Satu Tahta, Dua Wanita

Satu Tahta, Dua Wanita
Curhat Di Dalam Mobil


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, di taman belakang mansion...


Saat ini Hinata sedang berdua dengan James di taman belakang mansion tempat berlangsungnya pesta pernikahan Daffa dan juga Tasya.


Mulanya Hinata berpamitan kepada Anis dan juga Nida untuk mencari segar. Begitu alasan yang ia katakan kepada mereka. Padahal sebenarnya, wanita itu sedang menenangkan hatinya sendiri. Usai ia mendapati kalau ternyata wanita yang telah dinikahi oleh James adalah Nida.


Yang tak Hinata ketahui adalah, James yang diam-diam mengikuti nya dari belakang. Lelaki itu berpamitan hendak pergi ke kamar kecil kepada istri yang baru saja ia nikahi seminggu yang lalu. Padahal sebenarnya ia hendak bermaksud untuk menemui Hinata seorang diri.


"Sebaiknya kau cepat kembali lagi ke pesta, James.. Nida pasti akan mencari mu.." pinta Hinata setengah memaksa.


Wanita itu tak berani melihat ke arah James saat ia mengucapkan kalimat tadi. Ia memilih untuk melihat hamparan Padang bunga daffodil yang bermekaran indah di taman belakang mansion ini.


"Aku.." James terdengar ragu-ragu berkata.


"Bagaimana kabar mu?" Akhirnya, pertanyaan itulah yang akhirnya keluar dari mulut lelaki itu.


"Kabar ku? Hehe.." Hinata sekilas memalsukan tawa di hadapan James.


"Baik. Aku baik-baik saja, James.." jawab Hinata masih tak memandang wajah James.


"..Sungguh?" Tanya James minta diyakinkan.


Hinata kemudian berbalik. Sehingga kini ia berdiri menghadap pemuda itu. Ada jarak satu meter lebih di antara keduanya saat ini. Jarak yang, menurut Hinata justru terasa seperti puluhan kilometer jauhnya. Hingga ia merasa lelaki di depannya itu tak lagi bisa ia sentuh. Tak berhak lagi untuk ia tatap lama-lama. Karena kini, James telah menjadi suami dari Nida.


Hinata melempar pandangannya kembali ke hamparan bunga.


"Apa perlunya kau mengetahui ini, James? Kau bukan siapa-siapanya aku. Kau bahkan sudah..menjadi suami dari wanita lain. Jadi, sebaiknya, berhati-hatilah untuk tidak memberikan perhatian lebih kepada wanita lain. Aku tak ingin Media mengecap ku sebagai pelakor pula. Padahal aku baru saja terbebas dari salah satu nya!" Tutur Hinata panjang kali lebar.


James terdiam. Dan Hinata pun sama.


Kedua-duanya sama-sama terdiam untuk waktu yang cukup lama.


Hinata lah yang akhirnya tak bisa bertahan lama dalam kebisuan di antara mereka. Karena itu ia lagi lah yang mulai bicara.


"Apa kau tak akan segera pergi dari sini? Jika kau masih ingin di sini, sebaiknya aku saja yang pergi.." ucap Hinata sambil melirik sekilas ke arah James.


Deg. Deg.


Jantung Hinata kembali berdebur kencang. Namun buru-buru wanita itu mengalihkan tatapannya ke tempat lain.


'Sadar, Hinata. Jangan cintai dia! Berhenti melihat dirinya! Kamu bisa hidup bahagia tanpa mengusik kebahagiaan orang lain! Kamu bisa hidup bahagia, dengan dirimu sendiri!' tegur Hinata mengingatkan dirinya sendiri.


"Kalau begitu, sebaiknya aku yang pergi sekarang juga.."


"Tunggu, Nat!" Panggil James tiba-tiba.


"Biar aku yang pergi. Kau.. silahkan tetap berada di sini.. maaf, sudah mengganggu waktu mu," Pamit James, sebelum akhirnya berlalu pergi.

__ADS_1


Hinata menatap kepergian James dengan hati yang pedih. Diusapnya air mata yang hampir tumpah membasahi pipi.


