SANG DEWA SEMESTA

SANG DEWA SEMESTA
HUTAN KEMATIAN


__ADS_3

Kota Semesta, Academy tiga bidang. Master Yung Law tengah duduk berhadapan-hadapan dengan Master Fang Tu kepala pengelola perpustakaan kota Semesta, mereka tampak membicarakan topik yang penting di ruangan Master kepala Academy.


"Sudah dua bulan ini aku tidak melihat Su Hainy di Academy, kemana perginya bocah itu??" Tanya Master Yung Law.


"Saya sendiri juga tidak mengetahuinya dengan pasti Master, ia pergi tanpa meminta izin dari saya. Bahkan sebelumnya, saya melarang dia untuk pergi," jelas Master Fang.


"Dia adalah tanggung jawab kita, membiarkannya berkeliaran diluar akan berdampak pada kita, kirim orang untuk menemukannya!!" Perintah Master kepala.


"Sudah saya lakukan Master dan Dari informasi yang saya terima terakhir kali, Dia berada di desa nelayan pinggir pantai Dataran Xuansing." Jawab Fang Tu.


"Kirim orang kembali, kalau bisa bawa dia kembali ke Academy," perintah Master kepala sekali lagi.


"Baik Master!!" Fang Tu berlalu pergi meninggalkan ruangan Master kepala.


*****


Alam Roh, Feifei sebagai ratu di Alam itu juga melakukan tindakan yang sama dengan para master di Academy Tiga Bidang. Ia mengirim beberapa orang untuk memantau Su Hainy dalam pertualangannya.


"Lapor Ratu, Dewa Semesta baik-baik saja, sebelumnya ia terlibat beberapa Pertarungan di kota Mati Xiling dan Pulau Anggora, tapi ia berhasil mengalahkan lawannya itu," pengintai utusan Feifei menjelaskan detail perjalanan Su Hainy.


"Bagus, awasi dia terus, tapi jangan sampai ia mengetahui Mu," perintah Feifei.


"Baik Ratu," orang itu menjurah hormat dan pergi.


Sepeninggal pengintai itu, seseorang pengintai datang lagi, ia adalah orang yang diutus Feifei untuk mengawasi Long Bersaudara yang mengalahkan Chio Su.


"Lapor Ratu, Long Bersaudara telah tewas di pulau Anggora, Dewa Semesta sendiri yang menghabisi mereka," jelas orang itu.


"Bagus.. tugasmu telah selesai, kembalilah ke puncak Kabut dan tunggu perintah selanjutnya," Ucap Feifei.


"Baik Ratu," orang itupun berlalu pergi dari ruangan Feifei.


"Mengejutkan..dalam Dua bulan ia berhasil mengalahkan peringkat Raja level puncak, Chio Su yang setara dengan mereka harus merasakan pahitnya kekalahan ditangan mereka," gumam Feifei dalam hati.


Dataran Kuanming, Hutan Kematian. Su Hainy dan Fuxin memijakkan kaki di pinggir hutan itu, hawa Kematian langsung terasa menyerang ruangan Spritual Su Hainy. Fuxin langsung bergidih ngeri saat hawa itu terasa menekannya.

__ADS_1


"Apa Tuan yakin untuk melewati tempat ini??" Tanya Fuxin mengusap tengkuknya yang merinding.


"Tempat ini cocok untuk pelatihan ketahanan Spritual dari serangan Luar," jelas Su Hainy.


"Tapi kekuatanku tidak mencukupi Tuan."


"Kamu tenang saja, aku akan membantumu menekannya agar aura kehidupanmu tidak terkikis oleh hawa Kematian ini," ucap Su Hainy.


"Jika begitu, saya mengikuti keputusan Tuan, mari kita masuk!!" Ajak Fuxin.


Mereka berdua memasuki hutan itu mengalirkan energi untuk melindungi ruangan Spritualnya. Semakin melangkah masuk kedalam hutan, hawa itu semakin kuat dan pekat, kaki mereka terasa berat di langkahkan.


"Tekanan ini...kakiku terasa berat," gumam Su Hainy dalam hati.


Su Hainy menghentikan langkahnya, ia memejamkan mata, mengatur pola nafas dan pemusatan energi yang lebih terfokus di ruangan Spritualnya, Fuxin juga melakukan hal yang sama untuk melindungi diri.


"Bagaimana Tuan??"


