Savage

Savage
Kenyataan


__ADS_3

Misaki mendekati lampu saklar di ruang makan itu dan berniat menyalakannya. Jari telunjuknya telah menempel.


“Jangan nyalakan,” bisik Dewa dari balik remang-remang rembulan.


Misaki tak mengindahkan ucapannya, dan jari telunjuknya menekan sakelar. Seketika ruangan menjadi terang. Dia memalingkan pandangannya ke arah Dewa yang tertunduk di samping jendela sendirian.


“Bolehkan kami gabung?” tanya Misaki.


Dewa mengangguk pelan.


Hening, hanya ada suara dentingan suara piring dan sendok yang saling bertabrakan. Misaki menatap Dewa yang masih tertunduk.


“Eh kita kaya maling, ya? Jam segini baru makan,” Misaki membuka percakapan.


Yukine memandang senyuman Misaki yang tulus. Melihat itu, Hitori menyenggol kakinya dan mengarahkan matanya ke arah Hiroshi. Hiroshi tersenyum sendiri melihat Misaki kembali ceria.


“Move on guys. Cari wanita lain, ya. Kamu jangan cari musuh,” kata Hitori menasihati.


Yukine mengangguk.


Sementara Misaki memperhatikan Dewa yang masih tertunduk, bahkan dia tak menghabiskan makanannya lagi.


“Dewa, kamu kenapa?” tanya Misaki. Dia mengelus kepala Dewa dan memperlakukannya sangat lembut.


Dewa semakin menunduk, dan Misaki masih memperhatikannya dengan seksama. Butiran bening jatuh dari mata Dewa, semakin deras.

__ADS_1


“Dewa, kamu kenapa?” Misaki menarik wajah Dewa secara paksa dan menghadapkan ke arahnya.


Isak tangis Dewa menghentikan makan tengah malam mereka. Semakin deras, semakin keras. Misaki memeluk Dewa.


“Ceritakan masalahmu, kami ada di sini untukmu,” kata Misaki lembut.


Dewa membuka mulutnya perlahan sembari menahan isak tangisnya agar tak lagi keluar air mata yang hampir mengering.


“Maafkan aku, aku egois, aku hanya memikirkan kesenanganku tanpa memikirkan penderitaan kalian,” ucap Dewa.


Misaki tersenyum simpul, dia menatap Dewa dengan penuh kasih sayang.


“Ceritakanlah.”


“Tak perlu repot-repot, mama sudah di sini,” ucapan mama Misaki dari balik ambang pintu mengagetkan mereka.


“Baik, karena semua sudah berkumpul, akan kuceritakan semuanya,” jelas Dewa.


Dewa menarik napas dalam-dalam, mengangkat bahunya dan mulai membuka mulut dengan ceritanya yang panjang.


“Ayahku adalah seorang ilmuwan jenius. Karena kejeniusannya, dia sering diangap gila dengan penemuannya yang tak masuk akal, salah satunya adalah sistem permainan yang terjadi saat ini,” ujarnya.


Dewa bercerita dengan matanya yang sembap dan sesekali menyeka air matanya.


“Suatu hari, tepat di ulang tahun pernikahan kedua orang tuaku, ayah mendapati ibuku sakit dan membawanya ke rumah sakit. Namun pihak rumah sakit tak menerimanya, sebab suatu berita yang mengatakan bahwa ayah adalah ilmuwan gila telah menyebar.”

__ADS_1


Sesekali Misaki menepuk-nepuk pundak Dewa dan memintanya berhenti jika dia merasa sedih. Namun Dewa bersikukuh melanjutkan ceritanya.


“Ayahku marah, dan dia melakukan uji coba ilmuwanannya sendiri dan menanamkannya ke tubuh ibu. Berhasil. Umur ibu bertambah satu tahun, yang awalnya pernah divonis hanya akan bertahan satu minggu.”


Mama Misaki mendekat, mengambil sebuah foto. Tiga laki-laki berjejer, berfoto. Satu laki-laki seorang kantoran, satu lagi seorang dokter, dan satu lagi seorang ilmuwan.


“Diakah ayahmu?” tanya mama Misaki menunjuk seorang lelaki berpakaian jas putih di sebelah kiri papanya Misaki.


Dewa mengangguk, sementara mamanya Misaki terkulai lemas. Misaki mengambil sebuah kursi dan mendudukkan mamanya.


“Dewa, lanjutkan. Mama, jika Mama tak sanggup mendengarnya, maukah kembali ke kamar saja? Kasihan Mama,” ucap Misaki.


Mamanya menggeleng. Dia menolak dan ingin tetap mendengar kenyataan yang tak pernah dia ketahui.


“Setahun berlalu, ayahku mulai dicurigai berhubungan dengan iblis, sebab kemampuannya memperpanjang umur tidak biasa. Lalu, seluruh orang memburu kedua orang tuaku. Merasa kasihan dengan istrinya, dia akhirnya membuka gerbang pembangkit, salah satu penemuannya yang tak pernah dipublikasikan. Lalu mereka tinggal di dunia kedua, bersama denganku yang masih dalam kandungan ibu,” jelasnya.


Yato mulai paham dengan situasinya. Dia ingat, ayahnya pernah bercerita tentang seorang ilmuwan gila.


“Jadi maksudnya, semua ini berasal dari ilmuwan gila, yaitu ayahmu? Apakah nama ayahmu itu Frankenstein?” tanya Yato.


Dewa mengangguk.


“Ayahku adalah Frankenstein, seorang ilmuwan paling hebat, namun karena saking hebatnya dia dianggap gila dan berhubungan dengan iblis. Dia melarikan diri ke dunia kedua dan ibuku melahirkanku di sana, tanpa seorang teman satu pun.”


Yuuji mengerti perasaan Dewa. Dia memiliki nasib yang sama dengannya.

__ADS_1


__ADS_2