
Puncak Awan, puncak tertinggi di Alam Roh. Su Hainy memijakkan kakinya pertama kali di puncak itu. Di depan mulut Goa, Su Hainy telah merasakan keberadaan yang kuat dari bayangannya, tanpa berpikir panjang ia melesat masuk.
Setelah mencapai kedalaman Goa, sekali lagi ia melihat bayangan dirinya di masa lalu , diatas sebuah altar lingkaran, duduk bersilah dengan terus menyerap energi alam.
Perlahan bayangan itu membuka mata, ia merasakan sebuah tarikan yang kuat menarik dirinya.
"Sudah waktunya aku kembali..," dengan senyum cerah kearah Su Hainy.
Mengerti dengan maksud bayangannya, Su Hainy mendekat, satu tangan di tempel di dada, tangan kanan di luruskan kedepan dengan kelima jari menyatu.
"Datanglah untuk awal yang baru.." balas Su Hainy.
"Syutt..." Menyatu ketubuh Su Hainy.
"Aaaaa!!!..." Su Hainy langsung berteriak keras, menahan tekanan energi yang mengalir tubuhnya.
Daging dan kulitnya serasa lepas kemudian terbentuk lagi, tulang belulangnya serasa rontok dan terbentuk ulang.
Langit di atas Puncak Awan menggelegar petir silih berganti, awan berubah gelap membentuk pusaran. Kemudian petir-petir menyatu membentuk sebuah petir raksasa menyambar ke Puncak Awan tepat ketitik beradanya Su Hainy.
"Duar!!.."
"Hoek!!.." darah kental berwarna gelap menyembur di mulut Su Hainy, tubuhnya mengepulkan asap hitam padat sesaat, ia jatuh tersungkur dengan nafas tak teratur.
Langit di atas Puncak Awan kembali cerah seperti sediakala, dari kejauhan Ratu Alam roh memandang Puncak Awan dengan tatapan keraguan, sebab fenomena alam saat penerobosan bisa berdampak kematian jika dihadapi secara langsung.
"Jangan sampai mati, harapan kami di taruhkan padamu!.." hatinya berharap besar Su Hainy mampu menembus rintangan itu.
Di kedalaman Goa, Su Hainy bangkit dan langsung duduk bersilah, mengalirkan energi murni ke seluruh tubuhnya, tubuhnya kembali mengepulkan asap hitam tipis. Setelah beberapa saat Ia menghela nafas panjang, tubuhnya terasa ringan ketidak murnian yang selama ini bersarang di tubuhnya telah lenyap.
"Aku paham, pada bayangan ini bukan jurus, melainkan Tubuh Dewa.." guman Su Hainy dengan melihat kedua telapak tangannya.
"Bahkan aku lompat penempakan, dan juga naik tingkat, Naga Merah level menengah, sungguh hebat!!" memuji dirinya sendiri.
Di tengah rasa senang yang bergelut di hati Su Hainy, tiba-tiba ia di kejutkan oleh pekikan suara wanita.
"Aaaaa!!!"
"Mana pakaianmu Mesum!!" Teriak sang ratu yang datang tiba-tiba.
"Aaaa!!!" Su Hainy ikutan terkejut.
"Apa yang kamu lakukan di tempat ini??" Memutar badannya membelakangi Sang Ratu.
"Tidak ada, aku tunggu di luar.." melangkah meninggalkan Su Hainy.
Beberapa saat Su Hainy keluar dengan pakai baru khas Dewa Semesta, Jubah kuning keemasan.
"Dimana kamu mendapatkan pakaian ini?" Sang ratu kagum dengan ketampanan Su Hainy di dalam pakaian itu.
"Di sini, aku mendapatkan di dalam cincin ini," memperlihatkan pada Sang Ratu.
__ADS_1
"Cincin penyimpanan Dewa Semesta?!, Ini benaran cincinnya?!" Penasaran dengan barang bagus itu.
"Iya lah, aku sendiri yang meninggalkan di tempat ini," memasangkan ke jarinya.
*****
Halaman utama istana ratu alam roh, tiba-tiba saja ada yang jatuh dari langit.
"Bumm!!!!..." Halaman utama itu hancur berantakan, debu ikut beterbangan.
"Apa itu?!" Seorang prajurit menghunus pedangnya.
"Hah..hah...hah.." seorang wanita penuh luka, dengan nafas tak karuan.
"Nona Chio?!" Wajah prajurit itu berubah kaget.
"Panggil Fei..fei.." berucap dengan suara terpatah-patah.
"Chio Qingfeng..?" Sang ratu sudah ada di halaman.
"Feifei..!" Pangggil Chio Su kembali.
"Nenek..!!" Suara panggilan ini mengejutkan Chio Su.
"Apa yang..kamu..lakukan disini..?"
