
"Dengan perkataan ku ini, kau seharusnya bisa menebak. Kalau adik ku, James juga sudah tahu dengan niat awal mu mendekati nya. Tapi kulihat ia tetap membiarkan mu melakukan itu. Untuk itulah aku tak setuju atas pendapat nya itu, Hinata.."
Hinata tertegun dan spontan menundukkan wajah nya menatap lantai. Ia tiba-tiba menyesal dengan niat nya menggunakan James untuk membalas dendam.
'James juga sudah tahu? Tapi, kenapa sikap nya masih begitu baik kepada ku?' tanya Hinata pada dirinya sendiri.
"Itu dilakukan James, karena ku pikir ia mungkin sudah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mu, Hinata," imbuh Jessy, seolah bisa mendengar pertanyaan di benak Hinata tadi.
Seketika, pandangan Hinata pun kembali terangkat. Ia menatap terkejut ke arah Jessy.
"Ya, Hinata. Aku akan jujur mengatakan ini kepada mu. Aku bisa melihat jelas kalau James sepertinya telah jatuh hati kepada mu. Sayang sekali takdir kalian sepertinya tak bisa menyatukan kalian dalam sebuah hubungan. Bagaimana pun juga, kau adalah seorang wanita yang sudah menikah," tutur Jessy kembali.
"Dengan status mu saat ini, aku merasa sangsi, bila orang tua kami akan bisa menerima mu di keluarga kami. Sekalipun kelak kau berpisah dari Mike lalu menjalin hubungan dengan James," imbuh Jessy kembali.
Suasana kembali menghening untuk waktu yang cukup lama. Sampai tiba-tiba Hinata lah yang memulai kembali perbincangan di antara keduanya.
"Kenapa kau mengatakan semua ini kepada ku, Jess? Kenapa kau tak marah kepada ku atas niatan ku itu?" Tanya Hinata begitu penasaran.
"Karena aku bisa memahami latar dibalik aksimu itu, Hinata. Kau merasa tersakiti oleh aksi selingkuh yang dilakukan oleh suami mu itu. Cukup wajar bila kau ingin balas dendam kepada nya. Tapi, jangan gunakan adik ku dalam permainan mu itu!"
Kali ini Hinata menangkap ancaman dalam nada suara Jessy. Lebih lanjut lagi, wanita itu kembali berkata.
"Kalau kau masih mencoba mendekati James kami, demi bisa membalaskan rasa sakit hati mu itu kepada Mike, maka aku akan memerangi mu detik ini juga. Ku harap, kau bisa berpikir lebih bijak, Nat," ujar Jessy kembali.
"Kau tak tahu rasa sakit hati ini, Jess! Kau tak akan bisa mengerti perasaan ku!" Tuding Hinata setengah memekik.
"Aku tahu, Hinata! Aku tahu bagaimana perasaan mu saat ini!" Sanggah Jessy dengan amarah yang tiba-tiba meletup pula.
"Sungguh?" Tanya Hinata dengan tatapan skeptis.
"Ya. Aku tahu betul bagaimana perasaan mu saat ini, Hinata.." ungkap Jessy dengan begitu yakin nya.
__ADS_1
Jeda kembali beberapa detik. Dan Jessy pun melanjutkan perkataannya nya lagi.
"Karena aku sendiri pernah mengalami nya!" Ungkap Jessy begitu tiba-tiba.
Sehingga Hinata tersentak kaget dan langsung memelototi Jessy dengan pandangan tak percaya.
"Kau juga..?!" Ucapan Hinata tak sempat ia lanjutkan. Karena sesaat kemudian, Jessy berkata kembali.
"Aku pun pernah dikhianati oleh suami ku sendiri, Hinata. Andrew diam-diam telah menikahi wanita lain. Dan ternyata wanita itu adalah istri pertama nya yang dinikahi secara sirri,"
"Dari pernikahan nya dengan wanita itu, Andrew sudah dikaruniai dua orang anak yang salah satunya bahkan berusia lebih tua dari Jimmy ku. Bukan kah Andrew jahat sekali menurut mu, Nat?"
"Tanpa sepengetahuan ku, aku telah dijadikan oleh Andrew sebagai istri kedua nya. Yah.. walaupun nama ku lah yang bersanding dengan nama Andrew di catatan sipil. Tapi tetap saja, gelar pelakor itu tak akan pernah lepas dari profil ku. Aku dipaksa menjadi seorang pelakor, tanpa sepengetahuan ku. Dan semua ini disebabkan oleh rasa cinta buta ku terhadap nya!" Tutur Jessy mengakhiri kisah nya.
