
“Mengajarkan bahagia melalui cinta, membelajarkan tanpa pura-pura.
Seperti malam berjodoh siang. Walau terpisah tanpa ada pertemuan,
Tetap saja, bahagia itu ada, dan aku suka.”
Matahari bersinar terang, menghantam bumi yang masih berantakan dengan permainan yang manusia ciptakan.
“Hiro, ayo cepatlah!” teriak Misaki.
“Sabar, sayang.”
Dewa duduk santai di ruang tamu, menunggu Hiroshi yang masih mencari-cari baju yang cocok dan senjata paling mematikan.
“Sayang, kamu cari baju perang kaya cari baju kondangan! Cepatlah! Para Megan terus bergerak menuju Tokyo!” bentak Misaki.
Hiroshi keluar dari ruang ganti dengan pakaian zirah baja dan pelindung kepala, lengkap dengan tameng dan pedang di tangannya.
“Kalian siap?” tanya Dewa.
Misaki dan Hiroshi mengangguk. Mereka berangkat, mengakhiri permainan untuk selamanya.
Sementara teman-temannya yang lain tengah bersantai di ruang tamu. Bermain PSP, menonton TV, dan memakan snack kesukaan Hiroshi.
“Yo, adikku. Selamat berjuang,” Yato berdiri, “dan kamu, jaga adikku dengan baik. Jika tidak, kubunuh kau!”
“Siap, Bos!” jawab Hiroshi singkat.
Yukine memalingkan mukanya. Hatinya sakit melihat Hiroshi yang mendampingi pujaan hatinya, bukan dia.
Dia menatap Hiroshi dan mendekatkan mulutnya ke telinga Hiroshi.
“Jagalah Misaki. Dia sudah memilihmu,” bisiknya.
Hiroshi tersenyum dan mengedipkan matanya, tanda setuju. Dia, Misaki, dan Dewa melangkahkan kakinya, pergi dari rumah.
“Dewa, di mana Megan yang paling dekat?” tanya Misaki.
“Di dekat hutan Okigahara.”
Wajah Misaki pucat pasi, “Hutan itu lagi?”
Mereka berlari secepat kilat. Walaupun bisa menggunakan skill terbang, mereka memilih untuk menyimpan tenaga dan menghemat sisa umur.
“Berhenti!” perintah Dewa. “Megan ada di dekat sini.”
Mereka mengendap-endap, menelusuri tiap belukar di hutan Okigahara. Sekelebat bayangan lewat di belakang Misaki.
“Keluar!” teriak Hiroshi geram.
Tak ada jawaban. Pepohonan bergoyang terkena angin kencang, dedauan bertebangan mengelilingi mereka bertiga.
“Di atas!”
Mereka menghindari serangan, dan melakukan serangan balik. Misaki mengaktifkan skill sekaligus, begitu juga dengan Dewa dan Hiroshi. Namun Megan yang satu ini begitu gesik.
“Sial, dia bisa menghindari seranganku!” ketus Dewa.
__ADS_1
“Hiroshi, gunakan fireboot! Aku akan menggunakan tornado level lima! Kita bakar dia!” teriak Misaki.
Sementara Dewa duduk di bawah pohon rindang, menyaksikan kerjasama mereka berdua yang semakin membaik.
“Dewa! Cepat gunakan kekuatanmu, pojokkan Megan itu!”
“Cih, akhirnya aku dibutuhkan juga,” ujarnya.
Dewa mengumpulkan kekuatan besar dan mengurung mereka bertiga di dalam dinding kuat miliknya.
“Kau memang sekuat dewa, Dewa. Ayo Misaki, kita selesaikan!”
“Perisai iblis!” Misaki mengaktifkan pelindung agar dia tidak terkena serangannya sendiri.
Tornado milik Misaki menggelegar ke langit dan bercampur dengan kekuatan api milik Hiroshi. Tak bisa dihentikan. Kekuatan besar itu membuat burung-burung di hutan itu terbang menjauh, hewan-hewan berlarian meninggalkan hutan.
Bledaamm!! Bluurr!!
Selesai. Megan itu berhasil dibuat pingsan.
“Hiro, siapa yang akan memakan GASnya? Sepertinya kamu sangat lelah,” tanya Misaki.
Hiro tak menjawab. Dia maju ke depan, Misaki bisa melihat punggungnya yang naik turun menahan napasnya yang masih tersengal-sengal.
“Skill complete!”
Hiroshi beraksi, dia mengurung Megan itu dan memakan GAS di tubuhnya. Misaki ternganga mendapati banyaknya GAS yang keluar, bahkan bentuknya telah berubah menjadi monster. Misaki berlari ke arah Hiroshi dan menghentikannya.
“Hiro! Pegang tanganku!”
Misaki memeluk tubuh Hiro dari belakang, mencoba meluluhkan hati Hiroshi yang keras kepala.
“Hiro, maukah kamu berbagi rasa sakit denganku, calon istrimu?”
Hiroshi tersenyum mendengar ucapan Misaki. Dia membuka telapak tangannya agar Misaki bisa menggandengnya. Dengan cepat Misaki meraih tangannya.
“Bersiaplah menahan rasa sakit yang begitu kuat. Megan ini ... penuh dosa!” ujar Misaki.
