
Pembunuh. Bagi Misaki, pembunuh adalah suatu kejahatan yang tidak dapat dimaafkan, membuat jiwa dan pikiran dalam keadaan stres berlarut-larut. Awal mula Misaki membunuh manusia adalah ketika dia secara tidak sengaja membunuh seorang lelaki tua di hutan Okigahara demi melindungi temannya. Dari kejadian itu Misaki sadar bahwa kekuatannya terletak pada orang-orang yang berharga dalam hidupnya.
“Misaki, kamu siap?” tanya Hiroshi sesampai di markas musuh.
“Siap bos!”
Mereka menelusuri tiap lantai di rumah tua samping hutan. Rumah itu terlihat sangat lusuh, tangga mulai lapuk, dan dinding-dinding dipenuhi dengan lumut. Bau khas debu tercium di mana-mana. Misaki mengusulkan untuk berpencar, namun Hiroshi menolak.
Mereka mulai menelusuri tiap ruangan di rumah kosong tersebut, namun susah mencari keberadaan mamanya Misaki sebab banyaknya ruangan. Ditambah lagi jalanan yang licin penuh dengan lumut membuat laju mereka sedikit terhambat.
“Aki, kenapa tak kamu gunakan kekuatan tembus pandangmu? Kamu bisa men\-scan seluruh ruangan di sini dan langsung menemukan mamamu, ‘kan?” Hiroshi tak sabaran dan ingin segera menemukan mamanya Misaki.
“Jika aku menggunakan kekuatanku, maka sisa umurku berkurang lima hari, dan aku hanya akan bertahan selama dua hari. Bagaimana menurutmu?”
Mendengar hal itu, Hiroshi menolak dan bergegas menelusuri tiap lorong di rumah tua tersebut.
“Hiro, kapan kita akan memasang bom ini?” Misaki mulai bosan memegangi bom sedari berangkat tadi pagi.
“Sudah saatnya. Ayo kita pasang di tiap sudut ruangan, aku lima, kamu tiga saja,” jelasnya.
“Sudah kuduga. Dia sok cool dan sok bisa. Selalu saja menganggapku lemah! Tapi tak apa, setidaknya aku akan segera selesai dan langsung mencari mama,” gumamnya sambil berjalan menuju tiap sudut ruangan.
Tepat ketika Misaki selesai memasang seluruh bom, dia dikejutkan dengan rombongan Yakuza yang menculik mamanya dengan pawakan sangar dan muka menakutkan. Misaki kaget dan mundur beberapa langkah, sampai dia tersudut di pojok ruangan.
“Di-di mana mamaku kalian sembunyikan!?” jawabnya dengan nada takut.
“Hahaha, mamamu akan segera mati jika kamu tidak menuruti keinginanku, gadis kecil.”
“Apa yang kalian inginkan dariku? Mengapa kalian sampai membawa\-bawa mamaku ke dalam masalah kalian?”
Para yakuza hanya diam saja tak menjawab pertanyaan Misaki. Hanya satu kalimat yang sempat terdengar dari pemimpin yakuza tersebut, “Ikutlah dengan kami!”
Tak ada satu kecurigaan sedikit pun yang sempat mampir di pikiran Misaki. Dengan perasaan khawatir Misaki mengikuti para yakuza menuju ruang lantai paling atas dan mendapati mamanya penuh darah terduduk di kursi dengan rantai yang mengikat kedua tangan dan kakinya.
__ADS_1
“Apa yang kalian lakukan pada mamaku? Cepat lepaskan dia!"
Tak ada satu yakuza pun yang bergerak untuk melepas ikatan yang membelenggu kaki dan tangan ibunya. Yang ada mereka hanya menyeringai tanda puas. Sampai sang pemimpin maju ke depan, membelakang mama Misaki dan menjambak rambutnya tepat di depan Misaki.
“Misaki, dengar! Aku tahu kamu pengguna GAS, cepat baca sisa umur kita, dan beri tahu bagaimana cara memperpanjang umur!” bentak sang pemimpin yakuza.
“Hahaha, apakah kalian siap mengetahui sisa umurmu? Sayangnya hanya Megan yang bisa memperpanjang umur. Kalian tak akan pernah bisa!”
Sang pemimpin merasa geram dengan ucapan yang dilontarkan Misaki dan menodongkan sebilah pisau pada mamanya Misaki.
“Misaki! Apa yang terjadi?” Hiroshi muncul dari balik pintu, mengagetkan para yakuza yang tengah berjaga-jaga.
Misaki merasa lega dengan kedatangan Hiroshi. “Hiroshi, gunakan time pause!”
“Time pause!” tanpa berpikir panjang Hiroshi melakukan apa yang diperintah Misaki, “Haa, lalu apa yang harus aku lakukan? Betapa bodohnya aku,” gumam Hiroshi sendirian.
Disaat time pause, dia mendapati mamanya Misaki sedang dalam keadaan terdesak. Hiroshi mengambil sebilah pisau yang tengah ditodongkan oleh pemimpin yazuka. Pisau itu menempel tepat di leher mamanya Misaki.
