
"Jani.. Syukurlah kamu baik-baik saja! Papa mencari mu ke mana-mana..!" Ujar James yang tampak begitu panik memeluk bocah empat tahun tersebut.
"Jani mau es klim, Pa.." sahut Jani dengan wajah polos nya.
Sementara itu Hinata masih terdiam di tempat nya berdiri. Setelah mempertimbangkan antara harus bertahan di sana atau berlalu begitu saja, akhirnya wanita itu memutuskan untuk menghadapi James.
'Mungkin memang sudah saat nya kami bertemu di sini..' pikir Hinata dalam hati.
Wanita itu lalu membuka kaca mata yang ia kenakan, lalu menyapa James setelahnya.
"Hai, James! Lama tak berjumpa!" Sapa Hinata dengan nada ramah. Seulas senyum tipis terhias di wajah cantik sang model ternama.
James yang sedari tadi fokus terhadap kondisi Jani pun lalu menengadahkan wajah. Sesaat kemudian ia terkejut saat menyadari dengan siapa ia berhadapan saat ini.
James pun spontan berdiri dan tertegun selama beberapa waktu. Ia mengenal betul wajah di hadapannya itu. Karena sesekali ia sering mendapati wajah wanita di depannya itu pada banner atau majalah di luar negeri.
"Hinata? Kau pulang? Sejak kapan?" Tanya James masih dengan keterkejutan yang sama di wajahnya.
Dengan sikap santai, Hinata oun menjawab.
"Baru saja take off setengah jam yang lalu. Apa kabar mu, James?" Sapa Hinata kembali.
"Baik.. aku baik-baik saja,"
Hening sesaat. Dan tampak baik Hinata maupun James yang merasa canggung untuk menyambung perbincangan mereka lagi.
"Kau juga. Bagaimana kabar mu, Nat?" Tanya James balik.
Hinata tak langsung menjawab pertanyaan James itu. Ia terpikirkan dengan semua yang audah dilaluinya selama beberapa tahun terakhir ini. Dan ketika ingatannya melayang ke memori yang baru terjadi akhir-akhir ini, tanpa sadar wajahnya oun mengulas sebuah senyuman manis.
Senyuman yang membuat jantung James kembali berdegup tak menentu.
Deg. Deg.
Ba dump. Ba dump.
"Baik.. aku sangat baik-baik saja," jawab Hinata dengan suara lugas dan percaya diri.
Sesaat kemudian wanita itu menoleh ke arah Jani. Bocah tersebut kini menempel ke kaki James dengan sangat erat. Seolah takut untuk terpisah lagi darinya.
Hinata lalu tersenyum ramah lagi kepada Jani. Dan melanjutkan sapaannya kepada James.
"Dia putra mu dan Nida?" Tanya Hinata dengan nada biasa.
Tak ada kecanggungan saat wanita itu mengucapkan nama Nida. Seolah-olah ia sudha melepaskan semua beban rasa yang dulu pernah menghimpit dadanya setiap kali ia mengenang tentang status Nida sebagai wanita pilihan James di pelaminan.
__ADS_1
Hinata telah lama berdamai dengan perasaannya terhadap James. Terlebih lagi seminggu yang lalu dia..
Lamunan Hinata terhenti oleh jawaban James kemudian.
"Ya. Dia putra kami.. Jani, ayo salam sama Tante Hinata.." perintah James kepada sang putra.
Dan Jani pun menurut. Ia langsung menyalami tangan Hinata kembali dengan menci um punggung tangan wanita itu.
"Ah.. anak yang manis sekali. Dia begitu mirip dengan Nida.." gumam Hinata dengan wajah yang sedang mengenang masa lalu.
Wanita itu mengingat kenangannya tentang NIda. Dan itu membuat seulas senyuman kembali hadir di wajah Hinata.
James yang melihatnya, kembali dibuat luluh tak berdaya. Lelaki itu pun langsung menundukkan pandangannya dan melihat Jani. Ia berusaha menenangkan debur jantungnya yang berdegup cepat tak menentu secara tiba-tiba sesaat tadi.
"Di mana Nida? Aku ingin bertemu dengannya. Terakhir kali, kami tak sempat berbincang lama," tutur Hinata tiba-tiba, sambil menatap James dengan pandangan tanya.
"Nida.. meninggal setelah melahirkan Jani, Nat. Sekitar empat tahun yang lalu.." jawab James dengan nada diplomatis.
Hinata sangat terkejut. Ia langsung menoleh ke arah Jani dan mengingat jawaban Jani ketika ia menanyakan tentang keberadaan Mama Papa nya. Ini terjadi sebelum kedatangan James tadi.
'Pantas saja tadi dia mengatakan kalau Mama dan Papa nya tak ada.. mungkin maksud nya, Mama nya tiada. Dan Papa nya tak ada di sisi nya? Ya Tuhan.. Nida.. ' gumam Hinata dalam hati.
Hinata tanpa sadar mengusap kepala Jani beberapa kali. Dan James tampak sedikit terkejut saat mendapati putranya itu tak menolak sentuhan tangan dari Hinata. Padahal yang ia tahu, Jani biasanya tak terlalu suka disentuh oleh orang, terlebih lagi orang asing yang baru ditemuinya seperti Hinata saat ini.
"Gak apa-apa. Aku paham. Kamu juga sudah bekerja keras di luar negeri selama ini. Aku tahu itu," hibur James kemudian.
"Oh ya? Kamu tahu?" Tanya Hinata dengan pandangan menyelidiki.
