
"Master, karena ada hal penting yang tak bisa saya katakan, saya mohon master memberikan izin untuk saya," menundukkan kepala memohon.
"Tanggung jawab kami adalah menjagamu, kami tidak bisa membiarkan kamu pergi berpetualang, banyak ancaman di luar yang belum kamu pahami," menggelengkan kepala.
"Saya bisa menjaga diri master, mohon master memaklumi," berusaha meyakinkan.
"Untuk saat ini jawabannya tidak.." mengangkat tangannya.
"Tapi master!.." tidak jadi melanjutkan ucapannya melihat gelengan kepala master Fang yang berulang.
"Tak ada pilihan...aku akan tetap pada keputusan ku," bisik Su Hainy dalam hati.
Keesokan paginya, Master Fang mondar mandir di depan pintu perpustakaan menunggu kemunculan Su Hainy, namun sampai matahari naik, yang di tunggu tak kunjung tampak.
"Ia sudah memutuskan, semoga langkahmu jauh dari rintangan," tersenyum tipis penuh harapan.
*****
Sejak pagi Su Hainy terus berjalan tanpa henti, berbekal sebuah peta dari pedagang antar Kota Ia terus berjalan menuju arah Utara dari Kota Semesta, menurun ingatan terakhir dari bayangan Tubuh Dewanya, bayangan ketiga seharusnya di Utara tepatnya Pulau Anggora.
Sampai di pertiga jalan, Su Hainy membuka petanya kembali.
"Ambil jalan kiri akan sampai di kota Gong, jalan kanan menunjukkan kota mati, kota Xiling. Kalau rute terdekat harusnya lewat kota mati Xiling," guman Su Hainy dalam hati.
Saat sedang memeriksa peta itu tanpa di sadari Su Hainy, beberapa sosok mengintainya. Mereka bersembunyi di sekitaran Su Hainy, mengepungnya.
"Ada barang bagus di tangannya," bisik salah seorang dari mereka.
"Tunggu apa lagi, sikat saat dia lengah," ajak seseorang dengan menggerakkan tangan sebagai tanda penyergapan.
"Syut..syut..syut.."
Su Hainy telah terkepung, diawali tawa mengekeh salah satu dari mereka mengancam Su Hainy dengan mengacungkan pedang di lehernya.
"Hahaha...sayang nyawa atau sayang harta??" Tawanya jadi ramai di ikuti oleh ketujuh temannya.
Dengan tenang Su Hainy berdiri dan balas mengancam.
"Enyak dari sini atau mati dalam hitungan nafas??" Tatapan tajam penuh waspada.
"Hahahaha...mau matipun masih mengancam?"
"Sayangi nyawamu bocah, serahkan saja barang berharga di tanganmu, bagi kami nyawamu sama dengan seekor nyamuk, sekali tepuk akan mati, hahahahaha.....," mengubar tawanya dengan keras.
"Sekali lagi aku katakan, enyak dari sini atau mati?!" ucap Su Hainy tanpa basa basi.
"Nyawanya di tangan kita, tapi masih berani menggunakan kata mati didepan Delapan Pembunuh Dewa," ucap salah satu dari mereka mengatakan identitasnya.
__ADS_1
"Apa kamu takut sekarang??" Ucap orang yang mengacungkan pedang.
"Takut??, kalian salah orang, bagaimana kalau jumlah ku lebih dari kalian??" Balas Su Hainy tenang, meski pedang sejengkal dari lehernya.
"Hahahaha...lebih?? lebih kentutmu, Hahahaha..."
"Sudah dua kali aku katakan, tapi kalian tidak mendengarkan, maka MATILAH!...", Saat itu juga, ketujuh kawannya mati tanpa mengeluarkan suara.
"Eh?? Bagaimana bisa??" Peluh ketakutan tiba-tiba saja mengucur dari keningnya.
"Sekarang giliranmu!.."
"Mohon jangan bunuh aku senior, aku mohon.." bersujud di kaki Su Hainy.
"Apa kau tidak pernah berpikir berada di situasi ini, saat orang yang akan kau bunuh balik berdiri menginginkan nyawamu!.."
"Ampun senior..aku salah telah mengacungkan pedang pada senior..jangan bunuh aku..aku bersedia menjadi budak senior," memohon dengan tangisan.
"Cih!!.."
"Kalau aku memanfaatkannya mungkin dia bisa mengantarku ke tempat itu.." bisik Su Hainy dalam hati.
"Baiklah," menempelkan telunjuk di kening orang itu, "aku memasangkan segel budak padamu, kalau kau berpikir yang tidak-tidak, aku bisa membunuhmu hanya dengan pikiranku," ancam Su Hainy.
"Tidak akan, Tuan. Aku akan selalu setia dan mengikuti Tuan," berdiri dan menunduk kepada Su Hainy.
