
"Hinata.. ijinkan aku meminta sesuatu dari mu malam ini.. ku mohon.." pinta James begitu mengiba. Begitu tiba-tiba.
Deg. Deg.
Ba dump. Ba dump.
Dan jantung Hinata pun seketika berdegup sangat-sangat cepat.
Setelah jeda beberapa jenak, Hinata akhirnya kembali menemukan suaranya kembali.
"A..apa yang kau ma..mau, James?" Tanya Hinata dengan gugup.
Tanpa sadar, ia lalu melangkah mundur. Namun tangan nya tertahan dalam genggaman tangan kukuh milik James.
"Aku.. mau.." ucap James ragu-ragu.
Lelaki itu terus menatap wajah Hinata lekat-lekat. Membuat debur jantung Hinata makin tak karuan jadinya. Kedua mata wanita itu pun refleks menunduk. Harapannya dengan begitu ia bisa menormalkan detak jantung nya kembali.
"Boleh aku.. memeluk mu?" Tanya James pada akhirnya.
"Huh?" Hinata terpana.
Dengan spontan, ia langsung menegakkan pandangannya lagi tepat ke wajah James. Pikirannya tadi sudah melanglang buana saat menghadapi pertanyaan James yang belum tuntas.
'Ku pikir dia mau..'
Wajah Hinata seketika bak kepiting rebus, usai ia menyadari pikiran nya yang sempat mesum.
'Aduh. Ya ampun! Mikir apa sih tadi?!' rutuk Hinata menegur dirinya sendiri dalam hati.
"Boleh.. Nat? Hanya sekali ini saja. Ku mohon.. aku akan menganggap ini sebagai perpisahan kita. Jadi, biarkan sekali ini aku memeluk mu ya?" Pinta James mengulang.
'Perpisahan?!..ah.. ya. Tadi dia bilang kalau dia mau menikah dengan wanita lain ya..' gumam Hinata tanpa suara.
Teringat dengan pernyataan James sebelumnya, pandangan Hinata pun seketika mengeras. Meskipun sedih, ia tahu, ada batas yang tak bisa ia langgar saat ia bersama dengan James.
Apalagi menurut penuturan lelaki itu, ia akan menjalin hubungan serius dengan wanita lain tak lama lagi. Jadi, bagi Hinata, permintaan James yang ingin memeluknya itu terasa begitu... Kejam.
Hinata meneguhkan hatinya. Dengan kekukuhan yang sama ia mencoba melepaskan tangan nya dari genggaman James. Ia pun berjalan mundur tiga langkah menjauh dari lelaki itu.
Selanjutnya, Hinata segera melepaskan jas milik James yang baru saja ia kenakan. Lalu mengulurkannya ke rangan James. Namun James menolaknya.
"Pakai saja dulu, Hinata. Kau membutuhkan nya!" Tutur James memaksa.
"Tidak. Terima kasih, Tuan James.. aku yak lagi membutuhkan nya," jawab Hinata dengan sikap berjarak.
Dan tanpa berkata apa-apa lagi, wanita itu pun langsung berbalik dan hendak memasuki kamar nya lagi.
Sepanjang Hinata melakukan semua itu. james hanya bisa diam terpaku di tempatnya berdiri. Hati nya merasa pilu karena mendapati permintaan nya tak dikabulkan oleh sang pujaan hati.
__ADS_1
Mata lelaki itu telah memerah. Meski mata nya belum lagi basah. Tapi yang jelas, benak James sudah terlalu payah untuk kembali menyampaikan isi hatinya kepada Hinata.
Tepat saat Hinata hampir menutup pintu geser yang menuju balkon nya lagi, wanita itu menyampaikan kalimat terakhirnya untuk James.
"Terima kasih.. untuk semua kebaikan Anda, Tuan.." jeda sejenak.
"Aku berharap, Anda bisa membangun hidup yang penuh kebahagiaan dnegan wanita pilihan Tuan.. selamat malam.." pamit Hinata tanpa menatap kata James. Dan akhirnya mengunci pintu geser dan menutup tirai nya.
Kini, pandangan James pun jadi terhalang dari melihat sosok wanita yang dicintainya itu.
Bruk.
James tiba-tiba saja jatuh di atas kedua lututnya. Sementara pandangannya masih terkunci ke tempat terakhir ia melihat Hinata sesaat tadi.
Ingatan nya tiba-tiba saja melayang ke masa dua hari yang lalu. Saat ia membuat keputusan besar untuk melepaskan cintanya kepada Hinata. Saat itu pula ia menerima perintah dari Mama kandung nya untuk menikahi wanita pilihan sang Mama.
Flashback dua hari lalu..
"Mama tahu. Kamu menyukai model wanita itu, James. Hinata bukan, namanya?" Ujar Mama Maira seraya menatap tajam James dari atas sofa yang ia duduki.
"Mama tahu dari mana? Apa Kak Jessy yang.."
Ucapan James terpotong.
"Mama selalu punya mata di mana-mana James. Bukankah Mama sudha pernah mengatakan kepada mu. Kalau Mama pernah mengikat janji dengan sahabat Mama untuk menikahkan mu dengan salah stau putri nya?" Ujar Mama Maira tanpa tersenyum.
"Ma! Jaman sekarang, gak ada lagi yang main jodoh-jodohan, Ma! Itu pikiran yang kuno!" Protes James tak menyetujui rencana Mama nya itu.
