Savage

Savage
Badai Salju


__ADS_3

Misaki memasukkan sebagian tubuhnya ke dalam bak mandi, perlahan, sampai seluruhnya tersapu air. Hawa dingin menusuk, segar. Dia melamunkan rencananya melawan permainan dewa yang baginya terlalu konyol.


“Sayang, ada temanmu di bawah,” ucap mamanya di balik pintu kamar mandi.


Misaki bergegas menyelesaikan pemandiannya. Dia mengangkat kakinya yang masih penuh dengan busa sabun, menggapai tombol shower dan membilas diri.


Sepuluh menit berlalu, Misaki keluar dengan baju mandinya dengan rambut basah menjuntai. Suara percikan air dari rambutnya terdengar jelas. Tak ada suara dari teman-temannya. Memang tak ada siapapun.


“Mama! Mana teman-temanku? Katanya di sini?” tanya Misaki heran.


Derap kaki turun dari tangga mengagetkan Misaki. Tak ada siapapun. suasana rumah begitu sunyi, bahkan suara mamanya pun sama sekali tak terdengar.


“Mama!”


Langkah itu semakin mendekat, namun tak ada siapa-siapa. Vas bunga di meja terjatuh sendiri, terbanting ke lantai. Foto-foto di dinding berhamburan. Misaki ketakutan.


“Skill sho–“ Misaki teringat, umurnya hanya tersisa 19 hari. Dia tak bisa menggunakan kekuatannya sembarangan.


Desahan napas terasa di belakangnya. Spontan Misaki menggunakan tangannya, gaya memukul.


“Aaaww!” teriak seseorang.


“Siapa di sana?”


Misaki panik. Tak ada siapapun, tapi suara itu jelas terdengar. Walaupun dia baru saja sembuh, namun telinganya tak mengalami cidera apapun.


“Dia pasti menggunakan kekuatan transparan. Tapi siapa yang punya? Bukannya itu kekuatan baruku, ya?” katanya dalam hati.


Misaki mengangkat tangannya, menelusuri tiap udara di depannya. Dia tak bisa merasakan apapun. Beberapa menit berlalu, tangannya meraih sesuatu, mirip tangan manusia. Matanya melirik, dia hanya memegang udara hampa.


“Ini aku, Misaki.”


Dia begitu mengenal suara itu, Hiroshi. Tak ada satu orang yang dia kenal yang memiliki suara serak basah seksi kecuali Hiroshi. Perlahan, tubuh Hiroshi terlihat, tepat di depan Misaki dengan tangannya yang masih digandeng hangat.


“Hiro! Kamu ingin membunuhku, hah?” katan Misaki melotop, menatap mata Hiroshi tajam. Tangannya dilepaskan, sementara Hiroshi menyeringai.


“Jaga ucapanmu, nanti teman-teman yang lain pada bangun,” Hiroshi berbisik.


Misaki menghela napas dalam-dalam. Pertama kenal Hiroshi pun dia hampir mati akibat ulahnya yang agak aneh dan mesum.


“Jadi ..., jika aku teriak seperti ini lalu apa!” teriak Misaki.

__ADS_1


Dia tertawa melihat wajah Hiroshi panik dan berusaha membungkam mulut Misaki. Namun dia berhasil menghindar. Terjadi kejar-kejaran, rumah dengan banyak penghuni itu serasa milik mereka saja.


“Awas kamu, gadis kecil!”


“Hahaha, coba saja tangkap!” Misaki tertawa menghadap Hiroshi yang belum berhasil mengejarnya.


“Misaki, awas!”


Hiroshi berlari menggapai tubuh Misaki yang terjatuh. Misaki berhasil ditangkap dan terjatuh ke sofa. Beberapa menit berlalu, adu pandang mata.


“Aki.”


“I-iya, Hiro.”


Hiro menatap Misaki tulus. Wajahnya mendekat dan terus mendekat, sampai hanya berkisar lima senti antara mereka.


“Woy woy, Hiro!”


Gelegar suara itu bagai angin panas yang mengalir di atas salju. Melelehkan, mengagetkan. Sontak Misaki mendorong tubuh Hiroshi di atasnya sampai dia terjatuh.


“Kurang ajar kamu! Berani kamu gunakan time pause untuk pacaran!” Yato murka. Dia menyeret langkah kakinya ke arah Hiroshi. Kerah bajunya di tarik kuat-kuat, matanya menatap tajam Hiroshi yang berani menyentuh adik kesayangannya.


Hiroshi menahan napas. Lehernya tercekik.


Seluruh tatapan mata tertuju pada Misaki. Bajunya mulai basah terkena rintik hujan dari rambutnya. Dia malu dan menutup dirinya dengan kedua tangannya.


