
Dolly akhirnya marah. Ia tak lagi mendatangi Hinata ke hotel. Hinata pun membiarkan manajernya itu menenangkan diri. Ia yakin, setelah beberapa lama, Dolly pasti akan menemuinya lagi. Karena bagaimanapun juga hubungan keduanya sudah sangat dekat.
"Mampirlah ke sini, Nis. Kakak bosan sekali tinggal di hotel sendirian!" Keluh Hinata via sambungan telepon.
Saat itu ia sedang bertelepon an dengan Anis, sepupu jauhnya.
"Lagian salah kakak sendiri lah. Kenapa juga sampai pergi segala dari rumah. Dosa lho kak, kalau sampai suami kakaknya gak ridhain kakak pergi dari rumah!" Komentar Anis dengan jujur.
Diceramahi seperti itu, Hinata tak lantas marah. Ia tahu benar kalau setiap teguran Anis padanya bukan bermaksud untuk mencemooh. Melainkan hanya untuk mengingatkan saja.
"Masa iya dosa sih? Eh, tapi kakak udah bilang kok pas mau perginya," sergah Hinata membela diri.
"Bilang kayak gimana, Kak?" Tanya Anis dari seberang telepon.
"Ya bilang kalau Kakak perlu nenangin diri dulu. Dan semacamnya.. dan semacamnya lah.." imbuh Hinata dengan jawaban ambigu.
"Terus kakak udah tenang belum? Ujung-ujung nya kakak udah tahu sendiri kan apa yang bakal kak Nat putuskan nantinya? Kakak mau cerai dari suami kakak kan?" Anis mencecar Hinata dengan rentetan pertanyaan.
"Hh.. besar kemungkinan memang, ya. Akan akan memutuskan untuk berpisah dari Mike, Nis," ungkap Hinata sejujurnya.
"Ya sudah. Jangan diperpanjang lagi kalau gitu, Kak. Hentikan semua rencana balas dendam ini, Kak. Ini cuma buang-buang waktu kakak aja. Ketika menikah kalian berkumpul dengan baik-baik. Maka alangkah indahnya bila saat berpisah pun, kakak bisa mengakhirinya dengan cara yang baik," lanjut Anis menasihati.
"..."
Hinata terdiam merenungkan pernyataan Anis tadi. Sebenarnya, ia pun mulai ragu dengan keputusannya untuk membalas dendam ini.
Apalagi Anis selalu saja mengingatkannya tentang dosa ini lah. Dosa itu lah! Membuat Hinata jadi tak nyaman sendiri jadinya.
Tapi, wanita itu masih belum ikhlas membiarkan Mike dan Tatiana lepas begitu saja. Ia masih ingin membuat perhitungan kepada mereka.
Akhirnya detik berikutnya, Hinata langsung mengalihkan pembicaraannya dengan Anis. Dan Anis pun segera mengerti. Kalau Hinata belum bisa menerima nasihatnya tadi.
***
Keesokan harinya, Hinata sedang menunggu Deril di restoran hotel, saat bahunya ditepuk oleh seseorang.
"Kak Hinata?" Sapa suara feminim di belakang nya.
Hinata seketika menoleh dan menatap bingung pada seorang wanita muda yang cukup cantik kini berdiri dan tersenyum di hadapannya.
"Ee.. maaf. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Hinata kebingungan.
Seingatnya, ia memang tak mengenal wanita asing di depannya itu.
"Ini saya, Kak! Nida. Kita pernah ketemu kan di acara casting video musik LINK dulu?" Tutur Nida mengingatkan.
__ADS_1
Ingatan Hinata pun seketika melayang pada gadis berpenampilan culun yang dengan ramah mengajaknya berbincang saat itu.
Hinata lalu membandingkan penampilan Nida saat ini. Gadis itu kini mengenakan baju muslimah berwarna baby pink. Penampilannya sangat rapih dan berbeda jauh dari penampilannya saat mereka berkenalan untuk pertama kalinya dulu.
"Nida..? Wahh. Kamu beda banget. Nid! Jadi pangling aku!" Seloroh Hinata dengan jujur.
"Ehehee.. kakak lagi apa di sini sendirian?" Tanya Nida mengalihkan pembicaraan.
"Lagi nungguin teman nih, Nid. Kamu juga sendirian?" Tanya balik Hinata seraya menoleh ke sekitar Nida yang sendirian.
"Eggak sendirian kok, Kak. Nida lagi makan bareng sama keluarga. Itu di sana!" Tunjuk Nida ke satu arah.
Hinata mengikuti arah telunjuk Nida. Dan ia melihat beberapa orang, mungkin sekitar delapan atau sepuluh orang yang duduk melingkari sebuah meja panjang.
Hinata melihatnya sambil lalu, kemudian mengembalikan perhatiannya lagi ke Nida.
"Ohh.. ada acara keluarga ya?" Tebak Hinata.
"Gak ada sih, Kak. Cuma acara kumpul sesekali aja sama keluarga sepupu," jawab Nida dengan wajah sedikit bersemu.
