SANG DEWA SEMESTA

SANG DEWA SEMESTA
API EMAS SANG DEWA


__ADS_3

Pasukan kota telah bersiap. Persenjatakan lengkap dan kekuatan penuh telah disiagakan menanti datangnya makhluk iblis. Hingga malam datang kewaspadakan penuh terpancar diwajah para prajurit.


Pagi datang menghampiri, Fajar menyingsi di ufuk timur. Auman makhluk itu terdengar mendekat. Suaranya mengerikan menegakkan bulu kuduk, aba-aba pertempuran telah dikumandangkan.


Sesaat kemudian makhluk itu telah tampak. Berwujud monyet raksasa bermata merah, warna bulunya merah api, gigi dan taring tajam menyeringai seperti kelaparan.


"Pemanah bersiap!!" Panglima kota memberikan perintah.


Pasukan pemanah bersiap, menunggu aba-aba selanjutnya dari penglima. Saat posisinya tepat, panglima kota memerintahkan penembakkan.


"Tembak!!!"


Ratusan anak panah menebar di udara. Bak hujan, menukik deras menghujami makhluk-makhluk mengerikan itu. Begitu anak panah menyentuh tubuh Mereka, hal di luar dugaanpun terjadi, anak panah terpelanting tak mampu menembus tubuh makhluk itu.


Melihat hal itu, banyak prajurit kota yang ciut nyalinya, makhluk yang di depan mereka bukanlah lawan yang sepadan. Makhluk itu mendekat, anak panah sekali di tembakkan, tapi hasilnya tetap sama. Para prajurit semakin bergidih ngeri, beberapa orang bahkan melangkah mundur dengan wajah pucat pasi di landa ketakutan.


"Tetap di posisi!!, jangan ada yang mundur....!!" teriak panglima kota.


"Bagaimana ini Baginda??" Panglima kota mulai risau.


"Tak ada pilihan lain, selain bertempur sampai tetes darah terakhir!!" seru Raja kota, dengan mencabut pedang yang terselempang di punggungnya, "Trangg!!".


"Semuanya bersiap!!, angkat senjata kalian!!!!, Demi kota ini!!!!, dan demi keluraga kita!!!!" teriak panglima kota.


Dengan keraguan di hati, para prajurit kota mencabut senjata mereka dari sarungnya.


"Ingat keluarga kalian!!!, biarlah kita yang binasa!!!, kita bawa makhluk ini bersama kita, demi ketenangan penerus kita di masa depan!!!" Panglima kota kembali berteriak membangkitkan semangat pasukan kota.


Sepuluh tarikan nafas lagi, makhluk itu akan sampai di tepi dinding kota. Tiba-tiba saja sebuah segel aktif dan mengurung seluruh kota dengan seperti sebuah payung.


"Segel kurungan dewa??!!!" Raja kota mengeluarkan seruan tertahan.


"Apa ini???!!" teriak hampir seluruh prajurit.


"Bagaimana segel ini bisa ada??!!" Panglima kota juga bertanya-tanya sendiri.


Selain segel itu yang mengejutkan, kejadian di luar segel lebih mencengangkan. Sepuluh orang dengan jubah hitam menutupi seluruh tubuh mereka, bertarung dengan hebat menghalangi monster-monster ganas itu. Semua serangannya mengeluarkan hawa membunuh yang mengerikan, dan setiap satu pukulan yang di lepaskannya membunuh satu monster itu.


"Jurus legenda??!" seru raja kota.


"Jurus Sepuluh Bayangan Dewa??!" Seru panglima pula.


"Selama sepuluh ribu tahun tak ada satupun yang mampu menguasai jurus ini dengan sempurna, tapi hari ini, aku menyaksikan jurus hebat ini dengan level tertingginya," jelas baginda raja berdecak kagum.

__ADS_1


Diluar Kurungan Dewa, Sepuluh sosok berjubah itu bertempur dengan gagah berani, bergerak lincah meluncurkan serangan ganas berkekuatan penuh. Sosok berjubah itu, tak lain adalah King Su Hainy.


"Tuan, apa tuan membutuhkan bantuan kami??" ucap naga emas yang bersemayan di ruangan spritual Su Hainy.


"Saya masih bisa melanjutkan, waktunya belum tepat" ujar Su Hainy di balik jubah hitamnya.


Setelah ratusan monster tewas di tangan Su Hainy dan bayangannya, tiba-tiba saja monster-monster itu perlahan mundur, dan dari belakang kawanan itu seekor monster raksasa maju kedepan dengan tatapan ganas dan beringas ia benar-benar marah besar.


"GRRR....!!!,MANUSIA JAHANAM, CUKUP SUDAH KAU MEMBANTAI ANAK-ANAKKU," bentak makhluk itu.


