Satu Tahta, Dua Wanita

Satu Tahta, Dua Wanita
Just Love Her


__ADS_3

"Terima kasih sudah berkunjung ke rumah ku, Nat. Kapan-kapan, kita makan lagi di luar?" Tawar Jessy dengan ramah.


Saat itu Hinata dan Mike sudah berada di teras rumah jessy. Keduanya hendak beranjak pulang setelah berkunjung selama dua jam lebih di sana.


"Sama-sama, Jess.. Boleh. Boleh.. tapi nanti gantian aku yang traktir ya?" Balas Hinata dengan senyuman yang tak kalah hangat.


"Tentu! Aku jelas tak akan menolak tawaran mu itu!" Seru Jessy dengan senyuman lebar.


Kedua wanita itu pun kemudian saling cipika-cipiki. Baru setelah nya Hinata pergi masuk ke mobil bersama Mike. Sementara itu, James tampaknya akan tinggal lebih lama di rumah kakak nya itu. Ada hal yang ingin dikatakan oleh Jessy kepada nya.


***


"James, aku sudah memperingatkan Hinata untuk tidak melibatkan mu dalam aksi balas dendam nya itu," ujar Jessy memberitahu.


Jessy memandang James dengan tatapan serius. Sementara James tampak duduk santai sambil bersandar di atas sofa ruang tamu rumah sang kakak.


"Kau terlalu berlebihan, Jess. Hinata tak seperti kebanyakan wanita yang kita kenal. Kau sendiri sudah membaca watak nya bukan? Kau tentu lebih bisa mengenal karakter Hinata yang sebenar nya. Karena kau pernah dua tahun belajar psikologi, Kak.." tutur James menegur sang kakak.


Jessy lalu menghela napas dalam. Sebelum akhirnya kembali berkata.


"Yah. Ucapan mu itu memang benar, James. Hinata memang tak seperti kebanyakan wanita. Bisa di bilang, apa yang dihadapi nya saat ini hampir mirip dengan apa yang pernah ku alami dua tahun lalu,"


"Akan tetapi terdapat perbedaan juga di antara kami. Di mana aku tahu sampai batas mana aku harus mempertahankan status pernikahan ku dengan Andrew yang tak sehat. Sementara Hinata.. dia terlalu berambisi untuk membalas rasa sakit hati nya,"


"Itu tak baik, James. Tak baik bagi dirinya sendiri. Juga untuk orang-orang di sekeliling nya," tutur Jessy berpendapat.


"Karena itulah mungkin aku jadi semakin menyukai wanita itu. Bukan kah ambisi nya itu membuatnya tampak mengagumkan?" James memuji Hinata.


"Hah! Dari dulu, aku tak pernah bisa mengerti dengan selera wanita yang kau sukai!" Rutuk Jessy merasa sedikit kesal.


James hanya menaikkan satu alisnya saja. Maksud nya mungkin ingin menanyakan kepada sang kakak, alasan Jessy berkata seperti itu.


"Aku masih ingat dengan pacar pertama mu. Sunny bukan nama nya?" Ujar Jessy tampak mengingat-ingat.


"Itu hanya nama panggilan ku untuk nya, Kak. Nama asli nya adalah Sania Billa," tukas James mengoreksi.

__ADS_1


"Nah. Siapa pun nama nya itu. Tapi yang paling ku ingat tentang gadis itu adalah kesukaan nya mengenakan celana bolong-bolong--"


James langsung memotong ucapan Jessy.


"Itu hanya fashion, Kak. Gaya anak jaman dulu kan memang begitu," tukas James membela mantan pacar nya dulu.


"Kau menyebut itu fashion. Tapi Mama menyebutnya gelandangan. Setidaknya dia bisa berpenampilan lebih rapih kan saat kau mengajak nya makan malam ke rumah? Saat itu kau mengajak nya berkenalan dengan Mama, dan juga Papa kan? Tapi dia malah memakai baju gelandangan nya itu!" Rutuk Jessy berlanjut.


James hanya menggelengkan kepala nya saja berkali-kali. Ia tak menggubris ucapan sang kakak terkait mantan nya itu.


"Atau juga pacar kedua mu yang kau ajak ke rumah juga untuk makan bersama. Siapa nama nya? Tere? Atau Kere?"


James kali ini memicingkan matanya tajam pada sang kakak. Pertanda kalau ia tak menyukai candaan Jessy tersebut.


"Nah. Sudah pasti si Tere ya berarti," terka Jessy saat membaca ekspresi di wajah sang adik.


"Sebenarnya dia bukan pacar kedua ku, Kak," tukas James lagi-lagi.


"Lalu?"


Jessy memandang James dengan tatapan kesal.


