Savage

Savage
Misi Penyelamatan Dunia


__ADS_3

“Salah siapa aku mencintaimu? Tanpa pura-pura aku bahagia, tanpa sengaja pun aku terluka. Lantas, kenapa cinta harus ada jika hanya setengah? Ya, setengah bahagia dan setengahnya lagi terluka.”


Misaki menatap buku hitam miliknya, dia bimbang. Apakah buku ini harus ia kembalikan kepada pimiliknya, Yato?


“Buku, haruskah aku kembalikan kamu pada kakakku?”


“Tidak usah!”


Misaki menatap buku itu heran. Gaya bicaranya semakin hari semakin seperti manusia. Lagi pula, tak ada pengetahuan hebat selain dari manusia. Buku paling lengkap sekalipun, pembuatnya adalah manusia.


“Buku, apa kamu sebenarnya?”


“Pelayan dewa yang dibuang karena tidak berharga.”


Jawaban macam apa itu, Misaki semakin pusing dibuatnya. Tak ada yang masuk akal.


“Misaki, kami siap!”


Tim baru Misaki berhasil terbentuk. Dengan jubah hitam bergambar skill para Megan, mereka siap beraksi dimulai dari negara Jepang.


“Aki, bagaimana cara kita melacak Megan?” tanya Hiroshi.


“Dengan ini,” Misaki menunjuk matanya, “Skill show!”


Semakin bertambah kuat kemampuan Misaki, semakin kompleks pula skillnya. Kini peta Jepang tergambar jelas di matanya.


“Ayo, ikut denganku!”


Mereka memasuki distrik dua, Megan di sini berjumlah sembilan anak. Mereka harus mengumpulkan kesembilan Megan agar skill yang dikeluarkan Misaki tak begitu menguras tenaga.


Dengan kekuatan time pause, Hiroshi menghentikan waktu agar para Megan tak melarikan diri. Kebengisan Misaki telah tersebar, sehingga siapapun manusia yang merasa jahat akan lari dari kejarannya.


“Skill time pause!”


“Bagus Hiro,” Misaki mengedipkan matanya. Hanya mereka berdua yang dapat bergerak di tengah waktu yang berhenti.


“Skill waterboot!” Misaki mengurung mereka di tengah badai.


“Skill woodboot!” Yato mengambil tubuh mereka yang terperangkap.


“Skill slow motion!” Mitsuha mengaktifkan skill.


Kombinasi yang sempurna. Mereka berbagi rasa sakit. Dalam keadaan seperti itu, Misaki mendekati mereka dan dengan mudah mencabut kekuatan mereka.


Mata Misaki memerah, dia mengeluarkan aura hitam pekat dari tubuhnya.


“Tatap mataku. Dengan ini, kucabut kemampuan kalian!” Skill complete!”


Empat titik berkumpul menjulang ke langit, membentuk garis bercahaya yang mengurung Megan. GAS mulai keluar dari tubuh mereka hingga tersedot ke atas.


Operasi di distrik dua berhasil. Mereka melanjutkan pembasmian Megan ke distrik tiga.


“Misaki, umurmu ...,” Hiroshi kaget.


“Baru saja aku mengambil kekuatan mereka, jadi wajar jika umurku bertambah sembilan bulan,” tegas Misaki.

__ADS_1


Yato dan Mitsuha berjalan di belakang mereka. Di balik tawa mereka, Yato menyimpan sebuah rahasia besar.


“Kita sampai,” jelas Misaki. “Skill show!”


Misaki memeriksa keadaan distrik tiga. Di sebuah gang sempit terdapat empat Megan, di rumah makan ada dua, dan pinggir gedung kosong ada enam.


Mereka berpencar untuk segera mengumpulkan para Megan ke titik Misaki berdiri. Mitsuha berlari ke rumah makan. Seperti biasa, andalannya adalah slow motion. Dengan skill itu Mitsuha menyeret kedua Megan dan melumpuhkannya di depan Misaki.


Sementara Hiroshi kebagian Megan di sebuah gang. Dia menggunakan time pause untuk menghentikan mereka.


“Lagi-lagi skillku payah. Bagaimana aku membawa mereka jika sentuhanku bisa membuat dunia bergerak,” ujarnya kecewa pada diri sendiri.


“Perlu bantuan?” seorang wanita muda muncul dari balik rumah.


Seketika hening. Dia tak mengira sosok wanita cantik menawarkan diri membantu Hiroshi, seorang pengguna yang payah.


“Misaki, bagaimana bisa kamu di sini? Bukankah kamu bertugas mengawasi Megan yang sudah tertangkap?” tanya Hiroshi.


“Baik-baik. Lupakan saja. Sana lakukan sendiri! Apa yang akan kamu lakukan dengan kekuatan payahmu itu?”


Hiroshi mengangkat bahu. Senyumnya merekah. Tak ada alasan yang masuk akal jika dia menolak bantuan pacarnya. Dia menerima tawaran dari Misaki.


Yato berlari secepat kilat ke arah gedung kosong di pinggiran komplek kumuh. Kondisi lingkungan amat buruk. Listrik padam, preman memalak para penghuni lemah, serta kondisi gedung-gedung runtuh dan kebakaran.


“Ini pasti ulah para Megan!” ujarnya menebak-nebak.


Dia segera menuju para Megan. Tepat enam orang seperti kata Misaki. Selama beberapa menit Yato hanya memperhatikan mereka. Kontak mata terjadi.


