Satu Tahta, Dua Wanita

Satu Tahta, Dua Wanita
Memilih Tuk Pergi


__ADS_3

Kembali ke James yang masih berlutut di balkon kamar Hinata.


Kepala lelaki itu kini tertunduk lesu. Ia sungguh hanya ingin memeluk Hinata untuk yang terakhir kalinya saja. Sebelum nanti ia akan menjalin hubungan dengan wanita pilihan mama nya.


Bagaimanapun juga James masih tahu sampai batasan mana ia harus bersikap, saat ia sudah menikah nanti. Karena saat ia sudah menikah nanti, ia pun akan dengan sendirinya menjauhi Hinata, untuk menjaga hati sang istri.


Siapapun wanita yang harus ia nikahi nanti, James akan berusaha menunaikan tugas nya sebagai seorang suami. Dan salah satunya adalah menjaga hati nya dari terlukai.


Karena itulah, James sengaja mencari tahu keberadaan Hinata. Begitu tahu wanita pujaannya menginap di hotel ini, James pun mereservasi hotel di sebelah nya.


James tak segan untuk menukar VVIP nya dengan penghuni kamar di sebelah Hinata. Tujuannya demi bisa berada dekat dengan sang pujaan hati.


Tapi, apalah daya.. keinginan terakhirnya untuk memeluk Hinata, sayangnya tak bisa terkabul. Entah karena alasan apa, wanita itu malah tampak marah kepada nya. Dan James kini sedang memikirkan, apa yang sudah membuat Hinata menjadi marah kepadanya.


Sreettt..


Tiba-tiba pintu balkon kembali terbuka. Namun belum sempat James mengangkat pandangannya ke atas dnegan sempurna, tahu-tahu Hinata sudah kembali berdiri di hadapan nya.


Wanita itu berdiri sangat dekat dengan James yang masih berlutut. Dan tanpa berkata apa-apa, Hinata merengkuh kepala James untuk ia peluk. James merasakan tangan yang memeluknya bergetar pelan.


Getaran itu pun seolah merambat dan mengguncangkan batin dan juga rasa di hatinya. Tanpa berkata-kata, James ikut memeluk pinggang Hinata.


Dalam diam keduanya berbagi rasa yang tak tersampaikan.


Dalam heningnya malam, dua jiwa mengulurkan asa yang tertahan.


Kebisuan mengunci bibir dua insan dari berkata-kata. Sementara hati serasa ditimpa oleh beban tak kasat mata.


"I love you, Hinata.. but to love you, i have to leave you.. so sorry..!" Bisik James dalam air mata yang berderai tak terbendung.


Hinata yang sedari masuk meninggalkan James di balkon mulai ragu dengan keputusan nya.. hingga ia akhirnya melihat wajah menderita James yang termenung lama di sana.. akhirnya memutuskan untuk mendekati James kembali.


Ia tekad kan pelukan ini untuk yang terakhir kali.. ia akan simpan memori ini untuk menjadi penghibur dirinya di kala ia merasakan sepi nanti.


Hinata merasa bingung dan sedih di waktu yang bersamaan. Bingung, karena ia tak menyangka kalau perasaannya terhadap James ternyata telah mengakar cukup dalam.


Dan Hinata pun jelas merasa sedih. Karena ia tahu, tak ada hari esok untuk nya dan James lagi.


Mendengar pernyataan cinta dari James, Hinata akhirnya menyahut dengan lirihan yang tak kalah pelan..

__ADS_1


"Kamu harus hidup berbahagia dengan wanita itu, James. Cintai juga wanita itu.." sampai di sini, Hinata hampir saja terisak. Namun wanita itu buru-buru menahan nya.


Hinata tak ingin James mengetahui, kalau sebenarnya ia pun merasa berat atas perpisahan ini. Ia ingin James mengetahui dirinya sebagai sosok yang tangguh. Agar pemuda itu tak perlu lagi mengkhawatirkan dan peduli padanya lagi.


Setelah jeda beberapa saat, Hinata pun melanjutkan kalimatnya lagi.


"Kamu harus mencintai wanita itu.. dengan sepenuh hati. Aku jelas tak akan memaafkan mu kalau sampai kamu menduakan nya dengan wanita lain... Meski itu dengan ku. Berjanjilah, James. Berjanjilah kepada ku!" Pinta Hinata dengan suara bergetar.


Sampai detik ini, ketika Hinata menyampaikan permintaan nya, James masih juga menundukkan kepala seraya memeluk pinggang wanita itu.


Sebenarnya James ingin mendongak ke atas. Ia ingin melihat wajah Hinata. Akan tetapi wanita pujaan hati nya itu seperti menahan tangan nya untuk mendongak. Jadilah akhirnya James hanya bisa berkata-kata tanpa menatap langsung mata Hinata.


"Aku berjanji, Hinata.. aku akan belajar untuk memuliakan dia dengan sebaik mungkin.." janji James bersungguh-sungguh.


