
Hinata akhirnya tinggal di apartemen miliknya sendiri. Apartemen nya itu berada di luar kota. Wanita itu benar-benar meniatkan diri untuk healing time.
Perasaan nya terhadap James lah yang membuatnya memutuskan untuk pergi menjauh. Ia ingin mencari kebahagiaannya sendiri. Dan mungkin, itu memang harus dilewatinya dengan sendirian dahulu.
Meski menyepi ke pinggiran kota, Hinata tak lantas putus kontak dengan orang-orang terdekatnya. Ia masih menjalin komunikasi dengan Dolly, Deril, dan beberapa orang lainnya. Dan yang paling sering ia ajak bincang akhir-akhir ini adalah Anis.
Bahkan, Anis lah yang pertama kali datang berkunjung ke apartemen tempat tinggalnya kini.
"Makasih ya, Nis.. udah nyempetin tuk datang main.." ucap Hinata saat menyambut kedatangan Anis ke apartemen nya.
"Mumpung lagi liburan, Kak.. lagian sekalian lewat juga sih. Anis habis main ke mansion utama. Nengokin Mama.." sahut Anis.
Mansion Utama adalah tempat tinggal Mama Soraya dan beberapa keluarga tetua di keluarga besar Anis. Anis memilih untuk tinggal sendirian dinkontrakan sejak ia masuk SMA. Menurutnya, ia lebih nyaman tinggal sendiri dibandingkan harus hidup bergerombol dengan keluarga besarnya itu.
"Mama kamu sehat, Nis?" Tanya Hinata.
"Alhamdulillah, Kak.. Mama sehat. Tadinya Mama mau ikut ke sini lho, Kak. Tapi Mama lagi bantu siapin acara pernikahannya Daffa.." tutur Anis.
"Daffa?"
"Iya. Dia itu anak angkat nya Paman Zion..Kakak udah pernah ketemu belum ya..?" Anis tampak berpikir.
"Paman Zion punya anak angkat?"
"Iya. Sekitar hampir enam tahun lalu Paman angkat anak, Kak. Rencana nya bulan depan dia mau nikah. Jadi Mama lagi bantuin persiapan acara nya. Nanti Kakak datang ya!"
(Yang pernah baca novel pertama Mel pasti kenal sama tokoh Daffa. Dia adalah protagonis pria di novel Cinta Sang Maharani ke 1. Genre Romansa fantasi. Silahkan mampir..)
"Oh.. tanggal berapa pesta nya, Nis?"
"Tanggal 22 bulan depan, Kak!"
"Ok. Take note. Insya Allah kakak datang deh nanti," janji Hinata.
"Mama dan Papa Kakak masih di luar negeri ya? Kalau bisa. Nanti tolong dikabarin juga ya, Kak. Pesan dari Mama, semoga nanti Om dan Tante juga bisa ikut hadir di pesta. Sekalian reunian keluarga gitu kan ya.." imbuh Anis lagi.
"Siap. Nanti kakak kabarin ke Mama deh.."
Meski begitu, dalam hatinya Hinata sempat ragu untuk menghubungi orang tuanya. Ia takut jika orang tuanya nanti bertanya kabar tentang nya dan Mike.
Sampai saat ini, kedua orang tuanya memang belum menghubungi nya lagi. Biasanya setiap bulan Mama selalu rutin menelpon nya. Itu pun jika ia sama tak sibuknya seperti Papa.
Mama sendiri sibuk mengembangkan usaha butik nya di luar negeri. Jadi komunikasi di antara mereka terbilang sangat jarang sekali.
"Kamu nginap kan, Nis?" Tanya Hinata.
__ADS_1
"Iya, Kak. Mumpung liburan. Anis gak gangguin Kakak kan?"
"Iya gak apa-apa. Justru Kakak makasih banget karena Anis mau temani Kakak. Kamu libur berapa lama?"
"Satu bulan, Kak,"
"Asik! Kamu jadi bisa nginap sebulan juga dong di sini?" Seru Hinata kegirangan.
"Pinginnya sih.. tapi Anis kayaknya cuma nginap seminggu aja gak apa-apa ya, Kak," tutur Anis dengan raut menyesal.
"Yaah.. kenapa?"
"Soalnya Anis mau mulai dagang lagi, Kak. Minggu depan kan ada pendaftaran mahasiswa baru. Itu tuh masa paling bagus buat para pedagang sambilan kayak Anis. Hihihi.."
"Kamu jualan apa, Nis?" Tanya Hinata.
"Macam-macam sih, Kak.. kadang materai, pulpen, lem, yang sekiranya dibutuhin buat pendaftaran gitu deh, Kak.. Anis juga kadang jualan minuman botol juga.." jawab anis menceritakan pengalaman dagang nya.
"Wahh.. kamu gak ngerasa.. mm.." Hinata tampak sungkan untuk melanjutkan pertanyaannya.
Akan tetapi Anis bisa menebak kelanjutan kalimat kakak sepupunya itu.
"Maksud Kak Hinata, malu kan?" Tebak anis dengan sangat tepat.