"Kau ini sebenarnya sudah pernah pacaran berapa kali sih, James?"


"Hanya tiga, Kak. Setelah Tere, aku tak pernah lagi berpacaran. Terlalu pusing dan meletihkan," tukas James dengan nada santai.


"Lalu, bagaimana dengan Hinata? Kata mu kau jatuh cinta padanya? Kau yakin itu benar perasaan cinta? Bukan nafsu atau kagum sesaat saja, James?" Jessy mencemooh.


"Hh.. sulit untuk menjelaskan nya padamu, Kak. Dulu, aku berpacaran karena para mantan ku lah yang terlebih dulu menembak ku,"


"Hanya karena alasan itu? Kau ini terlalu mudah atau murah sih, James?" Ledek Jessy.


"Hey! Aku belum selesai bicara, Kak. Dengarkan aku dulu!" Protes James detik itu juga.


"Oke. Lanjut!" Jessy pun mempersilahkan James kembali bicara.

__ADS_1


"Ada banyak wanita yang menembak ku, Kak. Tapi hanya ketiga wanita itu saja yang ku terima. Bukan nya karena apa juga sih. Tapi lebih karena, aku merasa tertarik untuk mengenal mereka lebih dekat,"


"Lalu?"


"Lalu.. setelah jadian, lama kelamaan ternyata aku merasa bosan pada mereka, Kak. Maksud ku, aku tahu aku telah salah karena menerima mereka tanpa mencoba membalas perasaan mereka. Tapi aku tak bisa membuat diriku bertahan untuk terus bersama mereka lagi, Kak. Selalu begitu. Entah itu dengan Sunny, Lila ataupun Tere. Aku merasa bosan setelah lama mengenal mereka,"


"Dasar brengsek! Jangan bilang kau mengambil milik mereka yang paling berharga, lalu pergi begitu saja meninggalkan ketiga mantan mu itu, James! Jika benar begitu, aku akan memecat mu sebagai adik ku!" Ancam Jessy penuh emosional.


"Hey! Woles, Kak. Aku tak sebrengsek itu kok. Aku hanya berpegangan tangan saja dengan mereka. Oke. Sesekali aku mungkin kis sing juga sih.. "


"Stop! Jangan bahas soal aktivitas pacaran mu lagi! Aku mual mendengar nya!" Cecar Jessy tetiba.


"Bukan nya kau yang lebih dulu ingin mendengar nya, tadi? Kakak memang aneh," komentar James kemudian.


"Lanjut!" Titah Jessy begitu mendesak.


"Oke. Sampai mana kita tadi? Mm.. ya. Yang jelas, aku tak pernah melakukan yang lebih dari sekedar kedua hal tadi lah dengan mantan-mantan ku sebelum nya," James mengaku.


"Bohong! bukan nya lelaki paling senang mengambil kesempatan dalam kesempitan? Setiap lelaki bukan nya mudah terpancing untuk menuruti has rat nya ya?" tuding Jessy tak percaya pada pengakuan James tadi.


"Yah.. untuk kebanyakan lelaki mungkin memang begitu, Kak. Tapi, bisakah kau percaya pada adik mu ini? Setidak nya, bukan kah ini hal yang bagus? Jadi aku tak sembarangan menyukai wanita ataupun mengeksploitasi nya kan.." tukas James membela diri.


"Hmm.. akan ku pikirkan itu nanti. Lanjut! Bagaimana dengan perasaan mu terhadap Hinata?" Selidik Jessy.


"Tapi, bila dibandingkan dengan tiga pacar ku sebelum nya, aku yakin ada yang berbeda dari perasaan ku terhadap Hinata, Kak,"


"Berbeda bagaimana, James? Bicara lah yang jelas! Jangan bertele-tele!" Tegur Jessy.


James tampak termenung selama beberapa saat. Kemudian, saat pandangan nya masih menerawang ke sesuatu yang tak berada di depan nya, James pun kembali menjelaskan.


"Some how, my mind telling me, that she is the only one, Sis.. (entah bagaimana, benak ku mengatakan kalau dia adalah satu-satu nya, Kak..) she is my only one (Dia adalah satu-satu nya bagi ku).. and i just did what my heart said (dan aku hanya melakukan apa yang hati ku katakan). I just love her so..(aku hanya perlu mencintai nya saja)," ucap James dengan pandangan penuh keyakinan.


Jessy terkesima dengan ucapan James tadi. Sesaat kemudian, ibu satu anak itu pun berkomentar.


"Well said.. yo do love her, Bro (kata-kata yang bagus.. kamu memang mencintai nya, Dik)!" Komentar Jessy menutup percakapan kakak beradik itu.

__ADS_1


***


__ADS_2