
Keesokan hari nya, pada waktu siang, Mike menelpon Hinata. Saat itu Hinata sedang berada di rumah.
"Nat! Kamu tahu, baru saja sekeretaris James memberi kabar kalau Union Grup berencana untuk investasi ke Mi-Star! Ini berita yang bagus sekali, Nat! Terima kasih ya, Sayang.. berkat kamu, Mi-Star kita bisa menarik investor sekaliber Union Grup!" Celoteh Mike lewat telepon.
Mendengar cerita Mike, Hinata pun tertegun.
'James mau invest ke Mi-Star? Tapi, kenapa? Aku tak pernah menghubungi nya lagi sejak terakhir kali kami bertemu di audisi video musik LINK kemarin'.
Ingatan Hinata lalu melayang ke perbincangan singkat nya dengan James kemarin lalu. Selepas Hinata dinyatakan lulus audisi.
Flashback On..
Hinata masih merasakan kegembiraan sejak ia dinyatakan lulus mendapatkan peran sebagai wanita ke 1 di video musik LINK. Baru juga ia keluar dari ruang audisi, saat tetiba seseorang memanggil nama nya dari arah belakang.
"Nat! Tunggu sebentar!" Panggil James yang baru keluar dari ruang audisi juga.
Lelaki itu setengah berlari untuk menghampiri Hinata.
Setelah James berjarak satu meter di hadapan Hinata, James pun berkata.
"Beberapa hari ini kamu gak pernah angkat telepon dari ku?" Tanya James to the point.
"Maaf, Tuan James. Jadwal ku memang agak padat akhir-akhir ini.." jawab Hinata ambigu.
James tak berkata untuk beberapa waktu yang lama. Dan Hinata pun terdiam dengan pandangan menunduk. Di antara keduanya tiba-tiba saja terdapat sekat tak terlihat yang membatasi.
"Hh.." James menghela napas.
"Soal ucapan Kak Jessy, jangan kamu hiraukan ya?" Pinta James tiba-tiba.
Hinata tersentak kaget. Sehingga ia pun sekilas mengangkat pandangan nya ke wajah James.
"Itu. Aku tak tahu apa yang Anda maksud, Tuan.." gumam Hinata perlahan kemudian dengan pandangan yang kembali tertunduk.
"Kau tahu apa maksud ku, Nona. Tak perlu lagi bersembunyi. Aku sudah tahu semua nya. Dan aku tidak perduli," ucap James dengan nada datar.
Hinata kembali menegakkan pandangan nya ke wajah James. Kali ini ia tak lagi menundukkan pandangan nya, saat ia berkata,
"Bagaimana bisa Anda berkata seperti itu, Tuan James? Sejujurnya, aku merasa malu saat ini. Jadi tolong, jangan buat aku merasa lebih malu lagi dengan terus melanjutkan percakapan ini," tutur Hinata dengan pandangan lurus.
"Aku sudah berjanji kepada Jessy. Kalau aku akan menjaga jarak dari mu, Tuan. Jadi sebaik nya kita mungkin tak perlu berhubungan lagi ya, Tuan. Lagipula, tak baik juga bila kita berhubungan terlalu akrab," imbuh Hinata lebih lanjut.
Kemudian, tanpa berpamitan lagi, Hinata segera berbalik dan hendak meninggalkan James. Akan tetapi, tiba-tiba saja James berujar dengan suara cukup keras.
"Hinata! Aku mencintai mu!" Ungkap James dengan berani.
Seketika langkah Hinata pun terhenti. Mendengar pernyataan cinta itu, sesungguh nya hati nya merasa tersentuh.
Bagaimana lah tidak? Karena bahkan Mike, suami nya pun tak pernah meneriakkan kalimat itu kepada nya. Sepanjang lima tahun pernikahan nya dengan Mike, Hinata hanya menerima kata 'Sayang' saja dari suami nya itu. Tak pernah cinta.
__ADS_1
Hinata menenangkan debur jantung nya yang berdebam begitu kencang.
Deg. deg.
'Astaghfirullah.. ingat Hinata, kamu masih menjadi istri dari Mike. Jangan libatkan James dalam kehidupan mu yang rumit saat ini..' Hinata menegur dirinya sendiri.
Selanjut nya, tanpa berbalik, tanpa menjawab kalimat cinta dari James, Hinata kembali melanjutkan langkah nya. Ia memutuskan untuk pergi meninggalkan tawaran cinta dari pemuda tampan nan baik di belakang nya.
"Hinata! Aku mencintai mu!" Teriak James kembali. Kali ini dengan teriakan pasti.
Deg. Deg.