Hinata tersenyum simpul sambil menganggukkan kepalanya sekali.
"Ruko? Hihihi.. Kak Hinata ada-ada aja deh. Jualan materai dan semacamnya sih paling cepat kalau kita sambil jalan keliling, Kak.." sahut Anis menyanggah sangkaan Hinata tadi.
"Hah?! Jalan keliling?! Maksud kamu ruh kayak.. pedagang tahu bulat yang suka keliling pakai mobil gitu??"
"Hahaha.. ya enggak pakai mobil juga lah, Kak.. Anis cuma keliling jalan kaki aja.. sambil datangin orang-orang yang lagi kumpul ramai-ramai tuk mendaftar. Terus sambil teriak, 'Materai.. materai! Materai nya, Pak! Materai nya, Buk! Materai nya, Kak!' begitu Kak.." tutur Anis memperjelas.
"Ya ampun, Anis! Kamu serius teriak-teriak begitu jualannya?! Aduh.. Kakak kok jadi ngenes ya ngebayangin nya?"
"Biasa aja sih, Kak.. awal-awal mungkin malu. Tapi setelah dapat uang dari hasil kerja keras sendiri, malah jadi ketagihan dagang, Kak.. rasanya nikmat banget! Alhamdulillah.." tutur Anis sambil tersenyum lebar.
Hinata tertegun.
"Kamu pekerja keras banget ya, Nis.. kakak jadi malu," sahut Hinata.
"Malu kenapa, Kak?"
"Malu aja sih.. soalnya kakak masih sering ngeluh kerja. Padahal kalau dibandingin sama usaha dagang kamu yang, panas kepanasan, dingin kedinginan itu.. kerjaan kakak sih terbilang mudah banget," lanjut Hinata menjelaskan.
"Ehh, iya kah, Kak? Justru menurut Anis, jadi artis tuh profesi yang susah malah, Kak.. coba kalau Anis yang disuruh photo shoot atau syuting, kalau gak malah jadi patung tiba-tiba saking groginya!"
__ADS_1
"Hahaha.. masa iya sih, Nis?"
"Iya, Kak! Anis tuh bisa dibilang paling anti kalau difoto. Malu gitu deh, Kak!"
"Kok bisa gitu sih? Padahal Kakak lihat, Mama kamu kayaknya sering banget update foto selfi nya..?" Canda Hinata.
"Nab! Itu dia! Gak tahu juga deh. Mungkin gen nya Anis nurun dari Papa kali ya.."
"Bisa jadi tuh!"
Perbincangan keduanya terus berlanjut. Dan selama sepekan itu, Anis benar ikut tinggal dengan Hinata di apartemen nya.
Kedua wanita yang tak berbeda jauh usianya itu menghabiskan waktu bersama dnegan beragam kegiatan. Entah itu kegiatan seru versi Anis, seperti mendengar tausyiah Dr. Aisyah Dahlan. Atau juga kegiatan seru versi Hinata, seperti rutin yoga setiap pagi.
Hingga tak terasa satu minggu berlalu sudah. Dan waktunya Anis untuk pulang ke kontrakan nya kembali.
"Duh.. pasti bakal kangen kamu banget nih, Nis! Nanti kalau sempat, kamu main lagi ya ke sini!" Tutur Hinata sambil memeluk erat sepupunya itu.
"Insya Allah, Kak.. kakak juga! Kaoan-kapan mampir ya ke kontrakan Anis. Yah.. walaupun tempat tinggal Anis gak senyaman rumah kakak ini sih.."
"Husy.. jangan gitu ah, ngomong nya. Iya. Insya Allah kakak juga bakal mampir kapan-kapan ya!"
Setelah berpamitan, Anis pun akhirnya pergi.
Sekitar sepuluh menit setelah kepergian Anis, tiba-tiba saja pintu apartemen Hinata kembali diketuk.
Tok. Tok. Tok!
"Ehh? Siapa ya? Apa jangan-jangan itu Anis? Barang nya ada yang ketinggalan kali ya?" Gumam Hinata sambil melangkah menuju pintu apartemennya.
Cklek.
"Ada yang ketinggal--!!"
Gabruk!
Belum selesai Hinata berkata, tiba-tiba saja seseorang yang berdiri di depan pintu mendorong nya hingga ia tersungkur jatuh.
Di saat Hinata masih merasakan nyeri pada pinggulnya usai terjatuh, tamu asing nya itu kini telah masuk ke apartemen Hinata, menutup pintu serta menguncinya segera.
Cklek..
"Sia--Mike?!!"
Hinata terkejut bukan main, saat mendapati Mike, berdiri di hadapan nya saat ini. Lelaki itu tampak kacau sekali. Bajunya kusut. Rambutnya lebat dan tak disisir rapih. Apalagi tampak jambang kasar di bagian janggutnya.
__ADS_1
"Halo, Nat! Apa kabar mu, Sayang? Sudah lama kita tak berjumpa. Ku harap, kau senang melihat ku lagi!" Tutur Mike dengan pandangan berkilat emosi.
***