Savage

Savage
Melawan Pemerintah


__ADS_3

“Aku sendiri tak yakin dengan jalan pikiranku sendiri. Mungkin hanya mereka yang bisa menyibak siapa diriku sebenarnya, disaat aku sendiri tak tahu jawabannya”


– Misaki –


 


Yuuji menghela napas melihat musuhnya masih saja ada yang berdiri kokoh, Yato.


“Kamu, kuat juga rupanya. Natsumi, biarkan aku yang akan menggantikanmu. Skill woodboot! Hitori, bantu Misaki,” perintah Yuuji.


Hitori menuju luar ruangan berniat membantu Misaki. Tanpa diduga, di setiap ruangan dijaga oleh dua yakuza dengan badan kekar dan senjata lengkap. Hitori kebingungan dan tak bisa keluar dengan mudah dari gedung itu.


“Skill focus dan gun!” Mata Hitori layaknya mata panah, siap menembakkan peluru dari tangannya. Dua yakuza di jalan keluar pertama tewas dengan mudah.


Sementara di luar, Misaki harus berjuang sendirian. Dia ragu menggunakan skillnya sebab umur yang tersisa tinggal tiga bulan saja. Tetapi melihat teman-temannya yang gugur, kekuatannya kembali membara. Matanya merah menyala dengan air merah kehitam\-hitaman pekat di sekelilingnya.


“Skill defense! Skill fireboot! Skill flyboot!” Misaki menyerang dengan brutal.


Setiap Misaki mengaktifkan skillnya, dadanya sesak dan tubuhnya serasa ditusuk\-tusuk. Umurnya berkurang 15 hari akibat dia mengaktifkan tiga skill sekaligus.


“Batalion dua, tembak sekarang!” ketua prajurit memerintah.


“Dimengerti!”


Dari ujung pandangan Misaki, meluncur sejumlah cahaya yang berpendar. Tembakan demi tembakan mengejarnya. Peluru demi peluru mencoba menembus dinding pertahanan Misaki. Tapi semuanya percuma, seluruh peluru terpental.


Misaki terbang tinggi, sangat tinggi dan menyerang dengan skill fireboot tanpa terduga-duga. Pasukan yang lemah akhirnya dapat dikalahkan dengan sekali serangan. Misaki kembali mencabut nyawa manusia, umurnya kian bertambah. Sisa umurnya tersisa lima bulan hanya dengan membunuh delapan prajurit.


Misaki mendongak ke atas, burung camar mulai berpencar mencari makan. Senja kian cantik menghiasi langit di angkasa. Kepala Misaki terasa berat. Pandangannya kabur. Sesekali dia melihat sosok laki-laki dan perempuan yang sebaya dengannya.


“Si-siapa mereka? Mengapa mereka selalu hadir di pikiranku? Buku!”

__ADS_1


Misaki meraih buku ajaib di balik jubahnya. “Apakah kamu tahu di mana orang yang aku rindukan?”


“Ada di dalam salah satu truk prajurit. Mereka menjadi tawanan sebagai antisipasi jika kamu tidak mau tunduk,” buku ajaib itu menjawab pertanyaan Misaki secara detail, seakan dia mengetahui tentang dunia dan seisinya.


Hari mulai gelap, sementara Yuuji dan Natsumi tengah kewalahan menangani Yato. Dia begitu lincah dan berhasil menghindari setiap serangan yang dilancarkan Yuuji dan lainnya.


“Kenapa kamu hanya menghindar? Lawan kami!” Natsumi berseru.


“Aku tak tertarik dengan kalian. Aku hanya tertarik dengan si cantik yang ada di luar sana,” Yato terkekeh.


Mengapa dia begitu marah mengetahui kedua orang dalam mimpinya tersekap? Misaki tertegun dengan pikirannya sendiri. Hening, tiba-tiba saja panah mengarah pada Misaki. Namun lagi-lagi terpantul.


Geram. Misaki mengepalkan tangannya, lalu mengeluarkan api yang lebih besar dari kedua teapak tangannya. Dia menukik ke bawah dengan kecepatan penuh dan mencari truk yang paling mungkin menyekap seseorang.


“Mungkinkah ini?”


Misaki mendobrak dengan paksa pintu truk besar di depannya.


“Kalian mengganggu! Fireboot!” kali ini api yang dikeluarkan Misaki lebih besar dari biasanya. Tujuh prajurit gugur.


