Savage

Savage
Awal Mula Perpisahan


__ADS_3

Setelah kembali ke bumi, canda tawa mereka kembali merekah. Tak ada yang perlu ditakutkan lagi, karena dewa itu ada di samping mereka.


“A-ada apa? Kurang ajar sekali kalian memandang aku, sang dewa dengan pandangan sombong!” ujar sang dewa dengan nada malu-malu.


Misaki mendekat, mengelus-elus kepalanya. Misaki menganggapnya seperti seorang adik, ukuran tubuhnya seperti anak SMA.


“Jadi, siapa nama kamu, dewaku?” tanya Misaki lembut.


“D-Dewa.”


“Woy, Aki sudah baik padamu, seharusnya kamu menjawabnya dengan benar! Dasar keras kepala!” Hiroshi naik pitam, “memang seharusnya kubunuh kamu waktu itu, menyebalkan!”


Dewa menghampiri Hiroshi dengan mata merah menyala dan aura mematikan.


“Memangnya salahku apa? Aku sudah menjawabnya dengan benar, nama asliku memang Dewa!”


Sementara yang lainnya memandang mereka, lalu tertawa bersama-sama. Hiroshi selalu bisa membuat suasana tegang berubah menjadi menyenangkan.


“Dewa, mengapa kamu melakukan semua ini? Bukankah kamu masih kecil? Dimana orang tuamu, dan bagaimana kamu bisa melakukan semua ini?” tanya Yato.


Tak ada jawaban, Dewa tertunduk, raut mukanya berubah. Sedih, takut, bingung, Misaki melihatnya dengan jelas.


“Kakak, hentikan. Dia tak bisa menjawab pertanyaanmu sekaligus. Ini bukan job interview. Pertanyaan alay,” ujarnya.


Hiroshi menyeringai ke arah Yato. Dendamnya terbalaskan ketika kata alay terlontarkan. Mereka masuk ke rumah Misaki, mamanya telah menyediakan berbagai makanan untuk menyambut kemenangan mereka.


“Anak-anak, silahkan duduk. Makanlah ini semua, kalian pasti capek,” ujar mamanya Misaki.


Mereka duduk di bangku hijau, tempat biasa mereka nongkrong, mengobrolkan hal yang sangat penting sampai yang paling tidak penting. Dan di tempat itulah mereka menjalin sebuah ikatan.

__ADS_1


“Jadi, apakah kalian berhasil mengalahkan dewa itu?” tanya mamanya.


Mereka saling bertatapan, lalu menatap Dewa bersamaan. Dewa yang tengan asyik menyruput jus jeruknya tak mempedulikan mereka, anak yang polos.


“Itu dewanya, Ma,” ujar Misaki menunjuk Dewa.


Sontak hal itu membuat mamanya kaget. Nampan yang ada di tangannya terjatuh, dia lemas lunglai. Dewa memandang mamanya Misaki dan menghentikan minumnya.


“Jadi ... kamu yang telah membunuh suamiku?” tanya mama Misaki penuh harap semoga bukan dia.


“Aku tak membunuhnya. Kejadian itu berlalu begitu lama. Dia yang datang dan ingin mengalahkanku dan meggunakan banyak skill yang tentu saja menguras sisa umurnya. Dia sendiri yang mematikan dirinya,” ujar Dewa tenang.


Misaki tak tahan dengan ucapan Dewa, dia menghampirinya dan berdiri tepat di depannya. Dewa mendongak, menatap Misaki.


Plaakk!!!


Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipinya.


Misaki berlari menuju kamarnya dan mengunci diri. Teman-temannya menatap Dewa dengan penuh kebencian.


“Memangnya aku salah apa?” tanya Dewa.


“Kamu tahu, Misaki adalah penyelamatmu. Andai saja dulu dia tidak menghalangiku, kamu sudah kubunuh,” ujar Hiroshi, “dan aku yakin, dia pasti sekarang menyesali keputusan konyolnya.”


Hiroshi berlalu, menghampiri kamar Misaki, disusul dengan teman-temannya. Di ruang besar itu tersisa mamanya Misaki dan Dewa.


“Kenapa? Kenapa kamu melakukan semua tindakan konyol ini, menghancurkan keseimbangan bumi? Tidakkah kamu merasa bersalah atas setiap nyawa yang melayang akibat permainan bodohmu ini?”


Dewa hanya menghela napas dan memperbaiki posisi duduknya. Jarinya diketuk-ketukkan pada pahanya.

__ADS_1


“Akan kuceritakan semuanya, setelah anakmu mau menerimaku dan tak lagi membenciku. Terkadang seorang protagonis akan dianggap sebagai pemeran antagonis jika mereka mengambil cara pandang yang salah,” ujar Dewa.


Mama Misaki mendongak, dan berdiri. Dia menyeka air mata yang sempat mengalir deras di pipinya.


“Baiklah, aku akan menunggu anakku menerimamu. Dia anak yang baik, hatinya mungkin dipenuhi jiwa-jiwa murka, namun dia tetaplah Misaki, anak gadis yang lahir dari rahimku. Aku tahu dia akan memaafkanmu,” ucapnya lalu pergi menemui anaknya.


Beberapa jam berlalu tanpa permisi, Yuuji dan kawan-kawannya menunggu Misaki di depan pintu kamarnya sampai tertidur. Misaki membuka pintu, dan Hiroshi yang menyandarkan tubuhnya di daun pintu pun terbangung.


“Aki, kamu tak apa-apa? Mana yang sakit?” kata Hiroshi khawatir.


Misaki menggandeng tangan Hiroshi, menaruhnya di hatinya, “Sakitnya itu di sini,” ujar Misaki.


Hiroshi merasakan detak jantung Misaki. Dia sangat terpukul dengan ucapan Dewa. Hiroshi bangkit dan hendak pergi menemui Dewa. Tangannya ditarik, Misaki tak menggeleng-gelengkan kepala tanda tak menyetujuinya.


“Ada apa ribut-ribut? Aki! Kamu sudah keluar? Syukurlah,” teriak Mitsuha.


Satu per satu teman-temannya terbangun, waktu menunjukkan pukul 03.00 AM.


“Sebenarnya aku keluar karena lapar, bukankah kita belum sempat makan?” tanya Misaki.


Suara perut keroncongan mulai bersahutan. Saatnya bagi mereka mengisi energi yang hilang. Saat mereka sampai di ruang makan, mereka melihat Dewa tengah makan sendirian, di bawah sinar rembulan.


“Aku jadi tak nafsu makan,” ujar Yukine dan membalikkan badannya.


Langkah kakinya dihentikan Misaki. Dia menatapnya, Misaki menganggukkan kepalanya.


“Apa?” tanya Yukine.


“Aduh aku lupa, Yuki mana tahu kode-kode, dia kan bodoh,” ujar Misaki. “Maksudnya, ayo kita makan bersama Dewa. Ini semua masalahku, jangan sampai kalian membencinya juga karena aku.”

__ADS_1


“Apa? Bodoh?” Yukine tertunduk, dia sudah terbiasa mendengar kata bodoh dari mulut Misaki. Baginya, ucapan bodoh adalah tanda kasih sayangnya.


__ADS_2