SANG DEWA SEMESTA

SANG DEWA SEMESTA
DEWA PENYELAMAT


__ADS_3

Tiga hari sudah, kota Werung menghadapi pertempuran melawan serangan Iblis. Banyak korban yang sudah berjatuhan di kota itu, teriakan kesakitan dan semangat juang masih terus menggema di setiap sudut kota.



Fu Lin dan ke tujuh anak buahnya, melewati pertempuran panjang itu dengan sekuat tenaga, di hari ketiga itu mereka telah di ambang kelelahan. Namun, ketika ia mengingat perjuangan panjang Sang Dewa Semesta dalam perjuangan membawa kedamaian Di Alam Dunia ini, ia kembali bangkit dan dengan segenap rasa prikemanusiaan ia kembali mengayunkan sabit kembar di tangannya.


"Tuan.. Iblis-iblis busuk ini!!!" Fuxin berteriak geram.


"Habisi mereka!!" Teriak Su Hainy.


Mereka yang baru datang di luar gerbang kota langsung turun tangan. Fuxin, dengan jurus Pedang Fongsunya menerobos kedepan dan Su Hainy dengan jurus handalan Sepuluh Bayangan Dewa langsung menyergap Iblis-iblis itu.


"Ketua..lihat disana!!" Teriak anak buah Fuxin dari atas gerbang.


"Bantuan datang..bantuan datang..!!" Teriak seorang murid Sekte.


Wush! Bum! Bum!


Dalam sekali serang, beberapa Iblis langsuang terjelimpang mati di tanah.


"Naga ungu..!!" Bisik Su Hainy dalam hati.


"Siap Tuan!!" Dengan kemampuan alaminya ia melepaskan kabut ungu yang mengandung ilusi tingkat tinggi.


Dan dengan cepat, bagian luar kota telah di penuhi kabut ungu. Dari dalam kabut itu, teriakan kematian terdengar menyayat, hanya dalam waktu singkat puluhan Iblis itu telah mati mengenaskan.



Sesaat kemudian Kabut Ungu lenyap dan di area kematian pasukan Iblis itu tampak berdiri dua orang dengan gagahnya.


"Fuxin..masuk kedalam kota dan bantu penduduk disana, aku akan mengurus sisa makhluk menjijikkan ini di luar" perintah Su Hainy.


"Baik Tuan.." dengan gerakan ringan ia langsung menerobos kearah gerbang.


"Naga Kuning..bantu si pengecut itu!!".


"Baik Tuan," Roh Naga Kuning melesat masuk kedalam ruangan Spritual Fuxin.


"Eh!!"


"Jangan kaget, aku hanya menjalankan perintah Tuan.."


"Tuan??"


"Bodoh..siapa lagi Tuan kita," rutuk Naga kuning.


Fuxin tersenyum ringan lalu mempercepat gerakannya sambil tangan mengayunkan pedang untuk membunuh para Iblis yang menghalangi jalannya.

__ADS_1



Sepeninggalan Fuxin, Su Hainy kemudian melepaskan jurus Sepuluh Bayangan Dewanya kembali, setiap bayangan itu berpencar ke setiap sisi kota Werung dan melepaskan jurus Segel Kurungan Dewa yang menutupi kota Werung untuk menghadang pasukan Iblis agar tidak lagi masuk ke kota.


"Tuan.. ternyata anda yang datang membantu," bisik Fu Lin saat melihat jurus segel yang mengurung kota Werung.


Di dalam kota, Fuxin mengamuk ganas. Dengan nutrisi kekuatan yang di dapatnya dari Naga Kuning ia membantai Iblis-iblis yang tengah asik berpesta pora memakan daging para penduduk yang telah tewas.


"Makhluk busuk..matilah kau!!!!"


Crash! Crash!


Satu persatu Iblis-iblis itu di basmi habis oleh Fuxin, ia bergerak kesana kemari kesetiap sudut kota Werung. Di bagian luar, Su Hainy dengan ganasnya juga membantai habis Iblis-iblis itu, tapi yang paling mengherankan, dari semua pasukan itu tak ada di temukan pemimpinnya.


"Aneh! Kenapa yang tinggal hanya para Iblis keroncongan, tak satu pun yang tingkatannya tinggi, apa pemimpin mereka telah lebih dulu meninggalkan kota untuk menyerang tempat lain??" Su Hainy membatin dalam hati.


Setengah hari sudah Su Hainy dan Fuxin membantai gerombolan Iblis itu dan secara perlahan mereka mundur dan menjauh dari kota Werung.



