
Misaki mundur beberapa langkah, sementara Yuuji, Yukine, Hitori, dan Natsumi maju ke depan melindunginya. Misaki memperhatikan punggung mereka, punggung yang melindunginya penuh ketulusan.
“Hei, Aki. Bukankah skill kita sama? Bisakah aku melindungimu sekarang?” tanya Hiroshi.
“Skil kita sama, tapi tidak dengan kekuatan, Hiro. Aku telah mengalami banyak rasa sakit yang bisa membuatku makin kuat. Karena dengan rasa sakit yang pernah kualami, aku bisa menahan beberapa rasa sakit untuk beberapa saat,” jelas Misaki.
Hiroshi terlihat murung mendengar ucapan Misaki. Misaki menatap Hiroshi nanar, mendekat dan memeluknya.
“Bagiku, kamu adalah lelaki terhebat. Tekad kuatmu itu akan membuatmu semakin kuat. Percayalah, dan bantulah aku mengalahkannya,” ujar Misaki sembari mengalihkan pandangannya pada dewa yang siap menyerang.
Sang dewa mengeluarkan kekuatan yang maha dahsyat. Petir menggelegar memekakan telinga.
“Skill defense! Perisai iblis! Skill transparant! Skill flyboot!”
Misaki menggunakan banyak skill sekaligus. Dia melesat di depan, menghantap sang dewa yang masih berdiri mematung tak mengetahui serang Misaki. Kekuatan yang diterima dewa itu cukup besar sampai bisa menggerakkan tubuhnya.
“Kamu kuat juga, gadis kecil. Tapi lihatlah statusmu sebelum menyerang! Kamu butuh XP dan point pemulih stamina!” ketus dewa itu.
Misaki menghentikan serangannya, “Observasi!”
Dia tertegun. Matanya terbelalak, “Sejak kapan ada XP dan EMP seperti ini? Ini lebih mirip dengan game online!” Misaki tertunduk, tubuhnya lemas. Dia mengumpulkan kekuatan di sekujur tubuhnya, namun jiwanya menolak.
“Kenapa? Kenapa kekuatanku tak bisa dikontrol?” tanya Misaki.
“Itu karena sekarang tubuhmu telah menjadi player. Jika kamu menolak takdir yang kuberikan, maka kamu hanyalah manusia biasa yang siap kulenyapkan! Aku tak butuh player pembangkang sepertimu!”
Dewa itu mengarahkan tangannya yang dipenuhi dengan petir kepada Misaki dan siap mengoyak tubuhnya menjadi abu.
“Bersiaplah!”
Lima senti lagi petir dewa itu menyambar Misaki, namun Hiroshi berhasil menghalaunya dengan perisai iblis.
“Aki, terimalah takdirmu untuk saat ini! Jadilah player. Setelah kita mengalahkan dia, kita semua akan bebas, bukan seorang pemain dari permainan konyol ini, terimalah, Aki!” teriak Hiroshi.
Misaki berdiri, air mata yang sempat keluar disekanya.
“Kamu memang hebat, Hiro. Kamu selalu bisa menggugah hati seseorang. Dan itu adalah kekuatan terbesar manusia. Baiklah. Mulai saat ini, aku siap menjadi player!”
__ADS_1
Seketika kekuatan Misaki kembali. Hiroshi tersenyum simpul dengan keputusan yang diambilnya. Tubuh Misaki dipenuhi energi pemain.
“Bagus! Sekarang kamu menjadi pemain utama dalam permainanku! Apakah kamu akan mengalahkanku, atau pemain lainnya terlebih dahulu?” tanya sang dewa sembari menunjukkan beberapa pengawal buatannya.
Misaki menunjuk sang dewa, “Aku akan mengalahkanmu! Bukan aku, tapi kita semua!” ujar Misaki membara.
Tanpa menunggu lama, Misaki maju di baris paling belakang, disusul tim Warped, dan di bagian belakang ada Yato, Hiroshi, dan Mitsuha.
“Bersiaplah! Skill complete!” Misaki mengaktifkan beberapa skill secara bersamaan dan menyerang sang dewa, bersamaan dengan teman-temannya.
Sang dewa memiliki kekuatan yang begitu besar. Dengan kekuatan gabungan dari kedelapan anak, dia hanya terseret beberapa senti saja dari tempat semula dia berdiri.
“Cih, rupanya dewa ini kuat juga,” ketus Yato.
“Berhentilah merengek kaya anak alay. Perhatikan,” tegas Hiroshi.
“A-Apa? Anak alay? Kurang ajar kamu!”
