
Dua hari berikutnya, Mi-Star dituntut oleh Union Grup karena telah menyebabkan kerugian fatal yang diakibatkan oleh isu rumah tangga CEO-nya yang sedang beredar.
Apalagi nama pewaris Union Grup pun ikut terlibat di dalam nya. Alhasil Mi-Star di tuntut untuk mengembalikan uang investasi berikut denda yang harus dibayarkan oleh Mi-Star ke Union Grup. Besarnya tak main-main. Mencapai lima Triliyun jumlahnya!
"Sekarang Mike sedang kalang kabut menghubungi pihak Union Grup. Dia meminta kebijakan agar ia bisa mencicil hutang nya ke Union Grup," terang Deril di telepon.
Pemberitaan tentang Mi-Star yang dituntut oleh Union Grup ini pun bisa menutupi berita tentang Mr. X ataupun perselingkuhan Hinata. Karena itulah Hinata jadi bisa bernapas lega kini.
"Bagus. Sekarang Media sedang sibuk menyoroti tentang hutang yang harus dibayarkan oleh Mike. Setelah itu, hanya tinggal masalah waktu saja sampai kepemilikan Mi-Star akan berganti menjadi Union Grup.." komentar Hinata dengan nada dingin.
Ini memang adalah rencana Hinata. Di pertemuan terakhirnya dengan Deril, wanita itu meminta Deril untuk membisiki pihak Union Grup tentang keterlibatan Mike dalam munculnya nama James ke Media.
Rencana ini adalah rencana Hinata yang semula. Hanya saja kini ia mempercepat pelaksanaan nya. Dengan begitu, berita tentang perselingkuhannya dengan James akan tertutupi oleh berita bangkrutnya Mi-Star.
"Semalam, Mike sudah memecat ku, Nat!" Ungkap Deril tetiba.
"Oh ya? Hmm.. tapi dia tak berbuat kasar padamu kan, Ril?" Tanya Hinata terdengar khawatir.
"Hahaha! Dia memang mengajakku adu jotos. Tapi jelas dia yang kalah lah! Dengan tubuh yang hanya diisi tulang seperti itu, mana bisa dia melawan dada bidang ku yang seksi?!" Deril terdengar pongah di telepon.
"...kau tahu, Ril. Terkadang kau agak kelewat narsis, tahu!" Ledek Hinata sesaat kemudian.
"Ck. Ck. Ck. Kenarsisan itu terkadang diperlukan juga lho, Nat. By the way, jadi, kita hanya tinggal menunggu kebangkrutan Mike saja kan?"
"Ya. Dan sebarkan juga video tentang perselingkuhan Mike dan Tatiana yang dilakukannya sebelum tanggal pernikahan mereka itu, Mike. Aku ingin tahu. Bagaimana Mike bisa melawan ku lagi nanti?"
Hinata tersenyum sinis ke atap langit hotel yang sedang ia lihat saat ini.
"Apa dia masih berani berkoar-koar kalau aku selingkuh. Padahal sebenarnya dialah yang telah lebih dulu selingkuh!" Imbuh Hinata kembali.
"Ya. Ya. Ya.. kalau begitu. Aku pergi duluan ya, Nat! Kau jaga dirimu baik-baik. Ku dengar Nick sedang gencar mencari keberadaan mu. Tikus pengerat itu masih saja mencari berita berbeda dari yang lain. Apa kalian memang menyimpan dendam, sehingga Nick begitu ingin mencundangimu, Nat?" Tanya Deril penasaran.
"Hh.. aku sih tak merasa ada dendam dengannya, Ril. Tapi entah dengan Nick. Seingatku, aku hanya pernah sekali menegurnya saat ia menerbitkan berita bohong soal Angela.." imbuh Hinata menjelaskan.
"Oh! Maksud mu, rekan model mu yang dulu terjebak kasus narkoba itu kan?" Tebak Deril.
"Ya. Waktu itu, akulah yang sudah menyanggah pemberitaan Nick soal kepemilikan narkoba di tas Angela. Dengan rekaman video yang tak sengaja kurekam, aku bisa membuktikan kalau seseorang sudah memasukkan obat terlarang itu secara diam-diam ke dalam tas Angela," terang Hinata.