“Untung aku datang tepat waktu. Misaki, lihatlah pahlawanmu ini,” Hiroshi terkagum\-kagum dengan dirinya sendiri.
Tepat ketika Hiroshi memegang tangan sang pemimpin yakuza, tiba\-tiba waktu bergerak kembali. Hiroshi menyadari kelemahan kekuatannya, yaitu kulitnya tak boleh menyentuh kulit orang lain, atau dunia akan kembali seperti sedia kala. Sang pemimpin dengan cepat menikan Hiroshi yang tepat di sampingnya menggunakan pisau, tusukan di lambung.
Tak ada satupun orang di ruangan itu yang takut dengan geraman Misaki. Namun semua berubah ketika di sekitar tubuh Misaki terselubung aura merah pekat. Matanya mulai berubah menjadi merah dan kekuatan fisiknya bertambah berkali-kali lipat ketika melihat mamanya dan Hiroshi terkapar tak berdaya.
“Kalian akan mati di tanganku!”
Misaki marah dan menyerang seluruh yakuza di ruangan itu. Dia melompat dengan lincah ke dinding dan mulai memukul salah satu yakuza kepala botak dengan kekuatan penuh sampai yakuza tersebut terhempas ke dinding, bahkan dinding tersebut sampai retak. Yakuza tersebut terlihat terkapar tak berdaya dengan darah mengucur dari bibir dan hidung. Misaki menghampirinya dan mengambil sebagian darah untuk dilumurkan ke tubuhnya. Seketika tubuh Misaki menjadi kuat, lebih kuat. Satu yakuza mati.
Membunuh satu yakuza tak akan membuat kemarahannya meredam. Misaki mengambil potongan kayu yang tergeletak dan berlari dengan sangat cepat ke salah satu yakuza gondrong yang tengah ketakutan, bahkan celananya sampai basah. Misaki tak mempedulikan kondisi yazuka, yang dia pikirkan hanya keselamatan orang\-orang yang berharga. Misaki memukul dengan keras salah satu yakuza tepat di lehernya.
“Matilah!”
Darah mengucur dari leher yakuza, sebab tertusuk paku yang menempel di kayu pemukul. Dua yakuza mati.
__ADS_1
“He-hentikan, Aki,” Hiroshi takut Misaki menjadi pembunuh dan melumuri tangannya dengan darah-darah yakuza tersebut. Namun percuma, Misaki tak dapat mendengar suara Hiroshi yang terbata-bata.
Tersisa enam yakuza, Misaki mulai kelelahan.
“Kalian! Cepat kepung dan tangkap dia!” perintah sang pemimpin.
Misaki tak kehabisan akal, ketika para yakuza mengepung dengan senjata tajam, dia memperhatikan seluruh yakuza di sekelilingnya.
“Itu dia!” Misaki menemukan yakuza yang terlihat paling takut.
Dengan kelincahan kakinya, Misaki menyerang yakuza itu. Sabit yang dipegang berhasil dia rebut dan dengan marah Misaki menancapkan sabit tersebut tepat di dada sang yakuza. Tiga yakuza mati.
“Aaaaarrghh!!”
Misaki kesakitan. Dia tak dapat mengontrol kekuatan dan amarahnya, sehingga dia harus siap menerima risiko menyakitkan yang terjadi akibat terlalu banyak membunuh dalam satu hari.
“Hen-tikan, Misaki. A-ku mo...hon,” Hiroshi mulai lengah dan tak sadarkan diri.
“Hiro! Bertahanlah!”
Misaki sangat teledor. Dia menoleh ke arah Hiro saat musuh siap membunuhnya kapanpun.
“Kau sangat percaya diri! Lihatlah di sampingmu!” sang pemimpin menyerang dan menusuk Misaki tepat di jantungnya.
“Aaaa... A-apa? Tidak sakit?” Misaki mencabut pisau yang menancap di jantungnya dan menyerang sang pemimpin yakuza dengan kemarahan.
Tusukan demi tusukan mendarat di tubuh pemimpin yakuza, membuat darahnya mengucur ke mana-mana. Pemandangan mengerikan itu berhasil membuat takut seluruh yakuza yang lain. Mereka berlarian ke setiap penjuru gedung tua itu, namun Misaki mengejar dan menghabisi mereka satu per satu.
“Kalian mau pergi ke mana? Tak ada satu pun dari kalian yang bisa lari dariku! Kalian sudah membuat mama dan sahabatku, orang-orang yang paling berharga dalam hidupku terluka, terima pembalasanku! Show!” Mata merah Misaki mulai mengeluarkan darah setelah berhasil menscan seluruh penjuru ruangan di gedung tua tersebut.
__ADS_1
Pintu didobrak dengan tendangan kuat Misaki dan seketika itu terlihat salah satu yakuza tengah bersembunyi ketakutan di balik tumpukan kardus. Misaki menyibakkan seluruh kardus dan mendapati yakuza tertunduk takut.