
Beberapa tahun kemudian..
Hinata baru saja turun dari pesawat. Kini ia hendak berjalan ke depan lobi untuk menunggu jemputan nya.
Sambil menunggu, Hinata melayangkan pandangan nya ke sekitar. Gadis itu menyadari ada banyak hal yang berubah sejak kepergian nya keluar negeri lima tahun yang lalu.
Flashback lima tahun yang lalu.
"Kamu Serius mau go international dalam kondisi mu yang sekarang ini, Nat?" Tanya Dolly serius.
"Yeah.. why not? Ku rasa, aku sudha siap untuk go int. sekarang. Selagi ada kesempatan datang kan, Ly?" jawab Hinata acuh tak acuh.
Dolly menatap Hinata lekat-lekat. Ia mencoba mempelajari setiap mikro ekspresi di wajah model asuhannya itu.
Setelah beberapa lama berpikir, akhirnya Dolly memutuskan sesuatu.
"Oke. Kalau gitu, aku akan melepas mu untuk go international. Tapi itu berarti aku gak lagi bisa jadi manajer mu, Nat.." tutur Dolly kemudian.
"Kenapa gak bisa, Ly?" Ada sedikit kekecewaan yang tersirat dalam nada tanya Hinata itu.
"Aku.. masih harus bertanggung jawab sama Melody dan juga Rima, Nat.. (keduanya adalah artis asuhan Dolly juga, selain Hinata). Lagipula, aku gak punya kapasitas yang cukup untuk membawa mu ke jenjang yang lebih tinggi saat di luar negeri nanti,"
" Aku akan mengenalkan mu ke salah satu manajer yang ku kenal. Tenang saja, aku yakin, di bawah asuhan nya, kamu akan bisa meraih prestasi tertinggi di dunia permodelan nanti. nat!" Tutur Dolly panjang kali lebar.
"Actually, i'm trully sad about this, Ly.. but.. never mind.. i'll be okay! (Sebenarnya, aku cukup bersedih tentang keputusan mu ini, Ly.. tapi.. gak apa-apa. Aku akan baik-baik saja!)" Jawab Hinata.
Selanjutnya, dua pekan berikutnya, Hinata sungguh-sungguh pindah domisili ke luar negeri. Itu terjadi, tepat saat berita tentang kehamilan Nida, istri James mencuat ke Media.
Mungkin bagi orang-orang terdekat Hinata, mereka akan mengira kalau wanita itu sedang melarikan diri dari patah hati nya. Itu mungkin memang sedikit ada benarnya.
Akan tetapi di atas semua alasan itu, Hinata memang bersungguh-sungguh untuk mewujudkan impiannya sedari kecil. Yakni menjadi model top internasional yang membanggakan.
Dan, semua usaha Hinata itu akhirnya terbayarkan.
__ADS_1
Dua tahun pertama Hinata di luar negeri adalah masa-masa yang menguras air mata dan juga tenaga nya. Di mana ia tak hanya harus menghadapi kerasnya persaingan dengan para model top lain di luar negeri. Namun ia juga masih konstan menerima cibiran dari selinting media asal negeri nya sendiri.
Hinata menduga, media yang mencibiri usaha nya sebagai model di luar negeri itu adalah hasil rekayasa dari mertua nya dulu, Mama Lani. Ini diketahuinya dari beberapa komentar mertua nya itu dalam beberapa artikel julid tentang nya.
Hinata mengabaikan komentar-komentar miring tentang nya. Semakin hari ia semakin menyadari. Seiring bertambahnya ketenaran nya di luar negeri, pasti akan selalu ada tangan-tangan yang ingin menjatuhkan nya dari puncak kepopuleran.
Belajar dari Anis, Hinata memilih untuk mengabaikan tudingan-tudingan miring tersebut. Menurut Anis, mereka yang membicarakan keburukan nya, maka di akhirat kelak mereka akan menerima dosa pindahan dari nya.
Perbuatan ghibah memang sungguh perbuatan yang merugi. Terkecuali bagi mereka yang dighibahi seperti Hinata. Itu justru sangat menguntungkan nya.
Pada akhirnya, tahun ke empat, kesabaran Hinata berbuah manis. Karena ia akhirnya mulai diakui sebagai model top di luar negeri. Ia sering tampil di acara,-acara bergengsi. Salah satunya adalah pagelaran Paris Fashion Week yang sering menempatkan nya sebagai muse model.