"Hmmmm...ternyata kau yang memimpin," ucap Su Hainy sambil berdiri berkacak pinggang.


"HARI INI KU AKHIRI HIDUPMU MANUSIA,".


"ROOAARR....!!!!" sambil menepuk dadanya dan menyerbu kearah Su Hainy.


Walaupun tubuh monyet raksasa itu besar, namun gerakkannya luar biasa cepat, hanya dalam sekejap mata tangan makhluk itu sudah diposisi siap mencengkram Su Hainy.


Su Hainy melompat dan jungkir balik di udara, "Hampir saja!" bisik Su Hainy.


Baru saja kakinya memijak tanah, tangan makhluk raksasa itu sudah datang kembali untuk mencengkram, Su Hainy melompat ke atas lengannya berlari dan melepaskan pukulan menghantam wajah makhluk itu.


"Bam!.."


Su Hainy melompat menghindar dan kembali mendaratkan kakinya menginjak tanah. Gerakan Su Hainy kurang cepat dan sigap, baru saja kakinya menginjak tanah, tangan makhluk itu datang menghantam. Tak ayal lagi, Su Hainy terpelantik dan tubuhnya menghantam tembok pembatas kota.


"Bam! Bam!.." darah hangat mengalir dari mulut Su Hainy.


"Kekuatan yang luar biasa," ucap Su Hainy sambil berdiri bangkit.


"Tuan, biarkan saya membantu, keadaan tuan tidak baik," naga emas berucap dari ruangan spritual Su Hainy.


"Masih belum, saya belum mengeluarkan semua kemampuan yang saya punya," jelas Su Hainy.


Su Hainy kemudian melangkah kedepan, sorot matanya tajam, menatap monster iblis itu.


"GRRR....!!! BELUM MATI RUPANYA," ejek makhluk itu.


"Kekuatan sampah seperti itu tidak akan membunuhku".


"GRRRR..!!! SEBENTAR LAGI KAMU AKAN MATI MANUSIA".


Baru saja makhluk itu mengakhiri ucapannya, Su Hainy kemudian menutup mata kanannya.

__ADS_1


"INTI API EMAS!!".


Seperti mengetahui insting membunuh yang kuat dari Su Hainy, makhluk itu menyilangkan tangannya di depan dada, lalu mengalirkan energi murni ke kedua tangannya membentuk sebuah perisai menyambut datangnya serangan Su Hainy.


Tiba-tiba saja energi yang berbentuk perisai itu di lahap oleh Api Emas yang sangat murni, makhluk itu lalu mendorong kedua tangannya kedepan dan mentahlah Api Emas itu ke tanah melahap habis energi murni monster itu.


Di dalam kurungan dewa, Panglima kota dan Baginda raja serta para prajurit yang sejak dari tadi melihat jalannya pertempuran kini tambah tercengang begitu melihat Api Emas murni yang melahap perisai energi sang monster.


"Api Emas Sang Dewa" dengan suara tertahan dan mata Baginda setengah melotot.


"Tiga Jurus Legenda dari satu orang, benar-benar di luar nalar," puji panglima.


"Titisan Sang Dewa?!" ucap Baginda.


"Sepuluh Ribu Tahun, apakah Sang Dewa berengkarnasi?!" tanya Panglima.


"Waktu yang lama, seharusnya itu tidak akan terjadi!" tungkas Baginda.


"Semua Jurusnya adalah jurus Legenda Baginda?!"


"Sebelumnya Aku tidak percaya, tapi sekarang aku yakin Sang Dewa berengkarnasi," jelas Baginda.


"Siapa agaknya sosok dibalik jubah itu Baginda?"


"Yang pasti Dia Sang Dewa," jawab baginda singkat.


Diluar Kurungan Dewa, pemimpin makhluk iblis itu mundur beberapa langkah, Tampangnya yang beringas mengendor, rasa takut terpancar di tampangnya.


"GRRR...!!!!, SIAPA KAU SEBENARNYA?!"


"Aku?!, siapa lagi kalau bukan Dewa kematianmu!!"


"GRRRR....!!!! DARI MANA JURUS MAUT ITU KAU DAPATKAN?"


"Mau tau?!, atau mau merasakan sekali lagi?"


"ROOAARRR....!!!! JAWAB PERTANYAKANKU MANUSIA, DARI MANA JURUS ITU??"


"Kalau kau mau tau, matilah!!" teriak Su Hainy. Tangan kanan didorong kedepan, Api Emas menyembur ditelapak tangannya, menjelma menjadi seekor naga lalu menyerbu kearah para monster.


"Bam!!!!"


Ledakanpun terjadi, pasir-pasir beterbangan melingkupi area pertempuran.

__ADS_1


__ADS_2