Su Hainy kemudian masuak ke kota Werung, ia langsung mengomandoi para kultivator yang tidak terluka untuk membantu para penduduk kota.


"Tuan.." tiba-tiba Fu Lin datang menghampiri Su Hainy.


"Sejak kapan kamu disini??"


"Bantu para penduduk, dan periksa setiap sudut kota untuk memastikan tidak ada lagi makhluk busuk itu yang tertinggal," perintah Su Hainy.


"Baik tuan.."


Pertempuran panjang yang sudah di lewati kota Werung dan Sekte Burung Hantu berakhir sudah, tapi keadaan kota jatuh dalam kekacauan yang mengerikan, situasi kota Werung sangat menakutkan seperti kota mati, setengah jiwa penduduknya telah tewas dalam serangan itu.



Satu Minggu kemudian, kota Werung telah di bersihkan dari jasad para penduduk yang tewas dan bangkai-bangkai Iblis kotor yang menjijikkan. Hari itu, nama Su Hainy di kenal oleh para penduduk kota Werung, mereka memanggilnya dengan Dewa Penyelamat.


"Dewa Penyelamat..." Teriak beberapa penduduk kota saat Su Hainy berjalan mengelilingi kota Werung.


Su Hainy hanya membalas dengan senyuman, ia bahkan pernah merasakan hal seperti itu sepuluh tahun yang lalu dimana dirinya pernah di panggil dengan panggilan yang sama.


"Apa ini terasa sedikit bernostalgia tuan??" Tanya Fu Lin yang berjalan di belakang Su Hainy.


"Hmm..nostalgia yang menyakitkan untuk di ingat," sahut Su Hainy.


"Itu di era lama tuan, sekarang sudah era yang baru, dimana saat ini tuan bisa berbuat sesuka hati tuan," ucap Fu Lin.


"Masih sama dengan yang lama, tapi di era ini tujuan kita lebih besar.." sahut Su Hainy.

__ADS_1


"Tampaknya tuan tidak sabaran untuk bertindak," bisik Fu Lin dalam hati.


Setelah berkeliling melihat-lihat situasi kota mereka kemudian berjalan kearah sebuah gedung besar di tengah kota itu, gedung itu adalah pusat dari Sekte Burung Hantu.


"Selamat datang Dewa Penyelamat.. silahkan masuk," sambut seorang murid Sekte.


Su Hainy berjalan dengan tenangnya kearah pintu masuk gedung itu.


"Selamat datang Dewa.. sungguh sebuah kehormatan besar menerima kunjungan dari Dewa.." tetua ketiga Sekte Burung Hantu, Bian Luo.


"Terima kasih atas sambutannya.." jawab Su Hainy sambil menjurah hormat.


"Tuan.." tiba-tiba Fuxin memanggilnya dari dalam ruangan itu.


"Siapa dia tuan??" Fu Lin sedikit penasaran dengan orang itu.


"Salah seorang teman kita.." jawab Su Hainy.


"Kemana saja kamu?"


"Hehe..aku terlalu senang di sini tuan," jawab Fuxin.


"Silahkan duduk Dewa dan langsung cicipi makanan yang telah tersedia," Bian Luo mengarahkan Su Hainy pada sebuah meja bundar yang sudah terhidang dengan banyak makanan.


"Baiklah.."


Mereka bersama kemudian menikmati hidangan yang telah di siapkan oleh Tetua Sekte sambil saling berbincang mengakrabkan diri.



Diluar gedung utama Sekte, dari kejauhan nampak datang dua orang mengendarai kuda, dari gerak geriknya mereka tampak tergesa-gesa, sesampainya di gerbang Sekte, dua orang murid Sekte mengehentikan laju kuda mereka.


Tap! Tap! Tap!


"Berhenti!" Teriak seorang murid.


Salah seorang dari mereka turun dari atas kuda dan menjurah hormat, "Hormat saudara, saya Chu Lao ingin bertemu dengan ketua Sekte".


"Maaf..Ketua Sekte tidak ada, kalian bisa pergi sekarang!"


"Urusan ini tidak bisa di tunda saudara, izinkan kami menemui ketua Sekte, Ini menyangkut banyak nyawa manusia, kami di utus untuk bertemu langsung dengan ketua Sekte,"


Murid itu melihat pada temannya untuk meminta kesepakatan, dengan kode mata mereka menyetujui hal itu.


"Baiklah, kalian boleh masuk, tapi kudanya tinggalkan di luar!".


"Terima Kasih saudara".

__ADS_1


Kedua orang itu langsung masuk ke aula Sekte dengan di kawal oleh kedua murid penjaga.


__ADS_2