
Anis berjalan santai di antara Mike dan Hinata yang mematung tiba-tiba. Sang jilbaber lalu berjalan mendekati Hinata dan merapihkan bagian depan pakaian sepupunya itu yang sedikit terbuka.
"Maafin Anis, Kak.. Anis datang terlambat.." gumam Anis dengan suara pelan.
Hatinya sedih manakala ia melihat bekas tindak kekerasan yang dilakukan oleh Mike pada Hinata. Ia Menyalahkan dirinya sendiri karena tadi tak cukup cepat kembali ke apartemen Hinata. Sehingga sepupu nya itu harus terluka seperti ini.
"Tenang lah, Kak.. Kakak sekarang sudah aman.." imbuh Anis lagi di antara terbekunya waktu yang terjadi saat ini.
Setelah menyandarkan tubuh Hinata pada sandaran sofa, Anis lalu berdiri dan berbalik kembali menghadap Mike.
Kini gadis kecil yang tampak tak berbahaya itu nyatanya mampu melayangkan tatapan tajam menusuk yang tak disadari oleh siapapun yang berada stau ruangan dengan nya saat itu.
Sedetik kemudian, Anis menjentikkan jarinya di samping tubuh.
Klik.
Dan tiba-tiba waktu di ruangan itu pun kembali bergerak. Mike yang memang tadi hendak mengayunkan tangannya untuk merampas ponsel Anis, kini hanya bisa memukul angin kosong saja.
Lelaki itu sangat kebingungan karena mendapati gadis berjilbab yang tadi berdiri di depannya itu kini menghilang dari pandangan. Ia pun melayangkan pandangannya keluar pintu.
Pikirnya, ia mungkin melewatkan saat gadis itu (Anis) melesat keluar apartemen. Dengan bergegas, Mike langsung saja berjalan cepat hendak keluar apartemen. Namun, sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Mau ke mana, Om? Cari Anis ya?" Tanya Anis dengan nada mengejek.
Secepat kilat, Mike pun berbalik. Lelaki itu sangat terkejut saat mendapati Anis yang sudah berdiri di belakangnya sedari tadi.
"Kau?! Bagaimana kau bisa ada di sana?! Tadi.. kau kan..??!!"
"Nah, Om! Lain kali, makanya jangan ngelamun. Tuh kan, jadi oleng pikirannya. Mau Anis antar ke rumah sakit kah, Om, tuk ngecek isi kepala Om? Siapa tahu ada batu atau ikan busuk nyempil di otak Om?" Tutur Anis kembali meledek.
Di belakang gadis itu, Hinata menatap bingung ke arah Mike dan juga sepupunya itu secara bergantian. Ia tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.
Seingat Hinata, tadi ia terlentang di atas lantai saat ia melihat kedatangan Anis yang tiba-tiba. Dan saat Mike hendak mengambil ponsel Anis, tiba-tiba saja sepupunya itu sudah berpindah tempat.
Hinata mengira pikiran nya sudah sedikit kacau akibat dua benturan di kepalanya tadi. Jadi ia mulai berhalusinasi dan kehilangan cuplikan-cuplikan tentang apa yang baru saja terjadi.
Mike sendiri merasa Geram karena dicemooh oleh sang jilbaber. Lelaki itu lalu kembali melangkah cepat menuju Anis. Kali ini tujuannya bukan lagi ponsel gadis itu. Melainkan langsung menuju Anis seorang.
Di saat Mike sudah berjarak sekian senti lagi dari menyentuh kulit Anis, kejadian ajaib lagi-lagi terjadi. Waktu berhenti tiba-tiba. Semuanya diam menjadi patung, terkecuali Anis seorang tentunya.
"Hh.. sebaiknya aku segera menghubungi nomor polisi. Bermain-main dengan lelaki ini hanya akan membuang-buang waktuku saja!" Rutuk Anis yang lalu mengeluarkan ponselnya kembali.
