Savage

Savage
Sosok Hitam #2


__ADS_3

Misaki memasukkan api dan petir ke dalam tornadonya, menimbulkan suara gemuruh yang memekakan telinga. Dia menyeringai. Namun seringaian Misaki tak bertahan lama. Dia mendongak, memperhatikan ke atas, ada yang aneh. Seluruh kekuatannya lenyap seketika.


“A-apa? Mereka memakan kekuatanku?”


“Hahaha, dasar sombong! Kamu pikir bisa mengalahkanku, bayangan si pemakan api?”


Misaki tidak kaget. Dia justru telah menyiapkan beberapa skill cadangan. Misaki kembali mengeluarkan skill bayangan ketujuh dengan kombinasi api dan petir. Dia mengarahkan tornado itu ke arah sosok yang asli.


“Skill flyboot!”


Tubuhnya terangkat, dan terbang beriringan dengan tornado miliknya. Misaki mengarahkan tornado itu, membakar sosok hitam. Namun lagi-lagi gagal. Misaki terpental jatuh, terdorong kekuatan sosok hitam itu kuat-kuat.


“Sial! Belum juga mulai menyerang,” ketus Misaki.


Dia bangkit lagi, memegangi lututnya yang lunglai. Energinya terkuras habis. Misaki merasakan kekuatannya perlahan menurun, pertahanan dirinya melemah.


“Observasi!” Misaki bisa melihat hasil observasi di tangannya, hasil dari kenaikan level kekuatan show miliknya.


Misaki tak berkutik. Dia terperanjat mendapati sisa umurnya yang tinggal satu bulan lagi. Matanya nanar, mulutnya ditutup rapat-rapat dengan kedua tangan, tanda kaget.


“Ti-tidak mungkin! Sebegitu banyakkah energi dan kekuatan yang kukeluarkan?”


Misaki mengalihkan matanya pada sosok hitam yang perlahan membesar dan bersatu. Dia merasakan kekuatan dari sosok itu semakin besar. Bayangan hitam itu pun membesar, sementara Misaki tersungkur dengan keterpurukannya.


“Tidak! Aku tak boleh gagal, ada mereka yang menungguku. Aku akan mengalahkan makhluk keparat ini!”


Lututnya yang cidera perlahan pulih dengan skill penyembuhan miliknya. Misaki berdiri, dan menggunakan kekuatannya yang masih tersisa.


“Aku hanya bisa menggunakan dua skill. Jika lebih, aku bisa mati. Perisai iblis!” tubuh Misaki terselubung dinding bening tebal penuh dengan energi sihir. “Skill iceboot!”

__ADS_1


Bongkahan es menjalar di sekujur tangan kanannya. Berbagai bentuk dia gunakan untuk menebas sosok hitam yang masih berlenggok di atasnya. Lagi-lagi dia terpental. Tak satu senti pun dia berhasil menembus bayangan itu.


“Apa yang harus aku lakukan? Aku tak punya kekuatan lagi,” katanya putus asa. “Tidak!!” bayangan hitam pekat laksana peluru itu menyembul keluar dari wajah rata itu dan mengarah ke Misaki yang masih tersungkur.


Sontak Misaki menggelindingkan badannya, menghindari kekuatan besar yang bisa saja membunuhnya dalam sekejap, walaupun perisai iblis mengelilinginya. Belum selesai. Peluru-peluru itu masih terus diproduksi dan siap mengejar Misaki. Dia hanya bisa berlari, tak ada kekuatan yang dapat digunakan, apalagi skill.


Salah satu peluru itu berhasil mengenainya, memaksa masuk menerobos perisai miliknya. Di dalamnya, Misaki hanya bisa menangis. Sekuat apapun, dia tetaplah seorang gadis kecil, bukan petarung.


“Hentikan! Jangan bunuh aku, aku belum sempat meminta maaf pada mamaku, teman-temanku, dan mereka semua yang mempedulikan hidupku!”


