
Sepulang dari kafe, Hinata langsung berhadapan dengan Mike yang menunggu nya di ruang tamu.
"Kau dari mana, Nat? Kata Tatum, kau pergi sedari pagi," tanya Mike sambil memandang Hinata dengan pandangan curiga.
Hinata lalu mengecup singkat pipi Mike, sebelum akhirnya ikut menghempaskan tubuh nya ke atas sofa di samping Mike.
"Aku habis jalan-jalan, Mike.vseharian di rumah sungguh membuat ku suntuk. Tadi aku ke rumah Sofi, lalu kami nonton di Twenty One. Ada film yang cukup seru lho, Mike tadi. Barangkali kau mau menonton nya dengan ku akhir pekan ini?" Tanya Hinata tiba-tiba bersikap bersemangat.
"Judul nya apa?" Tanya Mike masih dnegan sikap dingin.
"Layangan Putus. Ceritanya tentnag perselingkuhan gitu.. terus ada dialog yang nyangkut di kepala ku banget, Mike. Kayak gini nih.."
Hinata lalu memeragakan cuplikan dialog yang memang ia lihat di bioskop tadi.
"It's my dream, Mas! My dream!!" Pekik Hinata memeragakan adegan snag aktris yang sedang emosional.
"Hahaha! Rasanya puas banget deh aku pas istrinya itu marah-marah ke suami nya. Lagian, jadi suami kok ya marik banget! Udah punya istri yang baik, setia. Udah mau punya dua anak pula! Eh, dia malah tega banget selingkuhin istri nya!" Dumel Hinata dengan emosional.
Sementara itu, Mike tampak tak nyaman saat mendengar perkataan Hinata tadi. Karena itulah lelaki tersebut langsung mengalihkan percakapan mereka ke hal yang lain.
"Mama ngundang makan malam ini," ujar Mike tiba-tiba.
"Oh? Mama Lani masih di sini ya? Kirain udah balik ke negeri A.." sahut Hinata dengan nada suara yang kembali normal.
"Papa udah duluan balik. Kalau Mama katanya masih mau ketemu sama teman-teman nya dulu," papar Mike menjelaskan.
"Oo..gitu.. oke," Hinata menyetujui ajakan makan malam itu.
Baru juga Hinata bangkit hendak kembali ke kamar nya, Mike tiba-tiba saja memanggil nya lagi.
"Nat, ku dengar, kamu mau balik ke modelling lagi?" Tanya Mike tetiba.
Hinata pun berbalik menghadap Mike kembali.
"Iya. Kamu dengar dari siapa? Oh.. Tiana ya? Atau Deril?"
Mike tak menjawab pertanyaan Hinata. Ia malah menyampaikan ketidaksetujuan nya atas rencana itu.
"Kenapa kamu mau balik lagi jadi model, Nat? Lebih baik kamu di rumah aja! Aku lebih senang kalau kamu di rumah!" Ucap Mike dengan nada memerintah.
__ADS_1
"Tapi Mike, modelling ini cuma caraku untuk lewatin rasa bosan aja di rumah. Bete lho di rumah terus. Toh kita juga belum punya anak kan sampai sekarang.."
Membicarakan tentang topik itu, pandangan Hinata langsung berubah menjadi sendu.
Mike cukup mengerti apa yang dirasakan oleh istri nya sehingga lelaki itu pun berdiri dan menghampiri Hinata.
Mike membawa Hinata ke dalam pelukan nya. Kemudian ia berkata.
"Jangan terlalu memikirkan soal anak, Nat. Aku merasa cukup, meski kita hanya berdua saja kok di rumah ini.." ujar Mike menghibur Hinata.
Sayang seksli lelaki itu tak melihat kilatan amarah di mata Hinata. Terlebih lagi Mike tak bisa mendengar komentar Hinata atas ucapan nya tadi. Komentar yang hanya lantang diteriakkan oleh nya di dalam hati.
'Bohong! Sudah jelas lau tak merasa cukup hanya dengan ku saja Mike! Kamu sudah mengkhianati ku dengan menikahi Tatiana. Kamu bilang cukup berdua?! Sudah pasti aku tak akan percaya lagi pada setiap ucapan mu, Mike! Kau adalah seorang pendusta!' rutuk Hinata dalam hati.
"Sekarang, beristirahat lah dulu. Aku harus kembali lagi ke kantor. Aku ke sini hanya untuk menyampaikan undangan Mama malam nanti. Kau bersiap-siap saja ya. Sore nanti aku akan menjemput mu sepulang dari kantor," pesan Mike seraya mengecup singkat kening Hinata.
Hinata menerima perlakuan Mike dengan hati yang dingin. Seulas senyuman palsu tersungging pada bibir nya yang merah.
"Ya. Berhati-hati lah, Mike.." pesan Hinata penuh arti.
Sayang nya Mike tak menangkap makna lain di balik kalimat istrinya tadi.
Mike pun pergi kembali. Entah benar pergi ke kantor, atau bertandang ke apartemen Tatiana lagi.