“Hai, bos. Lama tak bertemu. Sepertinya sekarang bos sehat-sehat saja,” ujar salah satu Megan, mantan pelayan Yato.


“Bukankah kondisi distrik utama sudah tak layak huni untuk para Megan, Bos? Selain ancaman pemerintah, kita juga takut dengan Misaki, manusia monster itu,” ujarnya.


Yato terdiam. Dia tak tega menangkap mereka. Dia berniat melepaskan mereka sebelum Misaki mengetahuinya.


“Hei, kalian. Segera pergi dari sini sebelum ...,”


“Sebelum apa, kakakku?” Misaki muncul dari belakang Yato.


Merinding. Seluruh Megan dibuat takut dengan mata merah dan aura membunuh Misaki.


“Jangan grogi, ya. Aku akan melakukannya dengan cepat.”


Misaki berjalan perlahan ke arah mereka. Mereka berjalan mundur dan menatap Misaki dengan nanar sampai tersungkur ke belakang. Misaki semakin mendekat. Tatapan matanya membuat mereka menggigil ketakutan.


“Sudah, Aki. Lihat mereka ketakutan sampai ngompol,” Yato menghentikan kelakuan adiknya.


“Hahaha, ya ya. Hei kalian! Ikut aku, yuk.”


Tak ada pilihan lain. Mereka mengikuti Misaki dengan terpaksa. Tatapannya ke arah Yato.


“Hei, Bos. Tidak salah dia memanggilmu kakak?” tanya salah satu Megan.


Yato mengangguk. Dia menatap ke enam Megan itu dan tersenyum simpul seolah tak akan apa-apa.


Seluruh Megan berkumpul di satu tempat. Misaki mengurung mereka dengan skill defense miliknya. Para Megan kaget. Mereka menatap Misaki dengan mata yang berair. Misaki tak tega, dia tahu seperti apa rasanya sakit. Dia melangkah mendekati para Megan.

__ADS_1


“Kalian, maaf sebelumnya. Aku tahu rasa sakit yang akan kalian rasakan, karena aku pernah mengalaminya bahkan lebih,” dia menghela napas, “percayalah, setelah ini hidup kalian akan normal.”


“Skill complete!”


Empat skill mengurung para Megan. GAS yang meracuni pikiran mereka perlahan keluar. GAS itu ada yang berbentuk kabut, gumpalan hitam, sampai monster. Semua tergantung seberapa banyak mereka memberi tumbal pada GAS.


“Misaki, bertahanlah!” terika Yato.


Misaki terlihat lemah. Kekuatan mereka sangat besar, bahkan ada GAS yang mencapai bentuk monster. Itu artinya kekuatan mereka sangat kuat. Mata Misaki mengeluarkan darah. Kekuatannya terkuras habis, namun tetap memaksakan diri.


“Ayo kita salurkan kekuatan kita ke Misaki!” teriak Mitsuha.


“Bagaimana caranya?” Hiroshi mulai panik melihat kondisi Misaki drop.


Mitsuha mendekat. Dia mengarahkan skillnya ke arah Misaki. Tepat seperti dugaan, skill Misaki akan menerima skill yang sama. Hal ini bisa membuat kekuatannya kembali. Begitupun Yato dan Hiroshi.


“Misaki, bertahanlah!”


Dengan kekuatan penuh dan bantuan teman-temannya, Misaki berhasil mengeluarkan seluruh GAS dari tubuh para Megan. GAS itu mengarah ke Misaki dan terkurung di dalam tubuhnya.


“Terimakasih, teman-te ... man,” Misaki tersentak mendapati mereka tersungkur di tanah.” Apa yang terjadi?”


Misaki berlari. Dia mengguncang-guncang tubuh mereka. Kaku. Tak ada tanda kehidupan, bahkan aura mereka menghilang sama sekali. Dia mengambil buku ajaib untuk menanyakan apa yang terjadi.


“Skill iceboot!” Misaki menyayat kulitnya dengan es yang meruncing dan meneteskannya ke buku ajaib. “Apa yang terjadi dengan mereka? Apa yang harus kulakukan?”



“Mereka kehabisan tenaga, tapi belum mati. Bawalah mereka ke rumah sakit. Namun rumah sakit tak akan mampu menyembuhkannya. Kamu harus menemui dewa secara langsung!”



Misaki tak tahu persis apa yang terjadi. Tapi jika begitu yang dikatakan buku hitam, dia akan mempercayainya. Misaki menyatukan kedua telapak tangannya, matanya memerah, aura mencuat penuh.



“Skill complete!”



Empat titik terhubung membentuk sebuah garis\-garis di tengahnya. Sementara Misaki berada di tengah menahan rasa sakit yang mengoyak jiwa dan raganya.



“Skill defense! Sakit! Teman\-teman, tunggu aku. Akan kuselesaikan dengan cepat demi kalian!” Selamat tinggal,” Misaki menangis menatap mereka masih tersungkur di tanah. “Kalian, tolong bawa mereka ke rumah sakit. Jika tidak, akan kubunuh kalian!” teriak Misaki pada para Megan.



Skill yang Misaki buat sendiri mengantarkannya pada alam lain. Di bawah pohon sakura yang tengah berbunga dengan indahnya, dia mendapati sosok tinggi besar dengan jubah hitamnya. Sosok itu berhasil membuat Misaki merinding.



“Selamat datang, calon pembunuhku,” sosok itu menyeringai.


__ADS_1


“Siapa kamu?”


__ADS_2