Savage

Savage
Era Hilangnya Megan


__ADS_3

Derap langkah kaki mereka memanjang, semakin cepat. Makanan yang disediakan seketika habis dilahap.


“Akhirnya aku bebas,” ujar Yato. Dia melepaskan baju mermaid yang dikenakannya.


Yato menuju meja, perutnya sudah kelaparan, para cacing demo meminta makan.


Sesampai di meja, matanya terbelalak mendapati semua makanan raib. Hanya tersisa piring-piring dengan sisa-sisa roti kering berserakang. Tangannya dibanting ke meja, mengagetkan Misaki dan yang lainnya.


“Mama, aku belum kebagian!” teriak Yato.


“Ambil sendiri, Yato. Kamu sudah besar!” balas mamanya dari dalam rumah.


Semuanya tertawa. Beberapa menit berlalu. Misaki membuka obrolan serius.


“Teman-teman, besok aku, Dewa, dan Hiroshi akan beraksi. Jadi, bolehkah aku memulainya hari ini dengan kalian?” tanya Misaki.


Yuuji mengangguk, Yukine mengangguk, semuanya mengangguk, kecuali Mitsuha. Dia menangis sejadi-jadinya.


“Ada apa, Mitsuha? Apakah kamu masih mau menderita dengan terikan kekuatan itu?”


“Bukan seperti itu, Aki. Aku hanya tak tega melihatmu kesakitan,” ujar Mitsuha menangis.

__ADS_1


Misaki memeluk Mitsuha. Dia merasakan kehangatan dari sahabatnya itu.


“Hei, Mitsuha. Kamu tahu aku, ‘kan? Aku ini kuat. Jadi, maukah kamu membantuku, membantu Dewa keluar dari rasa bersalahnya, dan mengembalikan dunia kita?”


Perlahan Mitsuha mengangguk.


Mereke berenam berkumpul. Misaki mengumpulkan seluruh kekuatannya. Hiroshi memegang tangannya, menghentikan Misaki.


“Misaki, bukankah aku bisa melakukannya juga? Bolehkah aku menggantikan rasa sakitmu?” tanya Hiroshi tak yakin.


Misaki tersenyum.


“Hiro, kamu memang lelaki hebat. Kamu bisa melakukannya. Coba saja, tapi rasa sakit yang akan kamu terima ...,”


Yato menatap mereka berdua. Walaupun dia membenci Hiroshi karena dia lebih kuat, asalkan adiknya bisa bersenyum, baginya itu lebih dari cukup.


“Skill complete!” Hiroshi memulai pembersihan.


Empat titik mencuat ke langit mengurung teman-temannya dan memaksa GAS keluar dari tubuh mereka. Hiroshi menutup matanya, dia takut dengan rasa sakit yang akan menggerogotinya.


Misaki memegang tangan Hiroshi erat, menguatkannya. GAS mulai keluar dan mengarah ke arah Hiroshi, memasuki tubuhnya. Rasa sakit menjalar di sekujur tubuh Hiroshi.

__ADS_1


“Hiro, betahanlah!”


Napas Hiroshi tersengal-sengal. Dia menahan rasa sakit, air mata meluncur bebas dari kelopak matanya.


“Hiro, sakit? Jika begitu, biarkan untuk kedepannya aku saja yang melakukan.”


Hiroshi bangkit dan memeluk Misaki lekat-lekat. Pundak Misaki basah oleh air mata Hiroshi.


“Maafkan aku, Aki. Selama ini aku tak pernah membantumu. Berapa banyak rasa sakit yang kamu alami selama ini? Setelah merasakan rasa sakit ini, aku justru semakin ingin membantumu, dan tak ingin kamu yang melakukannya.”


Misaki membalas pelukan Hiroshi.


“Hiro, bisa lepaskan aku? Teman-teman sudah mulai sadar.”


Hiroshi menatap teman-temannya, mereka terkekeh melihatnya menangis.


“Selalu saja melihat Hiro menangis. Dasar cengeng!” ketus Yato.


Hiroshi membiarkannya. Dia sangat lega bisa membantu Misaki, seseorang yang sangat berharga baginya.


“Nah, sekarang kalian tak punya kekuatan apapun. Jadi, tetaplah bersama untuk melindungi diri. Kami bertiga akan berangkat besok!” ujar Misaki diiringi Hiroshi di bagian kiri dan Dewa berada di samping kanannya.

__ADS_1


Langit mulai menunjukkan jati diri, perlahan takdir membawa dunia kembali pada ketiadaan dan kehampaan tanpa kekuatan menghancurkan. Bukankah saat seperti ini, bekerja sama adalah cara hidup orang normal?


__ADS_2