Hinata terdiam. Ia mencerna setiap perkataan Jessy dengan baik. Entah kenapa, ia merasa kisah Jessy ternyata lebih tragis dari kisah pernikahan nya saat ini.
Dengan spontan, Hinata langsung berdiri dan menghampiri Jessy. Selanjutnya, ia memberikan pelukan erat pada wanita yang berpenampilan ceria saat pandangan pertama nya tadi.
Hinata lalu merasakan saat tubuh Jessy bergetar. Akan tetapi wanita itu tak menangis barang setetes air mata pun.
Mungkin Jessy telah berdamai dengan takdir nya yang memilukan.
Mungkin ia telah move on dari pernikahan nya yang kelam. Atau banyak kemungkinan lain yang Hinata tak tahu sebab nya apa. Tapi yang jelas, Hinata tahu pasti, kalau Jessy memang benar-benar mengerti perasaan nya sebagai istri yang telah diselingkuhi oleh suami.
Kedua wanita itu pun akhirnya berbagi rasa sakit yang diakibatkan oleh pernikahan masing-masing, dengan cara berpelukan... dalam diam.
Setelah beberapa lama, Hinata lalu kembali duduk di sofa nya kembali. Ia kini menatap Jessy dengan pandangan yang berbeda.
"Kau harus mendengarkan nasihat ku ini, Nat.. lepaskan Mike. Lupakan amarah mu pada nya. Dan jalani hidup mu yang baru. Kau masih muda. Kau masih punya banyak kesempatan untuk berbahagia," pesan Jessy dengan tatapan lembut yang mengingatkan Hinata pada tatapan Mama nya.
"Hidup mu terlalu singkat untuk kau habiskan demi mengentaskan balas dendam mu yang tiada guna itu. Aku berharap kau tak melanjutkan niat mu mendekati James kami, dikarenakan rasa sakit hati mu itu, Nat,"
__ADS_1
"Aku lebih rela jika kau benar-benar mendekati James karena memang kau ingin berteman dengan nya. Yah.. walau pun hubungan kalian mungkin tak akan bisa lebih dari sekedar teman. Karena kau akan menghadapi orang tua kami yang super strict soal memilih pasangan untuk ku dan juga James,"
"Maksud ku, kau fokus saja pada dirimu sendiri, Nat. Lupakan balas dendam mu itu. Dan lakukan lah segala hal yang benar-benar bisa membuat mu merasa bahagia!" Jessy menyimpulkan nasihat nya.
"Aku.. entahlah Jess. Aku masih merasa sulit untuk melepas bara dendam di hati ini," ujar Hinata dengan seujujurnya.
Ucapan nya itu lalu membuatnya menerima tatapan sengit dari Jessy. Sehingga dengan terburu-buru, Hinata pun menambahkan.
"Tapi aku berjanji kepada mu, Jess! Aku tak akan mendekati James lagi. Aku tak akan.. melibatkan nya dalam rencana ku lagi. Untuk satu hal itu, aku akan memastikan nya kepada mu!" Ucap Hinata dengan bersungguh-sungguh.
Kemudian Jessy menghela napas panjang.
"Hh.. terserah kau saja lah, Nat. Yang jelas, kau harus mengingat nasihat ku siang ini, oke?" Ujar Jessy mengingatkan Hinata kembali.
Hinata pun mengangguk cepat.
"Aku akan selalu mengingat nya, Jess.."
Setelah jeda beberapa lama, Hinata kembali melanjutkan perkataannya.
"Terima kasih.." ucap Hinata tetiba.
"Untuk apa?" Tanya Jessy tak paham.
"Karena kau tak langsung marah kepada ku saat mengetahui kalau aku hampir akan menggunakan James untuk.."
Hinata tak melanjutkan ucapannya lagi. Ia terlalu malu untuk mengakui perbuatan salah nya itu di depan Jessy.
"Itu bukan apa-apa, Nat. Aku tak marah kepada mu kok. Aku bisa mengerti alasan di balik aksi mu itu," ujar Jessy dengan wajah ramah.
Dan kedua wanita itu pun akhirnya saling melempar senyuman dalam diam.
__ADS_1
***