"Ya. Aku ingat. Karena itulah Nick dipecat dari surat kabar tempatnya bekerja dan pindah ke perusahaan yang lebih kecil, tempatnya bekerja sekarang ini. Sepertinya, karena kejadian itu, Nick memang menyimpan dendam padamu, Nat.." komentar Deril.
"Terserah dia lah mau berbuat apa. Yang jelas, aku akan selalu mempunyai seribu alasan untuk menangkis berita-berita bohong nya itu!" Ucap Hinata dengan percaya diri.
"Bagus sekali! Ya sudah. Aku harus pergi dulu sekarang ya, Nat. Papa mengajak ku bertemu siang ini," ungkap Deril tiba-tiba.
"Ohh.. sudah pasti dia tahu kalau kau baru saja dipecat Mike. Siap-siap saja, Ril. Kau mungkin akan ditawarkan kursi CEO lagi oleh Papa mu. Saran ku, terima saja. Itu bisa jadi pukulan telak selanjutnya untuk Mike.. dia pasti akan sangat terkejut. Saat ia mengetahui kalau ternyata selama ini dia sudah membesarkan anak singa," komentar Hinata berfalsafah.
"Ck. Ck. Ck.. yang ingin membalas dendam ke Mike kan dirimu, Nat. Bukan aku!" Komentar Deril.
__ADS_1
"Tapi.. sebagai teman mu, boleh lah aku ikut memberikan hadiah kejutan untuk mantan mu itu! Hahaha!"
"Assalamu'alaikum!" Suara sapaan tiba-tiba terdengar dari belakang Hinata.
Di seberang telepon, Deril pun ikut mendengar suara sapaan itu.
"Siapa itu, Nat?" Tanya Deril.
Sayangnya, Hinata terlupa dengan panggilan teleponnya dengan Deril, saat ia mengetahui siapa yang baru saja memasuki kamar hotel nya.
"Anis! Kamu baru sampai?" Seru Hinata yang langsung terlonjak bangun untuk menghampiri sepupu jauhnya itu.
"Maaf ya kak baru datang. Tadi sempat terjebak macet soalnya.." kilah Anis beralasan.
"Iya. Gak apa-apa. Makasih ya, Nis udah nyempetin datang main ke sini.." sahut Hinata seraya memberi pelukan singkat.
Kedua wanita itu lalu duduk berdampingan di atas sofa yang tadi sempat diduduki oleh Hinata. Saat itu, ponsel Hinata masih tersambung dengan Deril.
Hinata yang tersadar, lalu segera memberi isyarat kepada Anis untuk menunggunya menyelesaikan telepon.
"Ril, udah dulu ya! Ada sepupu ku nih main. Rencana tadi, langsung eksekusi aja ya, Ril!" Pinta Hinata sebelum akhirnya memutus sambungan telepon di antara mereka.
Klik.
Kini Hinata kembali duduk berhadapan dengan Anis. Sang jilbaber tampak tercenung memikirkan sesuatu.
"Mm.. apa aja deh Kak. Yang adem-adem juga boleh.." pinta Anis sambil tersenyum kecil.
"Oke. Makanan nya? Biar sekalian pesan makan siang gitu.." tanya Hinata lagi.
"Mm.. nasi goreng aja, Kak?" Jawab Anis ragu-ragu.
"Nasi goreng topping seafood kan?" Terka Hinata.
Dan Anis pun mengangguk cepat.
"Oke. Sebentar ya. Kakak pesan dulu.."
Hinata lalu kembali membuat panggilan ke restoran di hotel. Selesai melakukan delivery room, ia pun mengajak bincang Anis.
"Kamu habis dari pulang kuliah ya?" Tanya Hinata dengan ramah.
"Iya, Kak. Dari tas gendolan ku ya, kakak tahu nya?" Tanya Anis balik.
"Iya. Hari-hari kamu selalu bawa tas ransel segede itu, Nis? Apa gak bikin sakit punggung hah?" Tanya Hinata penasaran.