Mata Misaki sembap, bulir air mata terjatuh, membentuk garis pada rona wajahnya. Memori tentang mamanya, tim Warped yang selalu membantunya, dan teman-temannya dalam canda tawa membayangi tiap dera napas Misaki. Partikel es di tangannya perlahan memudar dan menghilang, kekuatannya lenyap.


“Ti-tidak! Jangan lenyap dulu! Iceboot!”


Sia-sia, semakin Misaki memanggil kembali kekuatannya, energi dalam tubuhnya terkuras, semakin menyakitkan. Sementara sosok hitam itu masih gencar menyerang. Misaki tak bisa menghindar lagi. Untuk berdiri pun tubuhnya terlalu lemas. Dia hanya bisa mengerahkan kekuatan terakhirnya, mempertebal pertahanan perisai iblis.


“Teman-teman, maafkan aku. Aku tak bisa menyelamatkan kalian. Jagalah diri baik-baik, ya. Jangan lupakan aku,” air mata mengalir dari katup matanya yang masih menutup.


Perisai iblis milik Misaki pecah tak tersisa. Dia terpelanting ke lantai dunia putih. Tulangnya patah, darah mengalir dari mulut Misaki. Pandangannya mulai kabur, dia menatap sosok hitam itu samar. Dia mengeluarkan kekuatan besar. Meski tak terlihat jelas, namun getarannya sangat terasa.


“Selamat tinggal, teman-teman.”


Kekuatan besar mengarah tepat ke arah Misaki. Asap mengepul keluar bercampur dengan api yang menjalar ke udara.


“Kamu tak apa-apa, Misaki?”


Suara dari balik asap berhasil mengembalikan Misaki. Perlahan dia membuka matanya. Samar. Sosok itu mirip Hiroshi.


“Apakah aku sudah berada di surga? Hiroshi, pangeranku. Indahnya surga,” Misaki tersenyum simpul

__ADS_1


“Gadis aneh, ini bukan surga.”


Misaki terbelalak. Dia benar-benar masih hidup. Misaki mencoba bangkit, namun tubuhnya terlalu rapuh.


“Sudah, kamu istirahat dulu. Kamu sudah terlalu banyak berbuat untuk kami. Biarkan makhluk gila itu urusan teman-temanmu,” ujar Hiroshi.


Kepala Misaki terasa berat. Dia memandang punggung Hiroshi yang perlahan menjauh dan menghadapi sosok hitam itu. Sebalut senyum merekah dari bibirnya. Dia menyaksikan sosok hitam itu perlahan tumbang, sementara mata Misaki perlahan mengatup.


“Misaki? Misaki? Kamu mendengar suaraku?” tanya Yato.


Cahaya dari balik jendela rumah sakit menyibakkan mata Misaki. Perlahan dia melihat teman-teman di sekelilingnya. Air mata menderai lagi.


“Aki, kamu kenapa?” tanya Mitsuha.


Hening, dalam beberapa detik hanya ada suara isak tangis Misaki. Mulutnya mulai terbuka bersamaan dengan gerakan tangannya menghapus linangan air mata.


“Aku baik-baik saja. Terimakasih, karena kalian masih hidup.”


Mitsuha memeluk Misaki, disusul dengan yang lainnya mengelilingi mereka. Tak ada satu kata terucap.


Suara pintu terbuka. Sosok perempuan paruh baya menyembul dari ambang pintu, mamanya.


“Mama!” Misaki terduduk di ranjang rumah sakit menyambut mamanya.


“Ambillah buku ini,” kata mamanya sambil menyodorkan buku hitam miliknya, “dan temui dewa!” terusnya.


Tatapan mata mamanya berbeda, dingin. Dia pergi dari kamar Misaki, meninggalkan sejuta tanya. Bahkan, suara pintu terbanting terdengar jelas.


“Dia ... bukan mamaku,” ujar Misaki. “Aku harus menemui dewa dan menghentikan permainan bodohnya ini!”

__ADS_1


__ADS_2