
"Nomor 29!"
"Nah! Itu nomor ku. Aku masuk dulu ke dalam ya, Nid.." pamit Hinata seraya beranjak bangun.
Ia pun akhirnya masuk ke dalam ruang audisi setelah menunggu selama satu setengah jam lama nya.
...
Begitu masuk, Hinata langsung berhadapan dengan tiga orang juri, yang salah satunya amat ia kenal. Ia mengenal baik lelaki yang duduk di bagian pinggir kanan. Karena dia adalah James Carls.
James memberi nya senyuman kecil. Namun Hinata tak berani membalas nya atau menatap nya lagi. Wanita itu tetiba saja teringat dengan janji nya pada Jessy untuk tak memperalat James ke dalam aksi balas dendam nya nanti.
"Sebutkan nama dan motivasi mu mengikuti audisi ini!" Ucap suara lelaki lain yang duduk di bagian tengah.
"Nama ku Hinata Kirey. Aku tertarik dengan karakter cewek pertama dalam script video musik ini. Karena dia memiliki karakter yang tangguh dan elegan meski ia disakiti oleh perbuatan selingkuh kekasih nya dengan sahabat nya sendiri," jawab Hinata dengan lugas.
Ya. Sejujurnya ia pun dibuat terkejut saat membaca script untuk pertama kali. Karena kisah dalam script tersebut sangat menggambarkan apa yang ia alami.
Tentang perselingkuhan yang diperbuat oleh kekasih dengan sahabat nya sendiri. Akhirnya Hinata pun langsung bertekad untuk mendapatkan peran wanita yang tersakiti itu. Dan hanya dalam tiga kali latihan pribadi saja, ia sudah mampu mengingat setiap kalimat tokoh wanita yang ia inginkan peran nya.
"Well done. Kalau begitu, silahkan tampilkan scene di halaman 3. Saat wanita A (wanita yang tersakiti) melabrak suami nya yang ketahuan selingkuh!" Titah juri di bagian tengah.
Tanpa banyak kata, Hinata langsung mempraktikkan hasil penjiwaan nya.
...
***
Satu jam setelah nya, Hinata sudah pulang dari audisi. Ia kini sedang berada di sebuah restoran seafood. Ada seseorang yang sedang ia tunggu kehadiran nya.
"Maaf membuat Kakak lama menunggu! Tadi Anis masih ada mata kuliah soal nya, Kak!" Sapa Anis yang baru saja datang menghampiri Hinata. Anis adalah sepupu jauh Hinata yang sempat ia temui beberapa waktu yang lalu.
"Gak apa-apa. Duduk lah, Nis. Kamu pernah bilang, suka seafood kan?" Tanya Hinata.
"Iya, Kak. Suka banget!"
"Bagus. Kalau begitu, pesan saja yang kamu mau. Hari ini biar Kakak yang traktir ya!" Ucap Hinata seraya tersenyum lepas.
__ADS_1
"Wahh! Barokallah, Kak! Makasih ya!" Seru Anis dengan wajah berseri-seri.
Setelah memesan makanan kepada pelayan, Anis pun memulai perbincangan.
"Ada apa nih, Kak? Tiba-tiba aja ngajakin lunch. Tahu banget kalau anak kosan kayak Anis, duit nya menipis! Hihihi," kekeh Anis melontar canda.
Tawa wanita berjilbab lebar itu membuat nya dilirik oleh banyak pengunjung lain restoran. Mungkin karena penampilan nya yang kelewat tertutup dibandingkan dengan teman semeja nya, Hinata, yang berpenampilan terbuka.
Anis datang dengan gamis syar'i berwarna merah maroon. Yang dipadukan dengan jilbab lebar yang mencapai pinggang nya. Sementara Hinata mengenakan dress sepanjang lutut dengan potongan tanpa lengan.
Orang-orang mungkin berpikir. Bagaimana bisa dua orang yang berpenampilan beda jauh itu bisa tampak asyik berbincang?
"Hahaha. Iya, Nis. Kakak baru aja lolos audisi video musik LINK pagi ini," ungkap Hinata begitu saja.
"Wahh! Selamat ya, Kak!" Tutur Anis dengan senyum sumringah.