"Hihihi.. ya enggak lah kak.. mana ada bawa tas ransel bikin punggung sakit. Paling cuma pegal-pegal aja sih.." celoteh Anis.
__ADS_1
"Ransel kamu memang isinya apa aja sih? Masa iya kamu bawa buku paket banyak banget?"
Anis lalu menunjukkan isi ranselnya kepada Hinata.
"Anis tuh bawa laptop, satu binder catatan, dua buku paket, udah cuma itu aja kok, Kak.."
"Ya ampun.. pantesan kelihatan gendut. Ternyata kamu bawa laptop!" Seru Hinata.
"Iya, Kak..."
"Harus setiap hari bawa laptop kah, Nis? Itu kan lumayan berat.."
"Buat mahasiswa sih mungkin gak harus selalu bawa ya kak.. tapi buat Anis, laptop itu udah jadi kebutuhan primer yang harus Anis bawa selalu. Soalnya, Anis kan sambil nyari tambahan cuan lewat nulis novel, Kak.." ungkap Anis mengakui.
"Ooh! Kamu novelis ternyata, Nis? Hebat! Kakak gak bisa nulis cerita. Baca juga jarang banget.. apa judul buku ciptaan kamu, Nis?" Tanya Hinata penasaran.
"Macam-macam sih. kak.. tapi, belum ada yang dijadiin buku. Baru nulis di platform aja. Di Noveltoon," ujar Anis menjelaskan.
"Ooh.."
Tiba-tiba saja, ekspresi Anis berubah serius. Selanjutnya, sang jilbaber pun berkata kepada Hinata.
"Kak, Nat.. maaf.. tadi Anis gak sengaja mendengar percakapan kakak di telepon. Soal aksi balas dendam itu, Kak..maaf banget, Kak. Tapi.. bisakah Kakak berhenti melakukan ini? Maksud Anis.. jangan mengumbar aib suami Kakak lagi, Kak.. itu dosa.."
"Walaupun kakak ada masalah dengan beliau, tapi, jangan membuat diri kakak jadi.. maaf.. jadi selevel dengan nya. Terutama soal membuka aib itu. kak.. jangan.."
"Dalam hadits nabi dikatakan juga. Agar kita tidak membuka aib seseorang. Karena siapa yang membuka aib orang lain, maka Allah akan membuka aib nya kelak. Sekalipun kita berusaha menutup rapat aib tersebut, Allah akan mampu Menampakkan nya, Kak.. na'udzubillaahi min dzaalik.."
Hinata tercenung. Berbicara dengan Anis seringkali membuatnya jadi dilema. Ia ingin membalas dendam. Tapi diingatkan seperti itu, ia pun jadi rgau-ragu.
"Jadi.. kita tak boleh membuka aib, begitu?" Tanya Hinata ragu-ragu.
Anis mengangguk pelan.
"Hh.. oke. Kakak gak jadi sebarin foto perselingkuhan Mike deh.." ujar Hinata pada akhirnya.
"Tapi.. kakak akan tetap menyerang perusahaannya aja. Kakak mau dia bangkrut sebangkrut-bangkrut nya!" Tukas Hinata dengan tekad yang penuh.
"Hh.." Anis tampak menyerah untuk mengingatkan lagi.
"Terserah, Kakak deh. Asalkan jangan membuka aib dan menyakiti orang lain, Kak.." imbuh Anis mengingatkan lagi..
"Anis, Stop! Jangan nambah ceramah lagi ya.. kakak udah tahu konsekuensi dari perbuatan kakak. Oke. Kakak gak akan umbar aib Mike. Tapi untuk perusahaannya, Kakak gak bisa mundur, Nis. Kakak harus melakukan ini, demi ketenangan hati kakak sendiri. Oke?" Putus Hinata dengan tekad bulat.
"...yang jelas, Anis sudah mengingatkan Kakak. Dan Anis berharap, Kak Hinata bisa lebih bahagia lagi. Aamiin.."
"Aamiin.. Makasih ya, Nis.." sahut Hinata dengan suara pelan.
__ADS_1
***