Anis berjalan sedikit untuk menjauhi Mike. Hingga kini jaraknya dengan pemuda itu berkisar sekitar dua meter jauhnya.
Akan tetapi, saat gadis itu hendak melakukan panggilan telepon, ia baru teringat, kalau kekuatan manipulasi waktunya juga tentu sudah mengacaukan jaringan seluler telepon nya. Jadi ia tak bisa melakukan panggilan telepon selama ia berada dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
"Ah.. aku harus keluar dulu untuk menelpon. Baiklah.."
Anis lalu melangkah menuju pintu apartemen Hinata. Akan tetapi, di saat ia baru berjalan dua langkah, seseorang dari luar apartemen tiba-tiba saja muncul. Seorang lelaki berpakaian seragam hitam kini berdiri di depan pintu Hinata.
Kedatangan orang asing tersebut jelas membuat kekuatan manipulasi waktu milik Anis menjadi buyar seketika. Mike dan Hinata kembali bisa bergerak leluasa. Dan ini jelas tak diantisipasi oleh Anis.
Saat itu jarak Mike dengan Anis sangat dekat. Sehingga dalam sekali gerakan, Mike langsung menarik jilbab lebar Anis, hingga membuat gadis itu hampir terjengkang ke belakang.
Melihat apa yang terjadi di dalam ruangan, lelaki asing pun seketika masuk dan melayangkan serangan tiba-tiba ke bagian tengkuk belakang Mike.
Mike yang memang tak mengetahui kedatangan lelaki asing itu, seketika jatuh pingsan karena serangan di belakang kepalanya. Serangan tadi ternyata telah melukai titik sadar di kepala Mike.
Alhasil Mike pun jatuh pingsan seketika. Dan Anis bisa terbebas juga akhirnya.
Bersamaan dengan jatuhnya Mike ke lantai, ia masih memegang jilbab Anis. Sehingga saat ia terjatuh pingsan, mau tak mau jilbab Anis pun ikut tertarik hingga akhirnya terlepas.
Tampaklah kini Anis dengan rambut keritingnya yang tergerai bebas sepanjang pinggang. Nampaknya ikatan tali yang mengikat rambutnya juga ikut terlepas bersamaan dengan jilbab nya tadi.
"Astaghfirullah!" Pekik Anis berusaha menutupi kepala nya.
Ia begitu takut sekaligus juga malu karena ada lelaki yang bukan mahram nya telah melihat rambut (aurat) nya. Dengan sigap, gadis itu menarik kembali jilbab nya dari tangan Mike. Lalu memakainya kembali dengan asal.
Saat Anis mengenakan kembali jilbab nya, lelaki asing yang baru saja menolongnya itu hanya bisa melihat aksi Anis yang nyentrik. Begitu pun dengan Hinata.
Dengan bersikap seolah tak terjadi insiden jilbab yang terlepas, Anis pun berkata.
"Mm.. terima kasih, Kak. Untuk..ee.. pertolongan nya," tutur Anis dengan nada dibuat senormal mungkin.
Padahal sungguh hatinya merasa sangat malu saat itu. Ia bahkan tak berani menatap langsung kedua mata lelaki yang sekilas tadi ia nilai ternyata cukup tampan juga. Mirip seperti Nicholas Syahputra.
'Astaghfirullah.. bisa-bisanya kamu muji ketampanan lelaki ini, di saat genting seperti ini, sih, Nis?!' Anis menegur dirinya sendiri di dalam hati.
Sang lelaki pun tampaknya menyadari rasa malu yang susah payah Anis coba tutupi. Sehingga dengan sikap ksatria, lelaki itu mengikuti skenario Anis untuk pura-pura lupa atas insiden yang tadi sempat terjadi.
Dalam benaknya, lelaki itu berkomentar.
'Wanita ini lucu juga!'
"Ehem!" Lelaki itu berdehem, kemudian mengarahkan tatapan nya ke belakang Anis. Di mana Hinata tampak terkulai lemas dan menyender ke sofa.