Anis langsung memberikan Hinata sebuah pelukan singkat. Yang diterima oleh Hinata dengan hati yang senang.
Dari beberapa pertemuan sebelum nya dengan Anis, Hinata menyadari kalau ia merasa nyaman untuk berbincang dengan Anis. Terlepas dari gaya busana mereka yang berbeda jauh.
Intinya, Hinata merasa nyaman berbincang lama-lama dengan nya.
"Ngomong-ngomong, LINK itu nama orang atau grup band ya, Kak? Hee.." kekeh Anis dengan wajah malu-malu.
Hinata terkekeh mendengar pertanyaan itu.
"Grup band, Nis. Lumayan terkenal lho.." jawab Hinata memberi tahu.
"Ooh.."
"Iya. Cerita nya tentang cewek yang diselingkuhin gitu sama suami dan juga sahabat nya sendiri," lanjut Hinata lagi.
Anis seketika terdiam. Ia menatap Hinata lekat-lekat.
"Ini.. bukan cerita tentang pengalaman pribadi Kakak kan?" Komentar Anis tiba-tiba.
"Hh.. ajaib nya, cerita ini memang persis banget kayak yang Kakak alami, Nis.." jawab Hinata kemudian.
__ADS_1
Hinata memang sudah pernah menceritakan pengalaman pahit nya kepada Anis di pertemuan ketiga mereka beberapa waktu silam. Saat itu, Anis memberinya kata-kata hiburan. Namun Hinata tak menyukai saran Anis untuk mengambil pilihan tegas melepas Mike atau bertahan namun memaafkan kesalahan suami nya itu.
Menurut Anis, dendam tak akan memberikan apa-apa kepada nya, selain penyesalan dan waktu yang terbuang percuma.
"Dan kamu, tahu gak, siapa pemeran cewek yang bakal jadi lawan main kakak nanti?" Tanya Hinata kembali.
"..siapa Kak?"
"Tatiana.." jawab Hinata lagi dengan bara di kedua mata nya.
"Nah.. ini baru nama nya takdir yang njelimet," komentar Anis kemudian.
"Menurut mu gitu, Nis? Kalau menurut Kakak, justru ini adalah kesempatan yang bagus untuk Kakak bukan?"
"Maksud kakak, tentang rencana balas dendam itu?" Ucap Anis sambil berbisik mendekati Hinata.
Dan Hinata langsung mengangguk menatap nya.
"Kak, pendapat Anis tetap sama seperti sebelum nya. Menurut Anis, gak ada faedah nya bila Kakak ingin membalas dendam. Itu tuh seperti bara api yang Kakak tumpuk dalam diri kakak. Sewaktu-waktu bara itu bisa saja membakar diri kakak sendiri," komentar Anis dengan nada lugas.
Jeda sejenak.
"Anis gak akan memaksa Kakak untuk membuat pilihan apapun. Tapi, Kak. Anis ingin mengingatkan Kak Hinata. Kalau hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan oleh dendam yang semestinya bisa kita acuhkan," lanjut Anis kembali.
Hinata semakin terdiam. Setelah beberapa lama, Hinata akhirnya berkata.
"Kakak akan mempertimbangkan saran dari mu, Nis. Makasih ya, sudah memperhatikan Kakak dengan tulus," ucap Hinata dengan wajah tertunduk.
Sesaat kemudian Anis berdiri dan memberi Hinata sebuah pelukan erat. Ia tak memperdulikan para pengunjung lain yang memperhatikan aksi nya.
Sambil memeluk Hinata, Anis pun berkata.
"Kakak adalah wanita yang tangguh. Jadi putuskan segala nya dengan pikiran yang jernih, Kak. Jangan sampai apa yang kakak lakukan sekarang, akan membuat Kakak menyesal di kemudian hari.." lanjut Anis kembali.
Dan Hinata membiarkan Anis memeluk nya lama. Meski diri nya kini tak lagi mengeluarkan air mata. Namun pelukan Anis padanya membuat Hinata tersadar kalau sesekali, ia sungguh membutuhkan tempat untuk bersandar.
***
__ADS_1