Savage

Savage
Kembali Bertemu Dewa


__ADS_3

Dua bulan berlalu, musim salju telah bergulir. Pagi yang cerah, matahari siap menyambut aksi mereka melawan dan mengakhiri permainan dewa.


“Selamat pagi semua. Ayo kita beraksi!” Misaki mengagetkan teman-temannya.


Misaki muncul dari balik pintu itu tiba-tiba, sementara yang sudah bersiap-siap, lengkap dengan baju dan senjata.


“Aki, semangatmu memang luar biasa, tapi bisakah kamu mandi dulu, dandan yang cantik, ganti baju. Kita semua sudah menunggumu bangun dari dua jam yang lalu,” ketus Mitsuha.


“Eh? Hehehe, siap. Lima menit!”


Misaki bergegas, bersiap-siap tempur dengan dewa.


“Anu, Misaki mengatakan waktunya hanya lima menit, ‘kan? Tapi ini sudah satu jam lebih!” kata Yuuji. Dia merebahkan dirinya pada sofa dan mengacak-acak rambutnya yang sudah rapi.


Beberapa menit berlalu, suara langkah kaki menuruni tangga, langkah Misaki tergesa-gesa. Dia berlari dengan membenarkan kancing bajunya.


“Teman-teman, maaf membuat kalian menunggu lama,” ujarnya.


Baru setengah perjalanan menuruni tangga, kakinya yang masih basah tergelincir. Dia melesat cepat, menggelinding. Sementara yang lain diam mematung, mereka sudah terbiasa melihat Misaki tergelincir, telat, ceroboh, pelupa, dan masih banyak sifat aneh Misaki.


Tak ada yang menolongnya. Yuuji mendekati Misaki yang masih tergeletak di ujung tangga.


“Hei, anak mamih. Cepatlah, matahari sudah tinggi,” kata Yuuji.


“Kamu tega sekali, ketua,” balas Misaki.

__ADS_1


“Cepatlah, atau kita batalkan lagi misi ini?” Yuuji membalikkan kepalanya dan menyeringai.


Ucapan Yuuji sontak membuat Misaki bangun. Rasa sakit di lututnya tak lagi dirasakan. Yang dia pikirkan hanyalah mengakhiri permainan dewa.


“Perjalanan ini menjadi perjalanan terakhir kita. Ayo kita hentikan kondisi dunia yang sudah keluar dari jalurnya!” ujar Misaki.


“Sebentar. Misaki, bukankah umurmu tinggal 20 hari?” tanya Hiroshi.


Misaki tersenyum.


“Observasi!”


Misaki memperlihatkan status terbarunya, terlihat umur Misaki bahkan lebih banyak dari sisa umur teman-temannya. Lima puluh tahun.


“Ba-bagaimana kamu bisa mendapatkan umur sebegitu banyaknya? Bukankah sisa umurmu kemarin hanya 20 hari?” tanya Hiroshi heran.


“Bunga sakura di balik bukit itu yang membuatku mendapat banyak umur. Di sana terdapat banyak jiwa manusia yang terkurung, lalu kubebaskan mereka dan kumakan jiwanya. Makanya aku tersungkur lemas kemarin,” jelas Misaki.


“Bukankah saat kamu hampir mati, sisa umurnya tingga 20 hari? Kamu sendiri yang menunjukannya padaku,” ujar Hiroshi.


“Efeknya belum bekerja. Tapi yang lebih penting, ayo kita mulai petualangan kita!”


Misaki memejamkan matanya, dia mengumpulkan dan memfokuskan kekuatannya di kedua tangannya. Setelah beberapa menit, Misaki mulai membuka mata, mata merah dengan aura hitam mencuat.


“Skill complete! Perisai iblis!” kekuatan besar kembali menyelimuti mereka berdelapan.

__ADS_1


Skill aktif, bumi mulai terguncang, listrik padam. Petir menyambar-nyambar saling bersahutan sebagai respon dari kekuatan Misaki yang lebih besar.


Jembatan antara dua dunia berhasil terbentuk. Perlahan tubuh mereka terangkat meninggalkan bumi yang menua, dan melesat dengan kecepatan kilat. Tubuh mereka melebur dengan udara di dalam portal itu.


“Masih lama, ya?” tanya Natsumi.


“Sebentar lagi, bersabarlah!” jawab Misaki.


Walau dalam keadaan melebur, menyatu dengan udara, suara mereka masih bisa didengar.


Beberapa menit berlalu, sampai mereka menapakkan kakinya di dunia lain, dunia tempat dewa tinggal. Mereka ternganga ketika sampai. Hal yang pertama mereka lihat adalah bunga sakura. Bentuk yang sama dengan yang ada di belakang bukit tempat Misaki mengambil seluruh jiwa yang terkunci.


“Ini, bukankah tempat yang kemarin?” tanya Yukine pada Misaki.


“Bukan. Ini adalah dunia dewa, dunia ilusi ataupun duplikasi. Yang pasti, ini bukan bumi. Perhatikanlah baik-baik, rasakan perbedaannya. Tak ada angin yang bisa kita rasakan, tak ada suara serangga bising. Keadaannya beda, hanya bentuknya sama,” jelas Misaki.


Embusan aura aneh mulai terasa, Misaki bisa merasakan keberadaan dewa.


“Kamu benar, gadis kecil. Dunia ini hanyalah dunia ilusi!” sosok hitam muncul dari balik pohon sakura, dewa.


Misaki terkekeh melihat sosok yang dia cari muncul di depannya.


“Bagaimana dengan permainanku? Apakah kamu menang, atau game over?” tanya sang dewa.


Misaki geram. Dia teringat dengan takdirnya, menjadi player tak terkalahkan dan bertugas membunuh semua pemain lainnya.

__ADS_1


“Hentikan game ini! Mengapa kamu membuat sebuah permainan yang bisa mengancam keberadaanmu? Bukankah dewa itu seharusnya tidak bisa terlihat?”


Dewa itu mengarahkan tangannya ke atas, sebuah pedang super muncul dari telapak tangannya.


__ADS_2