"Sebaiknya kita bawa Nona Hinata ke rumah sakit sekarang juga. Sementara lelaki ini biar diurus oleh teman saya nanti!" Ujar lelaki tiu seraya mendekati Hinata.
Akan tetapi Anis langsung berdiri menghalangi lelaki itu dari mendekati Hinata lagi.
"Tunggu dulu! Sebutkan dulu identitas mu, Kak! Aku tak bisa membiarkan mu membawa Kak Hinata pergi begitu saja! Kak Nat, apa Kakak mengenal lelaki ini?" Tanya Anis sambil menoleh ke Hinata.
__ADS_1
Hinata spontan menggeleng pelan.
"Nah. Kak Hinata juga tak mengenal mu, Kak. Jadi. Sebaiknya kita tunggu mobil ambulan saja datang ke sini," Anis memberikan saran.
"Itu akan menghabiskan waktu yang lama. Sudah. Ikuti saja saran ku tadi, Nona. Tolong menepi lah. Aku hanya ingin membantu Nona Hinata!" Sergah lelaki asing tersebut.
Akan tetapi Anis masih tak bergeming dari tempatnya berdiri. Ia kembali melontarkan pertanyaan pada lelaki di depannya itu.
"Kalau begitu. Sebutkan dulu identitas mu, Kak!" Anis bersikukuh dengan pendapatnya.
"Hh.. nama ku Rey. Aku adalah pengawal kiriman yang ditugaskan untuk menjaga Nona Hinata. Sayangnya tadi.."
Anis langsung memotong ucapan Rey begitu saja.
"Oh ya? Kalau kau benar ditugaskan untuk menjaga Kak Hinata, lalu kenapa kau bisa sampai lalai membiarkan lelaki itu masuk dan menyakiti Kak Nat?!" Cecar Anis sambil menunjuk ke arah Mike yang tak sadarkan diri.
"Aku baru mau menjelaskannya padamu, Nona.. tapi tadi kau sudah memotong ucapan ku!" Gerutu Rey.
Anis memandang sengit ke arah Rey. Yang juga dibalas oleh Rey dengan pandangan sengit pula.
Sebenarnya Anis lebih merasa marah kepada dirinya sendiri. Karena kesalahan nya jugalah hingga akhirnya Kak Hinata bisa terluka sampai seperti ini.
Setelah menenangkan diri beberapa saat, Anis pun akhirnya berkata kepada Rey.
"Siapa yang menugaskan mu menjaga Kak Nat?" Tanya Anis menyelidik.
"Itu..maaf. Aku tak bisa mengatakannya kepadamu. Tuan ku melarang ku menyebut namanya," jawab Rey dengan sikap patriot.
Anis pun kembali geram dibuatnya. Namun buru-buru gadis itu beristighfar dan menenangkan hatinya.
"Hh.. ya sudah lah. Siapapun yang sudah mengutus mu, aku sungguh ingin mengucapkan terima kasih ku untuk pertolongan nya.."
Anis menjeda kalimatnya sejenak.
"..untuk mu juga, Kak.. terima kasih sudah menolong kami!" Tutur Anis tanpa menatap mata Rey.
Rey pun tersenyum simpul saat melihat perubahan nada bicara Gadis di depan nya tiu. Ia hanya mengedikkan bahu nya sekali. Lalu kembali melangkah mendekati Hinata.
"Permisi, Nona. Ijinkan saya membawa Anda ke mobil," tutur Rey dengan sikap sopan.
Hinata mengangguk. Ia membiarkan Rey membopong tubuhnya ala bridal style. Sementara ekor matanya sempat kembali melirik ke tubuh Mike yang masih juga tak sadarkan diri di lantai.
Bertiga dengan Anis dan juga Rey, Hinata pun kini menuju mobil yang sudah menunggunya di depan apartemen.
***
__ADS_1