Savage

Savage
Siapa Aku?


__ADS_3

“Jika nyawamu harus melayang demi melindungi orang-orang yang berharga bagiku, walau tanganku harus kotor dengan darah dan dosa, aku tak peduli!”


– Misaki –


 


“Pagi, Misaki. Ingat, hari ini kita kerja kelompok, ya,” sapa Mitsuha.


“Oh, iya. Nanti kita kerja kelompok di mana?” tanya Misaki.


“Bagaimana jika kita meneliti hutan Okigahara? Di sana seram, lho. Hahaha pasti kamu takut, ‘kan?” ledek Mitsuha.


Misaki menyeringai. Dia berdiri dari bangku kayu yang sedari tadi didudukinya. Wajah menakutkannya ditujukkan pada Mitsuha seperti biasa.


“Siapa bilang? Hutan Okigahara, ya. Sesuai dengan tugas kita. Kita bisa meneliti banyak tumbuhan langka di sana. Sudah diputuskan, besok kita ke sana.”


Umur, salah satu unsur kehidupan manusia yang sangat penting. Terutama bagi Misaki, dia memiliki kekuatan supranatural, bisa melihat sisa umur manusia adalah kemampuannya. Dia bisa melihat sisa umur dirinya sendiri dan umur orang-orang di sekitarnya. Bagi Misaki, kehidupan sangat penting, sehingga apapun akan dilakukan untuk mendapatkan sisa kehidupan yang lama.


Sepulang dari kampus, Misaki menatap ke cermin. Betapa kagetnya dia, sisa umurnya sangat tipis. Mata memerah seperti api, tanda dia tengah menggunakan kekuatan miliknya untuk melihat sisa umur. Dia menatap cermin tajam-tajam. Rasa khawatir dan takut terpancar jelas dari muka pucat pasinya.


“Nama: Misaki Yagami, Sisa Umur: Tujuh Hari”


 


Misaki membuka mata merahnya lebar-lebar. “Apa yang terjadi padaku?” dia begitu kaget dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Mataku, merah?” Misaki perlahan mendekat ke arah cermin, membelai bayangannya yang lebih mirip dengan iblis. “Tujuh hari? A-apa itu benar?” Pandangannya sangat tajam sampai air mata mulai meleleh dari kelopak matanya. Mentalnya mulai terganggu. Antara kaget, shock, panik, dan takut, dia memecahkan cermin dengan kedua tangannya sampai berdarah.

__ADS_1


 


“Aku tidak mau melihat ini! Umurku masih panjang!”


“Ada apa, sayang?” teriak mamanya dari bawah. Namun Misaki masih bungkam. Dia masih tak percaya dengan apa yang dia miliki.


 


Seharian Misaki melamun, dia takut jika apa yang dilihatnya benar-benar nyata, bagaimana jika sisa umurnya tinggal tujuh hari lagi? Pikiran itu terus saja menghantui otaknya, sampai tertidur. Dalam mimpinya, Misaki melihat dirinya mulai tenggelam dalam dunia liar yang mengubahnya menjadi monster. Dalam mimpinya, dia membunuh banyak orang demi mendapatkan umur tambahan. Tubuhnya bersimbah darah dari orang yang dia bunuh. Dan ketika dia menatap cermin, umurnya bertambah tujuh hari.


Misaki terbangun dari mimpi burukya dengan tubuh penuh keringat.


“Mimpi apa aku? Aku tidak mungkin membunuh orang hanya demi umur! Tidaaak!!!” Teriakan Misaki mengundang mamanya datang ke kamar.


“Ada apa, sayang?” tanya mamanya. Dia memeluk Misaki, membelai rambutnya pelan.


 


“Ma, bagaimana jika Aki sebentar lagi mati? Siapa yang akan melindungi Mama?” Misaki masih saja gemetar.


“Bicara apa kamu! Sudah, kamu tidur lagi saja, Mama akan menjagamu di sini,” ujar mamanya menenangkan.


Misaki memejamkan matanya sekali lagi, namun dia masih terbayang\-bayang dengan mimpi yang baru saja mengunjungi tidurnya. Misaki berada di titik ketakutan tertinggi.


 

__ADS_1


Suara mamanya membuat Misaki tenang, sampai akhirnya dia tertidur kembali. Pada tidur kedua, dia tidak melihat mimpi itu lagi.


Paginya, Misaki siap-siap pergi bersama Mitsuha ke hutan Okigahara. Mitsuha janji akan menjemput Misaki jam sembilan pagi. Namun sampai jam sepuluh dia tidak kunjung datang.


 


“Mitsuha kemana, sih?” gerutu Misaki. Dia begitu kesal jika harus menunggu. Namun tak ada pilihan lain, dia harus lebih bersabar.


“Selamat pagi, Aki. Hehehe, aku lama, ya? Maaf membuatmu menunggu,” ucap Mitsuha sambil membungkukkan badannya khas orang Jepang.


“Tidak usah lebay, Mitsuha. Ayo kita berangkat.”


Mereka mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan seperti tali untuk jejak, bendera, makanan, bahkan tikar dan tenda. Mereka khawatir kalau harus menginap sebab jalan yang dilalui tidak mudah.


“Hei, Aki. Kamu jangan sampai bunuh diri, ya. Aku tahu hidupmu buruk, pendiam, tidak punya teman, jelek, tapi kamu masih punya aku, sahabat terbaikmu,” kata Mitsuha membuka pembicaraan. Sedari perjalanan, suasana sangat mencekam.


“Kamu ngomong apa, Mitsuha? Aku adalah wonder strong. Ingat itu, ya,” jawab Misaki enteng, “tapi bagaimana jika aku mulai tidak tahan dengan kondisi tubuhku? Bagaimana jika kita berhasil melalui hutan mengerikan itu, namun beberapa hari kemudian kita mati?” Obrolan mulai menyeramkan.


Mitsuha tidak bisa menjawab, dia terdiam sebentar. “Kita adalah kita. Tidak ada yang tahu kapan kita mati, ‘kan? Tapi setidaknya kita bisa menikmati hidup ini selagi bisa.”


Tepat pukul dua siang, mereka sampai di hutan Okigahara. Dari luar, hutan tersebut terlihat begitu gelap, lebat, sunyi, dan menyeramkan. Namun di balik itu semua, mereka mempunyai tujuan yang harus didapatkan.


“Mitsuha, jika kita berhasil mendapatkan sampel tumbuhan yang langka, nilai kita A. Jadi bagaimana, kamu siap?” Mata Misaki menatap tajam ke arah Mitsuha dan menunjuk hutan paling angker sedunia.


“Kalau aku yes.”

__ADS_1


 


__ADS_2