SANG DEWA SEMESTA

SANG DEWA SEMESTA
ZHAO PEILING


__ADS_3

Ujian bertahan hidup di tempat Rahasia Nangkiang berakhir sudah, hari itu berkelompok-kelompok murid keluar dari portal tempat itu, memijakkan kaki kembali di aula Academy. Wajah-wajah senang terpampang melalui senyuman dan tawa yang mereka ubar, ada juga yang berapi-api karena beberapa hal kejadian.


Tiga hari kedepannya, para murid diizinkan untuk tidak datang ke Academy, hal ini untuk memulihkan kekuatan dan basis kekuatan baru bagi mereka yang mendapatkan pencerahan di tempat itu.


Tiga hari kemudian semua murid masuk kembali di Academy sebagai murid tingkat dua tahun itu. Tak terlepas Su Hainy, tahun kedua di awal tingkatannya menerobos masuk sebagai murid peneliti di bidangnya. Dengan status baru itu, Ia bahkan bisa masuk untuk belajar di kelas kultivator.


Di tahun kedua itu, para murid akan di tes tingkatan kekuatan mereka menggunakan sebuah Bola Giok. Tingkat kekuatan di tingkat dua minimalnya adalah naga hitam level awal, khusus murid kelas kultivasi.


"Xu Ming, bagaimana hasilnya?".


"Naga Hitam level tengah, berkat rapalan yang Kamu berikan".


"Kamu sendiri bagaimana?"


"Hmmm...gak berani, palingan Naga Putih level awal"


"Bilangan aja tingkatannya gak bisa di ukur," tiba-tiba Xi Yi datang.


"Eh, Xi Yi. Mana mungkin, lagian kalau di ujipun gak ada gunanya, aku gak tertarik bidang Kultivasi," cetus Su Hainy.


"Aku ada hal penting, aku pergi dulu," Su Hainy berlalu pergi.


"Aneh!".


Disaat kerumunan para murid yang berdesakan diaula, sesosok bayang mengintai, berkelebatan di atap-atap gedung, gerakannya cepat, menyelinap ke perpustakaan kota. Master-master tingkat tinggi Academy tidak seorangpun mengetahuinya.


Su Hainy yang baru masuk di ruangan itu telah merasakan kehadiran sesosok itu, tapi tetap bertingkah tenang seolah-olah tidak mengetahui.


"Dewa Mesum!. Masih bertingkah bodoh, apa begini cara menghargai tamu?!".


"Masuk menyelinap, apa itu yang dinamakan tamu?" melihat sosok itu melalui sudut matanya.


"Aih!, Benar-benar tidak berubah," balas sosok itu.


"Gerangan apa yang membuatmu datang kesini?"


"Apa tidak diseduhkan teh dulu sebelum bertanya, jauh-jauh datang kesini hanya untuk di curigai, sungguh tak punya hati," memasang ekpresi sedih.


"Hei..hei..jangan menggodaku, katakan saja tujuanmu."


"Apa kamu tidak takut aku datang dengan niat buruk?"


"Untuk apa takut, kalau niat mu buruk sudah dari awal kamu melalukan, cepat katakan ada apa?" Mendesak sosok itu.


"Pergilah bersamaku kealam Roh, ada yang menanti kedatanganmu di sana".


"Menanti kedatanganku?" Ekspresi datar.


"Ia, aku tidak bisa mengatakannya disini, ikut saja dulu, kamu akan tau saat tiba nanti,"


"Aku tidak bisa ikut, kamu kembali saja, katakan kalau ia ada urusan, suruh datang sendiri menemuiku," Tegas.


"Baiklah, aku pergi dulu, tampaknya wanita itu belum di takdirkan untuk bertemu denganmu," tersenyum licik.


"Wanita cantik?!" Terpampang muka mesum.

__ADS_1


"Aku balik, jangan sampai menyesal".


"Aku ikut..tunggu!"


"Katanya tak mau!"


"Hehehe...aku berubah pikiran," cengengesan dengan tampang mesumnya.


Sosok wanita itu kemudian mengeluarkan sebuah token ia mengalirkan energi murninya pada token itu dan dan tiba-tiba saja didepan mereka muncul sebuah portal.


"Syut.."


"Portal ini?"


"Mari masuk," kedua orang itu lenyap masuk ke portal bersamaan dengan lenyapnya portal itu.


Hanya beberapa tarikan nafas, Su Hainy dan wanita itu sampai didepan sebuah gerbang.


"Uuaakk...seluruh isi perutku serasa mau keluar,"


"Haha..itu karena kamu belum terbiasa,"


Didepan gerbang itu, beberapa pelayan telah menanti kedatangan mereka.


"Hormat ratu!"


Wanita itu berjalan pelan melewati orang-orang itu dengan Su Hainy mengikuti dari belakang.


