
"Maafkan saya, James. Mendadak tadi ada urgent yang harus saya tangani dulu. Yah.. Anda tahu lah ya.." tutur Mike ambigu.
"Tak apa-apa, Mike. Kita pergi sekarang?" Tawar James kemudian.
"Ya. Tentu. Ayo kita berangkat sekarang!" Imbuh Mike setelah nya.
Ketiganya pun akhirnya pergi menuju rumah Jessy, kakak dari James Carl.
***
Setengah jam kemudian, ketiga nya tiba di sebuah rumah putih bergaya Eropa klasik. Rumah tersebut sangat luas dan juga megah. Halaman nya saja sangat luas.
Seorang pelayan lalu menyambut ketiga nya dengan ramah di depan pintu.
"Tuan James, Nona dan juga Tuan.. Nyonya Jessy sudah menunggu Anda sekalian di dalam. Mari silahkan masuk," ucap pelayan tersebut.
"Terima kasih Med," sahut James dengan ramah terhadap pelayan wanita yang Hinata taksir usia nya tak lebih dari kepala empat tersebut.
"Sama-sama Tuan," ucap Med dengan kepala sedikit tertunduk.
Hinata kemudian bergandengan dengan Mike memasuki area dalam rumah. Ia tak bernai melihat-lihat ke sekitar. Karena ia tahu itu adalah etika yang tak sopan untuk dilakukan saat berkunjung ke rumah orang lain.
"James! Akhirnya kau datang juga! Aha! Ini pasti Nona Hinata bukan? Perkenalkan, nama ku Jessica. Cukup panggil Jessy saja. Aku adalah ibu dari Jimmy," tutur Jessy memperkenalkan diri.
Jimmy adalah anak lelaki yang hampir saja ditabrak oleh Hinata tempo lalu.
"Salam kenal, Jess. Dan ku rasa aku tak perlu ikut memperkenalkan diri ku, bukan?" Seloroh Hinata bernada canda.
"Hahaha.. kau sungguh lucu sekali, Hinata. Dan, ini adalah?" Tanya Jessica seraya tersenyum ke arah Mike.
"Salam kenal. Saya adalah Mike, suami dari Hinata," tutur Mike memperkenalkan diri. Tangan kanan nya terjulur ke depan.
"Hah? Kamu sudah menikah ternyata, Nat?" Tanya Jessy tampak jelas sedang berbasa-basi.
"Benar, Jess.. sudah lima tahun usia pernikahan kami," tutur Hinata memberi tahu.
"Oh.. tadinya ku pikir kau belum menikah, Hinata.."
Jessica lalu melempar pandang ke arah James. Namun James tak balas menatap nya.
"Maksud ku, lihat penampilan mu ini! Kau jelas terlihat sangat-sangat muda!" Puji Jessy dengan terburu-buru.
"Kau pandai memuji ku, Jess," tutur Hinata dengan wajah sedikit memerah.
__ADS_1
"Sekarang, ayo kita langsung pergi saja ke ruang makan!" Ajak Jessy kemudian.
Keempat orang tersebut akhirnya menikmati perjamuan yang sudah disiapkan oleh Jessy.
"Jangan merasa sungkan. Makanlah sebanyak yang kalian ingin kan!" Tawar Jessy dengan ramah.
***
Beberapa menit sesudah nya..
Jessy mengajak semua tamu nya duduk di ruang tamu. Hinata duduk berdampingan dengan Mike. Sementara James dan juga Jessy duduk pada sofa lain nya.
"Jadi, Nat. Aku sungguh meminta maaf, sekaligus juga berterima kasih karena kesigapan mu menghindari Jimmy di hari itu. Hati itu, Jimmy ku asal saja berlari menyeberang untuk mengejar Papa nya di seberang jalan. Dan itu adalah kelalaian ku yang tak menahan nya dengan benar," ucap Jessy meminta maaf.
"Santai saja, Jess. Aku tak lagi memusingkan nya," tukas Hinata merendah.
Tetiba saja Mike menyeletuk.
"Maaf, Nyonya Jessica. Tapi, bukan kah suami Anda adalah Andrew Loghart? Di mana dia sekarang? Saya adalah fans nya. Tuan Andrew adalah penghulu bagi kaum muda yang berkecimpung di industri hiburan," Tutur Mike memuji.
Seketika suasana dalam ruangan pun menjadi hening. Menyadari kalau perbincangan terkait suami Jessy tersebut sepertinya hal yang tabu. Hinata pun bergegas mengalihkan topik pembicaraan.
"Ngomong-ngomong, di mana Jimmy, Jess? Aku jadi ingin bertemu dengan nya.." seloroh Hinata dengan tiba-tiba.
Mike pun paham. Kalau ia telah membuat kesalahan. Karena nya sepanjang sisa waktu keberadaan nya di rumah itu, Mike tak lagi banyak bicara.
"James!" Panggil Jessy tiba-tiba pada adik nya itu.
"Ya, Sis?" Sahut James segera.
"Kenapa kau tak mengajak Mike berjalan-jalan? Siapa tahu kalian butuh udara segar?" Tawar Jessy bernada perintah pada adik nya itu.
