
"Hah?!Tiana mau Kabur?!" Hinata sangat terkejut. Ia bahkan menumpahkan sedikit latte ke atas gaun malam yang dikenakan nya.
"Iya. Tapi untungnya aksinya itu keburu ketahuan sama reporter yang lagi nguntit dia. Jadinya Tiana ketahuan deh. Hahaha!" Tawa Deril terdengar lepas via telepon.
"Jadi, dia bisa kabur juga akhirnya?" Tanya Hinata menyimpulkan.
"Ya enggak lah! Lha wong dia juga kan ikut kesandung kasus penipuan investasi bodong," sanggah Deril seketika.
"Hah?!" Hinata lagi-lagi terkejut dengan berita yang dibawa Deril.
"Iya. Tiana tuh ternyata sebelas dua belas lah sama si Mike. Dia juga ngejanjiin para model muda bakal di trainee sampai jadi model top. Syarat nya harus setor duit tiap bulan 50jt. Gila banget gak tuh?!" Seloroh Deil sama terkejutnya.
"Ya ampun.. buat apa sih itu duit?!" Cecar Hinata.
"Ya, kali buat bayarin biaya hidupnya yang hedon itu, Nat. Hah, yang pasti, niat hati pingin ngabur ke Hongkong, tapi ujung-uung nya sekarang malah ngungsi di sel penjara. Berita nya paling bakal ramai besok nanti, Nat!" Celoteh Deril dengan nada ceria.
"Hh.. sayang banget.." sesal Hinata.
"Lho kok sayang sih? Kamu ngerasa kasihan gitu ke si Tiana, Nat??" Tanya Deril kebingungan.
"Bukan gitu.. kenapa gak malam ini juga sih berita nya rame di TV. Tadi aku sempat lihat acara infotainment, tapi berita nya masih tentang Mike aja.." keluh Hinata dengan jujur.
"Buahahahaha!! Parah banget sih, Nat! Go kill! Go kill deh!" Kekeh Deril terderai lepas.
"Eh, Nat. Udah dulu ya. Nyokap manggil nih! Bye!" Pamit Deril terburu-buru.
Tuutt..tuutt..tuuutt..
Panggilan telepon langsung diputus sepihak oleh Deril. Tinggallah Hinata yang melihat layar ponselnya dengan ekspresi kesal.
"Iishhkk.. lagi asik-asik ngobrol malah kabur. Hmm yaudah lah.."
Hinata lalu meletakkan ponsel nya asal di atas meja. Setelah itu ia merebahkan kepalanya lagi di sandaran lon chair yang sedang ua duduki. Pandangannya menangkap hamparan langit malam yang gelap.
Tanpa sadar sebuah senandung pun mengalun syahdu dari mulutnya. Dan Hinata pun bernyanyi.
...
Malam panjang.. berhias bintang.. bermahkota kan rembulan..
Kisikan jangkrik.. temani angin.. ciptakan melodi syahdu..
__ADS_1
Di sini aku.. dalam hening ku.. syukuri masa lalu ku..
Langkah kecil ku.. jejaki waktu.. lewati masa lalu..
Malam panjang.. ku jelajahi.. hingga mentari kembali..
...
...
Selesai bernyanyi, Hinata sudah akan memejamkan matanya sejenak. Namun sebuah suara dari arah samping, tiba-tuba saja muncul menyapanya.
"Aku baru tahu. Ternyata suara mu cukup merdu juga.." puji suara barito dari arah samping.
Seketika, Hinata langsung menoleh cepat ke samping. Dan netra nya menangkap sosok James yang sedang berdiri menyender pada balkon di ruang hotel sebelah kamar hotel Hinata.
"James!" Seru Hinata yang langsung bangkit dari ling chair nya. Kini wanita itu duduk tegak sambil menatap lekat James.
Tak lama kemudian, James melepas jas yang ia kenakan. Dan selanjutnya jas itu dilemparkannya menyebrang ke balkon Hinata. Hingga jas itu akhirnya mendarat tepat dalam tangkapan tangan Hinata yang spontan berdiri untuk menangkapnya.