Hinata hendak kembali bertanya kepada gadis itu, namun seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan tiba-tiba muncul di belakang Nida.
"Nida, kamu belum kembali ke meja?" Sapa wanita tersebut.
Hinata lalu beradu pandang dengan wanita itu. Dan ia menyadari saat ibu-ibu itu melempar pandangan menilai dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.
Hinata hanya mengenakan celana panjang hot pants serta sweater hitam rajut yang menutupi kostum nge-gym yang ia kenakan.
Hinata baru saja selesai nge-gym sebelum ia pergi ke restoran ini.
"Tante Maira. Iya, Tante. Nida ketemu teman Nida. Tante kenal juga kan? Dia ini Kak Hinata yang memandu acara musik di TV itu lho, Tante!" Seru Nida memperkenalkan Hinata.
Perhatian Tante Maira lalu kembali ke Hinata lagi. Dengan gugup, model cantik itu pun menyapa sang tante dengan ramah.
"Salam kenal, Tante. Saya Hinata. Temannya Nida," sapa Hinata.
Tante Maira nampaknya tak menyukai Hinata. Karena ia hanya memberinya sebuah anggukan saja, sebelum akhirnya ia mengajak obrol Nida kembali.
"Ayo ke yang lain lagi, Nid. Makanan nya mungkin sudah sampai," ujar Tanta Maira yang kemudian langsung pergi terlebih dulu.
Nida yang merasa tak enak hati kepada Hinata pun lalu berbisik pelan.
"Maaf ya, Kak. Gak biasanya Tante Maira seperti itu. Jangan diambil hati ya, Kak?" Tutur Nida tak enak hati.
"Hh.. iya gak apa-apa.."
__ADS_1
Hinata bisa mengerti. Bahwa Tante Maira tadi mungkin tak menyukai dirinya karena statusnya sebagai artis.
Belum lagi bila sang Tante mengikuti perkembangan gosip saat ini. Bisa jadi pikir si Tante, Hinata sedang bersembunyi setelah dimadu oleh sahabatnya sendiri. Pengecut, menurut kebanyakan orang yang tak terlalu mengenalnya dengan baik.
"Nat!" Suara barito membuat Hinata dan juga Nida serentak menoleh bersamaan.
Di belakang Nida, Deril tampak berlari-lari kecil ke arahnya.
"Ril!" Sahut balik Hinata.
"Itu teman Kakak sudah datang. Kalau begitu, Nida ke sana dulu ya, Kak!" Pamit Nida terburu-buru pergi.
"Bye. nida!" Sahut Hinata.
...
"Tadi siapa, Nat? Kayaknya baru kali ini aku lihat kamu temenan sama yang pake baju rapih.." tanya Deril yang masih melihat ke arah Nida pergi.
"Maksud kamu apa, Ril?" Hinata mendelikkan mata, menatap tajam Deril.
"Hehehe.. gak usah dibahas deh! Aku ke sini bawa berita bagus buat kamu, Nat!" Seru Deril mengalihkan perhatian.
"Berita bagus apa sih, sampai kamu ngajakin untuk ketemuan di resto sini?" Tanya Hinata penasaran.
"Sebentar dulu lah. Mana ini makanan nya? Kamu belum pesan apa-apa buat ku, Nat?" Protes Deril saat melihat hanya ada segelas jus jeruk. Itu pun milik Hinata. Tak ada apapun yang sudah dipesan untuknya.
"Kalau mau makan ya pesan sendiri lah!" Canda Hinata pura-pura ketus.
"Cih.. sudah dibantu. Minimal ngasih makan lah, Non!" Gerutu Deril.
"Hahahaa!"
Hinata lalu memesan menu pilihan Deril. Ia juga memesan salad untuk dirinya sendiri.
"Jadi, berita bagus apa yang kamu bawa untuk ku, Ril?" Tanya Hinaga.
"Nilai saham Mi-Star terus merosot. Dan sekarang, Union Grup memberi peringatan kepada Mike untuk menenangkan situasi yang sedang terjadi. Dampak dari berita ini sepertinya telah menyebabkan penjualan produk parfum mereka jadi menurun drastis,"
"Itu sih sudah ku duga. Lalu?"
"Lalu, apalagi? Tentu saja, Mike sedang kepusingan saat ini, Nat! Rencana mu berjalan sempurna!" Ucap Deril menyelamati Hinata.
"Bagaimana dengan Tiana?"
"Yah.. dia pun sama menyedihkannya seperti Mike. Ada banyak tuntutan datang terhadapnya saat ini. Banyak suara yang menyatakan dukungannya terhadap mu, sebagai istri pertama yang tersakiti. Hahaha! Membaca headline berita nya saja sudah membuatku kasihan pada suami mu itu. Ngomong-ngomong, kapan kau akan muncul ke media, Nat?" Tanya Deril penasaran.
__ADS_1
"Kapan? Hmm.. bagaimana jika lusa?" Jawab Hinata dengan nada santai nya.
***