
"Halo, Nat! Apa kabar mu, Sayang? Sudah lama kita tak berjumpa. Ku harap, kau senang melihat ku lagi!" Tutur Mike dengan pandangan berkilat.
"Mike?!!" Pekik Hinata sangat terkejut.
Ia tak menyangka kalau ia akan kembali bertemu dengan Mike. Apalagi di saat dia sudah ingin melepaskan masa lalu nya yang pahit kala bersama dengan lelaki itu.
Mike berjalan pelan mendekati Hinata yang masih terduduk di bawah. Melihat pergerakan Mike, entah kenapa benak Hinata malah jadi tak tenang.
Wanita itu lantas hendak bergegas bangun, namun secepat kilat Mike berhasil menarik sejumput rambutnya yang tergerai bebas.
"Aaargghh!! Mike! Le..lepaskan aku!" Teriak Hinata menahan rasa sakit yang menyerang di bagian kepala nya.
Bukannya melepaskan rambut Hinata, Mike malah semakin menarik kencang rambut wanita itu.
"Lepas?! Kau minta aku melepaskan mu, Na?? Samentara aku beribu kali memintamu untuk kembali padaku tapi kau tak juga kembali!" Hardik Mike di dekat telinga Hinata.
Kuping wanita itu jadi terasa pengang akhirnya usai menerima bentakan dari Mike.
"Aku memintamu untuk tutup mulut bocor mu itu! Tapi kau malah melawanku di hadapan awak media!" Hardik Mike kembali dengan tatapan penuh amarah.
"Kau malah membongkar mulut busuk mu itu, dan karena itulah semuanya mulai menjadi kacau!! Hidup ku kacau karena mu, Nat! Kau lah biang kerok dari semua masalah ku!!" Teriak Mike dengan tatapan gila.
Menerima bentakan demi bentakan dari Mike, mau tak mau hati Hinata pun menjadi gentar. Rasa takut tiba-tiba saja menyerang keseluruhan dirinya. Namun ia mencoba memberanikan diri untuk membalas perkataan Mike tadi.
"Aku hanya mengajukan gugatan cerai saja ke Pengadilan! Aku tak mau terus bertahan dalam biduk pernikahan yang tak bisa membuat ku merasa bahagia!" Balas Hinata berteriak.
Dan karena ucapannya itulah Moke kembali menjambak rambut nya yang panjang.
"Aarghh!" Jerit sakit nya Hinata terlepas keluar dari mulutnya.
"Diam, kau, ja lang! Jangan kau kira aku tak tahu tipu muslihat mu! Kau sudah bekerja sama dengan Deril untuk menghancurkan perusahaan ku, bukan?! Aku tahu, kau pasti sudah menjual murah tubuh molek mu ini kepada si ke parat Deril! Aku tahu semuanya, Nat! Aku tahu!" Mike lagi-lagi menghardik Hinata.
"??!!!"
Hinata terdiam. Ia tak bisa menyanggah ucapan Mike kali ini, karena memang ucapan Mike separuh benar.
'Bagaimana ini? Mike sepertinya sangat marah saat ini?? Apa yang harus ku lakukan sekarang?!' gumam batin Hinata yang diliputi oleh rasa genting.
__ADS_1
"Lihat! Kau tak bisa menyanggah nya, bukan?! Kau memang sudah bekerjasama dengan kekasih mu itu untuk menghancurkan ku, bukan?!"
"Aku tak punya kekasih!" Balas Hinata dengan spontan nya.
"Diam! Kau tak berhak bicara, sebelum aku meminta mu bicara!" Hardik Mike sangat marah.
Hinata pun kembali mengunci rapat mulut nya. Ia kini menatap Mike dengan tatapan benci. Betapa sudah banyak luka derita yang ditorehkan oleh lelaki itu kepadanya.
'Dia yang selingkuh! Tapi dia juga yang marah!' bisik batin Hinata dengan perasaan getir.
"Aku tahu sekarang kalau Deril ternyata anak dari si CEO tua Alfa Star! Sayang sekali aku telat mengetahui ini. Pastilah sudah sejak lama dia mengincar perusahaan ku. Karena itu dia menyamar diam-diam dan berhasil menjadi asisten ku!"
"Deril tak menyamar untuk menjadi asisten mu, Mike! Bukankah kalian memang sudha sangat dekat, sehingga kau sendiri yang sudah memintanya untuk menjadi sekretaris mu!" Sanggah Hinata membela kawan lelaki nya itu.
"Dasar ja lang! Bukankah sudha ku bilang kau untuk diam!"
Plak!!
Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi kanan Hinata. Tamparan ini membuat telinga wanita itu jadi berdenging selama beberapa saat. Sekaligus juga meninggalkan perih pada pipi nya yang mulus.
Tapi Hinata tak memiliki waktu istirahat yang lama dari tamparan Mike tadi. Karena lelaki itu kembali menjambak rambutnya dengan sekuat tenaga.
"Aku memang mencintai mu!" Teriak Hinata diiringi derai air mata.
Entah darimana datangnya air mata itu. Bisa jadi dari luka fisik yang sedang ia rasakan. Atau juga dari luka hati yang telah lama ia tahan-tahan. Yang jelas, kini Hinata tak mampu lagi membendung rasa sakitnya, hingga ia pun menangis pada akhirnya.