Mendapati perubahan ekspresi di wajah Mama nya itu, James pun seketika merendahkan suaranya kembali. Jujur saja, di dunia ini, orang yang paling ia segani tak lain dan tak bukan adalah Mama kandung nya sendiri.
Jessy pun sama takut nya seperti James. Mungkin karena sedari kecil Mama nya sudha bersikap otoriter dalam mendidik James dan juga Jessy. Jadi pembawaan Mama nya yang yak banyak bicara itu berhasil menanamkan rasa segan di lubuk terdalam James dan juga sang kakak.
"Bukan, begitu, Ma.. maksud James.."
"Dengarkan Mama! Kamu tak punya pilihan lain. james! Tiga kali Mama membiarkan mu memilih wanita pendamping mu sendiri. Dan tiga kali itu pula kamu membuat Mama kecewa," hardik Mama Maira kembali.
James jadi teringat dengan tiga mantan pacarnya dulu. Ia tertegun. Padahal seingatnya ia hanya memperkenalkan dua wanita saja kepada kedua orang tuanya. Tapi Mama Maira barusan menyebutkan tiga wanita.
Ini membuat James tersadar, kalau hingga kini, ibu kandung nya itu masih memperhatikan gerak-gerik dan lingkaran hubungannya dengan orang di luar rumah.
Menyadari itu, hati pemuda itu pun seketika menjadi gusar.
"Mama memata-matai James!" Tuding James dnegan nada dingin.
Meski ia tak mengucapkan kalimat tadi dnegan nada tinggi, namun jelas sekali tak ada keramahan lagi dalam suara pemuda itu saat berkata pada sang Mama.
"Mama hanya ingin menjaga mu, James!" Mama Maira membela diri.
"James sudah besar, Ma! James bisa menentukan hidup James sendiri!" Tutur James mulai emosi.
__ADS_1
"Benarkah? Mana buktinya? Sudah berapa usiamu sekarang, James? Dan kau belum menikah!"
"James sedang mencari wanita yang tepat, Ma!"
"Mama harap calon mu itu bukan model wanita yang sedang terlibat skandal dengan suaminya ya, James!"
James kembali tertegun. Tak menyangka kalau sang Mama akan langsung membawa Hinata ke dalam percakapan mereka.
"Memangnya, apa yangs alah dari Hinata, Ma?!"
"Dia masih berstatus istri orang, James! Dan sekalipun dia sudah berpisah nanti dengan suami nya, Mama gak akan pernah menyetujui kamu berhubungan dengan nya!" Bentak Mama Maira emosional.
"Tapi James mencintainya, Ma!"
"Cinta tak menjamin hidup mu akan bahagia, James! Itu hanya omong-kosong bagia mereka yang tak punya apa-apa. Sementara kamu..! Kamu adalah pewaris utama dari perusahaan Global Union Grup! Kamu berhak untuk memiliki pendamping yang sempurna di samping mu!"
"James gak perlu wanita yang sempurna, Ma! James cuma mau hidup dengan wanita yang James cintai dan juga mencintai James apa adanya!"
"Dan apa kamu yakin, wanita pilihan mu itu juga mencintai mu apa adanya?!" Tanya Mama Maira bernada sinis.
"I..itu.. James akan membuatnya jatuh cinta kepada James, Ma!"
"Pokok nya Mama gak akan merestui hubungan kalian! Jauhi wanita itu! Mama sudah menyiapkan wanita terbaik untuk mu!"
"James gak mau!"
Mama Maira lalu menatap tajam sang putra. Setelah jeda beberapa saat di antara keduanya, Mama Maira pun melanjutkan ucapan nya kembali.
"Tinggalkan wanita itu.. atau.."
James pun seketika menjadi gugup. Ia tahu, kalau Mama nya akan melayangkan ancaman beberapa saat lagi. Entah apa bentuk ancamannya itu. Namun James sudah langsung merasa gugup dibuatnya.
"Tinggalkan dia. Atau Mama akan membuat hidup nya lebih menderita dari yang sudah dialaminya saat ini!" Ancam Mama Maira dengan tatapan bersungguh-sungguh.
"Mama gak bisa mengancam James!"
"Hah.. tentu saja Mama bisa melakukan nya, James.. kamu lupa ya.. bagaimanapun juga, kamu hanya lah CEO secara nama saja. Sementara pemilik saham terbesar di Union Grup, masihlah Mama mu ini, Nak.." jawab Mama Maira dengan pandangan dingin.
James langsung merasa terpukul karena sudah diingatkan tentang kebenaran itu. Ucapan Mama nya tadi memang benar. Mama nya bisa melakukan apapun, jika memang ia menginginkan nya.
Akhirnya, setelah berpikir cukup lama, sebuah keputusan pun dibuat oleh James dengan terpaksa.
"Baiklah.. James akan mengikuti permintaan Mama. Tapi.. ijinkan James untuk membantu Hinata agar ia bisa terbebas dari suami nya dulu.. setelah itu, James akan mengikuti apa kata Mama.." putus James pada akhirnya.
Mama Maira mengangguk singkat.
"Baiklah. Satu bulan. Mama akan memberimu waktu satu bulan. Karena satu bulan lagi, kamu harua menikah dnegan wanita pilihan Mama!" Ucap Mama Maira menutup kalimat nya.
Flashback Selesai.
__ADS_1
***