“A-aku, ganti baju dulu. Ingat, jangan bertengkar lagi. Atau kubunuh kalian semua!” Misaki berlalu dengan kepala tertunduk, wajahnya memerah.


Derap langkah kakinya menjauh, menaiki tiap tangga. Sementara yang lain menunggu di ruang tamu.


Beberapa menit berlalu, “aduh, Misaki mana?” Hiroshi tak sabar menanti pujaan hatinya.


Seketika hening, mata mereka melirik ke arah anak tangga.


“Hai teman-teman. Maaf telah membuat kalian menunggu lama,” ujarnya.


“Jadi, apa yang mau kamu bicarakan, Aki?” tanya Yato.


Suara gebrakan pintu, tim Warped telah tiba. Semua berkumpul, Misaki berdiri di depan teman-temannya.


“Teman-teman, aku minta tolong. Tolong pinjamkan kekuatan kalian sekali lagi, jangan biarkan aku mnyelesaikan perminan ini sendirian.”

__ADS_1


Yukine mengerutkan dahi sembari sesekali menghela napas. “Kita adalah teman, ingat? Tanpa diminta pun kita tak akan membiarkanmu berjuang sendirian, bermain dengan dunia parah ini. Kamu butuh seseorang jika ingin berhasil. Karena, berjuang sendirian sama halnya dengan mencari kekalahan,” ujar Yukine.


Mereka tersenyum mendengar kata yang dilontarkan Yukine. Misaki memperhatikan mereka. Senyum di bibirnya merekah.


“Yosh, telah diputuskan. Kita berdelapan akan ke markas dewa besok!” tegas Misaki.


Esoknya, salju turun lebat, tak membiarkan Misaki dan yang lainnya pergi begitu saja. Bersama dengan embusan angin kencang, badai di kota Tokyo tak kunjung reda.


“Bagaimana ini? Saljunya makin tebal,” ujar Natsumi.


Misaki menghela napas. Kakinya diangkat ke meja sembari merebahkan punggungnya pada bangku hijau di markas mereka, rumahnya sendiri.


“Tak usah khawatir. Bukankah hal seperti ini tak akan mematikan tekad kita melawan dewa aneh itu?” tanya Misaki menyemangati.


Hiroshi mendekati Misaki, duduk di sampingnya. Tangan kanannya diletakkan di jidat Misaki. Sementara Misaki terdiam dengan mimik wajah kebingungan. Tangannya meraih tangan Hiroshi dan membuangnya. Wajahnya merona layaknya udang rebus.


“A-apa yang kamu lakukan, Hiro?” tanya Misaki.


“Apakah kamu sakit? Kita memang punya kekuatan besar, tetapi kita tak bisa melawan kekuatan alam. Markas dewa, bukankah letaknya di atas bukit Himalaya?”


Misaki membenarkna posisi duduknya. Kakinya diturunkan, dia berdiri. Matanya menyisiri seluruh tatapan teman-temannya.


“Jadi maksudnya kita tak bisa berangkat di musim salju ini? Begitu?” ujar Misaki heran.


Yato ikut berdiri, dia menatap wajah adiknya. Tergambar jelas rasa kecewa yang dipancarkan dari mata Misaki. Dia menggapai pundak Misaki, menepuknya dengan lembut.


“Adikku, kita masih bisa melakukannya besok atau lusa. Lihatlah, badai makin kencang,” ujar Yato menunjuk kaca jendela.


Misaki membanting tangan Yato dari pundaknya. “Jika kalian takut, aku bisa pergi sendiri!”


Beberapa detik berlalu, begitu pula dengan derap langkah kaki Misaki yang kian menghilang. Suara bantingan pintu terdengar sangat keras. Suasana makin mencengkram setelah suara Misaki ditelan badai.


“Aku akan menyusulnya!” Hiroshi berteriak lantang.


“Woy, Hiro! Kekuatanmu time pause, kamu tak akan bisa membawa Misaki kembali. Biar aku saja,” ujar Yuuji mengajukan diri.


Hening. Suara embusan badai dari celah-celah jendela menampar wajah Yukine lembut, berhasil membuatnya merinding dingin. Dia tak punya waktu memikirkan dingin yang diterimanya, Misaki, yang dia pikirkan hanya Misaki.


“Biar aku saja yang akan pergi,” Yukine memecah keheningan.


“Apa-apaan kamu, anak kecil!”

__ADS_1


“Hiro, kita seumuran, lho. Lagi pula aku punya kekuatan show, ingat? Aku bisa dengan mudah menemukan Misaki di tengan tebalnya badai salju,” Yukine meyakinkan rekan-rekannya.


Mereka saling menatap, lalu mengangguk. Seluruh tim setuju, kecuali Hiroshi. Dia tertunduk khawatir dengan keadaan Misaki. Namun dia sadar, tak ada yang bisa dilakukannya saat ini.


__ADS_2