"Nenek jangan bicara dulu," mengangkat Chio Su, membawanya keruangan pengobatan.
"Su Hainy, bagaimana kamu bisa disini?" terlebih dahulu menanyakan Su Hainy.
"Karena bayangan Dewa ku ada disini" jawabnya singkat, raut wajahnya geram.
"Siapa yang melakukan ini pada nenek?" Balik bertanya, serius.
"Orang-orang jahanam dari Alam Khayangan," mengutuk perbuatan mereka.
"Brengsek!!" Tangan Su Hainy reflek memukul tembok di belakangnya hingga hancur.
"Aku akan membuat perhitungan dengan mereka," matanya berbinar-binar menunjukan hasrat membunuh.
"Tenangkan dirimu bocah, lawan yang kau hadapi tidak mudah, mereka bisa membunuhmu hanya dengan lambaian tangan," Feifei, tiba-tiba datang memasuki ruangan.
"Bagaiman keadaanmu Chio?" Sambil memegang dan memeriksa nadi di tangannya.
"Aku sudah baikan, lama tidak jumpa ya, Feifei" tersenyum manis.
"Hampir 20 tahun, tau-taunya kamu datang dengan babak belur," mengambil sebotol pil dari kantong penyimpanannya.
"Telan Pil ini, dan lakukan penutupan diri selama seminggu, setidaknya kamu akan sembuh seperti sedia kala, masalah bocah itu, biar saya yang mengurusnya," meletakkan Pil itu di meja samping pembaringan Chio Su.
Feifei menjelaskan pada Su Hainy mengenai keadaan Chio Su, mengerti maksud Ratu itu, Su Hainy melangkah meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Tiba di Halaman utama gedung itu, "Apa rencanamu selanjutnya?" Feifei melirik Su Hainy.
"Aku akan kembali terlebih dahulu, jaga nenekku dengan baik," berlalu meninggalkan tempat itu.
Feifei menatap punggung Su Hainy, Ia merasakan amarah yang begejolak di balik punggung itu.
"Semoga ia tidak melakukan tindakan bodoh," ucap Feifei dalam hati.
*****
Menjelang sore, Su Hainy sudah menginjakkan kaki di aula utama Academy, berjalan tenang melewati murid-murid yang masih berkerumunan di Aula itu.
Beberapa murid menatapnya dengan tatapan kosong, mereka merasakan perbedaan yang dalam pada dirinya, tapi masih saja ada murid yang onar mengganggunya.
"Simiskin berlaga kaya," menghadang langkah Su Hainy.
"Pergilah!, suasana hatiku tidak baik," mengingatkan murid itu.
"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?" Fu Chen, tersenyum mengejek.
"Plak!!.." tau-taunya Su Hainy sudah didepannya dan menampar mulut busuknya itu.
"Aah!!..." Jatuh terduduk di tanah begitu menerima tamparan keras itu.
"Aku sudah mengingatkan mulut busukmu itu," menekan dengan aura membunuh.
"Aku salah, maafkan aku," menunduk di kaki Su Hainy.
Su Hainy berlalu meninggalkan tempat itu, melangkah mendekati perpustakaan kota.
"Awas kau nanti, hinaan hari ini akan ku balas," dengan tampang munafiknya.
Xin Bao, master bidang kultivasi tanpa sengaja melihat kejadian itu. Ia kemudian menghadang Su Hainy didepan pintu perpustakaan.
"Melanggar peraturan, pergi tanpa izin, memukul murid di dalam Academy, hukuman apa yang pantas untukmu?" mengeluarkan aura membunuh yang menekan.
"Aku tidak terikat dengan aturan Academy, apalagi aturan murid Kultivasi, membiarkan orang lain merendahkan kita, apa itu moto Academy ini?"
"Jaga ucapanmu!!...aku akan memberikan hukuman langsung untukmu sebelum balai keadilan," mengayunkan tangan menampar Su Hainy, tapi aura yang di lepaskan adalah untuk membunuhnya.
"Tak!!" Su Hainy menangkisnya dengan melepaskan Aura membunuh.
"Mengancam dan berpura-pura ingin menghukum, tapi niat sebenarnya untuk membunuhku, apa ini cara seorang master terhormat?" manatap Xin Bao dengan tajam.
"Xin Bao, apakah pantas memukul muridku ditempat ini?" Tiba-tiba master Fang datang.
"Murid mu melanggar aturan, aku berniat menghukum tapi dia melawan balik," menatap geram pada master Fang.
"Biar aku yang menghukum muridku, orang luar jangan ikut campur," berucap dengan tenang.
"Kali ini akan aku biarkan, tapi lain kali aku tidak akan menahan diri," meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Xin Bao, master Academy tiga bidang yang paling misterius, tidak banyak yang tau tentang jati diri sebenarnya.