
Kembali ke apartemen Hinata.
Saat ini wanita itu tersungkur tak sadarkan diri. Setelah benturan kedua Mike yang berhasil melukai kepalanya, Hinata pun akhirnya hilang kesadaran. Meski itu tak berlangsung lama.
Sekitar lima menit kemudian, Hinata perlahan kembali sadar saat ia merasa seseorang menyeret tubuh nya paksa.
Kedua tangan Hinata ditarik ke dekat sofa di ruang tamu. Setelah itu, ia dibiarkan begitu saja.
Kepala Hinata masih terasa pusing. Dan ia yakin kalau kepalanya telah berdarah, karena ia bisa merasakan adanya cairan lengket di atas dahi nya saat ini.
Sayangnya, Hinata seolah kehilangan tenaga bahkan hanya untuk menyeka cairan lengket di dahinya itu. Bahkan hanya sekedar membuka mata saja sudah sangat sulit untuknya. Jadilah akhirnya ia hanya bisa terdiam menyimak apa yang terjadi di sekitarnya.
'Apa Mike sudah pergi? Aku.. harus menelepon seseorang..!' lirih batin Hinata masih dengan mata yang terpejam.
Sekuat tenaga, Hinata mencoba membuka matanya, hingga ia akhirnya bisa melihat kembali di ruangan mana ia berada saat ini. Ternyata Mike hanya menyeret tubuhnya sampai ruang tamu saja.
Dan yang paling membuat Hinata merasa gentar adalah adanya sepasang mata yang menatapnya lekat dari atas rubuh nya. Sepasang mata itu adalah milik Mike.
Mike, saat ini sedang duduk di atas sofa ruang tamu Hinata. Lelaki itu sedang menikmati kebulan asap dari rokok yang sedang ia hisap. Mata lelaki itu menatap fokus pada Hinata.
Dan celakalah Hinata, karena ia tertangkap basah melihat Mike, begitu ia membuka kedua matanya lagi.
Sesaat kemudian, Mike pun menjepit rokok yang masih memiliki bara di antara dua jarinya. Dan selanjutnya, ia sundutkan rokok yang masih menyala itu ke telapak tangan Hinata yang terbuka.
Seketika itu jua Hinata langsung menjerit kesakitan. Tangan nya jelas sakit akibat sensasi terbakar akibat puntung rokok milik Mike. Wanita itupun langsung berguling menjauhi sang mantan. Sembari memegang pergelangan tangan yang hingga kini masih merasakan sisa rasa terbakar.
Saat Hinata sudah bisa sedikit berdamai dnegan rasa sakitnya, dilihatnya Mike tersenyum mencemooh ke arahnya. Dan itu membuat Hinata marah.
Entah darimana datangnya energi itu, tapi yang jelas, Hinata tiba-tiba saja bangkit dan mengambil patung pajangan yang ada di atas meja.
Selanjutnya, wanita itu mengayunkan patung pajangan tersebut ke arah Mike. Namun, sayang sekali, Mike yang masih memiliki kesadaran penuh ternyata bisa menangkap pergelangan tangan Hinata.
Dan hanya dalan sekali sentakan, lelaki itu berhasil menghempaskan tubuh Hinata kembali ke atas lantai.
Bugh!
Hinata lagi-lagi tersungkur ke atas lantai. Dan mau tak mau kepalanya pun ikut terbentur pula.
Di saat itulah, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan di pintu apartemen Hinata.
__ADS_1
Tok. Tok. Tok!
Hinata mendadak melihat harapan untuk bisa terbebas dari Mike. Ia Pun langsung berteriak sekencang yang ia bisa.
"Tolong! To--mmpphh!!!"
Mike langsung menyergap Hinata dan menyekap mulutnya dengan tangan. Lelaki itu juga menindih tubuh Hinata di bawahnya. Sehingga kini wanita itupun tak lagi bisa bergerak ke mana-mana.
Seluruh tubuh Hinata serasa remuk. Namun tekadnya untuk melawan Mike tak henti-hentinya membuatnya mengamuk. Dengan sekuat tenaga, di sisa-sisa tenaga yang ia punya, Hinata terus berontak, menendang, mencakar, juga memukuli Mike.
"Mmmpphhh!!!!!"
Sayangnya, tenaga Hinata tetap tak mampu membuatnya terbebas.
'Ya Allah! Tolong hamba! Tolong hamba, Ya, Allah!!' jerit batin Hinata memohon pertolongan pada Yang Maha Kuasa.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan kembali terdengar memecahkan keheningan di apartemen Hinata. Namun sayang, pemiliknya saat ini masih bergumul di bawah tahanan Mike, sang mantan.
Sesaat kemudian, tak lagi terdengar sura ketukan di pintu. Bersamaan dengan itu, pupus sudah harapan Hinata untuk bisa diselamatkan.
Namun sayang, hanya keheningan saja yang menyambutnya kemudian.
Setelah yakin kalau tamu tak diundang itu telah pergi. Barulah Mike melepaskan bekapan tangannya pada mulut Hinata. Akan tetapi lelaki itu masih menahan tubuh Hinata di bawahnya.
"Kau lihat, Nat? Tak akan ada yang akan menyelamatkan mu hari ini! Aku akan membuat perhitungan dengan mu. Dan kau harus mengikuti semua perintah ku! Aku mau kau mengatakan pada Media kalau kita sudah rujuk!"