"Jangan sampai Fokus Mu terganggu oleh yang lain, tingkatan Alam Binatang Spritual paling rentan di kikis oleh hawa ini," jelas Su Hainy dengan mentransferkan sebagian kekuatannya pada Fuxin.


Mereka berdua kembali melanjutkan langkahnya menyusuri Hutan Kematian itu di tengah tekanan yang semakin bertambah kuat. Su Hainy melipat gandakan energinya agar hawa itu tidak mengikis aura kehidupannya.


Tiba-tiba saja ada bayangan yang berkelebat di antara dahan pohon dan berpindah dengan cepat.


Gak..gak..gak


"Ternyata seekor gagak, aku kira makhluk iblis lagi," Bisik Fuxin di belakang Su Hainy.


"Tempat ini tidak ada makhluk itu, aku sudah menggunakan Mata Sakti sejak memasuki hutan ini," jelas Su Hainy.


Saat sore menjelang, mereka berdua akhirnya keluar dari hutan kematian. Su Hainy dengan tampang tenangnya mengambil nafas panjang dan langsung duduk bersilah untuk memulihkan diri.


Fuxin, wajahnya pucat pasi seperti kesetanan dengan tubuh menggigil akibat rasa takut yang mendalam. Ia mencoba menghela nafas beberapa kali kemudian duduk bersilah memulihkan diri.


Sore itu berlalu dengan cepat dan dengan terpaksa mereka harus beristirahat di pinggir hutan itu.

__ADS_1


Krak..krak...


Api melahap kayu yang di onggokan Fuxin ke atas unggunan itu. Mereka berdua memanas diri dengan duduk mendekat di api unggun.


Tak jauh dari mereka, ada dua sorot mata yang mengintai di balik rimbunnya semak, sorot mata itu terus menatap mereka tanpa berkedip.


"Bagus, mereka aman.. dengan begini aku bisa melapor pada ratu," bisik bayangan itu dalam hati.


Syut..Bayangan itu lenyap tanpa bekas.


Menjelang pagi datang Su Hainy memilih untuk berkultivasi memperbaiki pondasinya yang masih goyah setelah menerobos Alam Manusia dengan bantuan kristal semesta.


Saat matanya terpejam ingatannya melayang jauah ke masa lampau lebih dari sepuluh ribu tahun lalu.


"Zhao, jika nanti kamu pergi aku akan selalu menunggumu," ucap seorang gadis kecil dengan menggenggam tangannya.


"Jika aku pergi aku akan membawamu bersamaku, suatu hari nanti kita akan jadi pengantin di kehidupan ini," jelasnya pada gadis itu.


Suatu hari, Setelah mereka dewasa.


"Maafkan aku Dewi, aku harus pergi ke alam bawah untuk menuntaskan kejahatan yang telah di lakukan bangsa iblis pada manusia di dunia bawah, aku pasti akan kembali dan menunaikan janji kita," ucapnya pada wanita itu dengan pelukan erat pada wanita itu.


"Aduh!! Mengapa wanita itu harus datang di ingatanku, tampaknya ini ulah dari bayangan ketiga.." bisik Su Hainy.


Kembali Su Hainy memejamkan matanya kali ini ia lebih fokus dengan mencoba membuang kenangan masa lampau itu.


"Rapalan Kultivasi Pengendali Langit, ini bisa membantuku memperkokoh pondasi ku diawal penerobosan ini, Aku akan coba," Su Hainy kemudian merapalkannya.


Benar saja, sesaat kemudian tubuhnya terasa bergejolak oleh energi yang berputar di ruangan Spritualnya, semakin lama energi itu semakin kuat dan mengalir di tubuh Su Hainy dengan cepat.


Dengan memfokuskan diri, Su Hainy tetap menjaga pola nafasnya agar perputaran energi itu terus berlanjut sampai pondasinya kokoh.


Pagi harinya, cahaya matahari naik menyengat kulit tubuh, memberikan kejutan serasa terik matahari di gurun pada pagi hari, Tampak Cahaya pagi itu terasa lebih menyengat dari biasanya.


Tak menghiraukan Cuaca aneh itu, Su Hainy bersama dengan Fuxin melanjutkan perjalanan mereka untuk tujuan yang harus di capai dengan cepat.

__ADS_1


Dataran Kuanming yang Luas dan tanpa bekal petunjuk yang pasti mereka melangkahkan kakinya menuju arah yang yang mereka rasa benar.


Tanpa diketahui Su Hainy dari jauh seseorang mengintai dan mengendap-endap seperti memiliki maksud yang tidak baik untuk mereka.


__ADS_2