Savage

Savage
Menuju Akhir


__ADS_3

“Dewa, memang tak punya teman rasanya sangat menyakitkan dan kesepian. Aku pernah punya teman, namun beberapa bulan dia pergi meninggalkanku. Bukankah sebaiknya kita tak punya teman saja?” ujar Yuuji.


Yukine menepuk pundak Yuuji, dia tersenyum.


“Tapi sekarang kamu tak sendirian lagi, ada kami semua di sini, besama-sama. Karena kita adalah keluarga, ingat?” kata Yukine menguatkan.


“Lalu, Dewa, apakah kamu melakukan semua ini untuk menghilangkan rasa kesepianmu?” tanya Misaki.


Dewa mengangguk. Dia tertunduk, wajahnya murung. Dia siap jika siapa pun membencinya, sama seperti kesiapan ayahnya menghadapi kebencian semua orang.


“Lalu, bagaimana kami punya kekuatan Megan ini? Dan bagaimana GAS ada di dalam tubuh kami?” tanya Natsumi yang sedari tadi diam.


Dewa mengedipkan matanya, membuang air mata yang menghalau pandangannya.


“Sejak ibuku meninggal karena sisa umurnya habis, ayah menyebarkannya ke seluruh dunia, dan salah satu yang menerima GAS itu adalah kedua sahabatnya,” jelas Dewa melirikkan matanya ke arah foto yang masih dipegang mamanya Misaki. “Aku siap jika kalian ingin membunuhku. Tak ada gunanya lagi aku hidup, saat aku tak punya siapapun.”


“Rupanya seperti itu, hebat sekali ayahmu. Beliau bisa membuat sesuatu yang sangat luar biasa, bahkan bisa mengubah tatanan dunia,” kata Yukine.


Misaki mengetukkan jari-jarinya ke meja, dia melamun dan raut wajahnya seperti seseorang yang tengah berpikir keras.


“Kamu kenapa, Aki?” tanya Hiroshi.


Senggolan Hiroshi mengagetkan Misaki.


“Ah, tak apa-apa. Aku hanya punya beberapa pertanyaan yang mungkin tak ada jawabannya.”


Mendengar ucapan Misaki, Dewa berhenti bernapas. Detak jantungnya semakin cepat. Dia melirik ke arah Misaki.


“Apakah kamu mau membunuhku?” tanya Dewa ketakutan.


“Hahaha, apakah aku bisa membunuh orang sekuat dirimu? Kamu ingat pertaruhan kita kemarin? Bukankah untuk mendorongmu mundur saja, butuh banyak tenaga yang harus kukeluarkan.”

__ADS_1


Dewa menghela napas lega.


“Aku ingin mengembalikan tatanan dunia yang makin kacau ini. Dewa, apakah ada cara untuk menghentikan permainanmu? Atau hanya ada satu cara, yaitu ... membunuhmu?” tanya Misaki dengan tatapan tajam, lalu terkekeh melihat wajah Dewa yang ketakutan.


Misaki mengambil air putih dan meminumnya agar otaknya kembali bekerja. Dia melihat wajahnya memantul dari air putih. Misaki menyeringai, ide berhasil dia tangkap.


“Hei, bukankah seharusnya kita menangkap seluruh Megan dan memakan jiwa-jiwanya?” tanya Misaki.


“Bagaimana cara kita mengetahui tempat mereka? Dunia ini luas, Aki?” tanya Hitori polos.


Seketika hening. Mereka berdelapan menatap Dewa. Hanya dia yang tahu tempat para Megan berada.


“Ada apa?”


Dewa mengangkat alisnya.


“Baiklah baiklah, aku bisa menunjukkan para Megan itu pada kalian. Tapi sebelum itu, ada banyak hal yang harus kalian lakukan, besok,” ujar Dewa.


Esoknya, Yato berdiri mematung dengan wajah geram.


Dewa tersenyum. Dia sengan melihat mereka melakukan apa yang dia inginkan, menjadi sebuah keluarga yang bahagia, kecuali Yato dan Hitori yang menjadi pohon di depan rumah.


“Dewa, sini sebentar,” ucap Misaki yang berperan sebagai kakaknya.


Dewa mendekat. Dia tertawa gembira. Baru kali ini dia bisa bermain dengan semua orang. Selama ini, dia hanya berdiam diri di dunia kedua dan memperhatikan para pemainnya bersenang-senang.


“Kak, terimakasih, ya. Walau hanya sebentar, suasana ini benar-benar membuatku senang. Aku janji, setelah semua permainanku benar-benar berakhir, aku akan pergi sejauh mungkin dari kehidupan kalian,” ujar Dewa.


Misaki menepuk-nepuk kepala Dewa.


“Aduh, Kak Misaki sudah berapa kali menepuk-nepuk kepalaku sejak kita bertemu?” tanya Dewa ketus. Wajahnya merona.

__ADS_1


Misaki membolak-balikkan tubuh Dewa.


“Kak? Ada apa? Kenapa tubuhku diputar-putar? Pusing tahu.”


“Hahaha, tubuhmu ini bagus juga, ya? Tidak ada satu anggota tubuh pun yang bisa Kakak tepuk-tepuk kecuali kepalamu, karena saat Kakak menepuk ataupun mengelus kepalamu, batinku terasa hangat. Jadi jangan protes, ya,” ujar Misaki mencubit hidup Dewa.


Mukanya memerah mendengar ucapan Misaki.


“Dewa, maukah kamu menjadi adikku? Hidup sendirian itu tidak enak, ‘kan? Kamu akan punya dua kakak, yaitu aku dan Yato. Dan mereka semua juga bisa kamu anggap kakakmu,” ucap Misaki.


Mereka menatap Dewa dengan senyuman tulus. Dewa terharu, air matanya kembali mengucur.


“Laki-laki cengeng,” kata Hiroshi.


“Semuanya, berkumpul sebentar!”


Misaki berteriak memanggil teman-temannya. Semuanya berkumpul.


“Besok, aku dan Dewa akan berangkat untuk menyelesaikan permainan yang diciptakan Dewa. Dan aku butuh satu bantuan lagi, yaitu kamu,” Misaki menunjuk Hiroshi.


“Haa? Kenapa dia, Aki? Bukankah dia begitu lemah?” Yato meledek. Dia masih dendam dengan Hiroshi.


Misaki menyeringai.


“Hiroshi itu bisa membangkitkan semangat seseorang, jika aku lemah dan merasa putus asa, aku yakin dia akan membuatku kembali berdiri. Lagi pula dia sudah memiliki semua kekuatanku, iya, ‘kan?”


Hiroshi mengangkat bahunya dan menatap Yato dengan tatapan penuh kemenangan. Yato geram, dia bersiap memukul Hiroshi, Yukine mencegahnya.


Hiroshi menyibakkan poninya, “Baiklah, akan kuturuti apa yang istriku ucapkan.”


“Menjijikkan!” ketus Dewa.

__ADS_1


Mamanya Misaki keluar dari dalam rumah membawa makanan ringan dan jus jeruk kesukaan teman-teman anaknya.


“Anak-anak, waktunya bersantai.”


__ADS_2