"Aku memang pernah sangat mencintai mu, Mike!" Ucap Hinata kembali dengan suara lirih.
Batinnya pedih. Begitupun dengan pipi dan kepala mya yang juga sedang merasakan pedih saat ini. Wanita itu menatap Mike dengan pandangan terluka. Sementara yang dipandang, hanya menatapnya dengan tatapan skeptis saja. Mike tampak jelas tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Hinata.
Sebab itulah, Hinata kembali mengulang perkataannya. Namun kali ini, ada ketegaran dalam nada suaranya saat ia berkata.
"Aku pernah begitu sangat mencintai mu, Mike! Aku melepas mimpi ku dalam menjadi model! Aku membaktikan hidup ku untuk menjadi istri terbaik untuk mu! Meski dalam hubungan itu, kita belum juga dikaruniai seorang anak pun, aku jelas sangat mencintai mu, Mike!"
Hening sesaat. Sampai Hinata kembali yang menyambung perkataannya tadi.
"Tapi itu dulu.. sejak aku tahu kalau kau sudha menduakan ku! Sejak aku melihat dengan mata kepala ku sendiri, kau dan Tatiana sudah mengkhianati kepercayaan ku! Sejak itulah, rasa cinta ku pada mu menghilang perlahan!"
__ADS_1
"Kau bilang aku kejam, Mike? Apa yang kejam dari ku?! Aku hanya ingin hidup bahagia, tapi kau malah menghancurkan stau-satunya harapan bahagia ku untuk hidup bersama mu! Kau lah yang sebenarnya telah berbuat kejam kepada ku, Mike! Kau! Dan juga Tiana! Kalian lah yang kejam!" Hinata menghujat Mike tepat di wajah nya.
"Diam kau ******!"
Secara tiba-tiba, Mike membenturkan kepala Hinata ke lantai. Namun wanita itu reflek melindungi kepalanya dengan tangan. Sehingga tangan nya lah yang membentur keras lantai apartemen nya itu.
Meski begitu, tetap saja, benturan tadi berhasil meninggalkan jejak bintang di kepala Hinata. Wanita itu merasakan pusing yang tak terkira.
Hinata terkejut. Ia tak menyangka kalau Mike akan nekat mendatanginya ke sini, dan berlaku anarkis seperti sekarang ini. Sepanjang lima tahun pernikahan mereka, baru kali ini Hinata berlaku kasar terhadap nya.
Di saat seperti inilah timbul penyesalan dalam hati Hinata. Penyesalan kalau ia telah memilih lelaki yang salah. Tiba-tiba saja wanita itu teringat dengan pesan sang Mama, sebelum ia menikah dengan Mike.
Flashback lima tahun lalu..
"Nat.. kamu yakin dengan pilihan mu ini, Sayang? Kamu serius ingin melepaskan mimpi mu sebagai model, dan menikah dengan Mike?" Tanya Mama saat ia hanya sedang berdua dengannya di kamar.
Hinata menangkap kekhawatiran di wajah Mama nya itu. Sehingga ia pun berusaha untuk menenangkan hati sang Mama.
"Iya, Ma. Mama tenang saja. Aku dan Mike saling mencintai. Jadi Nat pasti akan hidup bahagia lebih dari saat Nat menjadi model!" Ucap Hinata begitu yakin.
"Tapi sayang.. Mama tak melihat cinta di mata Mike saat melihatnya.. atau.. entah lah. Mama harap keraguan ini bukan suatu pertanda buruk.." ucap Mama dengan kerutan yang masih juga berada di antara kedua alis matanya itu.
Hinata langsung memberi Mama nya sebuah pelukan erat.
"Mama.. Mama cukup doakan Hinata saja ya. Insya Allah Nat akan hidup bahagian bersama Mike, Ma.. yang ada, Hinata tuh khawatir sama Mama dan Papa. Kalian nanti bakal pergi jauh ke luar negeri ninggalin Hinata!" Rajuk Hinata bersikap manja.
Wanita itu berpura-pura kesal di hadapan sang Mama. Dengan mulut yang dikerucutkan dan kedua alis yang saling bertaut dekat.
Melihat ekspresi itu di wajah Hinata, seketika Mama pun melupakan kekhawatirannya atas pernikahan Hinata keesokan harinya. Ia pun sibuk menenangkan hati sang putri yang pastilah bersedih dengan perpisahan mereka nanti.
"Kamu jangan sedih gitu dong, Nat. Kita kan bisa saling telepon nanti. Kamu sering-sering aja telepon Mama, oke?"
"Iya.. iya.. Mama harus jaga kesehatan Mama baik-baik ya, Nanti! Jaga Papa juga ya. ma!" Pinta Hinata menagih janji pada sang Mama.
"Iya, Sayang.. kamu juga jaga kesehatan selalu ya, Nat.. kamu janji harus hidup bahagia ya, Sayang!" Gantian Mama yang menagih janji pada Hinata.
"Iya, Ma! Nat janji akan hidup bahagia bersama Mike! Mama tenang aja!" Seloroh Hinata begitu percaya diri.
__ADS_1
Flashback selesai.
***