Mendekat, semakin dekat. GAS itu siap masuk ke tubuh mereka berdua. Misaki menutup matanya, tubuhnya mulai menerima serangan rasa sakit yang begitu kuat.
Tubuhnya terpental ke belakang, begitu juga dengan Hiroshi. GAS itu terlalu kuat.
“Bolehkah aku ikut membantu kalian?” tanya Dewa. “Aku bosan menunggu pertarungan kalian yang tak kunjung usai,” terusnya.
Misaki tersenyum, “Baiklah. Ayo kita ulangi lagi. Bertiga. Kita makan bersama!”
Hiroshi bangun dan mengulurkan tangannya pada Misaki. Misaki meraih tangannya dan bergandengan, bersama Dewa. Mereka bertiga bekerjasama menangkap GAS itu.
Seketika, GAS itu terbagi menjadi tiga bagian dan mengarah ke tubuh Misaki, Hiroshi, dan Dewa.
“Akhirnya selesai juga,” ujar Dewa.
Hiroshi menatap Misaki. Wajahnya memerah, dia teringat dengan ucapan Misaki beberapa menit yang lalu.
“Áda apa, Hiro?” tanya Misaki.
“A-anu, Aku. Bukankah tadi kamu berkata ‘calon istri’, apakah ucapanmu itu tulus?” tanya Hiroshi ragu.
__ADS_1
Misaki mengangguk, senyumannya menyeruak dari balik bibirnya yang tipis. Mendengar itu, Hiroshi memeluk Misaki erat. Dia sangat bahagia. Perasaannya terbalaskan.
“Yukine, sepertinya aku yang menang. Jangan musuhi aku,” batinnya.
“Jadi, di mana Megan selanjutnya?” tanya Misaki.
Dewa terdiam. Dia tak yakin dengan jawabannya. Namun perasaan ini sungguh aneh. Hawa Megan ini begitu kuat, bahkan begitu tak asing. Seperti aura orang terkuat dan terdekat dengannya.
Dewa menatap gunung Fujiyama.
“Sepertinya, kita akan menemui Megan terkuat. Dia berada di dalam gunung Fujiyama.
Hiroshi menyernyitkan dahinya. Dia tak begitu yakin pada ucapan Dewa. Bagaimana ada manusia bisa hidup di dalam gunung?
“Apakah kamu yakin, Dewa?” tanya Misaki.
Dewa mengangguk. Matanya terus menatap ke arah gunung Fujiyama berada.
“Ayah,” bisik Dewa.
Sementara di dalam gunung Fujiyama, sosok manusia super yang dikelilingi beberapa alat elektronik tengah melakukan beberapa eksperimen.
“Dewa, apakah kamu akan datang? Ayah akan menunggumu membunuhku.”
Misaki, Hiroshi, dan Dewa melanjutkan perjalanannya melenyapkan GAS dari tubuh Megan di muka bumi dan berniat menghadapi Megan di gunung Fujiyama paling akhir. Kisah selanjutnya dari mereka bertiga akan segera dimulai.
“Tak ada yang dapat lari dari kejaran kita!”
Misaki seperti mendapat kekuatan baru. Ya, kekuatan tekad untuk melindungi manusia dari kepunahan.
Hiroshi memandang wajah Misaki. Hawa semangat yang teramat kuat berhasil membuatnya mendapatkan cipratannya. Misaki menyadari hal itu. Wajahnya merona memerah.
“Be-berhentilah menatapku. Aku tau kecantikanku ini tiada tandingannya! Hahaha” tawa Misaki terdengar kaku.
“Ah, kau benar. Memang wajahmu cantik sekali. Cantik.”
“A-apaan sih, dasar bocah!”
“Apa? Bocah?”
“Hei, hei. Hentikan! Ingat tujuan kita. Kita ke sini untuk memusnahkan para Megan, oke! Dan aku ikut untuk melakukan hal itu, bukannya malah menjadi moderator debat kalian. Apalagi menemani masa kencan!” protes Dewa.
“Kencan??” teriak Hiroshi dan Misaki hampir bersamaan.
Sementara Dewa hanya bisa menghela napas. “Situasi macam apa ini!”
Dingin, begitulah yang dirasakan Misaki, Hiro, dan Dewa. Mereka kini berada tepat di atas puncak gunung Fujiyama. Hawanya memang tak kalah menegangkan dari petualangan-petualangan sebelumnya. Hawa keberadaan pembunuh.
Dewa masih berdiri, membelakangi Misaki dan Hiro yang kini masih asyik berdebat tentang fakta gunung Fujiyama. Entahlah, Dewa merasa hawa ini tak asing. Mungkinkah?
“Hei bocah! Jangan ngelamun terus. Lihat itu!” Misaki menunjuk salah satu titik mencurigakan. Bagaimana tidak, dari balik tumpukan salju keluar sebuah asap hitam yang mengepul.
Misaki bersiap, memasang kuda-kuda. Begitupun dengan Hiroshi. Hanya Dewa yang menatap tanpa persiapan, tanpa niat untuk melawan. Selang beberapa detik, sosok lelaki tampan, tinggi putih bersinar keluar dari kepulan asap.
“Ga-Gami-sama,” ungkap Dewa. Matanya melotot seakan tak menduga keberadaannya.”
THE END
__ADS_1