***
Sore harinya..
Mike menjemput Hinata sekitar jam lima sore. Dari rumah mereka, mereka terlebih dulu mampir ke rumah pribadi Papa Robert di kota ini.
Rupanya kedatangan Papa Robert kemarin pun untuk mengecek cabang perusahaan nya yang ada di kota ini.
Sesampainya di halaman rumah Mama Lani, Hinata melihat sebuah mobil yang ia kenal terparkir di sana. Sebuah firasat buruk tetiba hadir di benak wanita itu.
Dan, benar saja. Begitu masuk ke dalam rumah, Hinata mendengar suara ex sahabat nya, Tatiana, sedang tertawa dengan mertua nya, Mama Lani, di ruang tamu.
"Ahahahaa! Sampai seperti itu? Ya Tuhan..! Mama sama sekali gak menyangka ternyata dia bisa sebodoh itu!" Pekik Mama Lani yang masih juga tertawa usai mendengar cerita dari Tatiana.
"Mama..! Tiana? Kamu kok di sini?!" Mike terdengar sangat terkejut.
__ADS_1
Hinata langsung melirik ke arah nya, dan yah, memang Mike tampak benar-benar terkejut oleh keberadaan Tatiana di sini.
'Oo.. tadinya ku pikir Mike sengaja mengundang Tiana juga ke sini. Rupa-rupanya wanita culas itu yang mengundang dirinya sendiri! Atau..' gumam Hinata dalam hati.
Pandangan Hinata lalu beralih ke arah Mama Lani. Dan ia menangkap pandangan Mama Lani yang seperti tak ingin bertatapan langsung dengan nya.
'aha! Pelaku nya rupa nya si rubah Tua! Cih. Mereka mungkin memang sangat cocok sebagai ibu dan menantu. Baiklah. Tenang saja, Mama tersayang.. aku dengan senang hati akan memberi mu menantu yang terbaik itu!’ sindir Hinata dalam hati.
"Nat!" Sapa Tatiana tampak malu dan tak enak hati.
'Hah! Pintar sekali dia berakting. Lama-lama, dia mungkin bisa memenangkan AFI awards sebagai aktris paling pandai berdusta di tahun ini!' lanjut Hinata mengumpat dalam jati.
"Tiana.. kau di sini? Jangan bilang, ban mu bocor saat kau melewati depan rumah mertua ku, hmm?" Sapa balik Hinata dengan nada sarkastis.
....
Sesaat, suasana di ruang tamu itu pun menjadi hening.
"Hinata! Jaga ucapan mu! Kenapa lidah mu bisa setajam itu sih? Mungkin ini karena kau belum dikaruniai seorang anak pun, jadi lidah mu itu semakin pahit menghina orang lain saja!" Tegur Mama Lani mengomeli Hinata.
Nyes..
Hati Hinata pun seketika terluka. Sebenarnya, dengan datang ke rumah Mama Lani nya ini saja, ia sudah menyiapkan mental nya untuk disindir perihal keturunan yang tak kunjung datang hingga kini.
Hanya saja, Hinata tak menduga kalau Tatiana akan ada di sana juga untuk menyaksikan ia di rooster oleh mertuanya sendiri.
Kedua tangan Hinata terkepal. Ia berusaha memadamkan bara amarah yang mulai hendak keluar melewati tenggorokan nya saat ini.
'Tarik napas, keluarkan.. tarik napas, keluarkan.. Tenang Nat, jangan terpancing oleh mulut beracun si rubah tua. Bisa jadi, itulah yang diinginkan oleh musuh mu itu!' tegur Hinata pada dirinya sendiri.
"Ah Mama! Nat kan hanya bercanda. Kenapa Mama bisa seserius ini sih? Hidup tuh jangan terlalu dibawa serius, Ma. Yang ada nanti bisa berefek buruk ke kulit wajah kita. Contoh nya saja, muncul nya keriput! Sayang juga kan dengan suntik botoks yang rutin dilakukan setiap bulan sekali itu..?" Hinata membalas ucapan Mama Lani dengan nada bercanda.
Sebuah seringaian terpasang bebas di wakah nya yang awet muda.
"Kau?!!" Mama Lani langsung berdiri dan menunjuk menantu nya tersebut.
"Ma! Sudah lah.. jangan mulai lagi deh.. bukan kah Mama yang mengundang kami ke sini untuk makan malam bersama? Kenapa kita harus memulai nya dengan pertengkaran sih?" Mike mengingatkan Mama nya.
Mama Lani terdiam mencerna kalimat Mike tadi. Setelah beberapa lama, ia langsung menggandeng tangan Tatiana dan menarik nya masuk ke dalam ruangan yang lain.
__ADS_1
"Ya sudah! Kalau begitu ayo kita ke ruang makan saja lah langsung! Mama jadi lapar setelah mengobrol dengan istri mu itu, Mike!" Gerutu Mama Lani seraya berbalik, dan menarik Tatiana bersama nya.
***