Satu prajurit masih tersisa. Dia siap menembak Misaki dengan senapan di tangannya. Senapan dengan peluru sekuat baja, mampu menembus dinding tank. Prajurit yang telihat masih begitu muda itu menarik pelatuk senapannya dan fokus ke jantung Misaki.


Peluru melaju dengan cepat ke arah Misaki.


Peluru itu berhasil mengenai dinding pertahanan Misaki. Retak. Misaki tersontak tak percaya, dinding pertahanan yang berhasil melindunginya selama ini bisa hancur dalam sekali serang.


Prajurit tangguh itu begitu lelah dan takut menatap Misaki. Matanya nanar ketika terjadi kontak mata dengan Misaki. Dia melihat pandangan Misaki sayu dan seakan tengah putus asa.


“Tolong, selamatkan dua orang yang kalian tahan. Mereka tak bersalah. Jika kalian ingin membunuhku, maka bunuhlah! Jangan libatkan mereka berdua,” Misaki menatap nanar.


“Ba-bagaimana kamu bisa sebegitu peduli dengan mereka?” prajurit muda itu merasa tak tega setiap melihat seorang wanita menangis.

__ADS_1


“Aku tidak tahu, aku sendiri tak yakin dengan jalan pikiranku sendiri. Mungkin hanya mereka yang bisa menyibak siapa diriku sebenarnya, disaat aku sendiri tak tahu jawabannya,” Misaki membujuk, “tolong selamatkan mereka, dan sampaikan pertanyaanku. Mengapa mereka selalu muncul dalam pikiranku?”


Prajurit muda itu tak mau mendengarkan ucapan Misaki, dia khawatir Misaki hanya menyangkal. Dia justru menembak Misaki dengan senapan yang sama.


“Skill slow motion!”


Peluru muntah dari peraduannya, menyembul keluar siap membidik kepala Misaki. Dengan keadaan terdesak, dia berhasil mengaktifkan skill slow motion miliknya dan memperlambat gerakan peluru. Misaki melesat ke arah kiri dan mendekat ke telinga Prajurit muda di depannya.


“Kamu boleh tak mempercayaiku. Untuk itu, silahkan kamu periksa mereka berdua, tanyakan pada mereka, apakah mereka mengenalku? Tolonglah, hanya kamu yang bisa. Aku harus menemukan jati diriku sebelum GAS ini menelan jiwaku dan mengendalikan tubuhku. Entah mengapa, atmosfer di truk ini memintaku untuk percaya padamu, kamu terlihat begitu baik. Aku harus pergi,” ujar Misaki sembari melangkahkan kakinya.


Dia menepukkan tangan satu kali, slow motion berakhir. Misaki terbang ke langit, meninggalkan pasukan pemerintah.


 


“Yuuji!” Misaki berteriak.


“Akhirnya kamu muncul juga. Aku hampir membunuh teman-temanmu, lho.”


Misaki naik pitam. Matanya memerah, aura hitam kemerah-merahan mencuat keluar. Seiring Misaki yang semaik kuat, aura dalam tubuhnya berubah menjadi hitam.


“Skill fireboo ...,”


Belum sempat mengucap pengaktifan skill, mulut Misaki dibungkam. Yuuji tak ingin mendengar Misaki mengaktifkan skillnya lagi.


“Jangan, Misaki. Hari ini kamu begitu lelah, jangan sampai umurmu terbuang sia\-sia. Ingat, kamu masih ada urusan lain, ‘kan? Jati dirimu ... adalah yang terpenting sekarang,” Yuuji menasihatinya.


Misaki hanya terdiam, dia kembali mengingat masa lalunya. Entah dari mana, memori\-memori itu terngiang-ngiang, membentuk bayangan kusam dalam otaknya.


“Yuuji, meskipun aku harus mati, jika itu berarti melindungi teman-temanku, tak apa. Apa pentingnya umur, apa pentingnya hidup jika aku tak bisa melindungi orang-orang yang berharga dalam hidupku? Aku hanya ingin, semua orang bahagia,” Misaki mencoba mengelak.


“Skill time pause!”

__ADS_1


“Hahaha, kamu benar-benar tidak punya otak, ya? Kamu lupa, dulu kita pernah bertarung di gang sana,” Yato menunjuk sebuah gang kecil, sepi, nan gelap, “kamu pernah mengaktifkan skill yang baru didapat dari pacarmu, dan itu ... sama sekali tak berpengaruh bagiku. Karena aku adalah pengguna time pause!”


__ADS_2