Satu Tahta, Dua Wanita

Satu Tahta, Dua Wanita
Ke KUA


__ADS_3

"Bagaimana dengan Tiana?"


"Yah.. dia pun sama menyedihkannya seperti Mike. Ada banyak tuntutan datang terhadapnya saat ini. Banyak suara yang menyatakan dukungannya terhadap mu, sebagai istri pertama yang tersakiti. Hahaha! Membaca headline berita nya saja sudah membuatku kasihan pada suami mu itu. Ngomong-ngomong, kapan kau akan muncul ke Media, Nat?" Tanya Deril penasaran.


"Kapan, Hmm..? bagaimana jika lusa?" Jawab Hinata dengan nada santai.


"Lusa? Bagus.." Deril tampak bersemangat mendengar jawaban Hinata.


"Tapi sebelum itu, aku ingin meminta bantuan mu dulu," imbuh Hinata lagi.


"Bantuan apa?"


"Antar aku ke KUA,"


"KUA..? Maksud mu, Kantor Urusan Agama?? Apa itu berarti.."


Ucapan Deril segera disambung oleh Hinata.


"Ya, Ril. Aku akan mengajukan gugatan cerai kepada Mike. Bukankah dengan begini, berita hubungan kami akan semakin ramai diperbincangkan media? Mike tentu akan senang bukan?" Tanya Hinata sambil tersenyum sinis.


"Ahahahaa!" Seketika Deril tertawa bahak.


"Hinata..Hinata!"


"Syuutt! Jangan berisik! Kau lupa ya? Aku kan sedang dalam penyamaran sekarang!" Tegur Hinata seraya menepuk bahu Deril dengan cukup panjang.


"Ups..sorry! Sorry! Aku lupa, Nat! Tapi dengan wig pirang yang kau kenakan saat ini,jujur saja, Nat. Kau tak terlalu banyak berubah dari penampilan mu biasanya," komentar Deril.


"Yah.. terserahlah. Tapi bukan berarti kau bebas berteriak di sini dan menyadarkan orang-orang tentang identitas ku juga kan?!" Protes Hinata yang tampak kesal.


"Oke. Baiklah. Aku akan memelankan suara ku. Jadi, kau sungguh akan bercerai dari Mike, Nat?" Tanya Deril sambil mendekat ke arah Hinata.


"Tentu saja. Dan kita buat beritanya seheboh mungkin. Agar nilai saham Mi-Star akan semakin anjlok!" Gerutu Hinata.


"Oke. Princess. Aku mengikut sajalah rencana mu. Toh nanti aku akan pindah haluan," komentar Deril.


"Maksud mu, kau akan pindah ke Alfa Star, Ril?" Terka Hinata tampak terkejut.


"Ya. Mau kemana lagi lah, Nat..sebentar lagi Mi-Star kan akan kau buat jadi rongsokan!" Deril pura-pura mencibir.


"Ck.ck.ck.. kau tak akan rugi juga lah, Ril kalau pindah ke Alfa Star. Paling-paling Ayah mu nanti akan mangkat dan menyerahkan kursi CEO nya kepadamu!" Komentar Hinata.

__ADS_1


Ya. Ayah Deril adalah CEO dari Alfa Star, perusahaan saingan dari Mi Star yang telah berdiri lebih lama dari perusahaan Mike tersebut.


Deril tadinya diminta untuk menggantikan sang ayah untuk memimpin perusahaannya. Namun ia menolak. Alasannya adalah karena ia ingin mencari pengalaman terlebih dulu di perusahaan lain.


"Aku heran, bagaimana kau bisa merahasiakan identitas mu dari Mike selama ini, Ril? Padahal kalian berteman cukup dekat?" Gumam Hinata terheran-heran.


"Hey.. catat ya! Mike itu akrab dengan kakak ku. Aku hanya sekedar mengenal Mike saja. Itu pun sambil lalu. Saat Kak Hiro meninggal, Mike juga belum mengetahui latar keluarga kami. Andai dia tahu, sudah pasti dia tak akan menjadikan ku sebagai sekretaris kepercayaannya. Bukan?" Papar Deril mengoreksi pendapat Hinata.


Wanita itu hanya mengangguk-angguk saja sambil mendengarkan penjelasan Deril. Setelah teman lelaki nya itu berhenti bicara, barulah Hinata kembali berkata.


"Kalau begitu, kau tunggu sebentar di sini ya. Aku akan ke atas dulu!" Pinta Hinata tetiba.


"Hah? Buat apa aku menunggu mu? Aku masih ada pekerjaan di kantor, Nat!" Gerutu Deril yang paling tak suka bila disuruh menunggu.


"Haiss.. kau ini lupa atau pikun sih?"


"Itu sih sama aja, Princess! Tapi yang jelas aku bukan kedua-duanya ya!" Elak Deril.


