
Hinata akhirnya harus dirawat di rumah sakit selama satu Minggu berikutnya. Selama ia di sana, Rey terus berjaga di depan kamar VVIP tempat Hinata dirawat.
Berita tentang Mike yang menyerang Hinata akhirnya terhembus oleh indera para wartawan. Sehingga beberapa pekan berikutnya, surat kabar serta tayangan di televisi pun ramai membincangkan berita tersebut.
"Kali ini, Mike gak bisa lari dari jeratan hukum, Nat. Dia jelas bakal mendekam di penjara selama beberapa tahun ke depan! Ya ampun! Pas alu dengar berita tentang kamu dari teman media ku, aku syok banget, Nat! Kenapa kamu gak segera hubungi aku sih?!" Omel Dolly di samping brankar tempat Hinata Terbaring.
"Maaf, Ly. Aku juga gak tahu sih bakal ada kejadian gini. Maksud ku, siapa juga sih yang bakal nyangka kalau Mike bakal segila itu?" Sahut Hinata dengan suara yang tak lagi lemas.
Rencananya besok ia akan keluar dari rumah sakit. Putusan pengadilan atas gugatan cerainya akhirnya diterima. Kini Hinata sudah resmi menyandang status janda.
Mike sudah dipenjara. Dan Tatiana juga sama. Meski kasus yang melibatkan mereka berdua berbeda. Tapi setidaknya, melihat dua orang yang telah menyakitinya itu kini berada dibalik jeruji besi, itu sudah cukup memuaskan hati Hinata.
Belum lagi hukuman sosial yang akan menanti keduanya nanti, setelah mereka terbebas dari penjara. Jelas sekali, cercaan dari masyarakat akan mengikuti jejak keduanya di mana pun mereka berada di negeri ini.
Hinata menduga, sekalipun Mike terbebas dari penjara nanti, besar kemungkinan ia akan mengikuti jejak orang tuanya yang tinggal di luar negeri. Sementara untuk Tatiana.. entah lah. Hinata tak mau perduli lagi pada nasib keduanya.
"Yah.. yang penting sekarang semuanya sudah selesai.. ngomong-ngomong, kamu tahu gak, Nat?" Ujar Dolly yang tiba-tiba bersikap misterius.
"Tahu apa?"
"Sekarang Mi-Star udah ganti kepemilikan jadi milik Union Grup lho! Namanya juga dengar-dengar sih mau ganti," ujar Dolly memberi tahu.
"Oh ya? Terus?"
Tanya Hinata lagi. Tahu kalau ucapan Dolly belumlah selesai tadi.
"Nah.. kamu tahu gak namanya nanti ganti jadi apa?" Tanya Dolly misterius.
"Gak tahu. Tapi coba ku tebak! Kamu pasti tahu kan, Ly?!" Seru Hinata menahan senyum.
"Hahaha! Tepat sekali! Namanya tuh dengar-dengar mau ganti jadi... Hi-Star! (Dibaca Hay-Star)" seru Dolly bersemangat.
Kedua Alis Hinata seketika bertaut.
"Hi-Star?"
"Yap! Nah.. banyak yang berspekulasi kalau nama ini tuh singkatan dari nama kamu loh, Nat! Hi untuk Hinata.. gimana menurut mu?" Tanya Dolly penasaran.
__ADS_1
"Nah. Kalau itu sih jelas aku juga gak tahu, Ly. Lagian, siapa sih yang iseng banget sampai ketemu ide asal itu?" Sanggah Hinata mengelak anggapan Dolly tadi.
"Menurut kamu, itu bukan inisial nama kamu, Nat?" Tanya Dolly dengan raut bingung.
"Bukan. Apa hubungan nya sampai nama perusahaan bisa diubah jadi inisial nama ku? Jangan ngawur ah!" Sanggah Hinata lagi.
"Tapi.. bukannya kamu dan James.."
Ucapan Dolly seketika terhenti. Ia menangkap ekspresi sedih yang membayang di wajah Hinata. Ia tahu, tak sepatutnya ia melanjutkan perbincangan tentang topik James kembali. Akhirnya dengan terburu-buru Dolly pun mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain.
"Ngomong-ngomong, besok kamu beneran gak mau tinggal di apartemen ku aja, Nat?" Tanya Dolly.
"Makasih ya, Ly.. tapi gak apa-apa. Aku mau tinggal di hotel aja dulu. Sepupu ku nanti nemani aku kok!" Ungkap Hinata memperjelas.
Maksudnya dengan sepupu tentu saja adalah Anis.
