
Hinata akhirnya tak jadi pulang ke hotel bersama Anis. Keesokan harinya ia pulang ke rumah lama keluarga nya di pusat kota.
Rumah yang menjadi saksi pertumbuhannya sejak ia masih bayi. Rumah yang masih terawat hingga saat ini.
Di rumah itulah wanita itu menyembuhkan luka fisik dan juga luka di hatinya. Hidupnya akhirnya bisa kembali tenang, karena ia kini telah berkumpul kembali dengan orang-orang tersayang.
Meskipun sepekan kemudian, kabut duka kembali menghantam dunia Hinata, melalui berita pernikahan James dengan wanita pilihannya.
Ya. Hinata tak sengaja melihat berita tentang James di televisi. Acara pernikahan sang Pewaris Union Grup itu dilangsungkan secara meriah.
Hinata pun sebenarnya menerima undangan untuk ikut hadir di pesta itu. Dolly yang mengabarinya. Namun kepada Dolly, Hinata mengatakan,
"Aku gak bisa datang, Ly. Aku.. masih belum pulih benar.." jawab Hinata dengan tak bersemangat.
Itu adalah dusta yang jelas tak bisa dipercayai oleh Dolly begitu saja.
Namun manajernya itu menyadari kalau Hinata tentu memiliki alasan tersendiri untuk tak hadir di acara pesta pernikahan sang konglomerat. Dan Dolly akan menghargai keinginan model asuhannya itu.
Menjelang hari H pernikahan James, Hinata sama sekali tak menyentuh ponsel dan juga TV. Ia memilih untuk menenggelamkan diri di antara buku-buku di perpustakaan lama milik Papa nya.
Sesekali ia asik bercengkrama dengan Anis yang sering datang mengunjunginya. Yang jelas, wanita itu berusaha menghindari melihat, bahkan hanya sekedar potret James di surat kabar saja.
Hinata takut.. bila dinding pertahanannya akan kembali rubuh. Manakala ia harus menyaksikan lelaki yang mulai mencuri hatinya itu, bersanding dengan wanita lain.
'Sungguh beruntung, wanita yang dinikahi oleh James itu.. aku berharap, aku bisa bertemu dengannya suatu saat nanti..' itulah secuil harapan yang menyembul dalam benak sang janda muda.
Harapan yang kemudian akan segera terlabul sekitar satu pekan berikutnya. Persisnya adalah saat ia menghadiri pesta pernikahan sepupunya yang bernama Daffa dengan seorang perempuan biasa bernama Tasya. (Silahkan baca kisah roman fantasi Daffa dan Tasya di Cinta Sang Maharani)
***
Di hari berlangsungnya pesta pernikahan Daffa dan Tasya..
"Ayolah, Kak! Anis gak mau pakai make up tebal-tebal. Tabarruj itu namanya.." protes Anis saat Hinata menyapukan kuas blush on di bawah tulang pipinya.
"Apa an sih, baruj baruj? Muka kamu kalau gak pakai make up malah kelihatan pucat, Nis.. sedikit aja kok ini. Gak tebal-tebal amat!" Kilah Hinata bersikukuh dengan pendapatnya untuk men dolled up sang sepupu.
Anis kini mengenakan gamis semata kaki berwarna merah maroon. Warna pilihannya sendiri. Tadinya ia hendak dipaksa Hinata untuk memakai gamis warna pink cerah. Namun Anis menolaknya mentah-mentah. Ia terlalu malu untuk menggunakan warna yang cerah di bajunya.
__ADS_1
"Kamu tuh masih muda, Nis. Jangan keseringan pakai baju yang warnanya gelap dan muram bisa kan?" Hinata memberikan saran.
"Memangnya kenapa, Kak? Memangnya orang ngelihatin kita pakai warna baju apa, gitu?" Sahut Anis yang abai akan penampilannya.
"Ya ampun.. kamu tuh.. jilbaber jilbaber, tapi tomboy banget sih!" Dumel Hinata yang mulai tak sabar menghadapi keacuhan Anis soal penampilan.
"Kok dibilang tomboy sih, Kak? Anis kan feminim.. banyak kok yang bilang begitu.." protes Anis sambil tiba-tiba bergaya feminim.
Dan itu berhasil membuat Hinata terkikik geli.
"Iya. Tomboy! Kamu tuh terlalu cuek sama penampilan tahu!" Komentar Hinata.
"Ah.. rasa-rasanya Anis gak cuek kok soal penampilan Anis, Kak. Anis masih pakai baju yang bersih, rapoh, dan juga wangi. Muka Anis juga gak ada belek atau jejak acai.. Itu juga udah cukup kan?" Seloroh Anis yang kembali menghibur Hinata.
Tak pelak, kini Hinata pun tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa bahak.
"Hahaha!! Udah ah! Ngomong sama kamu selalu bikin perut kakak jadi sakit. Mending kamu duduk diam yang manis deh, Nis. Kakak mau dolled up kamu biar jadi cantik yang manglingi hari ini!" Seru Hinata penuh tekad.
"Hh.. ya ampun, Kak.. ya udah deh. Tapi jangan merah-merah banget ya perona pipinya. Anis gak mau disangka habis makan tomat nanti sama orang-orang kalau pipi nya kelewat merah!" Celetuk sang jilbaber lagi.
