SANG DEWA SEMESTA

SANG DEWA SEMESTA
TITISAN SANG DEWA SEMESTA


__ADS_3

Di dalam kabut pasir akibat ledakan, Su Hainy berdiri tegak bertingkah waspada, sorot matanya tajam, tangan di silangkan di depan dada, kakinya membentuk kuda-kuda.


Auman kemarahan terdengar di dalam ketebalan kabut, setelah kabut menipis seperti kesurupan monster itu menyerbu kearah Su Hainy.


"Wush! wush! wush!"


"Masih belum mati rupanya," ejek Su Hainy sambil mengelak ke samping menghindari serangan tiba-tiba itu.


Beberapa monster lainnya juga ikut menyerang bayangan Su Hainy.


"GRRRR...., SIAPA KAU SEBENARNYA MANUSIA???" menyeringai geram.


"aku adalah aku, kalaupun ku katakan kau juga tak akan tau," ucap Su Hainy sambil berdiri siaga.


"JURUS BAYANGAN DEWA, DIMANA KAU MENDAPATKAN?, GRRR...."


"Lebih baik kau mati dari pada mengetahuinya, bodoh!!!!" sekali lagi Su Hainy mendorong tangannya kedepan.


Api emas kembali menyembur di telapak tangannya menjelma menjadi naga dan menyerbu kembali monster itu.


Monster itu melompat keudara, di tangannya muncul sebuah gadah besar, mengayunkan ke depan membalas serangan Su Hainy.


"Bum! bum!" sekali lagi ledakan terjadi, baik Su Hainy maupun monster itu sama-sama terhempas kebelakang.


"Hosh! hosh! hosh!, kekuatanku mencapai batas," ucap Su Hainy dalam hati dengan nafas terengah-engah, berusaha bangkit.


"ROARRRR!!!..." monster itu bangkit berdiri, menepuk dadanya beberapa kali, tatapan matanya semakin beringas.


"MATILAH MANUSIA!!!!" monster itu melompat kedepan menyerang Su Hainy.


"Gawat!!!, tubuhku tak bisa di gerakkan, tak ada pilihan lain terpaksa menggunakan pertahanan terakhir, semoga saja ini berhasil," dengan sisa tenaganya Su Hainy meluruskan tangannya kedepan.


"Bayangan Dewa hadang!!!!" kesepuluh bayangan itu melompat kedepan Su Hainy menghadang serangan monster itu.


"Bam! bam!" begitu terkena pukulan gadah besar si monster kesepuluh bayangan Su Hainy hancur.


"Hoek!!" darah kental kehitaman menyembur di mulut Su Hainy, Ia tersungkur di tanah tak sadarkan diri.


"ROARRRR!!!!....MATILAH MANUSIA" monster itu mengayunkan gadahnya bersiap menghantam Su Hainy yang tak sadarkan diri. tiba-tiba dari langit petir menyambar gadah si monster, memercikan api biru, hal itu membuat sang monster kaget, namun lambat menyadari, tak ayal tubuhnya ikut tersengat petir dan di lahap api biru.


"ROARR..ROARR..." makhluk itu melompat kesana kemari untuk memadamkan api biru di tubuhnya, namun hal itu tak berguna Ia terjelimpang mati dilahap api biru itu.

__ADS_1


Melihat pemimpin mereka mati di depan mata, Ratusan monster yang tersisa berhaburan tak karuan meninggalkan tempat itu, hanya dalam beberapa tarikan nafas tak satupun monyet raksasa yang terlihat di luar tembok kota Semesta lagi.


"Sudah berakhir," ucap penguasa kota, sambil kembali menyarungkan pedangnya.


Bersamakan dengan lenyapnya pasukan monster itu, Segel Kurungan Dewa juga ikut menghilang.


"Segelnya juga menghilang," ucap panglima sambil melihat keatas.


"Horeee...., kita menang teriak para prajurit" secara bersamakan.


"Panglima, jeput pahlawan itu," perintah Penguasa kota sambil menunjuk kearah sosok berjubah yang tersungkur di luar dinding kota.


"Baik, Baginda" sambil melompat dari puncak tembok.


"Tap!!" mendarat ringan diatas sebuah batu, dan berjalan mendekati sosok berjubah itu.


Sesampainya di dekat sosok itu, Panglima kota ternganga heran. Begitu jubah di tarik sosok tubuh di balik jubah itu telah lenyap.


"Baginda..pahlawan itu telah lenyap," mengode dengan menghoyangkan tangannya kekiri dan kekanan.


"Apa?!, bagaimana bisa?!" antara percaya dan tidak percaya, lalu penguasa kota turun dan mendekati panglima.


"Hanya tersisa jubahnya Baginda, tubuhnya lenyap entah kemana," sambil menyodorkan jubah hitam itu.