Dan, tak berselang lama, Hinata juga mendengar berita tentang kebangkrutan perusahan milik orang tua Mike. Ini terjadi sejak Papa Mertua nya, yakni Papa Robert wafat.
Kondisi perusahaan yang tak stabil, akhirnya membuat perusahaan di bidang tekstil tersebut mengalami kebangkrutan. Dan entah bagaimana kehidupan Mama Lani, kemudian.
Karena yang Hinata dengar, semua harta orang tua Mike itu ludes untuk membayar gaji serta hutang-hutang perusahaan.
Dari sini juga Hinata belajar. Bahwa roda kehidupan memang sungguh berputar.
Karena itulah, Hinata kini lebih pandai mensyukuri segala nikmat dan apa-apa yang ia miliki. Dan wanita itu pun kian tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan rendah hati.
Flashback selesai.
"Kakak udah di depan bandara, Nis..iya. take care (hati-hati)! Wa'alaikum salam.." Ujar Hinata pada Anis di seberang telepon.
Klik. Sambungan telepon pun terputus. Dan kini, Hinata menunggu kedatangan Anis di depan bandara internasional ibu kota.
Sembari menunggu, Hinata melayangkan pandangan nya ke sekitar. Dan ia mendapati seorang anak lelaki berumur sekitar empat tahun sedang sendirian. Ia tampak kebingungan dan mencari-cari seseorang.
Merasa kasihan, Hinata pun berinisiatif untuk mendekati anak tersebut. Setelah berada di dekat anak tersebut, Hinata lalu berjongkok dan menyapa nya.
"Halo, anak tampan! Mama Papa mu di mana?" Tanya Hinata dengan wajah ramah.
__ADS_1
Anak balita tersebut mengerti dnegan pertanyaan Hinata. Dan sepertinya juga terbilang cerdas, karena ia tak mudah menangis saat berhadapan dengan orang asing seperti Hinata.
"Papa tak ada. Mama tak ada," jawab anak tersebut dengan bahasa sederhana.
Mengira kalau anak tersebut adalah yatim piatu, seketika hati Hinata pun jadi luluh karena nya. Akhirnya, Hinata berinisiatif untuk membawa anak tersebut ke bagian pengumuman di bandara. Siapa tahu, pihak bandara nanti akan membantu menemukan wali dari anak lelaki tersebut.
"Oo.. mm.. mau ikut Tante? Nanti Tante belikan kue untuk kamu. Nama kamu siapa, Dek?" Tanya Hinata kembali dengan ramah.
"Jani.."
"Jani.. nama yang bagus sekali. Ayo, Jani! Kita beli roti untuk mu?" Ajak Hinata sambil mengulurkan satu tangan nya untuk menuntun Jani pergi.
Dan Jani dengan mudah nya menurut perintah Hinata. Kedua orang itupun pergi ke sebuah gerai kue yang berada di bandara.
Setelah membeli kue, Hinata hendak mengajak Jani pergi ke kantor pengumuman, namun langkah nya terhenti oleh sebuah suara yang meneriakkan nama Jani.
"Jani!" Teriak sebuah suara yang entah kenapa membuat hati Hinata berdesir aneh, bahkan sebelum wanita itu membalikkan badan.
Dan, begitu Hinata berbalik, wanita itu terkejut pada sosok yang baru saja memanggil nama anak lelaki yang sedang ia tuntun. Karena lelaki itu adalah.. James.
Ya. James kini berlari-lari kecil menghampiri dirinya dan juga Jani.
Hinata spontan memegang topi lebar serta kacamata hitam yang menutupi hampir seluruh wajah nya dari pandangan sekitar. Ia juga teringat pada wig pirang yang sedang ia kenakan saat ini.
Wanita itu sengaja menyamarkan penampilan nya untuk menghindari kejaran paparazzi yang sering membuntuti aktivitas nya beberapa bulan belakang ini.
'James mengenal anak ini? Apa dia adalah keponakan nya? Ah.. tunggu dulu, apa sebaiknya aku langsung pergi saja atau bagaimana ya?' Hinata pun sibuk berpikir dalam hati.
Sesaat kemudian, ia dibuat terkejut kala mendengar suara Jani yang memanggil James dengan sebuah gelar.
"Papa!" Teriak Jani, yang lalu segera melepas pegangan tangan Hinata, untuk kemudian menghampiri James, yang ternyata adalah Papa nya.
'Pa.. Papa?!' pekik Hinata tanpa suara.
__ADS_1
***