Sampai di depan sebuah gedung, dengan terus berjalan.


"Tempat ini merupakan sebuah dunia kecil, tak banyak orang yang mengetahuinya, hanya mereka yang bisa memecahkan misteri segel dunia kecil inilah yang bisa sampai kesini," jelas wanita itu.


"Bagaimana aku dimasa lampau bisa sampai di dunia kecil ini?"


"Karena orang tuamu di alam khayangan merupakan cucu dari murid moyang kami,".


"Bahkan bawahanmu, siwanita seribu wajah seribu rupa itu sering berkunjung kesini,"


"Maksudmu nenek Chio Su?"


"Lebih tepatnya Chio Qingfeng".


"Chio Qingfeng?" Penasaran.


"Betul, salah satu keluarga terbesar di alam Khayangan," sambil duduk di singgasananya.


"Dimasa lampau saat di alam Khayangan dari keluarga mana aku berasal?" duduk di sebuah bangku di samping singgasana ratu.


"Kamu dari kalangan rendah, keluarga Peiling, Zhao Peiling".


"Jadi itu alasannya, mengapa mereka menjatuhkanku di masa lampau?".


"Benar, kedudukan kelurga besarlah yang berhak untuk memperebutkan kedudukan Penguasa Alam Khayangan, orang dari kalangan rendah harus di singkirkan".


"Sekarang aku paham, mereka takut apabila orang dari kalangan rendah memimpin alam Khayangan kedudukan mereka sebagai keluarga besar akan terancam, hal itu karena mereka sering menindas kalangan rendah".

__ADS_1


"Lebih tepatnya memperbudak," ucap ratu itu.


"Memperbudak?. Benar-benar tidak ada rasa keprimanusiaan!!" geram mendengar kata itu.


"Walupun ingatanmu hilang, tapi kepribadian dan hati nuranimu masih sama seperti masa lalu".


"Aku orangnya paling tidak suka di rendahkan, apalagi di perbudak, manusia memiliki kedudukan yang setara, keadilan inilah yang harus di tegakkan dan sistem perbudakan ini harus di hapuskan," mengepalkan tinjunya.


"Hmm..kamu tau, kenapa kamu mati dimasa lampau?".


"Tidak, ingatan itu sudah hilang," menyeduh secangkir teh yang di berikan pelayan sang ratu.


"Kamu mati karena menegakkan keadilan itu?"


"Seperti dugaanku, cerita di Kitab kuno mengatakan hal sama, puluhan kultivator yang menegakan keadilan itu lenyap di telan dunia, hilang tanpa kabar".


"Masih berpikir untuk menegakkan keadilan itu?"


"Tiba waktunya, akan aku porak porandakan Alam Khayangan!!"


"Masih setegas yang dulu, tidak salah kami mendukungmu".


Beberapa saat Su Hainy terdiam, mencoba mengingat kembali masa lampau itu, tapi sampai kepalanya serasa mau pecah ingatan itu tidak di temukan di benaknya.


"Aku hampir lupa, dimana wanita cantik yang kamu katakan itu?".


"Tidak ada," senyum licik terpancar di bibirnya.


"Apa....kamu menipuku??" Setengah berteriak, kesal mendengar ucapan sang ratu.


"Hehe...kalau aku tidak menipumu, kamu tidak akan ikut," tersenyum puas.


"Sudahlah, aku kembali, buang-buang waktu datang kesini" bangkit dari duduknya.


"Syut.." tiba-tiba tempat itu berubah menjadi ruang hampa.


"Eh?! Dimana ini?" Dengan tampang bodoh.


"Wanita sialan, kemana kamu membawaku?" Memaki keras.


"Hehe..ilusi kecil begini mampu membodohimu, ya?"


"Kalau kekuatanku ada di puncak aku hancurkan tempat ini," benar-benar kesal.


"Hahahaha....sifat kerasmu masih sama," tertawa lepas, benar-benar puas mengerjai si Dewa Mesum.


Para pelayanpun ikut tertawa melihat bocah itu berteriak-teriak sendiri di ruangan utama ratu. Begitu ilusi di lepaskan Su Hainy jadi bengong sendiri melihat para pelayan ratu menertawakan.


"Apa yang kalian tertawakan?" Jadi kesal sendiri.


"Sudah..sudah...kalau sifatmu begini bagaimana kamu akan menegakkan keadilan?"


"Hmm..." Kembali duduk dengan wajah sayu.


"Aku akan membawamu kesuatu tempat, setelah itu impianmu untuk menegakkan keadilan itu mungkin bisa berhasil, sebab yang akan kamu temui itu adalah dirimu sendiri," jelas ratu itu.

__ADS_1


Su Hainy tersentak dari duduknya, rupanya bayangan kedua dirinya di masa lampau ada di tempat itu.


__ADS_2