Buru-buru wanita itu menengadah ke atas. Mencoba mencari titik-titik bintang yang siapa tahu dapat memberinya ketenangan. Namun sayang, malam itu, langit begitu sepi tak berbintang. Sesepi hatinya yang dipayungi oleh kabut duka karena patah hati.


''Ya Tuhan.. bantu aku untuk mengikhlaskan cinta ini pergi.." lirih Hinata dengan suara pelan.


***


Pesta berakhir. Hinata pun pulang bersama Anis.


Di dalam mobil menuju pulang, suasana mobil entah kenapa menjadi sunyi senyap. Anis menyadari terjadi sesuatu pada sepupunya itu saat di pesta tadi. Karena itulah, ia pun mencoba membuka percakapan dengan Hinata tentang apa yang telah mengganggu pikirannya saat ini.


"Kak Hinata sariawan ya?" Tebak Anis dengan kalimat asal.


Hinata menoleh singkat padanya. Namun sepupunya itu hanya menggeleng pelan dan kembali menatap ke depan. Pandangannya tampak kosong. Mirip seperti orang yang sedang kerasukan.


Terpikirkan adanya kemungkinan intervensi dari makhluk ghaib, Anis pun seketika jadi bergidik ngeri.


"Kak.. Kak Hinata gak lagi.. kerasukan kan?" Tanya Anis kembali secara perlahan.


Suasana dalam mobil yang memang redup itu membuat penampilan Hinata yang tanpa senyum jadi terlihat mengerikan di mata Anis saat ini.


Syukurlah, Hinata akhirnya membuka suaranya lagi. Wanita itu terkekeh singkat, sebelum akhirnya berkata.


"Hehehe.. apa kamu gak punya ide lain apa, Nis selain kerasukan? Kamu bikin Kakak jadi ngerasa parno deh.." sahut Hinata pada akhirnya.


Anis pun menghela napas lega.


"Syukurlah kalau Kak Nat enggak kesurupan. Yah.. habisnya dari tadi Kak Hinata diam aja. Ditanya sariawan, jawabnya enggak. Ditanya kesurupan, alhamdulillah juga enggak. Terus Kak Nat kenapa? Mau cerita? Siapa tahu, Anis bisa bantu kalau Kakak ada masalah?" Ujar Anis sambil memberi Hinata senyuman khas nya.


"Hh.. aku.." Hinata tampak ragu untuk berkata-kata.


Wanita itu lalu melempar pandangannya ke samping. Menatap jalanan yang mereka tinggalkan di belakang. Begitu banyak lampu-lampu yang menghiasi jalanan perkotaan yang mereka lewati. Hiasan indah di langit malam yang aslinya gelap tanpa cahaya.


"Kamu.. pernah jatuh cinta gak, Nis?" Tanya Hinata tiba-tiba.


Anis pun tercenung untuk sesaat. Ia kini mengerutkan kening nya. Mencoba mencari jawaban atas pertanyaan Hinata barusan.


Setelah diam sebentar, Anis pun menjawab.


"Kayaknya.. gak pernah deh, Kak.." jawab Anis dengan jujur.


"Kalau begitu.. kamu beruntung!" Tutur Hinata.


"Kenapa beruntung, Kak?" Tanya Anis yang malah jadi bingung.


"Karena kamu gak perlu ngerasain patah hati, Nis. Seperti kakak.. dulu, Kakak pernah cinta banget sama seorang lelaki.."

__ADS_1


Pikiran Anis langsung melayang ke profil Mike, mantan suami Hinata yang saat ini telah mendekam di penjara. Maksud sepupunya itu pastilah dirinya.


"Tapi lalu cinta Kakak itu mengkhianati kakak.. dan kakak jadi patah hati.." lanjut Hinata.


Jeda kembali selama beberapa saat. Sampai Hinata pula yang kembali melanjutkan perkataannya.


"Lalu kakak jatuh cinta lagi.. tanpa pernah kakak menginginkannya. Kakak jatuh cinta, tanpa kakak merencanakannya. Tanpa kakak perlu mengenalnya lama.. kakak langsung jatuh cinta kepadanya.." imbuh Hinata dengan suara yang mulai bergetar oleh emosi yang terpendam.