"Pakai lah! Malam ini mungkin tak berangin. Tapi tetap saja, udara malam tak terlalu baik untuk kesehatan. Apalagi kau hanya mengenakan gaun tipis seperti itu.." ujar James menerangkan aksi nya melempar jas.
Saat mengenakan jas itu, Hinata sekilas menangkap aroma maskulin milik James yang menempel pada jas yang kini ia kenakan. Menghirup aroma itu, membuat sekujur tubuh Hinata jadi bergetar kecil.
Wanita itu merasa terharu atas perhatian yang (lagi-lagi) ditunjukkan oleh James kepadanya.
"Terima kasih, Tuan.." cicit Hinata dengan wajah tertunduk malu.
"James. Cukup panggil aku James saja, Nat.. itu terdengar lebih nyaman di telinga ku.." pinta James tiba-tiba.
Hinata mengangkat pandangan nya ke atas. Sehingga netra nya pun kembali beradu dengan sepasang netra milik James.
Ada sesuatu dalam mata pemuda itu yang akhirnya membuat Hinata mengalah untuk kali ini. Ia pun akhirnya mengangguk kaku, dan memanggil nama pemuda itu lagi.
"James.." bisik Hinata dengan suara lirih.
Beberapa menit berikutnya, dua sosok tampak berdiri menyender pada balkon nya Masing-masing. Keduanya menatap dua objek yang sama. Yakni langit malam yang gelap.
Tak ada yang berani mengusik keheningan di antara keduanya. Selain sayup angin yang berkisik pelan. Meskipun udara malam terasa dingin, anehnya hati Hinata justru merasa hangat.
Tiba-tiba sang model berkata lirih.
__ADS_1
"Terima kasih, James.. aku tahu. Pastilah kamu kan yang sudah menolong ku selama ini.." ucap Hinata seraya menoleh ke arah pemuda itu.
James tak langsung menyahuti ucapan Hinata. Lelaki itu juga tak membalas tatapan wanita di seberang balkon nya.
Setelah jeda beberapa detik, James barulah berkata. Hanya saja, perkataan James bukanlah berisi jawaban dari pernyataan Hinata tadi.
Akan tetapi perkataan James ini mampu membuat Hinata diam terpaku saat mendengarnya. Dengan suara dalam nya, James berkata.
"Aku akan menikah bulan depan," tutur James memberi tahu sang model begitu tiba-tiba.
"...Apa?!" Pekik Hinata tanpa bisa ia cegah.
James kemudian menoleh. Sehingga kini kedua pasang mata milik muda dan mudi itupun akhirnya bersitatap kembali.
"Aku akan menikah dengan wanita lain, bulan depan, Nona Hinata.. Jadi,"
James kemudian mendekati pinggiran balkon nya yang bersandingan dengan dinding balkon tempat Hinata berada. Selanjutnya, tanpa mengatakan apa-apa lagi, James tiba-tiba mengambil ancang-ancang seperti hendak menaiki dinding balkon nya.
Melihat aksi James yang berbahaya, Hinata pun langsung diliputi oleh rasa cemas.
"Apa yang kau laku-- aahh!!"
Hinata memekik kaget. Karena sesaat kemudian James sudah melompat dari pinggiran balkon nya dan menyebrang ke balkon tempat Hinata berdiri kini.
Hap!
Dan James berhasil mendarat dengan selamat.
"James! A.. apa yang kau lakukan? Itu berbahaya sekali! Kau bisa saja terjatuh tadi! Lihat! Kita sekarang ada di ketinggian dua puluh lantai! Kau ini cari mati, apa?!" Omel Hinata yang begitu emosional.
James tak berkata apa-apa. Namun pemuda itu berjalan cepat mendekati Hinata. Dalam tiga langkah saja, James sudah bisa menahan tangan Hinata yang menunjuk kesal ke segala arah. Dan selanjutnya ia menghadiahi sebuah kecupan singkat ke punggung tangan mungil dalam genggaman nya itu.
"Hinata.. ijinkan aku meminta sesuatu dari mu malam ini.. ku mohon.." pinta James begitu mengiba. Begitu tiba-tiba.
Deg. Deg.
Ba dump. Ba dump.
Dan jantung Hinata pun seketika berdegup sangat-sangat cepat.
***
__ADS_1