Menyadari keinginan sang kakak, akhirnya James pun mengajak Mike berjalan-jalan di halaman rumah. Dan ini memang yang paling ditunggu-tunggu oleh Mike. Dengan begitu Mike bisa bebas mengobrol dengan James hanya berdua saja.
Ia akan berusaha menunjukkan kapasitas Mi-Star sebagai perusahaan entertaintment yang cukup menjanjikan di masa depan nanti.
Sementara itu, Jessy asik mengobrol dengan Hinata tentang banyak hal. Ternyata, Jessy pun sempat merambah ke dunia model selama beberapa tahun yang lalu. Hanya saja karena ia kemudian dilamar oleh Andrew, akhirnya Jessy memutuskan untuk resign dari dunia model.
Kisah yang sangat mirip dengan kisah Hinata sendiri.
"Aku pun kemarin sebenarnya sempat resign selama lima tahun, Jess. Maksud ku, sebelum menikah dengan Mike juga aku sudah mengambil keputusan itu. Tapi, yah.. setelah lima tahun berlalu, aku merasa hidup ku tak banyak berguna sebagai istri full time," ungkap Hinata dengan terbuka.
"Kenapa begitu?" Tanya Jessica.
__ADS_1
Sampai di sini, Hinata mulai merasa tak nyaman untuk bercerita. Namun melihat raut penasaran di wajah Jessy, akhirnya Hinata pun melanjutkan cerita nya kembali.
"Karena mungkin, hingga lima tahun pernikahan ini kami belum juga dikaruniai oleh seorang anak, Jess. Jadi, kehidupan di rumah terasa monoton dan membuat ku sedikit bosan. Kau beruntung karena sudah memiliki Jimny," tutur Hinata dengan jujur.
"Hmm.. begitu rupa nya. Aku turut menyesal mendengar cerita mu, Nat. Tapi ku harap kau jangan merasa terpuruk sendirian karena belum dikarunia seorang anak. Bagaimana pun juga aku pernah mendengar kalau anak juga adalah sebuah rezeki. Jadi kita hanya bisa menunggu rezeki itu datang kepada kita pada waktu yang tepat. Bersabar lah," pesan Jessy seraya mengusap pelan punggung tangan Hinata.
Hinata merasa terharu dan akhirnya bergumam pelan,
"Terima kasih, Jess. Aku senang mendengar nya," ucap Hinata dengan tulus.
"Jadi, sekarang kamu memutuskan untuk menjadi model lagi, begitu?" Tanya Jessy menyimpulkan.
"Yah.. begitu lah. Bagaimana pun juga modelling adalah passion ku. Jadi, aku tak bisa menolak untuk kembali menjadi model lagi, bukan, saat ada tawaran yang datang ke hadapan ku?" Seloroh Hinata.
"Hahaha! Benar! Seperti kau mendapat godaan sebatang cokelat, di saat kau sebenar nya sedang melakukan diet. Itu jelas godaan yang sangat berat!" Ujar Jessy setuju.
"Yah.. sayang sekali tapi.." gumam Jessy tetiba.
Hinata menatap bingung ke arah nya.
"Sayang kenapa, Jess?" Tanya Hinata penasaran dengan perubahan mood wanita di depan nya itu yang begitu tiba-tiba.
"Sayang sekali karena James telat bertemu dengan mu, seharusnya ia menemui mu sebelum lima tahun yang lalu, ya?" Imbuh Jessy kembali.
"Mm... Kenapa begitu?" Tanya Hinata yang entah kenapa mulai merasa tak nyaman dengan arah perbincangan mereka ini.
"Karena dengan begitu, siapa tahu ia bisa meminang mu terlebih dulu sebelum kau menikah dengan Mike.." ujar Jessy kemudian, seraya memberikan Hinata pandangan intens.
Deg. Deg.
'Kenapa tiba-tiba Jessy mengatakan hal seperti itu?' gumam batin Hinata.
"Maaf saja, Nona Hinata. Aku harus jujur mengatakan ini kepada mu. Tapi sepertinya, James, adik ku itu menyukai mu. Karena itulah, aku sebagai kakak nya langsung mencari tahu tentang dirimu," ungkap Jessy yang tiba-tiba saja langsung memasang ekspresi serius di wajah nya.
"Dan setelah aku tahu tentang siapa dirimu, aku langsung meminta James untuk mengundang mu ke rumah ku. Undangan ini bukan hanya untuk menyampaikan permintaan maaf ku terkait kelalaian ku atas kecelakaan yang menimpa mu tempo lalu. Namun juga agar aku bisa menyampaikan nasihat ku kepada mu,"
Jessy lalu menjeda ucapan nya.
"Jangan jadikan James, sebagai alat untuk balas dendam yang sedang kau lakukan ini, Nat. Ini adalah nasihat dari ku. Bukan peringatan. Karena ku lihat, kau sebenarnya seorang perempuan yang berhati baik, Nat.."
Hinata tertegun dengan arah perbincangan yang berubah begitu mendadak ini. Ia tak menyangka, kalau langkah nya untuk mendekati James ternyata sudah mendapat batu sandungan terlebih dulu dari kakak nya, Jessy, secara langsung.
***
__ADS_1