Ba dump. Ba dump.
Hinata kian menggegaskan langkah. Ia takut, bila semenit lagi saja ia berada di tempat itu, maka bisa jadi hati nya akan goyah. Ia takut bila ia akan mengalah pada keinginan nya untuk menyerah kepada cinta yang ditawarkan oleh James.
Sementara ia tahu betul, bahwa ada dendam yang harus ia balaskan. Ada misi yang harus ia tuntaskan. Ada rasa sakit yang harus ia kali lipatkan. Dan semua itu harus ia berikan kepada Mike, pengkhianat cinta pertama nya.
Sembari berjalan pergi, Hinata pun membisikkan kalimat perpisahan nya kepada James.
'Maafkan aku, James. Aku tak berhak untuk menerima perasaan mu saat ini. Maafkan aku.. maafkan aku..' lirih Hinata dalam hati.
Flashback selesai.
Kembali ke perbincangan Hinata dan Mike via telepon.
"Union Grup mau invest ke Mi-Star, Mike?" Tanya Hinata memastikan.
Dengan masih kebingungan, Hinata pun akhirnya menyahut dengan suara pelan.
"Ya, Mike.." sahut Hinata singkat.
"Oke. Bye. sayang."
Klik. Dan sambungan telepon pun terputus.
Hinata kemudian menatap layar ponsel nya dengan wajah bingung.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa James melakukan ini?" Gumam Hinata seorang diri.
Lama termenung menatap ponsel nya, pada akhirnya Hinata tak bisa menepis rasa penasaran nya atas investasi yang akan dilakukan oleh Union Grup ke Mi-Star.
Alhasil, dengan ragu-ragu wanita itu lalu mencari nomor kontak James, lalu menekan tombol dial nya segera.
Tiiiit..
Dalam dering pertama, telepon nya langsung diangkat oleh James.
"Ya, Nona Hinata?" Sapa James dari seberang telepon.
__ADS_1
Deg. Deg.
Ba dump. Ba dump.
'Ehh? Kenapa aku jadi grogi gini sih? Kayak anak ABG aja. Aku kan cuma mau nanya soal invetasi itu aja. Hinata, ingat dengan rencana mu, oke?!' tegur Hinata mengingatkan dirinya sendiri dalam hati.
"Hinata? Apa kau di sana?" Suara James kembali terdengar melalui sambungan telepon tersebut.
Entah memang sudah sedari dulu, atau hanya perasaan Hinata saja. Tapi menurut nya, suara James terdengar lebih dalam dari sebelum-sebelum nya.
"Ehemm!!" Hinata berdehem untuk melegakan tenggorokan nya yang terasa kering.
"**..Tuan James.." cicit Hinata dengan terbata-bata.
"Ya? Apa yang bisa kulakukan untuk mu, Nona?" Tanya James dengan suara dalam nya.
"Ee.. itu.. Mike bilang soal investasi Union Grup ke Mi-Star. Apa itu benar, Tuan?" Tanya Hinata ragu-ragu.
"..."
Jeda sejenak.
"Ya. Itu benar," jawab James akhirnya.
Kembali hening.
"Tapi.. kenapa Anda melakukan itu, Tuan? Maksud ku.. ini tak ada hubungan nya dengan.. dengan.."
Hinata kesulitan untuk menemukan kata pengganti yang tepat untuk 'rencana balas dendam' nya.
"Tenang lah, Nat. Aku melihat Mi-Star memiliki potensi yang cukup menjanjikan di masa depan. Jadi, ini tak ada hubungan nya dengan.. apapun itu maksud mu.." tutur James menjelaskan.
"Oh.. begitu.."
Kali ini, Hinata tak tahu lagi apa yang harus dikatakan nya kepada James. Ia merasa terlalu malu kepada lelaki itu karena sudah berpikiran terlalu jauh tentang niat nya berinvestasi ke Mi-Star.
Di saat wanita itu hendak mengakhiri percakapan nya dengan James, tiba-tiba saja James berkata.
"Tapi, Hinata.." ucap James terjeda.
"Aku serius soal perasaan ku ke kamu," ucap nya lagi-lagi terjeda.
"Aku memang mencintai mu, Nat.." ungkap James, mengakhiri kalimat nya..
Deg. Deg.
Ba dump. Ba dump.
Hinata yakin, bila saat ini jantung nya sungguhan berdentum kencang. Dan dentum ini tertuju pada pemilik suara bass yang sedang berteleponan dengan nya saat ini.
__ADS_1
'Ya Tuhan.. jangan bilang kalau aku mulai menyukai.. James?!' gumam Hinata dalam hati.
***