"Iya.. iya.. udah. Diam dulu ya. Sekarang... Mata nya meremin, Nis! Kakak mau rapihin alis kamu yang sedikit berantakan itu tuh!" Komentar Hinata berikutnya.
"Nah. Yang ini sih jelas-jelas no way, Kak!" Tolak Anis sambil menyilangkan tangannya berkali-kali ke arah Hinata.
"Ehh? Kok no way sih?" Tanya Hinata yang tak megerti dengan perkataan Anis barusan.
"Dalam hukum islam, merubah bentuk wajah itu gak boleh, Kak.. cuma boleh memperindah saja.." papar Anis menjelaskan.
"Lho?? Ini kan juga mau memperindah bentuk alis kamu, Nis. Biar kelihatan lebih rapih.." ujar Hinata berdalih.
"Mencukur alis, merubah bentuk hidung biar mancung, menyulam bibir sampai bentuknya berubah dari bentuk aslinya, itu hukumnya haram kak.. gak boleh .. jadi, jelas no way ya kak!" Tutur Anis dengan kalimat tegas.
"Oh.. gitu ya? Kakak baru tahu. Nis.. kakak sih sering cukurin alis. Terus gimana dong tuh?" Tanya Hinata yang kini tampak cemas.
"Iya gak apa-apa. Waktu itu kan Kakak belum tahu hukumnya. Jadi insya Allah itu bisa dimaafkan. Tapi sekarang, setelah Kakak tahu, jangan lagi-lagi ngelakuin hal itu ya, Kak.. kalau enggak, hukum nya ya.. dosa.. na'udzubillah.."
"Aduh.. iya deh.."
__ADS_1
Dan Hinata pun segera meletakkan kembali alat pencukur alis nya ke atas meja. Meski dalam hatinya ada sedikit penyesalan karena tak lagi bisa menggunakan alat kecantikan tersebut.
Selang setengah jam kemudian..
"Nah. Sekarang, ayo kita berqngkat!" Ajak Hinata kemudian.
Sang model tampil cantik dan anggun dalam gaun lengan panjang dengan model princess A-line. Warna nya ungu pastel. Warna yang seringkali melambangkan status janda seorang wanita.
Sebenarnya pilihan warna ungu itu tak disengaja oleh Hinata. Ia hanya asal mengambilnya saja saat ia membelinya di butik bersama Anis. Apalagi menurut Anis, warna pastel itu membuat kulit nya menjadi kelihatan bercahaya.
Hinata juga meng curly-kan rambutnya yang sepanjang pinggang. Dengan dua jepitan kecil di sisi kiri dan kanan kepala nya.
Dalam penampilannya itu, Hinata jelas tak menggambarkan status janda nya dengan jelas. Tapi ia tak mau ambil pusing. Kedatangannya ke pesta malam ini hanya sebagai salah satu momen kebersamaannya bersama keluarga besar yang sudah lama tak ia kunjungi.
"Ayo, Kak! Aku kenalin Kakak ke Daffa dan Tasya!" Seru Anis begitu mereka memasuki ruang lebar di mansion luas milik keluarga besarnya itu.
"Nah! Itu mereka! Assalamu'alaikum! Daffa! Tasya! Anis mengajak Kak Hinata juga lho ke sini.." tutur Anis memperkenalkan Hinata pada pasangan pengantin yang baru saja resmi menjaiddi suami istri itu.
Daffa dan Anna adalah pasangan yang sangat serasi. Kedua-duanya dianugerahi ketampanan dan juga kecantikan yang teramat sangat.
Sayangnya, perhatian Hinata kini tak tertuju pada pasangan suami istri tersebut. Karena matanya kini malah terpaku pada pasangan lain yang berada di dekat Daffa dan juga Tasya.
Sayangnya karena ada banyak tamu yang hadir ke pesta ini, sehingga Hinata tadi sempat tak melihat pasangan muda yang kini telah berhasil membuatnya terdiam kaku di hadapan mereka.
"Kak? Kak Hinata? Kakak kenapa?" Tanya Anis yang merasa khawatir karena Hinata tiba-tiba saja terdiam.
Sesaat kemudian, wanita dari pasangan yang berhasil mencuri perhatian Hinata tadi menoleh ke arahnya. Dan wanita itu lalu berseru riang dan memeluknya.
"Kak Hinata! Kita bertemu lagi di sini! Senang rasanya, Nida!" Seru wanita berjilbab putih, yang memang benar adalah Nida.
Hinata pernah bertemu Nida dua kali di kesempatan sebelumnya. Yakni di acara casting video musik LINK, dan juga saat Hinata berada di restoran hotel tempat ia menginap kemarin.
"Ni..Nida.. senang juga. Ketemu kamu lagi di..sini.."
Pandangan Hinata lalu melirik ke lelaki di belakang Nida. Lelaki itu tadi dilihat Hinata menggandeng tangan Nida dengan begitu akrab. Namun lelaki itu kini menatap Hinata lekat-lekat.
Lelaki itu adalah James. James Carls.
__ADS_1
Lelaki yang selama beberapa pekan ini berusaha untuk Hinata hindari.
***