"Aku kan meminta mu untuk mengantarkan ku ke KUA!" Imbuh Hinata menjelaskan.


"Eehh?? Maksud mu, sekarang juga kau akan ke KUA, Nat?!" Pekik Deril dengan suara yang sedikit meninggi.


Hinata pun spontan menepok bahu nya kembali dan berbisik ke arah teman lelakinya itu.


"Oke.. jangan lama ya, Nat!" Ujar Deril mengingatkan.


"Iya.. gak akan lama kok!"


***


Pada akhirnya, Deril masih harus menunggu hingga hampir satu jam lamanya sampai Hinata kembali muncul di hadapan nya.


"Kau ini! Katamu hanya sebentar dan berganti baju! Tapi kenapa lama sekali sih?!" Deril menggerutu kesal.


"Hey! Aku emang hanya berganti baju saja kok! Memang nya kau tak lihat apa aku sudah tampil chic dengan pakaian ku yang sekarang?!" Protes Hinata membela diri.


Deril melihat sekilas penampilan Hinata. Dan memang benar, penampilan teman model nya itu memang terlihat cukup chic.


Hinata memadukan rok maroon sepanjang betis dengan kaos putih dan blazer maroon pula. Hinata tak lagi mengenakan wig pirang sekarang. Rambut nya yang panjang sudah ia kuncir tunggal di puncak belakang kepala nya. Jelas, penampilan wanita itu kini jadi terlihat tangguh.


"Well.. yah.. lumayan lah.." Deril berkomentar.

__ADS_1


"Cih.. minim pujian sekali sih kau, Ril.. apa perlu aku berganti baju jadi pakaian gym ku lagi seperti tadi? Hinata pura-pura mencibir.


Kedua tangan wanita itu kini berkacak pinggang.


"Hahaha.. iya, Princess.. kau jelas yang paling cantik dan tangguh yang pernah ou kenal selama ini. Sudah. Puas dengan pujian ku?" Goda Deril.


"Hmph! Wanita yang tangguh tak memerlukan pujian dari siapa pun. Karena ia akan tetap tangguh, sekalipun dunia melemparinya dnegan hinaan seberat gunung," ucap Hinata berfalsafah.


Deril pun seketika ternganga keheranan. Dan gantian Hinata yang terkekeh menertawai pemuda itu.


"And now, let's go buddy!( Sekarang, ayo kita pergi, kawan!).. we have to go and make a party (kita harus pergi dan menciptakan sebuah pesta/keramaian)!" Seru Hinata yang berlalu meninggalkan Deril terlebih dulu.


"Hey, Nat! Tunggu aku!" Panggil Deril yang bergegas mengejar langkah Hinata yang cukup cepat.


Sementara Hinata dan Deril melangkah meninggalkan restoran dan lobi hotel, keduanya tak menyadari dengan sepasang mata yang memperhatikan gerak-gerik keduanya dari jauh.


Mata elang sang pengawas yang audah melihat interaksi Hinata bersama Deril oun seketika menyipit tajam. Ia segera merogoh saku jas untuk mengambil gawai nya.


Klik.


Lelaki itu membuat sambungan telepon dengan seseorang yang dikenalnya.


"Cari tahu lelaki yang sedang pergi dengan Hinata saat ini. Selidiki hubungan keduanya se detail mungkin. Jangan ada yang terlewatkan. Lu tunggu laporan mu secepat nya!" Titah sang pengawas kepada anak buah nya.


Klik.


Sambungan telepon pun terputus. Dan kini, pengawas yang berjenis kelamin lelaki itu menatap pintu lobi tempat terakhir kali ia melihat sosok Hinata.


Pikiran lelaki itu melayang ke semua hal yang sudah ia lakukan untuk membantu Hinata. Sang pujaan hati yang diam-diam ia cintai selama beberapa waktu ini. Ia berharap, bantuannya itu bisa segera memuluskan rencana Hinata untuk bisa membalas dendam kepada Mike.


Dengan begitu, ia mungkin bisa mulai intens mendekati Hinata dengan leluasa.


Lelaki itu sendiri tak mengerti. Kenapa ia bisa semudah itu mencintai Hinata. Tali yang jelas, bukan rupa cantik dari wanita itu saja yang telah menjerat hatinya. Karena ia sungguh mencintai keseluruhan dari diri Hinata.


Padahal ia baru mengenal wanita itu beberapa bulan ini saja. Namun perasaan cinta ini sudah mengakar kuat dalam sanubarinya.


" James? Kamu melamun?" Tanya seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan.


Ya. Lelaki yang sedari tadi mengawasi Hinata memang adalah James Carls.


James menatap sang wanita dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


"Tidak, Ma. James hanya sedang teringat sesuatu hal saja," elak James berpura-pura.


***


__ADS_2