Sejak kejadian penyerangan Mike ke apartemen nya di pinggir kota, Hinata sering ditemani oleh Anis. Gadis itu entah kenapa merasa bersalah padanya. Padahal menurut Hinata, Anis juga sudah berusaha menolong nya.
Yah.. walaupun Hinata sempat bertanya kepada Anis tentang apa yang sebenarnya terjadi, namun gadis itu tak menjelaskan secara terperinci.
Pak polisi pun menemukan keanehan lainnya. Yakni rekaman CCTV di ruangan TKP penyerangan Mike ternyata telah rusak. Padahal seingat Hinata, ia masih sempat mengecek rekaman CCTV yang tersambung ke kamar tidurnya itu sekitar tiga atau empat hari sebelum hari penyerangan terjadi.
Dengan Mike dan juga Tatiana yang kini sudah mendekam di penjara, wanita itu yakin, kalau ia akan bisa menatap masa depannya lagi dengan bahagia.
"Hh.. terserah kamu deh. Nat. Tapi lain kali, kalau ada apa-apa, cepat bel aku ya! Jangan buat aku khawatir lagi kayak gini. Oke?" Pinta Dolly.
"Iya, Ly.. maaf ya!"
Dolly menjawab pernyataan Hinata dnegan pelukan singkat.
"HINATA!" Seru sebuah suara wanita yang sangat dikenal oleh Hinata dari arah pintu.
Hinata dan Dolly pun seketika menoleh.
"Ma..Mama! Papa!" Pekik Hinata terkejut saat mendapati dua orang yang paling ia kasihi di dunia ini kini berjalan menghampirinya.
"Ya Allah, Sayang.. maafkan Mama, Nak! Jika saja Mama tak membiarkan mu menikah dengan lelaki breng sek itu!" Jerit Mama Irene seraya memeluk erat sang putri.
__ADS_1
Kedua mata wanita paruh baya itu kini telah basah seluruhnya. Begitu juga dengan mata Hinata yang tiba-tiba ikut pula menganak sungai.
"Mama.. jangan bilang begitu.. Nat lah yang gak dengar nasihat Mama dulu.. Nat minta maaf ya, Ma.. huuuu"
Keharuan menyelimuti udara dalam kamar VViP tersebut selama beberapa saat.
Setelah pasangan ibu dan anak tersebut telah lebih tenang, keduanya pun akhirnya bisa memulai perbincangan. Mama Irene kini duduk di sisi kanan sang putri. Sementara Papa Lukas berdiri tepat di belakang sang istri.
Papa Lukas sedari awal memasuki ruangan tetap diam aja. Karena memang pembawaannya yang pendiam dan tak banyak bicara.
Lukas memang seorang konsulat yang piawai. Namun, bagi keluarganya, ia adalah seorang suami dan juga ayah yang tak banyak bicara.
Lelaki itu lebih sering berkata-kata lewat aksi. Menurutnya cinta yang sesungguhnya seharusnya ditunjukkan lewat aksi, bukan sekedar kata-kata semata.
Meskipun ia tak banyak bicara, lelaki itu jelas juga merasa sedih atas apa yang sudah menimpa sang putri. Bagaimanapun juga Hinata adalah putri semata wayang mereka. Ia ikut serta mengiringi perkembangan putrinya itu sedari lahir.
Jadi Lukas sangat terpukul manakala ia menerima berita tentang perceraian sang putri. Terlebih-lebih juga tentang penyiksaan yang sudah dilakukan oleh menantunya itu, Mike.
"Papa!" Panggil Hinata membuyarkan lamunan panjang Lukas tentang penyesalan terdalamnya.
Lukas sungguh menyesalkan karena ia telah salah membiarkan Mike menjadi pendamping sang putri..
'Jika saja dulu aku melarang mereka menikah..' beragam pikiran serupa kini merecoki pikiran Lukas. Hingga ia tak menyadari saat Hinata memanggil nama nya lebih dari sekali.
"Papa!"
Lukas tiba-tiba tersadar dari lamunan nya. Ia lalu bertukar pandang dengan Hinata. Dalam beberapa detik yang dilalui dalam kediaman, pada akhirnya dinding pertahanannya pun ikut jebol sesaat kemudian.
Lukas langsung merengkuh tubuh ringkih putri satu-satu nya itu dengan erat. Sementara dua kristal bening pun turut meluruh di kedua manik miliknya yang telah lama mengering.
Ya. Luka.
Konsulat yang dikenal begitu piawai membuat gentar para lawan bicaranya itu kini nyatanya sedang menangis...
Tangisan seorang Papa untuk Putrinya yang terluka.
"Papa pulang, Nat.. Maafkan Papa.. karena terlambat datang menjemput mu..." ucap Lukas dengan suara berat dan dalam.
__ADS_1
***