
Misaki mengaktifkan skill terbang versi kedua. Sebuah kekuatan besar mendorongnya kuat-kuat. Hanya dalam beberapa menit, Misaki mampu melewati portalnya. Semburat cahaya berpendar menusuk mata. Dia sampai di dunia perantara, jarak pandangnya tak terbatas, namun semuanya serba putih.
“Halo ... lo ... lo ... lo!”
Tak ada siapapun, hanya ada suara gema yang menyaut panggilannya. “Di mana aku? Ini berbeda dengan pandanganku,” ujarnya.
“Mencariku?”
Sosok hitam itu muncul di belakang Misaki. Dia merinding mendengar suara besar itu tepat di telinganya. Misaki membalikkan badan, tak ada siapapun. Dia menyisiri seluruh dunia putih itu.
“Ah, pada kemana si para iblis ini!”
Beberapa menit, dia menunggu. Sampai matanya terfokus pada sebuah titik hitam di depannya. Semakin lama, semakin mendekat. Jumlahnya sekitar seratus. Mereka lah sosok iblis yang dia cari.
“Akhirnya kamu bisa sampai ke sini, anak Adam!” kata salah satu sosok hitam itu.
“Di mana teman-temanku kalian sembunyikan?” tanya Misaki.
Sosok hitam itu terkekeh keras. Mereka terbang mengitari Misaki. Dia memandang mereka sampai membuatnya pusing dan tersungkur lemas.
__ADS_1
“Kami akan memberimu kekuatan penuh. Setelah itu, kamu harus membunuh sang dewa!” teriak sosok hitam itu berbarengan.
Suaranya menggema menulikan telinga dengan serak-serak suara lantang. Misaki mengangkat tangannya tinggi-tinggi, meletakkan tepat di telinga. Tuli, suara mereka berhasil memengingkan kepalanya.
“Hen-hentikan!”
Misaki tertunduk dengan telinganya ditekan kuat-kuat. Matanya membelalak ke arah lantai putih itu. Salah satu sosok itu memasuki raga Misaki melalui punggungnya.
Misaki menggerang. Matanya merah menyala. Tubuhnya terasa lebih kuat dari sebelumnya, namun punggungnya terasa begitu berat. Misaki mendongak ke atas, terlihat sosok hitam itu menabrak tubuhnya dengan paksa.
“Bagaimana, calon pembunuh? Sepuluh bayanganku telah kutanam dalam tubuhmu. Kamu bisa mengaktifkan skill bayangan dan skill lainnya lebih kuat,” jelas sosok hitam itu.
Sosok hitam itu kaget. “Benda apa itu?”
Misaki berdiri, menatap tajam. Dia mengeluarkan kekuatan besar yang baru didapatkan. Pemantik itu merespon kekuatan Misaki yang besar dan berputar menggandakan diri.
“Kembalikan teman-temanku, atau kubunuh kau!”
Suara tawa lantang menggema dan menyesakkan dunia putih itu. Sosok hitam mulai bergerak, maju dan membentuk seribu bayangan. Misaki terdiam.
__ADS_1
“Skill handsonic!” seketika tangannya mengeluarkan benda setajam pedang malaikat maut.
“Sejak kapan kamu punya skill seperti itu? Bukankah skill handsonic hanya dimiliki oleh S Ranker?” tanya sosok itu panik.
“Jika begitu ... akulah S Ranker yang kau maksud! Akan kuakhiri permainan dewa ini dengan tanganku!”
Misaki membabat habis seluruh bayangan hitam di depannya dengan handsonic. Bayangan. Misaki hanya membunuh bayangan, tak ada yang asli.
Berapa kali pun Misaki mencoba membunuhnya, dia tetap gagal. Tak ada satu kekuatannya yang berhasil menyobek kulit sang dewa.
Misaki tersungkur, dia hampir menyerah. Matanya mulai menutup, napasnya tak beraturan.
“Hey, Misaki. Kamu tahu, air ini hanya bisa ditarik dengan air, lho,” Misaki ingat ketika telinganya kemasukan air. Yukine mengatakan air di dalam telinganya hanya bisa dikeluarkan jika dia menambahkan sedikit air lagi ke telinganya.
Misaki bangun, menatap sosok itu dan mengeluarkan skill barunya.
“Skill shadow gerbang ketujuh!”
Semburat hitam pekat menyelimuti dunia putih itu. Tornado kematian. Julukan yang pantas disematkan pada skill gerbang ketujuh. Tornado itu menjulang tinggi, dan tangan Misaki digerak-gerakkan ke kanan dan kiri mengendalikannya.
__ADS_1
“Sial! Tidak mempan!”