"Kakak.. jatuh cinta lagi? Kapan??" Tanya Anis yang keheranan.


Seingatnya, Hinata tak pernah membincangkan soal lelaki lagi setelah kejadian dengan Mike kemarin. Anis pikir, sepupunya itu mungkin membutuhkan waktu untuk menyembuhkan hatinya dulu dari kegagalan pernikahannya. Tapi ternyata, Hinata sudah jatuh cinta lagi untuk yang kedua kalinya?


Anis sungguh ingin mengetahui, lelaki mana yang telah berhasil memikat hati sepupunya itu saat ini?


Hinata tak menjawab pertanyaan Anis tadi. Namun ia lalu berkata.


"Kapan? Jangan tanya ke Kakak, Nis. Karena Kakak sendiri pun gak tahu, sejak kapan kakak mulai mencintainya. Tapi.. yang bisa Kakak pastikan sekarang adalhlah.. kakak gak bisa melanjutkan perasaan cinta ini, Nis.. kakak gak boleh meneruskan nya!" Ujar Hinata bersikukuh.


"..kenapa enggak, Kak?" Tanya Anis kebingungan.


"Karena lelaki itu sekarang sudah jadi suami dari wanita lain, Nis. Dia sudah menikah.. seminggu yang lalu dengan wanita lain.." ungkap Hinata yang lalu memandang ke arah Anis dengan tatapan teguh, meski berkaca-kaca.


Anis terdiam memandang balik sepupu nya itu. Ia tak tahu, apa yang seharusnya ia katakan saat ini. Berbagai kilatan ingatan lalu melintas di pikiran sang jilbaber. Sampai akhirnya ia teringat dengan beberapa isu tentang hubungan asmara Hinata yang tersebar di media.


'Lelaki yang disukai Kak Nat sudah menikah seminggu yang lalu?! Apa jangan-jangan dia itu..?!!'


Benak Anis tiba-tiba tersadar atas indentitas lelaki yang sudah membuat sepupunya itu jatuh cinta sekaligus terluka di saat yang bersamaan.


Dengan terbata-bata, Anis pun bertanya.


"A.. apa lelaki itu.. adalah.. James, Kak? James Carls?! Yang tadi sempat kita temui di pesta nya Daffa?!" Tanya Anis menerka dengan sangat tepat.


Hinata tak menjawab dengan kata-kata. Namun wanita itu menjawabnya dengan buliran air mata yang merangsek turun dari sepasang mata yang menatap Anis dengan pandangan teguh.


Gadis itu menolak untuk menyuarakan rasa sedih nya. Karena hati nya tahu, tak ada yang bisa ia dapat dari terus menyukai James. Karena itulah Hinata akan membuat kebahagiaan bagi dirinya sendiri. Meski itu tanpa James di dalam nya.


Akan tetapi, air mata terus saja merangsek turun di atas kedua pipinya yang putih. Hinata membiarkan itu. Karena terkadang, wanita perlu menangis, untuk kemudian beranjak bangkit dan menjadi kuat lagi.


Tangisan seorang wanita bukan selalu menjadi pertanda bahwa ia lemah. Namun tangisan wanita bisa juga menjadi pertanda bahwa seorang wanita tahu kalau ia harus mengakhiri apa yang membuatnya sedih. Lalu bangkit dan menciptakan kebahagiaannya lagi.


Seperti itulah kitanya yang sedang terjadi pada diri Hinata saat ini.


Malam ini, ia akan membiarkan dirinya menangisi James untuk yang terakhir kali. Tapi besok-besok, wanita itu akan memastikan kalau air matanya terlalu berharga untuk terbuang percuma-cuma hanya untuk lelaki itu lagi. Hinata menekadkan hal itu!


Kesadaran pun memukul telak benak Anis. Dan serta merta, gadis itu langsung saja menarik Hinata ke dalam pelukannya.


"Ya Allah, Kak..!" Pekik Anis seraya memeluk Hinata erat-erat.

__ADS_1


***


__ADS_2