehe..tidak melakukan apapun??" Jawab orang itu congkak.
"Memasuki pulau ini dengan gerak gerik yang mencurigakan, apa itu tidak melakukan apapun??"
"Semua barang mereka telah diambil pemimpin," ucap seseorang dari mereka memberikan pada pemimpinnya.
"Ups! Cincin penyimpanan, sudah lama aku tidak memilikinya," ucap pemimpin itu dengan menerawang cincin punya Su Hainy.
"Jika melawan mereka kekuatanku saat ini tidak memungkinkan, jika tertawan kedatangan mungkin akan sia-sia.." gumam Su Hainy dalam hati.
"Tapi jika tidak melawan akan mati perlahan, sedangkan para bangsat ini memiliki kekuatan Alam Manusia, perbedaan kami terlalu jauh.." Su Hainy memikir-mikirkan cara dan solusi untuk meloloskan diri.
"Wah, barang ini Kristal Semesta, akhirnya aku memiliki barang berharga ini, aku akan mencapai puncak dari beladiri, hahaha..." Pemimpin itu tertawa senang dengan kilauan Kristal Semesta di tangannya saat di terpa sinar matahari.
"Bagaimana selanjutnya pemimpin?" tanya salah seorang yang menodongkan tombak pada Su Hain dan Fuxin.
"Habisi mereka! Ketua akan senang dengan hal ini!" perintah dari pemimpin itu.
"Tunggu!!" tiba-tiba ada suara wanita yang berteriak.
"Wakil ketua Ling Xu??!" teriak semua sosok itu sambil menjurah hormat.
"Saya wakil ketua.." ucap pemimpin sosok-sosok itu menjurah hormat.
"Bawa mereka kehadapan ketua, serta barang berharga yang kau kumpulkan berikan padaku!" Perintah Ling Xu.
"Tapi wakil ketua.." tidak jadi melanjutkan ucapannya begitu melihat sorot mata Ling Xu.
Dengan gerakan lesuh dan berat hati, Tong Cu memberikan barang yang di pungutnya.
Su Hainy dan Fuxin, kedua tangan mereka diikat oleh sosok-sosok itu, leher mereka di beri tali seperti binatang tak lupa juga tangkai dari tombak mereka sesekali memberikan pukulan.
"Cepat jalan!" ucap seseorang dari mereka, dengan menarik tali yang terikat dileher Su Hainy dan Fuxin.
"Uh! " Mereka berdua mengerang saat sebuah pukulan menghantam punggung mereka.
Sepanjang perjalanan mereka terus menerima pukulan dari beberapa sosok itu, Fuxin terus memberontak dan berteriak dengan melontarkan kata-kata kasar.
"Anj***..lepaskan kami," teriak Fuxin.
Su Hainy hanya diam dan yang keluar dari mulutnya hanya sebuah erangan saat mendapat pukulan.
__ADS_1
Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh akhirnya mereka sampai di sebuah mulut goa yang di jaga oleh dua sosok putih seperti orang-orang yang membawa dan menyiksa mereka berdua.
"Wakil ketua Ling Xu," ucap Dua orang itu menjurah hormat dan membukakan jalan untuk rombongan itu.
Setelah memasuki kedalaman goa, rombongan yang membawa Su Hainy dan Fuxin sampai di depan Ketua mereka.
"Ketua, kedua orang yang ketua minta telah sampai," Ling Xu melapor dengan jurahan hormat diikuti oleh semua rombongan itu.
Su Hainy dan Fuxin hanya berdiri, mereka tidak menjurah dihadapan orang yang mereka panggil ketua.
"Buk!! beri hormat pada ketua.." teriak Tong Cu, dengan sebuah pukulan dari tangkai tombak menghajar punggung Su Hainy dan Fuxin.
Mereka berdua jatuh berlutut, dengan kepala mereka di tekan kebawah, rambut mereka yang awut-awutan menutupi wajah mereka membuat ketua yang duduk di singgasana tidak dapat melihatnya.
"Tarik talinya, aku ingin melihat wajah-wajah yang berani-beraninya menginjakkan kaki di pulau ini," ternyata ketua mereka adalah seorang wanita.
"Uh!" Erangan dari mulut Su Hainy dan Fuxin saat talinya di tarik kebelakang.
"Heh???!!!!!" Ketua mereka melotot kaget seakan-akan bola matanya mau loncat keluar saat melihat wajah Su Hainy.
Ketua itu langsung berteriak keras, "Lepaskan mereka!!! Cepat!!!!" Teriakannya menggegerkan seisi goa membuat goa itu serasa mau runtuh.
Dengan gerakan sigap dalam keheranan, Tong Cu dan beberapa anak buahnya memotong semua ikatan Su Hainy dan Fuxin, kemudian mengangkat mereka untuk berdiri.
"Ketua.." ucapan tertahan Ling Xu saat melihat ketuanya berjalan kearah Su Hainy dengan air mata berlinang dan menjatuh diri berlutut di hadapan Su Hainy.
"Murid memberi hormat pada guru..maafkan kelalaian murid yang tidak mengenali guru..murid bersedia menerima hukuman dari guru.." sambil berlutut di hadapan Su Hainy.
Semua mata dari bawahannya melotot heran, pikiran mereka semua tiba-tiba kacau.
"Apa yang kalian lakukan??!!!! Cepat berlutut!!! Mintalah maaf pada guru.." teriak ketua itu, sontak saja mereka semua berlutut di hadapan Su Hainy dan Fuxin.
"Kami meminta maaf pada guru.." ucap mereka secara bersamaan.
"Kenapa bisa begini??" ucap Fuxin, heran dengan memegang pinggangnya yang terasa sakit.
Su Hainy hanya berdiri membisu, Ia tidak mengucapkan sepatah katapun karena kepalanya sedang berpikir muridnya yang manakah ini??
Kepalanya serasa mau pecah mencari ingatan itu, tapi ia tidak mendapatkan jawaban.
Terima Kasih Telah Membaca...
Tunggu Kisah Selanjutnya..
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Komen, Tinggalkan Hadiah dan Votenya...