Berbalik pada kisah sebelumnya, setelah Su Hainy tersungkur tak sadarkan diri, di dalam ruangan spritualnya ketujuh Roh Naga sepakat membawa Su Hainy kembali ke Goa Ilusi, walau ada sedikit pertentangan di antara mereka dalam hal lain.


"Ungu, bawa tuan kembali ke Goa," ucap naga Emas.


"Jaraknya terlalu jauh, energiku tidak cukup," balas naga Ungu.


"Hitam mana?!" tanya naga Emas.


"Mengumpulkan energi untuk teleportasi ke Goa" jawab naga Merah.


"Huft!!, ternyata ia telah bersiap, syukurlah," balas naga Emas sambil menghela nafasnya.


"Jangan terlalu lama, nyawa tuan dalam bahaya," naga Emas kembali berucap.


"Jangan risau, aku sudah menyalurkan energi untuk penyembuhan Tuan," jelas naga Putih.


"Kau terlalu gegabah Emas, memberi Tuan energi yang besar, hampir saja menghancurkan tubuhnya," naga Hijau sedikit geram.

__ADS_1


"Kalau aku tidak menyalurkan energi pada tuan, bisa jadi saat ini kita sudah tidak ada,"


"Tutup mulut busukmu!!, kau tidak pernah bersikap bijak, walau sudah hidup lama dalam wujud ini," naga hijau semakin geram.


"Kau hanya pintar bicara Hijau, apa yang bisa kau lakukan saat tuan dalam bahaya?! apa?!" naga Emas terbawa suasana.


"Dasar bodoh!!!, disaat seperti ini masih mengucapkan hal-hal yang tidak berguna, kebijakan kalian tampaknya telah hilang di telan waktu, yang lain sedang berusaha untuk kebaikan Tuan, tapi kalian sibuk membahas hal-hal yang telah berlalu, tampaknya tujuh leluhur naga telah kehilangan kebijakan karena kalian," naga Kuning berucap dengan suara setengah berteriak.


"Maafkan kami," ucap kedua naga itu.


"Katakan pada Tuan maaf kalian," balas naga kuning.


Akhirnya ketujuh naga itu bersama-sama menyalurkan energi ke tubuh Su Hainy, melalui perantara roh naga Putih, energi-energi itu di ubah menjadi energi penyembuhan yang menjalar di setiap titik tubuh Su Hainy.


Setelah naga Hitam memiliki cukup energi, Ia kemudian menyalurkan energi keseluruh tubuh Su Hainy dan berteleportasi ke Goa Ilusi.


Hal itu bertepatan dengan mendaratnya Panglima kota beberapa langkah dari tubuh Su Hainy.


Berlanjut ke Penguasa kota, setelah mengambil jubah yang di sodorkan Panglima, Penguasa kota melihat-lihat jubah itu.


"Tampaknya kita belum di takdirkan untuk bertemu dengan Titisan Sang Dewa," ucap Penguasa kota sambil melipat jubah hitam yang sudah sobek-sobek itu.


"Benar Baginda, kita berharap dia baik-baik saja," tungkas Panglima.


"Perintahkan semua prajurit membersihkan area di luar gerbang ini," perintah penguasa kota sambil berlalu meninggalkan tempat itu.


"Kalian semua, turun!, bersihkan area ini,".


"Baik, Panglima!!"seru hampir seluruh prajurit.


Panglima kotapun berlalu meninggalkan area pertempuran itu.


Tak adanya korban jiwa di penyerangan monster kali ini membuat wajah penguasa kota tampak cerah berbinar-binar, namun ada hal kecil yang terbesit dipikirannya, sambil terus melihat-lihat jubah di tangannya, penguasa kota terus berpikir siapakah sosok di balik jubah ini.


Beberapa jawaban mulai ikut muncul dipikirannya, tapi belum tentu jawaban itu benar dan masih sebuah asumsi yang di pikiran penguasa kota, untuk mencari kebenaranya butuh beberapa bukti yang menguatkan asumsi itu, salah satunya berkaitan dengan hilangnya murid Academy bidang pengetahuan dan hal ini berkaitan langsung dengan Segel Kurungan Dewa.


"Mungkin,si Tua Bangka itu bisa membantu," bisik penguasa kota dalam hatinya.


Panglima kota yang dari tadi mengikuti penguasa kota kemudian membuka pembicaraan.


"Baginda, apakah baginda akan menyelidiki sosok berjubah itu?" menerka pemikiran baginda.

__ADS_1


"Setelah semuanya kembali aman, misteri ini harus di pecahkan," sahut baginda.


Sambil terus berjalan kedua orang itu terus berbincang membicarakan sosok misterius itu.


__ADS_2