“Sudah, berhentilah bertengkar. Kita sedang dalam masa perang, nih,” Mitsuha menengahi pertengkaran mereka.
Sementara Misaki masih berdiri di bagian paling depat, mengumpulkan beberapa kekuatan yang masih tersisa. Telapak tangan bagian kanannya mulai mengumpulkan gumpalan hitam pekat, seperti bola bowling berwarna hitam pekat.
Kekuatannya mengalir di bola itu, dan melemparkannya tepat ke muka sang dewa. Dia terkejut dan terseret beberapa meter. Kekuatan yang dikeluarkan Misaki semakin kuat. Dia melirik ke arah teman-temannya dan tersenyum.
“Punya nyali sekali kamu, menoleh membelakangi musuh saat pertarungan adalah hal yang paling konyol.”
Misaki melirik, dewa itu siap menyerang. Lagi-lagi, serangannya digagalkan oleh teman-temannya.
“Dewa, kamu tahu? Kekuatanku memang tak seberapa, tapi selama ada mereka, aku akan baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, karena mereka adalah teman-temanku! Tak sepertimu yang hanya punya pemain! Dan aku, sebagai pemain ... membencimu!”
Misaki membalikkan badan dan mengerahkan kekuatannya sekali lagi, dan kali ini lebih kuat. Dia mengarahkannya di muka sang dewa sekali lagi. Sang dewa terpental jauh, terdengar suara retakkan.
“Suara apa itu? Apa tulang dewa gila itu retak?” tanya Natsumi.
“Tidak mungkin!” jawab Hitori.
Misaki melompat tinggi-tinggi dan mencapai letak dewa itu terkulai lemas tak sadarkan diri.
__ADS_1
“A-apa? Manusia?” Misaki terhentak kaget. Suaranya membuat yang lainnya penasaran.
Hiroshi menyusul Misaki. Derap langkah kakinya terdengar tergesa-gesa.
“Misaki, ada apa? Haaa? Ke-ke-kenapa dewa itu punya wajah seperti manusia? Jadi selama ini yang hitam-hitam itu topeng?” tanya Hiroshi.
“Hiro, pertanyaanmu seperti penonton alay. Tentu saja aku tak tahu,” jawab Misaki.
Hiroshi membuang mukanya membelakangi Misaki. Hari ini begitu sial baginya, dua kakak beradik menganggapnya alay, dan itu membuatnya sakit hati.
“Tapi apapun makhluk ini, dia harus dibunuh agar kita semua terbebas dari kutukan ini,” ujar Hiroshi.
Hiroahi mengambil pedang di tangan dewa itu dan bersiap menghunuskannya tepat di jantungnya. Melihat wajah asli sang dewa, Misaki tak tega jika harus melihatnya terbunuh. Jika dia manusia, maka kewajiban Misaki menolongnya, karena dia salah satu pemain dewa yang sesungguhnya.
“Jangan, Hiro!” seru Misaki.
“Apa maksudmu? Kemenangan ada di depan mata kita.”
“Jika dia manusia, bukankah akan lebih baik jika kita mengetahui alasannya melakukan semua ini?” kata Misaki menatap Hiroshi nanar.
Hiroshi menghela napas dan membuang pedangnya jauh-jauh. Dia membalikkan badan dan melambaikan tangannya.
“Terserah kamu, Aki. Kuserahkan dewa jadi-jadian itu padamu,” ujar Hiroshi menjauh.
Misaki memandang Hiroshi yang kian menjauh, lalu menatap wajah dewa palsu dengan seksama. Raut wajah sang dewa menandakan seseorang yang mengalami keterpurukan yang cukup mendalam.
“Apakah dia ini manusia? Kecil sekali tubuhnya,” ujar Misaki.
Perlahan tangannya mengelus kepala dewa itu, benar-benar mirip manusia. Rambutnya mirip Sasuke di salah satu anime kesukaan Misaki.
Jari-jari tangan dewa itu perlahan bergerak lemah, matanya terbuka menyipitkan pandangannya.
“Ka-kamu sudah sadar?” tanya Misaki.
Dewa itu kaget mendapati tubuhnya berada di pangkuan Misaki.
“Keterlaluan! Berani-beraninya kamu memangku dewa, penciptamu!” tegas sang dewa.
__ADS_1
Misaki tersenyum bahagia. Teguran sang dewa tak lagi menjadi hal yang menakutkan, karena kini wajah polosnya tak lagi bersembunyi di balik topeng mengerikan. Dia hanyalah manusia biasa, anak kecil.