"Fuxin, Tuan."
"Karena sudah lama di kawasan ini, Apa kamu tau jalan kepulau Anggora?"
"Eh? Pu..pulau ang..gora?" Wajahnya berubah ngeri.
"Kenapa?! Apa Pulau Anggora menakutkan?" merasa heran dengan ekspresi Fuxin.
"Tidak..tidak Tuan. Hanya saja, Pulau itu telah lama mati, orang-orang yang pernah pergi ke tempat itu tak ada seorangpun yang kembali," jelas Fuxin.
"Ada informasi lain yang kamu tau?"
"Menurut rumor, di pulau itu ada pendekar mayat, Tuan. Mereka menyerap esensi kehidupan untuk mendapatkan kekuatan".
"Menakutkan!!.." ucap Su Hainy.
"Di peta ini ada dua jalan kepulau itu, jalan mana yang paling berbahaya??" Menunjuk dua rute di peta.
"Kota mati Xiling merupakan jalan yang berbahaya, Tuan,".
"Baiklah, sudah diputuskan, kita melewati Kota Mati Xiling," sambil menggulung peta dan menyimpannya ke cincin penyimpanan.
__ADS_1
"Eh?!, Apa tuan yakin?" Ekpresi ngeri kembali terpancar di wajah Fuxin.
"Kenapa?, Masih takut?!"
"Tidak Tuan," dengan memegang tengkuknya yang mulai merinding.
Su Hainy melangkahkan kakinya mengambil jalan sebelah kanan menuju kota mati Xiling. Sepanjang perjalanan Su Hainy maupun Fuxin tidak mengalami gangguan, tapi begitu memijakkan kaki di gerbang Kota mati Xiling aura kematian langsung terasa, bagi orang biasa mereka akan mati berdiri begitu di terpa aura itu. Namun Su Hainy yang di masa lampaunya sudah membantai hampir berbagai ras, aura kematian menjadi hal yang biasa baginya.
"Tuan, ini sedikit menakutkan!!" menggigil setengah mati.
"Fuxin, ini adalah tantangan untukmu, jika berhasil mengalahkan ras takut ini. Maka, masa depanmu akan berkembang pesat," Su Hainy berhenti sejenak.
"Mata Sakti, Aktif!!!" mata kanan Su Hainy bereaksi terhadap semua tempat itu, bahkan area sekitar 10 meter darinya akan mampu terkontrol dengan mudah.
Su Hainy melangkahkan kaki melewati gerbang itu, tapi baru saja berjalan tiga langkah, tekanan dari Aura kematian menjadi kuat.
"Ada yang datang!!.." bisik Su Hainy, menghentikan langkahnya seketika, begitu melihat kabut hitam tipis mengepul beberapa langkah didepan.
"Hihihii...mangsa yang nikmat, sudah lama aku tidak merasakannya," muncul sesosok makhluk dengan sekujur tubuhnya berwarna hitam, memiliki dua tandu gelap yang runcing, dan kedua bola matanya berwarna merah menyala.
"Iihhh!! Iblis Hitam?!" Fuxin bergidih ngeri dengan mata terbelalak.
"Iblis Hitam, makhluk ini terkenal dengan kekebalannya terhadap serangan, tapi di depan ku, membunuhnya cukup sekali serang," ucap Su Hainy meyakinkan.
"Mengapa kalian tertegun manusia?!, Apa ingin menyerah saja dan menjadi santapanku dengan Sukarela," Iblis Hitam melelehkan air liurnya.
"Sukarela?!, Simpan kata-kata mu untuk di akhirat nanti," ejek Su Hainy.
"Hihihi...ada manusia yang berani berbicara seperti ini di depan ku, hampir seribu tahun tak ada yang seberani dirimu, nak!" memuji dengan tatapan memangsa.
"Heh?!, Aku memang tidak takut dengan dengan bangsa iblis, walupun tampangnya lebih jelek darimu!" membalas dengan ejekan.
"Kalau aku melawannya akan membuang-buang waktu, lebih baik aku buat taruhan saja dengannya," bisik Su Hainy dalam hati.
"Baru kali ini ada manusia yang berani berkata se enaknya, mampuslah!!..." menyerbu ke arah Su Hainy.
"Tunggu!, Dari pada buang-buang tenaga, bagaimana kalau kita taruhan," dengan tampang serius.
"Taruhan?!, Apa yang kau inginkan manusia?" Tau-taunya sudah ada di depan Su Hainy dengan ujung jari menempel di lehernya.
"Taruhan ini akan menguntungkan untukmu, tapi sebelumnya jauhkan tangan kotormu dariku!". sedikit membentak iblis itu.
Apa yang akan terjadi selanjutnya, simak episode selanjutnya di Dewa Semesta, episode 24.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, TINGGALKAN HADIAH DAN VOTENYA.
__ADS_1