Selanjutnya, menit-menit berikutnya, kedua insan itu terus berada dalam posisi seperti itu. Setelah cukup lama berada di balkon. Dan menyadari udara malam yang kian dingin. Hinata sendirilah yang akhirnya kembali melangkah pergi.


Sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar hotelnya, Hinata terlebih dulu memakaikan jas milik James. Dalam diam, wanita itu membantu James memakai jas nya kembali. Sementara pemuda itu telah berdiri dan menatap Hinata dalam diam.


Wajah cantik sang model kini jadi semakin cantik berkat pantulan sinar rembulan yang membulat sempurna di malam itu.


James sekuat tenaga menahan hasrat di hatinya untuk menarik Hinata kembali ke pelukan nya. Karena ia tak ingin merusak citra terakhir dirinya di hadapan Hinata.


"Sekarang, kamu sebaiknya pergi!" Usir Hinata seraya mendorong bahu James pelan.


"Ah! Tapi.. jangan lewat balkon lagi! Itu sangat berbahaya, James!" Imbuh Hinata lagi.


"Lalu aku harus lewat mana?" Tanya James sambil tersenyum tipis.


"Mm.. lewat pintu depan hotel mu saja! Ayo, masuk dulu lewat kamar ku!" Ajak Hinata yang kemudian spontan menarik tangan James untuk ikut masuk ke kamar nya.


James menatap sedih pada genggaman tangan Hinata ke tangan nya saat ini. Ia tahu, ini mungkin adalah genggaman pertama dan yang terakhir kalinya dari wanita di depannya itu.


"Hh.." lelaki itu menghela napas sedih.


Sesaat kemudian, James pun berkata sambil lalu.


"Tapi aku kan tak membawa kuncinya, Hinata. Bagaimanapun juga kunci kamarnya masih tergantung di bagian dalam kamar hotel ku kan?" Tanya James menjelaskan situasinya saat ini.


"Itu sih gampang! Kita tinggal minta pihak hotel untuk menggunakan kunci cadangan untuk masuk ke kamar mu lagi. Beres kan?" Jawab Hinata tanpa menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Oke.. aku ikut katamu saja deh.." ucap James dengan patuh di belakang Hinata.


Akhirnya dua muda dan mudi itupun berpisah kembali di depan kamar hotel Hinata. James kembali ke kamar hotel nya sendiri. Dan Hinata pun masuk ke kamarnya lagi.


Dua insan itu sibuk mengulangi apa yang terjadi di antara keduanya malam ini.


Dan kembali, genangan air mata pun mengalir tanpa henti. Entah itu air mata milik James.. maupun juga milik Hinata.


Kedua-duanya sama-sama merasakan sedih atas perpisahan yang sungguh tak mereka inginkan ini.


***


Esok paginya, Hinata memutuskan untuk check out dari hotel tempatnya menginap selama ini. Dan selanjutnya ia pindah ke apartemen nya yang berada di luar kota.


"Kenapa kamu gak tinggal di apartemen ku dulu aja sih, Nat? Apartemen mu itu kan lumayan jauh.. nanti aku gak bisa sering-sering nemuin kamu.." keluh Dolly di keesokan harinya.


Manajer Hinata itulah yang mengantarkannya pergi ke apartemen miliknya di luar kota.


"Aku mau healing dulu, Ly. Satu bulanan lah kira-kira. Aku gak mau dengar berita apa-apa dulu untuk sementara. Di sana kan suasana nya dekat ke pantai ya. Jadi pas lah sama momen yang lagi kualami sekarang ini.." kilah Hinata beralasan.


Padahal alasan sebenarnya adalah, Ia tak ingin mendengar berita pernikahan James, yang pastilah akan menyita perhatian Media secara besar-besaran nanti nya.


Meski ia sudah mengatakan kepada James kalau ia sudah rela. Tapi tetap saja, Hinata pasti akan merasa sedih lagi nantinya saat ia melihat wajah James terpampang bersanding dengan wanita lain.


Hinata sadar diri. Kalau posisinya saat ini tidaklah sebanding dengan James. Sebentar lagi, ia akan menyandang status janda. Dan ia juga memiliki sekian banyak kekurangan dan label lain yang tersemat pada dirinya. Semisal.. mandul.


Hh.. mengingat hal itu saja sudah cukup membuat Hinata merasa rendah diri. Dan ia paling membenci hal itu.


Hinata tak ingin dirinya direndahkan lagi oleh siapapun. Karena itulah ia memutuskan untuk menjauh dan melepas semua embel-embel yang terikat dengan masa lalunya. Termasuk juga Mike dan Tatiana.


"Janji sebulan aja ya, Nat? Aku bakal kangen berat lho sama kamu nanti.." tutur Dolly dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Iya, Ly. Aku janji. Pas kita ketemu lagi, aku bakal jadi diriku yang fresh new!" Janji Hinata sambil terkekeh pelan.


"Hihihi.. kirain mau bilang, fresh from the oven!" Sahut Dolly yang kemudian terkekeh juga.


Dua sahabat itu pun melanjutkan sisa perjalanan mereka dengan canda dan juga tawa.


***

__ADS_1


__ADS_2