Sesaat kemudian James tampak salah tingkah. Sehingga ia pun menggaruk tengkuknya tang sebenarnya tak terasa gatal.
"Yah.. aku sering melihat mu di banner dan majalah.. secara tak sengaja," imbuh James terburu-buru.
"Oh.. begitu.." jawab Hinata dengan nada biasa.
Tiba-tiba saja, kerumunan wartawan datang bergerombol dan menodongkan mik ke dekat mulut Hinata dan James. Situasi yang tiba-tiba menjadi hectic pun sempat membuat sang model sedikit terkejut. Ia tak menyangka kalau penyamarannya akan terbongkar secepat itu.
"Hinata! Apa James datang untuk menjemput mu? Apa kalian berencana untuk CLBK?" Tanya para wartawan itu begitu gencar.
"Tidak. Kami baru saja bertemu secara tak sengaja tadi," jawab Hinata dengan jawaban lugas.
Di dekatnya, James pun tak kalah diberondongi dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjurus.
"James, apa kau sedang mengenalkan putra mu kepada Hinata? Apa setelah ini kalian berencana untuk melanjutkan ke jenjang hubungan yang lebih serius?" Tanya wartawan lainnya kepada James.
James yang tahu dengan kedatangan para wartawan itu pun sigap menggendong putranya, Jani. Sehingga sekilas, penampakannya bertiga dengan Hinata tampak seperti reuni keluarga kecil.
__ADS_1
Menyadari akan adanya masalah bila ia terus mendiamkan kondisi ini, akhirnya Hinata pun segera membuka suara.
"Permisi ya, Kakak-kakak semua. Tolong dengarkan penjelasan saya. Saya dan James sungguh baru bertemu secara tak sengaja. Dan jangan menjodoh-jodohkan kami berdua karena itu akan membuat kami merasa tak nyaman. Apalagi.."
Ucapan Hinata lalu disambung segera oleh suara lain yang muncul dari arah belakang nya.
"Apalagi aku. Sebagai tunangan dari Hinata, jelas aku tak akan menyukai adanya gosip-gosip miring terkait tunangan ku ini. Jadi tolong ya, kakak-kak yang cantik.. permisi.. aku harus membawa ratu ku ini pulang kembali ke istana nya, okey?" Ucap sebuah suara barito di belakang Hinata.
Serentak semua mata pun menoleh ke belakang. Dan semuanya terkejut kala melihat seorang pria tampan berusaha membelah gerombolan wartawan yang mengelilingi Hinata sesaat tadi.
Pria itu lalu berjalan menghampiri Hinata, dan memberi kecupan singkat di kening nya.
"Welcome home, Nat! I really missing you, Dear!" Sapa lelaki yang tadi mengaku sebagai tunangannya Hinata.
Wajah Hinata pun seketika bersemu merah. Ia langsung menundukkan pandangannya ke bawah. Tak menyangka kalau Deril akan dengan begitu mudahnya mem publish hubungan mereka ke Media seperti ini.
Ya. Lelaki yang mengaku sebagai tunangan nya Hinata Itu adalah Deril, lelaki yang sudah bersahabat lama dnegan sang model.
Tak pelak, aksi Deril saat menci um kening Hinata oun menjadi foto ter epik di kesempatan siang yang terik itu. Para wartawan pun segera memberondongi keduanya dengan pertanyaan-pertanyaan.
Menjawab semua pertanyaan itu, Deril lah yang akhirnya kembali membuka suara.
"Terima kasih untuk perhatian kawan Media semuanya. Aku hanya akan menjawab ringkas pertanyaan kalian tentang hubungan kami," tutur Deril mengawali prakata nya. Dengan salah satu tangan pemuda itu yang melingkari bahu Hinata dengan sikap akrab.
Melihat kedekatan Deril dan Hinata, James pun sedikit terbakar api cemburu. Namun ia buru-buru menenangkan diri. Dan ikut menyimak perkataan Deril kemudian.
"Aku dan Hinata barus aja resmi bertunangan sejak satu pekan yang lalu. Dan untuk rencana pernikahannya sendiri akan kami infokan lebih lanjut nanti. Sekarang permisi semuanya, kami harus segera pergi. Terima kasih!" Tutur Deril singkat dan padat.
Sebelum pergi, Deril sempat menyalami James kembali. Kedua Pria itu bertukar jabatan tangan sambil memandang satu sama lain dengan pandangan bak seperti dua orang yang saling bersaing.
Sementara itu, Hinata yang menyadari sikap aneh keduanya pun buru-buru menarik tangan Deril untuk segera pergi dari tempat itu.
Wanita itu hanya berpamitan kepada James dengan anggukan singkat kepalanya. Sementara kepada Jani, Hinata mengusap kepalanya sekilas.
Dan selanjutnya, Hinata pun dibawa pergi oleh Deril menuju mobil yang sudah menunggu mereka di depan bandara. Di mana di depan kemudi nya, telah duduk manis sepupu jauhnya Hinata, yakni Anis.
"Hay, Kak! Awal yang cukup sibuk sepertinya tadi ya?" Sapa Anis dengan senyuman menggoda.
Melihat sepupunya itu, seketika wajah Hinata pun kembali tersenyum ceria.
"Nis! Long time no see! Kamu agak gemukan sih?" Hinata balas melempar canda.
Dan tawa pun akhirnya pecah dalam mobil yang kemudian mulai melaju dan meninggalkan bandara itu.
***
__ADS_1