"Gak! Aku gak mau rujuk sama kamu, Mike!" Teriak Hinata begitu emosional.
Plak! Sebuah tamparan kembali dihadiahkan Mike ke pipi Hinata. Wajah wanita itu kini telah penuh dengan lebam dan luka. Separah hatinya yang jelas telah lama terluka.
"Diam kau ja lang! Kau tak punya pilihan! Katakan pada Media, kalau kita sudah ruuk. Dan kau meridhai ku berpoligami dengan Tatiana. Katakan saja kau masih bersahabat baik dengan nya! Kau mengerti?!" Cecar Mike tepat di depan wajah Hinata.
"Kau gila, Mike! Mana mungkin aku melakukan itu! Kau gila! Kau jahat! Kau ke.."
Plak!
Lagi-lagi tamparan itu mendarat di pipi Hinata yang satunya. Kedua pipi Hinata kini tak hanya memar melainkan juga merah dan penuh lebam. Terdapat darah yang keluar dari luka sobekan di ujung bibir Hinata. Dan itu jelas teras amenyakitkan.
__ADS_1
"Kau bicara sekali lagi, maka aku akan menyumpal mulut mu untuk selamanya! Kau dengar itu ja lang?!!! Ku bilang kau tak punya pilihan, Nat! Ikuti semua perintah ku dan--"
Brak!!
Tiba-tiba saja pintu mendadak terbuka lebar. Mike pun seketika menoleh cepat ke belakang, hanya untuk mendapati Anis yang menatap terkejut ke arah nya.
Sesaat kemudian, pandangan terkejut itu berubah menjadi amarah saat gadis itu melihat Hinata yang terluka di bawah tindihan tubuh Mike.
"Kau?!! Apa yang kau lakukan pada Kak Hinata?!" Teriak Anis yang berdiri sendirian di depan pintu.
Menyadari kalau ia hanya menghadapi seorang wanita bertubuh kecil, Mike tampak santai setelahnya. Lelaki itu lalu bangkit berdiri dan menghadap ke arah Anis.
"Kau sebaiknya pergi, Nona! Aku memperingatkan mu! Ini urusan rumah tanggaku dengan Hinata! Jadi jangan berani ikut campur! pergilah!" Usir Mike sambil tersenyum sinis.
"Kau lah yang seharusnya pergi! Pergi sana! Bukankah Kak Hinata sudah melayangkan gugatan nya padamu! Jadi kau tak boleh melabrak mausk ke rumah orang seenaknya! Apalagi sampai melukainya seperti ini! Aku akan melaporkan mu ke kantor polisi sekarang juga!" Ancam Anis yang langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tas ransel nya.
"Berhenti mengancam ku, Nona! Dan jangan campuri urusan ku dengan Hinata! Atau aku tak akan segan untuk melukaimu juga!" Ancam balik Mike kepada Anis.
Tapi Anis tak menghiraukan ancaman Mike padanya. Tanpa ragu-ragu, Anis tetap saja menekan tombol angka pada keypad ponselnya. Tujuannya hanya satu. Yaitu ia harus segera menghubungi nomor polisi.
Menyadari kalau ancamannya tak berhasil. Akhirnya Mike pun kalap mata. Tanpa berkata apa-apa lagi lelaki itu langsung saja berjalan cepat menghampiri Anis. Lelaki itu kini memiliki niat tak baik terhadap gadis tersebut.
Selanjutnya Mike hendak mengayunkan tangannya ke arah ponsel Anis. Ia ingin menghalangi langkah Anis yang hendak melaporkan nya ke polisi. Akan tetapi, sesuatu yang ajaib tiba-tiba saja terjadi.
Di saat tangan Mike hampir menyentuh Anis, waktu seolah berhenti. Pergerakan tangan Mike terhenti di udara. Sementara, Hinata memandang kejadian di hadapannya dengan mata yang tak berkedip. Kecemasan jelas tercermin dalam manik mata sang model cantik.
Tak ada yang bergerak selama beberapa waktu. Seolah waktu benar-benar mengunci semua benda dan makhluk hidup di ruangan itu di detik terakhir ketika Mike hendak meraih ponsel Anis.
Akan tetapi, sesaat kemudian, seseoramg bergerak menembus batas terdiamnya waktu. Di antara Mike yang tiba-tiba bak menjadi patung, serta Hinata yang ikut mematung, Anis tiba-tiba saja bergerak sendiri.
Dengan santainya, gadis itu berjalan menyamping, hingga ia tak lagi berada di hadapan Mike kini. Ya. Hal yang paling ajaib terjadi saat ini adalah saat Anis seorang saja yang bisa tetap bergerak bebas, sementara Mike dan Hinata tiba-tiba berubah menjadi patung.
Nyatanya gadis itu baru saja menggunakan inner power miliknya. Yakni ia mampu memanipulasi pergerakan waktu!
***
Catatan: buat yang pernah baca novel pertama Mel, Cinta Sang Maharani, pasti udah tahu sama kekuatan Anis ini ya.. mel sengaja menyelipkan sedikit fantasi di novel ini. Tenang aja.. fantasi nya cuma sedikit ini aja kok.. Kalau kebanyakan nge halu, khawatir kawan-kawan bakal keblinger, nanti nya..hee.. salam sehat..
***
__ADS_1